Guru Besar Ikatan Pencak Silat Budi Suci Dikukuhkan

Artis Datuak Rajo Indo dikukuhkan sebagai Guru Besar Ikatan Pencak Silat Budi Suci (IPS-BS) Prop. Sumatera Barat yang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 16 Februari 2014  di Gedung Bela Diri KONI Sumbar di Kompleks GOR H. Agus Salim Padang.

img-313073046-0001=

Pengukuhan ini dilakukan menyusul pengangkatan Artis Datuak Indo sebagai Guru Besar Ikatan Pencak Silat Budi Suci (IPS-BS) Prop. Sumatera Barat akhir Desember 2013 tahun lalu, dimana pengangkatan Bpk. Artis sebagai Guru Besar IPS-BS ini adalah hasil dari kesepakatan segenap dewan guru di kabupaten dan kota di Sumatera Barat, disamping jabatan Guru Besar ini telah lebih dari 20 tahun tidak terisi sepeninggal Tuangku Khaidir pada tahun 2002.

img-313074016-0001=

Pengukuhan tersebut dilakukan dengan pengikatan Deta di kepala Guru Besar bersamaan dengan penyerahan keris pusaka yang dilakukan oleh Wakil Ketua Umum IPS-BS Prop. Sumatera Barat, DR. H Rafles, M.Si yang juga pimpinan Pondok Al-Quran Al-Azra’iyah No. 59 Palinggam Padang.

img-313073143-0001=

Pengukuhan ini dihadiri oleh segenap dewan guru, anggota dan pengurus organisasi IPS-BS, mulai dari tingkat propinsi, cabang kabupaten atau kota, hingga tingkat ranting-ranting, di antaranya Ketua Umum IPS-BS Prop. Sumatera Barat AKBP Delvia Derita, S.Kom MM beserta jajaran dan perwakilan dari KONI Sumbar Afrizal Muktar.

Pada kesempatan tersebut, Delvia Derita menjelaskan, pengukuhan Guru Besar IPS-BS Prop. Sumatera Barat sudah selayaknya dilaksanakan, mengingat posisi pucuk organisasi IPS-BS tersebut sudah cukup lama kosong, sementara setiap organisasi pencak silat di bawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di tuntut punya pucuk pemimpinan tertinggi atau Guru Besar.

Acara pengukuhan yang di awali dengan beberapa aktrasi dari murid-murid IPS-BS, cukup memukau dan menarik perhatian masyarakat sekitar GOR H. Agus Salim, beberapa atraksi yang dimainkan adalah peremasan kaca dengan tangan kosong, pematahan batang besi oleh beberapa murid senior bersama guru besar, atraksi silat tunggal putra dan silat ganda berpasangan.

img-313074110-0001=

“Dengan adanya kepengurusan oleh dewan guru dan guru besar, diharapkan yang taserak salamoko berkumpul, sehingga bersatu dalam Ikatan Pencak Silat Budi Suci, bersatu dalam gerak dan bersatu dalam langkah, agar nanti harapan-harapan yang diharapkan dalam IPSI dapat kita laksanakan yaitu mencetak generasi muda yang handal dalam pencak silat”, tukas Delvia Derita.

Dokumentasi Kegiatan

img-313073209-0001= img-313073255-0001= img-313073022-0001= img-313073234-0001=

Iklan

Pemilihan Guru Besar Ikatan Pencak Silat Budi Suci Sumbar

IMG_20131115_205214

Tim formatur akhirnya menetapkan memberikan jabatan tertinggi organisasi “Guru Besar” kepada Artis Rajo Indo, setelah melewati prosesi Pemilihan Guru Besar Ikatan Pencak Silat Budi Suci (IPSBS) Sumatera Barat di Pondok Al Qur’an Al Azra’iyah No. 59 Palinggam Padang, Jumat (15/11-2013) malam.

IMG_20131115_223138

Sedianya, jabatan tertinggi Guru Besar untuk Artis selaku figur dituakan di IPSBS Sumbar akan “dilewakan” dengan acara potong sapi, sekaligus pelantikan oleh Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), pada akhir Desember 2013. Sebelum dinobatkan sebagai Guru Besar, Artis adalah Ketua Dewan Guru IPSBS Sumbar.

Dinobatkannya Artis sebagai Guru Besar IPSBS Sumbar, setelah jajaran pimpinan organisasi dan dewan guru perwakilan kabupaten/kota dan tingkat provinsi mengadakan rapat formatur. Memperhatikan semua sosok yang dirasa pantas menjadi Guru Besar, tim formatur menetapkan Artis sebagai calon tunggal hingga akhirnya dinobatkan sebagai pemangku jabatan tertinggi di jajaran IPSBS Sumbar tersebut.

Sekretaris I IPSBS Sumbar, Rizwart ZA Dt. Bagindo Saridirajo, menjelaskan, pemberian jabatan Guru Besar selaku pemangku pimpinan tertinggi di IPSBS Sumbar sudah selayaknya dilakukan setelah lebih kurang 21 tahun wafatnya Guru Besar IPSBS Sumbar terdahulu, Tuangku Khaidir.

Sebagai sebuah perguruan dan organisasi layaknya, IPSBS sudah mendekati komplit. Jamaah atau anggota ada, kepengurusan tingkat pusat, daerah hingga ranting juga ada. Para guru, mulai dari guru remaja, guru muda hingga guru dewasa juga sudah ada, bahkan telah mendapat sertifikat resmi sebagai anggota dewan guru. Nah, sepeninggal Tuangku Khaidir pada tahun 1992 lalu, IPSBS Sumbar kehilangan figur yang dirasa layak memangku jabatan tertinggi organisasi sebagai Guru Besar. Sementara masing-masing perguruan pencak silat di bawah naungan IPSI dituntut punya pucuk pimpinan tertinggi perguruan atau Guru Besar.

Sudah Sangat Butuh

“Kita sudah sangat membutuhkan figur yang mampu mengayomi kita semua, yakni seorang Guru Besar sebagai panutan bagi segenap keluarga besar IPSBS Sumbar. Dalam istilah Minangkabau, ‘Kok ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito. Kok kusuik nan ka manyalasaian, kok karuah nan ka mampajaniah’. Seperti itulah kira-kira figur yang kita harapkan,” papar Rizwart yang akrab disapa “Pak Wan”, di hadapan segenap hadirin.

IMG_20131115_205257 IMG_20131115_205415 IMG_20131115_210423 IMG_20131115_210212 IMG_20131115_210221 IMG_20131115_210013

Bagi keluarga besar IPSBS Sumbar, jabatan tertinggi organisasi “Guru Besar” IPSBS Sumbar sudah sepantasnya diberikan kepada Artis Rajo Indo. Sosok yang satu ini tidak saja sebagai perintis, namun juga dikenal paling getol mengembangkan Budi Suci, baik dari segi perguruan maupun organisasi.

Menyusul pemberian jabatan tertinggi sebagai Guru Besar kepada Artis, pada masing-masing IPSBS kabupaten/kota akan dipilih dan ditetapkan pemangku gelar kehormatan “guru tuo”, sebagai penunjang keberadaan sekalipun kawan berunding dan bermufakat bagi seorang Guru Besar.

Prosesi pemilihan Guru Besar IPSBS Sumbar yang berlangsung hingga Sabtu (16/11) dinihari, diikuti oleh segenap anggota dan pengurus. IPSBS, baik pengurus tingkat Sumbar maupun cabang kabupaten/kota.

Dari pengurus IPSBS Sumbar, diantaranya hadir AKBP Delvia Derita, S.Kom, MM (Ketua Umum), H. Rafles, M.Si (Wakil Ketua), Kompol Purn H. Martius Harun (Wakil Ketua III), Rizwart ZA Dt. Bagindo Saridirajo (Sekretaris I), Indra AMd (Sekretaris II) dan Zalmi, SPd (Komisi Diklat).

Sedangkan dari cabang Padang, hadir Drs. Zainal Bakti, MPd (Ketua Dewan Guru), Asril Malin (Sekretaris Dewan Guru) dan Thomy Hampriyandy, S.Kom (Sekretaris). Ketua IPSBS Kota Padang, Ecevit Demirel, berhalangan hadir.

Turut hadir segenap dewan guru,anggota dan pengurus IPSBS, mulai tingkat Sumbar hingga tingkat ranting di cabang kabupaten/kota.

Kalender 2013 Perguruan Pencak Silat Budi Suci

Setelah dilantik oleh Pengurus Pusat  Ikatan Pencak Silat Budi Suci Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 7 September 2012 lalu, Pengurus & Dewan Guru Ikatan Pencak Silat Budi Suci Cabang Kota Padang periode 2012 – 2016 secara bertahap melalui berbagai Bidang-Bidang kerja yang terbentuk mulai mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh anggota seperti kegiatan latihan bersama, konsolidasi ke ranting-ranting dan yang terpenting adalah sukses nya mengadakan pertemuan Silaturahmi & Raker Anggota IPS Budi Suci se Kota Padang yang berlangsung pada tanggal 15 November 2012 lalu bertempat di SMK Negeri 5 Padang (STM 2 Lolong Padang) yang salah satu hasil keputusannya adalah kesepakatan untuk membentuk Koperasi Serba Usaha “Budi Suci” yang bertujuan untuk lebih meningkatkan taraf ekonomi para anggotanya.

Efek Reker

Hasil rapat tim formatur yang berjumlah ± 9 orang yang terdiri dari para Dewan Guru, Pengurus dan Anggota IPS Budi Suci Kota Padang, mempercayakan Kepengurusan Koperasi “Budi Suci” ini kepada :

Ketua : Thomy Hampriyandy, SKom
Wakil Ketua : Eni Farida, SH. MM
Sekretatis : Riswar, ZA, Dt. Bagindo Sari Dirajo
Bendahara : Jufridas

Dalam kesempatan tersebut juga diagendakan untuk pembuatan Kalender 2013 yang memuat berbagai photo kegiatan IPS Budi Suci yang telah dilakukan selama ini.

Bekerja sama dengan salah seorang Disain Grafis Kota Padang yaitu Sdri Nieta ZD yang juga merupakan istri dari Sdr Sulaiman (Guru IPS Budi Suci) akhirnya Kalender 2013 bisa diterbitkan sebelum berakhirnya tahun 2012, hasil disain kalender 2013 ini mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari Para Pengurus dan Dewan Guru IPS Budi Suci seperti dari Bpk. Artis Dt. Rajo Indo, Bpk. DR. H. Rafles, M. Si, Bpk. Drs. Zainal Bakti, M. Pd dan Bpk. AKBP Delvia Derita, SKom, MM karena begitu tingginya jiwa seni yang dimiliki oleh disainer nya yang diwujudkan dalam susunan tata letak dan pengaturan photo-photo yang ada.

Tampilan Kalender 2013 Ikatan Pencak Silat Budi Suci Sumatera Barat dapat dilihat pada gambar berikut :

 Selamat Tinggal Tahun 2012 Selamat Datang Tahun 2013

 

“Kedepannya organisasi ini akan lebih merapatkan diri dengan mengadakan berbagai kegiatan yang diharapkan akan semakin menghidupkan dan mengembangkan Perguruan Pencak Silat Budi Suci ini di Kota Padang dan Sumatera Barat umumnya..” ujar Ketua IPS Budi Kota Padang Ecevit Demirel, AMd hari Minggu pagi di salah satu sasaran perguruan yaitu di Komplek GOR H. Agus Salim Padang depan panggung MTQ lama.

Silek Luncua

Salah Satu Aliran Silek Tradisional Minangkabau

Berbicara tentang salah satu kesenian tua di Minangkabau berupa Silek memang tak ada habis- habisnya untuk di kupas dalam berbagai bentuk tulisan seperti makalah, laporan penelitaian, skripsi maupun tesis. Karena Minangkabau mempunyai keragaman silat atau silek yang sangat kaya dilihat dari nama nama aliran yang ada hingga berkembang menjadi nama nama perguruan sebagai identitas dari pengembangan silat tersebut.

Adapun nama nama aliran silat yang terdapat di Minangkabau adalah Silek Tuo, Silek Harimau, Silek Lintau, Silek Taralak, Silek Pangean, silek bungo, silek koto anau, silek Luncua, silek pauah.Pada kesempatan kali ini kita coba sajikan salah satu silek cukup fenomenal di Minangkabau, tepatnya di Alam Surambi Sungai Pagu, Muaro Labuah Solok Selatan. Aliran Silek ini bernama Silek Luncua yang juga dikenal dengan Silek Pakiah Rabun.

Menurut cerita para pewaris silek Luncua ini, silat ini diciptakan oleh Pakiah Rabun yang berasal dari kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok, karna tak berkembang di daerah asalnya Pakiah Rabun akhirnya mengembangkanya di Sungai Pagu Solok Selatan.

Silek Luncua ini diberi nama karena gerakan gerakan kunciannya seperti meluncur, misalnya pada jurus “sauak” apabila serangan lawan berupa tangan atau pukulan seperti tinju maka dengan sigap silat Luncua akan menangkap nya dengan cara menyonsong serangan lawan dengan dengan tangan kanan menuju leher melalui bawah ketiak lawan, posi tangan kiri menangkap tangan kiri lawan dari belakang dan kaki kanan diluncurkan dari belakang paha lawah hingga betis setelah semua terkunci tinggal lawan di jatuhkan.

Itu adalah salah satu jurus atau kuncian disamping puluhan lainnya jurus dari silat Luncua dan juga Jurus pertama yang dipelajari murid silat jenis ini adalah gelek. Gelek adalah suatu gerakan mengelak dari pukulan lawan. Posisi tubuh lurus, kemudian saat tinju hampir tiba, pesilat memutar 80 derajad badan. Gelek disilat Luncua tidak menggunakan telapak tangan, akan tetapi tinju lawan dielakkan dengan dada dengan memutar badan seperti tadi.

Setelah menguasai semua jurus, untuk ”pemutusan kaji” di akhir pembelajaran murid silek Luncua di ajarkan jurus “Sambuik nan Limo”, untuk menguasai jurus ini diperlukan ketelitian yang tinggi dan keseriusan, karna pada tingkat ini anak sasian atau murid sudah di berikan pisau, parang atau benda tajam lainnya, karna ini merupakan puncak dari pelatihan silat Luncua.

Biasanya tuo silek Luncua memberikan syarat yang harus di penuhi oleh anak sasian untuk pemutusan kaji pada silek Luncua, seperti pengalaman penulis yang pernah mengikuti latihan silat aliran Luncua pada Perguruan Silat Garuda Putih Bukittinggi pada tahun 1995 sampai dengan tahun 2001. Pada saat itu Tuo Silek yang bernama Bapak Basrinal, S.Pd selaku guru silat juga Guru Pendidikan jasmani dan olah raga di SMK N 2 Bukittinggi, beliau mengatakan kepada penulis jika ingin melaksanakan ”pemutusan kaji” harus menyiapkan seekor ayam yang mempunyai bulu hingga kaki ayam tersebut. Selanjutnya akan di bawa melakukan prosesi “pemutusan kaji” ke kampung beliau di Muaro Labuah Solok Selatan tempat asal dan berkembangnya silek Luncua atau silek pakiah rabun ini.

Sayangnya penulis tidak sempat melakukan prosesi tersebut karna harus melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan, dan sekarang pun tuo silek Bapak Barsrinal S.Pd tersebut sudah pindah tugas ke kampungnya di muaro labuah solok selatan, kabar yang di peroleh beliau sekarang menjabat sebagai Kepala SKPD Satuan Polisi Pamong Paraja Solok Selatan dan tetap masih tetap mengembangakan silek Luncua melalui Perguruan Silat Garuda Putih Solok Selatan.

Jenis Jurus tangkapan atau kuncian Silek Luncua diantaranya adalah :

  1. Gelek
  2. Tangkok baruak
  3. Tangkok maliang
  4. Sauak ateh
  5. Sauak bawah
  6. Sambuik sumbayang
  7. Ampok,
  8. Alang babega,
  9. Kabalai,
  10. Sambuik ali,
  11. Sawuak,
  12. Sandang.
  13. Sambuik nan Limo
  14. Tangkok ampang
  15. Tangkok ambuang
  16. Tangkok alief timbang
  17. Tangkok batang padi
  18. Tangkok elo aia
  19. Tangkok kedong
  20. Tangkok kedong kadalam
  21. Tangkok kedong kalua
  22. Tangkok kungkuang karo kalua
  23. Tangkok kungkuang tagak
  24. Tangkok kabek pinggang
  25. Tangkok patah itiak
  26. Tangkok patah lutuik
  27. Tangkok patah bahu
  28. Tangkok patah kuduak
  29. Tangkok patiang kicuah
  30. Tangkok sisiak palapah
  31. Tangkok sonta
  32. Tangkok sauik
  33. Tangkok siLuncua kadalam
  34. Tangkok siLuncua kalua
  35. Tangkok sambuik kabalai
  36. Tangkok sambuik sasek
  37. Tangkok sambuik rabah
  38. Tangkok sandang lacuik
  39. Tangkok sandang Mariah
  40. Tangkok sandang kadalam
  41. Tangkok sandang panantian
  42. Tangkok tupang pungguang
  43. Tangkok guntiang kaki

Sampai saat ini silat Luncua tersebut masih berkembang baik dalam daerah Sumatra Barat sendiri seperi Muaro Labuah, Solok, Pesisir Selatan, PadangPanjang, Sawahlunto Bukittinggi dan juga daerah  tetangga Seperti Jambi, kerinci, pecan baru dan lainnya. Selain untuk mengikuti Festival Silat Tradisional, Silat Luncua juga ditampilkan pada kegiatan kegiatan seperti penyambutan tamu, Pekan Budaya Sumatra Barat, Pagelaran Pentas Seni Budaya Daerah maupun Nasional dan event event kebudayaan lainnya.

Diharapkan tulisan ini dapat menambah wawasan kita semua tentang kekayaan khasanah budaya khususnya silat tradisional, dan dapat merangsang minat pesilat pesilat Minangkabau untuk dapat menulis atau mendeskripsikan silat atau silek yang mereka pelajari.

Mohon maaf jika terdapat kesalahan atau kejanggalan dari tulisan ini.

Terima kasih.

“Jikok Lamak Agiah Tau Urang Lain, Jikok Ndak Lamak Agiah Tau Kami”

Maksudnya, Jika tulisan ini bermanfaat kasih tahu kepada orang lain, jika tidak bermanfaat beri tahu kami. (Syukri, S.Sn – 11082012)

Foto Foto Silek Luncua






















Referensi

http://www.antarasumbar.com/berita/kab-solok-selatan/d/17/103321/disbudparpora-rencanakan-gelar-festival-silekLuncua.html

Sumber

Silat Kumango

Silat Kumango

Cuplikan buku Silat Kumango karangan Drs. Rusli, Pen. UNP Press.
Pendahuluan
Buku ini diberi judul “Silat Kumango dalam Kemurnian dan Keutuhannya”. Yang dimaksud dengan kemurnian di sini adalah sesuai dengan apa adanya seperti yang diterima dari yang mewariskannya. Utuh maksudnya lengkap/ menyeluruh baik sejarah atau asal usulnya, falsafah (dasar dan tujuan silat) yang merupakan unsur kebathinan, serta gerak-gerak pisik yang merupakan unsur lahiriah silat.

Silat sebagaimana yang diwariskan dan diajarkan pendahulu kita mengandung dua unsur, yaitu unsur kerohanian dan unsur fisik. Unsur kerohanian adalah unsur mental spiritual berupa “falsafah” yang berisi ajaran moral yang tidak lain merupakan rohnya silat. Unsur fisik adalah unsur keterampilan jasmani yang diwujudkan dalam bentuk gerakan-gerakan serangan, pembelaan dan sebagainya, yang dapat kita umpamakan sebagai tubuh atau jasmani dari silat. Di dalam Silat Kumango penekanannya justru terletak pada unsur kerohanian. Dalam pengamatan penulis, dewasa ini di kalangan generasi muda/remaja yang belajar silat teradapat kecendrungan untuk mengutamakan unsur fisik atau jasmani dan mengabaikan bahkan meninggalkan sama sekali unsur kerohanian, atau jiwanya silat. Kecenderungan seperti ini menurut pengamatan penulis terdapat hampir pada semua aliran, tidak terkecuali dalam Silat Kumango. Hal itu dapat dibuktikan dengan kenyataan sehari-hari. Bila kepada mereka kita tanyakan sejarah ataupun falsafah dari silat yang mereka pelajari tidak ada yang dapat menjawabnya. Kalaupun ada jarang sekali yang dapat menjawabnya dengan benar atau sempurna. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa kebanyakan mereka lebih mengutamakan mempelajari kulitnya silat, tidak mendalami isi atau jiwanya.

Sisi lain yang juga sangat besar pengaruhnya terhadap kemurnian silat adalah adanya pertandingan-pertandingan ataupun perlombaan-perlombaan silat. Misalnya saja pertandingan silat olahraga.
Dalam pertandingan silat olah raga akan ber hadapan dua pesilat yang berasal dari perguruan / aliran yang berbeda. Layaknya dalam suatu pertandingan ada yang menang dan ada yang kalah. Dan setiap pesilat tentu saja mengharapkan kemenangan.Menang atau kalah ditentukan oleh nilai yang dikumpulkan berdasarkan serangan yang masuk tepat pada sasaran dan bertenaga. Apalagi ada pula ketentuan menang mutlak atau knock out (K.O). Peraturan/ketentan yang berhubungan dengan penilaian tersebut jelas akan memotivasi pesilat untuk berlaku keras bahkan mungkin saja brutal demi mencapai kemenangan. Padahal berlaku keras dan brutal akan menyakiti bahkan dapat saja mencederai lawan bertanding. Hal yang demikian itu sangat bertentangan dengan rasa kemanusiaan yang merupakan salah satu jiwa dari silat (setidaknya dalam Silat Kumango).

Tidak saja pertandingan olahraga, lomba peragaan silat bela diri pun sedikit banyak berpotensi merusak keaslian atau kemurnian silat. Kaedah dan keaslian silat boleh dikatakan tidak menjadi unsur utama dalam penilaian. Kadang-kadang yang mendapat nilai baik justru pesilat yang penampilannya menarik dan mengagumkan, walaupun gerakan-gerakannya diambil dari bela diri asing, tidak asli gerak silat dan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah silat. Pada hal dalam peraturan pertandingan terutama pertandingan olah raga dalam mukadimahnya dinyatakan dengan tegas bahwa pertandingan harus menggunakan kaedah-kaedah silat.
Di samping itu ada pula orang yang mengaku-ngaku silatnya adalah silat Kumango atau menisbahkan silatnya kepada Syekh Abdurrahman Al Khalidi. Akan tetapi setelah diteliti apa yang dikatakan itu tidak terbukti sama sekali. Artinya di dalam silat itu tidak kelihatan sama sekali unsur Kumangonya baik unsur ruhaniah maupun unsur jasmaniahnya. Di kalangan perguruan silat Kumango sendiri terdapat pula perbedaan antara satu sama lain yang sudah sedemikian jauh menyimpang, sehingga sudah tidak sesuai lagi dengan dasar/azas-azas aslinya.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, demi kelestarian serta kemurniannya, penulis mencoba meng- ungkapkan dalam tulisan ini sosok Silat Kumango yang murni dan utuh sebagaimana yang diturunkan/diajarkan oleh yang mewariskannya, Syekh Abdurrahman Al Khalidi/Syekh Kumango kepada anak-anak dan khalifah / pewaris beliau.
Buku bahagian pertama ini berisi uraian tentang hal-hal yang mendasar dai silat Kumango yang terdiri dari :
• Asal usul dan perkembangan silat Kumango
• Falsafah yang mendasari dan tujuan silat
• Beberapa istilah teknis dalam silat
• Syarat-syarat mempelajari Silat Kumango
• Gerak-gerak silat

Asal Usul dan Perkembangan Silat Kumango
M engawali tulisan ini penulis akan mengungkapkan terlebih dahulu asal usul silat Kumango. Hal ini perlu guna menjawab dan meluruskan pandangan atau pendapat yang berkembang dalam masyarakat tentang asal usul serta hakekat silat ini. Ada beberapa pendapat atau pandangan yang terdapat dalam masayarakat. Antara lain bahwa silat Kumango berasal dari silat Lintau yang dibawa ke Batusangkar dan di Batusangkar ditambah dengan ilmu kebatinan. Pendapat lain mengasosiasikan nama silat ini dengan istilah barang kumango, barang dagangan yang terdiri dari bermacam-macam barang. Mereka berpendapat bahwa silat ini berasal dari bermacam-macam silat yang ada di Minang Kabau yang digabungkan menjadi satu. Benarkah demikian?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa dari segi umurnya Silat Kumango dibanding dengan silat-silat lainnya seperti Silat Lintau dan Silat Tuo memang relatif lebih muda. Pertama kali diajarkan oleh almarhum Syekh Abdurrahman Al Khalidi sekitar tahun 1850-an. Almarhum menurut penuturan orang tua-tua dan juga beberapa guru silat memang pernah datang ke Lintau untuk berguru silat.

Gambar Bagan Ahli Waris Silat Kumango (oleh penulis tahun 2008)

Akan tetapi keinginan beliau itu tidak terpenuhi karena setelah beberapa hari berada di sana beliau tidak pernah diajar oleh guru yang bersangkutan. Keberadaan beliau di sana hanya sekedar melihat atau sebagai penonton orang bersilat. Karenanya beliau pulang saja ke Kumango. Dari penuturan di atas jelas tidak mungkin Silat Kumango berasal dari Silat Lintau. Adalah hal yang musykil hanya dengan melihat orang belajar silat selama beberapa hari saja seseorang dapat menguasai silat. Apalagi dikatakan bahwa dari Lintau dibawa ke Batusangkar kemudian diberi ilmu kebatinan. Kalau demikian halnya maka namanya haruslah Silat Batusangkar, bukan Silat Kumango. Seperti kita ketahui di Minang Kabau pada masa lalu itu silat diberi nama menurut daerah asalnya seperti Silat Koto Anau, Silat Maninjau, Silat Pauh, Silat Sungai Patai dan sebagainya. Apa lagi ditambah dengan embel-embel bahwa tiba di Batusangkar diberi ilmu kebatinan. Apa yang dimaksud dengan ilmu kebatinan itu tidak pula jelas. Sepanjang yang penulis warisi dalam silat Kumango tidak pernah ada apa yang disebut ilmu kebatinan itu. Yang ada hanyalah bahwa Silat Kumango memiliki suatu falsafah yang berdasarkan ajaran-ajaran agama sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasul. Dan ini memang merupakan dasar pertama yang harus ditanamkan kepada pesilat.

Pendapat yang mengatakan Silat Kumango merupakan gabungan dari berbagai macam silat yang ada di Minang Kabau agaknya juga tidak beralasan dan sukar untuk diterima. Bagaimana mungkin seseorang bisa menggabungkan beberapa aliran silat, sedangkan mempelajari satu macam silat saja tidak pernah dapat karena orang tidak mau mengajarkan.

Gambar. Syekh Abdurrahman Al Khalidi

Silat Kumango adalah sebuah aliran di Minang Kabau dan nama itu didasarkan kepada daerah tempat lahirnya yaitu nagari Kumango kecamatan Sungai Tarab kabupaten Tanah Datar. Dan silat ini seperti telah disinggung di atas diwariskan oleh Syekh Abdurrahman Al Khalidi atau Syekh Kumango. Almarhum mewarisi silat ini sekitar tahun 1840-an dari seseorang dengan cara yang luar biasa, diluar jangkauan akal dan tidak mungkin dialami oleh semua orang. Kisahnya adalah seperti berikut.

Datuk Majoindo (sebelum beliau bergelar syekh) bertoko di Pasar Gadang Padang. Pada suatu pagi ketika beliau membuka pintu toko tanpa diketahui dari mana datangnya di belakang beliau sudah berdiri saja seorang laki-laki berpakaian serba putih seperti penampilan orang peminta-minta yang di Minang Kabau biasanya dipanggil “PAKIAH”. Dengan penuh keheranan beliau bertanya tentang maksud kedatangan pakiah, asal usul darimana pakiah berasal dan apa tujuannya datang pagi–pagi betul. Oleh pakiah dijawab bahwa kedatangannya pagi itu hendak minta uang untuk membeli nasi karena pagi itu dia belum makan. Kemudian karena belas kasihan beliau beri pakiah uang dan melanjutkan pekerjaan membuka pintu toko.

Si pakiah setelah menerima uang tidak beranjak dari tempat semula. Ketika ditanya oleh Datuk Majoindo mengapa pakiah belum juga pergi, oleh pakiah dijawab bahwa uang itu belum cukup, minta ditambah lagi. Walaupun merasa kesal dalam hatinya permintaan pakiah itu dipenuhi juga oleh Datuk Majoindo. Namun walaupun telah ditambah uangnya pakiah itu masih belum pergi, ia masih berdiri di tempat semula. Melihat perilaku pakiah yang demikian itu, dengan nada marah Datuk Majoindo bertanya lagi mengapa pakiah belum juga pergi. Kemudian dengan nada datar pakiah menjawab bahwa uang yang diberikan masih belum cukup juga. Jawaban pakiah ini menambah kemarahan Datuk Majoindo. Namun demikian beliau mengeluarkan uang dari kantong lalu menyerahkannya kepada pakiah dan mengusirnya sambil mengancam akan menampar pakiah kalau belum juga pergi.

Ancaman Datuk Majoindo akan menampar itu mendapat reaksi atau jawaban yang mengejutkan dari pakiah. Saya memang menunggu tamparan dari Datuk, ujarnya. Kemudian dilanjutkannya bahwa tamparan itu tidak akan diterimanya saat itu tetapi berjanji tujuh hari lagi, pada saat ia akan datang lagi ke Padang. Yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa pakiah menyuruh Datuk Majoindo dalam masa tujuh hari itu untuk pergi menemui guru-guru atau teman-teman beliau guna menambah ilmu dalam menghadapi pakiah nantinya. Selesai berucap pakiahpun pergi.

Peristiwa pagi itu membuat Datuk Majoindo tidak habis pikir, lebih-lebih lagi mengingat ucapan pakiah yang menyuruh beliau menambah ilmu lagi. Betapa tidak, Datuk Majoindo bukanlah orang sembarangan. Beliau telah menuntut ilmu ke mana-mana dalam Luhak Nan Tigo ini. Di mana saja ada guru-guru yang berilmu tinggi beliau datangi, sehingga beliau juga memiliki ilmu yang tinggi pula. Selama kurang lebih sepuluh tahun beliau menjadi parewa (preman) malang melintang dalam dunia judi, tidak seorangpun yang berani melawan atau menantang beliau. Sekarang tiba-tiba datang seorang pakiah yang kalau dilihat dari lahiriahnya atau penampilan secara fisik tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Datuk Majoindo, menantang untuk menguji ilmu.
Hampir semalaman Datuk Majoindo tidak tidur memikirkan peristiwa itu. Dalam benaknya Datuk Majoindo bertanya-tanya siapa pakiah itu sebenarnya, dan apakah perintah pakiah untuk menemui guru-guru atau kawan-kawan guna menambah ilmu lagi akan dituruti atau tidak. Akhirnya sampailah Datuk Majoindo kepada suatu kesimpulan bahwa mungkin saja pakiah itu seorang yang berilmu tinggi, kalau tidak tentu saja tidak mungkin dia mengeluarkan ucapan yang menantang itu. Karenanya perintahnya perlu pula dipertimbangkan untuk dilaksanakan.

Demikanlah akhirnya Datuk Majoindo mengambil keputusan untuk mencari guru-guru atau kawan-kawan beliau seperti perintah pakiah. Keesokan paginya berangkatlah Datuk Majoindo dari Padang. Mula-mula beliau menuju Batusangkar, kemudian dilanjutkan ke Payakumbuh. Dari Payakumbuh terus ke Bukittinggi. Setiap guru atau kawan yang beliau temui di ketiga tempat itu tidak ada yang dapat menambah ilmu Datuk Majoindo. Jangankan menambah malahan setiap orang yang ditemui justru minta ilmu kepada beliau. Kembalilah Datuk Majoindo ke Padang tanpa tambahan ilmu sama sekali.

Genap tujuh hari sebagaimana yang dijanjikan, selesai menutup tokonya Datuk Majoindo sudah bersiap-siap menunggu kedatangan pakiah. Sudah masuk waktu Isya pakiah belum juga datang. Datuk Majoindo mengira mungkin pakiah tidak jadi datang. Beliau masuk ke kamar mengunci pintunya lalu tidur-tiduran. Sambil tidur-tiduran beliau terus merenungkan soal pakiah apakah dia akan datang atau tidak. Dalam merenung-renung itu beliau tertidur.

Beberapa saat kemudian Datuk Majoindo terkejut dibangunkan oleh seseorang yang tidak lain adalah pakiah. Dia telah berdiri di sisi tempat tidur Datuk Majoindo. Setelah berbincang-bincang sebentar keduanya turun ke luar toko. Keduanya sudah siap menguji ilmu masing-masing. Pakiah mempersilahkan Datuk Majoindo untuk menyerang terlebih dahulu. Setiap serangan yang dilakukan Datuk Majoindo tidak satupun yang dapat mengenai pakiah. Serangan-serangan itu lepas begitu saja sehingga beliau membentur dinding dan tiang toko yang membuat badan beliau memar dan kepala beliau berdarah. Datuk Majoindo terus mencoba lagi menyerang pakiah dengan mengerahkan semua ilmu yang beliau miliki, akan tetapi semuanya luput , tidak ada yang mengena sasaran. Karena serangan-serangan yang dilakukan Datuk Majoindo tidak mempan dan tubuh serta kepalanya mengalami cedera, maka Datuk Majoindo mengaku kalah dan mintakepada pakiah untuk dijadikan sebagai murid. Beliau ingin berguru kepada pakiah. Selesai pertarungan hal pertama yang dilakukan pakiah adalah mengobati luka-luka dan cedera yang diderita Datuk Majoindo. Pengobatan itu dimulai oleh pakiah dengan Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulilah. Dengan pertolongan Allah semua luka-luka dan cedera yang diderita Datuk Majoindo sembuh sehingga kondisi fisik beliau kembali seperti semula. Setelah itu Datuk Majoindo disadarkan oleh pakiah atas kejahilan dan dosa-dosa beliau di masa lalu dan kemudian ditaubatkan.

Permintaan Datuk Majoindo untuk berguru dipenuhi oleh pakiah, tetapi belum dilaksanakan pada saat itu. Pakiah berjanji akan datang lagi. Rupanya janji pakiah untuk datang lagi tidak segera terlaksana. Karena tidak sabar menunggu lama-lama maka Datuk Majoindo berusaha mencari pakiah. Selama tiga bulan lamanya Datuk Majoindo mencari pakiah ke mana-mana, sampai ke Kerinci. Akhirnya pakiah ditemukan juga, maka mulailah pakiah mengajari Datuk Majoindo. Menjadilah sekarang hubungan pakiah dengan Datuk Majoindo hubungan guru dengan murid.

Pelajaran yang harus diikuti dalam dua tahapan. Tahap pertama berlangsung di daerah sekitar Minamg Kabau dan tahap kedua di Tanah Suci, khususnya di Madinah. Tahap pertama berlangsung selama empat puluh hari empat puluh malam. Yang dilakukan oleh guru pada tahap pertama ini adalah latihan fisik dan mental termasuk pelajaran silat. Selama empat puluh hari empat puluh malam Datuk Majoindo harus mengikuti guru melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Perjalanan dilakukan siang malam, menempuh medan yang sulit, semak belukar, mendaki dan menurun, menempuh jalan-jalan yang tidak pernah dilalui orang tanpa istirahat, kecuali pada waktu sholat. Datuk tidak boleh mengeluh ataupun bertanya. Alhamdulillah perjalanan ini dapat diikuti dan diselesaikan oleh Datuk Majoindo dengan baik.

Pada hari keempat puluh atau hari terakhir berhentilah guru dan Datuk Majoindo di bawah sebuah pohon besar, konon lokasinya menurut H. Abdul Malik bin Syekh Mudo Abdul Qodim Balubus Payakumbuh, pohon besar itu berlokasi di Tanah Bato Panyabungan Tapanuli Selatan. Setelah istirahat sebentar guru menyuruh Datuk Majoindo berdiri lalu mereka bersilat berdua. Selesai bersilat maka berkatalah guru kepada Datuk Majoindo bahwa pelajaran tahap pertama selesai sampai di situ dan akan dilanjutkan dengan tahap kedua di Tanah Suci. Untuk itu Datuk Majoindo harus datang sendiri ke Mekkah pada musim haji, sedangkan guru menunggu di sana. Datuk Majoindo disuruh pulang dulu ke kampung untuk mempersiapkan diri dan minta izin orang tua. Seperti halnya dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya selesai berucap gurupun pergi, dan Datuk Majoindo pulang ke Kumango.

Setelah cukup segala persiapan dan telah mendapat izin orang tua Datuk Majoindo harus berangkat menuju Medan karena keberangkatan ke Mekkah melalui pelabuhan Belawan. Datuk Majoindo berangkat dengan berjalan kaki melalui jalan-jalan pintas. Dari Kumango ke Payakumbuh ke daerah Suliki, dari sana ke Pasaman. Di daerah Pasaman menjelang daerah Kumpulan, Datuk Majoindo dikeroyok oleh empat orang laki-laki. Tanpa disadari oleh Datuk Majoindo keempat laki-laki itu terjerembab ke dalam selokan saling berhimpitan, diantara mereka ada yang luka-luka dan ada yang patah tulang.

Pada waktu itu datang bisikan halus ke telinga Datuk Majoindo agar orang-orang itu dikasihani dan diobati. Setelah mendengar bisikan itu maka diobatilah keempat orang itu seperti yang dilakukan oleh pakiah kepada beliau waktu di Padang, dimulai dengan Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulilah. Dengan pertolongan Allah keempat orang tersebut sembuh dari cederanya. Keempat orang itu berterima kasih dan minta maaf kepada Datuk Majoindo. Oleh Datuk Majoindo ditanya apa maksud orang-orang tersebut mengeroyoknya. Oleh keempat orang itu dijawab bahwa mereka melakukan itu semua untuk barang-barang bawaan Datuk Majoindo. Setelah minta maaf dan mengakui kesalahan orang-orang itu dinasehati dan disuruh bertaubat.
Muncul persoalan akan dikemanakan orang-orang tersebut. Akan dibawa tentu saja tidak mungkin dan akan mengganggu perjalanan walaupun mereka ingin ikut dengan Datuk Majoindo. Dalam berpikir-pikir itu teringat oleh beliau Syekh/Ayah Kumpulan, seorang tokoh/guru tareqat Naqsyabandiyah. Beliau tanyakan kepada orang–orang tersebut di mana surau Ayah Kumpulan. Rupanya orang-orang tersebut mengetahuinya. Dengan petunjuk orang–orang tersebut beliau berjalan menuju surau Ayah Kumpulan. Oleh Datuk Majoindo keempat orang itu dititipkan kepada Ayah Kumpulan. Setelah itu beliau berangkat menuju Medan.
Di Medan Datuk Majoindo tinggal di Deli Tua di rumah seorang Imam Masjid H. Abdul Gafar, khalifah dari Syekh Kumpulan. Keberadaan beliau di Deli Tua diketahui oleh kepala keamanan istana. Pada suatu hari , Datuk Majoindo diundang oleh kepala keamanan istana raja Deli Tua ke suatu tempat. Sesampai di tempat beliau dikeroyok oleh kepala keamanan itu bersama dua orang temannya. Sama halnya dengan kejadian di Pasaman, tanpa disadari oleh Datuk Majoindo orang tersebut jatuh berhimpitan. Ada yang cedera dan ada yang luka karena terkena senjatanya sendiri. Datang pula bisikan agar ketiganya dikasihani dan diobati. Hal itu dilakukan pula oleh Datuk Majoindo seperti yang di Pasaman.

Setelah diobati ketiga orang tersebut langsung kembali ke tempatnya. Sampai di istana, karena tidak puas dengan kekalahannya mereka membuat fitnah bahwa Datuk Majoindo akan membuat kekacauan di istina. Berita itu didengar oleh raja, dan memerintahkan seorang hulubalang menjemput dan membawa Datuk Maoindo ke istana. Di istana oleh Datuk Majoindo diceritakan semua kejadian yang telah dialaminya kepada raja. Setelah mendengar keterangan dari Datuk Majoindo raja menyuruh beliau pulang. Keesokan harinya Datuk Majoindo dipanggil kembali oleh raja ke istana. Di istana diberi tahukan oleh raja bahwa semenjak hari itu beliau diangkat sebagai penasehat keamanan istana. Bersamaan dengan pengangkatan tersebut kepada beliau oleh raja dihadiahkan sebidang tanah dan raja berjanji bahwa seluruh biaya naik haji Datuk Majoindo akan ditanggung oleh raja. Jabatan itu dipegang oleh Datuk Majoindo kurang lebih enam bulan, yaitu sampai waktu keberangkatan beliau ke Mekkah.

Di Mekkah Datuk Majoindo hanya selama menunaikan ibadah haji. Selesai melaksanakan ibadah haji beliau pindah ke Madinah dan mukim di sana selam lebih kurang sepuluh tahun. Di Madinah beliau mendalami ilmu agama khususnya ilmu tareqat. Selesai mendalami agama pada waktu akan pulang ke tanah air oleh guru dan teman-teman beliau Datuk Majoindo diberi nama Syekh Abdurrahman Al Khalidi. Nama Abdurrahman diambil dari nama Syekh Abdurrahman Batuhampar Payakumbuh, guru beliau mengaji pada waktu remaja.
Dari Madinah Syekh Abdurrahman Al Khalidi tidak langsung pulang ke Kumango, beliau singgah dulu di Kedah Malaysia. Di Kedah beliau banyak menundukkan/menaklukan para jawara, bahkan beliau sampai ke Patani, Thailand mentaubatkan dan mengislamkan orang. Oleh Sultan Kedah ditawarkan untuk tinggal disana dan diangkat sebagai penasehat. Bersamaan dengan itu kepada beliau disuguhkan sebidang tanah yang cukup luas sebagai hadiah. Tawaran tersebut beliau tolak dan memilih untuk pulang ke kampung di Kumango.
Di Kumango Syekh Abdurrahman Al Khalidi tinggal/mendiami sebuah surau di atas tanah waqaf warga suku Piliang Laweh. Lokasinya di seberang sebuah sungai kecil, sehingga masyarakat atau warga Kumango menamakanya “Surau Subarang”. Di surau inilah beliau mengajar tareqat dan silat. Silat yang beliau ajarkan adalah silat yang beliau warisi dari guru beliau, yaitu pakiah.

Gambar  Surau dan Makam Syekh Abdurrahman Al Khalidi

Dari uraian di atas kiranya dapat kita ambil kesimpulan bahwa silat Kumango adalah silat yang tidak dapat dilepaskan dari sosok Syekh Abdurrahman Al Khalidi. Silat Kumango bukanlah silat Lintau yang diberi ilmu batin atau silat yang merupakan gabungan dari bermacam-macam silat.

Syekh Abdurrahman Al Khalidi mewarisi silat itu dari seseorang laki-laki yang dikenal sebagai Pakiah. Pertanyaannya sekarang adalah siapakah pakiah, guru yang mengajar beliau itu? Tidak banyak keterangan yang dapat penulis gali sehubungan dengan pertanyaan ini. Semua khalifah, murid serta anak-anak beliau sama-sama mengatakan bahwa beliau Syekh Kumango belajar kepada seorang pakiah. Namun tidak semua mereka dapat menjelaskan siapa pakiah itu yang sesungguhnya. Namun ada juga satu dua orang diantara mereka yang mengatakan bahwa pakiah itu adalah waliyullah.

H. Abdul Malik bin Syekh Abdul Qodim menyebut- kan secara kongkrit nama waliyullah itu, yakni Autad. Salah seorang anak Syekh Abdurrahman Al Khalidi, Ismail Rahman Dt. Paduko Mulia dalam tulisannya mengatakan bahwa pakiah adalah salah seorang waliyullah yang diutus oleh guru beliau di Batu Hampar dahulu, yaitu Syekh Abdurrahman Nan Tuo untuk menyadarkan beliau akan kejahilan yang beliau lakukan selama kurang lebih 15 tahun dan menasehati serta menyuruh beliau bertaubat. Ada seorang guru silat yang mengatakan bahwa pakiah itu adalah cindaku (sebangsa syaitan atau hantu), na’udzubillahi min dzalik.

Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para pendahulu kita itu, kita tinggalkan pendapat-pendapat tersebut tanpa memberikan penilaian benar atau salah, karena mungkin ilmu kita tidak cukup untuk itu. Tidak ada seorangpun yang tahu persis, oleh sebab itu benar atau salah kita serahkan saja kepada Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menentukan.

Syekh Kumango mewariskan ilmu tareqat dan ilmu silat kepada para khalifah dan anak-anak beliau, yang kemudian mewariskan lagi kepada muridnya. Diantara khalifah-khalifah beliau dapat disebutkan antara lain Syekh Baringin di Tebing Tinggi Sumatera Utara, Syekh Mudo Abdul Qodim di Balubus Payakumbuh yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Balubuih, dan H. Idris di Sungai Puar Bukittinggi. Para khalifah beliau ini lebih menitik beratkan kepada tareqat. Syekh Balubuih ada mengembangkan silat melalui anak beliau H. Abdul Malik. (catatan : di daerah sekitar Balubus silat ini sering disebut silat Balubuih atau silat Angku Malik, akan tetapi yang bersangkutan sendiri dalam tulisannya menyebutkan silat ayah Kumango).

Anak-anak Syekh Kumango semuanya mewarisi baik tareqat maupun silat, akan tetapi tidak semuanya aktif mengembangkannya. Anak-anak beliau yang aktif mengembangkan silat adalah M. Saleh di Kedah, Malaysia; M. Daya di Padang; Syamsuddin (Udin Mauji) di Kumango. Sedangkan M. Dali Angku Gadang di Kumango lebih menitik beratkan pada tareqat dan merupakan anak Syekh Kumango satu-satunya yang mengajarkan tareqat sampai akhir hayatnya. Di antara anak-anak beliau yang menonjol perannya dalam mengembangkan silat adalah Ibrahim Paduko yang mengajar silat di Kumango, Simpurut Batusangkar dan juga pernah mengajar di Padang; Syamsarif Malin Marajo yang mengajar di Simpurut, Batusangkar, Bukittinggi, Medan, dan Malaysia; dan Ismail Rahman di Tanjung Aro Sikabu-kabu Payakumbuh dan juga mengajar di Medan.
Di Batusangkar dan sekitarnya pengembangan silat dilakukan oleh anak-anak sasian (murid) dari Ibrahim Paduko dan Syamsarif Malin Marajo. Mereka itu adalah Maarif di Simpurut, M. Zen di Sijangek dan Zaenal Abidin Rasyad di Kumango. Murid-murid mereka sudah berpencar pula ke seluruh pelosok tanah air dan diantaranya ada pula yang mengembangkan silat di tempat mereka tinggal.

Sosok yang paling menonjol diantara anak-anak Syekh Kumango dalam pengembangan silat ini adalah Syamsarif Malin Marajo. Almarhum dengan kemampuan ilmu dan pengalaman mengajar yang beliau miliki, telah berhasil memperkaya gerakan-gerakan silat sehingga lebih lengkap dan tampil beda dengan yang dimiliki para guru/pendekar silat Kumango lainnya.

Seperti telah disinggung di atas pada waktu muda almarhum pernah mengajar silat di Medan dan di Malaysia pada awal-awal than 1940-an. Pengalaman mengajar itu telah memperluas ilmu dan itulah yang digunakan almarhum dalam memeperkaya gerakan silat. Sayangnya dalam pandangan sementara guru-guru silat baik silat Kumango maupun aliran lain silat yang almarhum ajarkan yang sekarang sudah dirobah ataupun dicampur bahkan tidak jarang yang mencapnya bukan silat Kumango. Bahkan ada yang menisbahkan silat ini kepada diri almarhumsehingga disebutnya silat ”Malin Marajo“, sesuatu yang tidak pernah terpikir dan tidak pernah diinginkan almarhum sebagaimana yang penulis dengar langsung dari almarhum. Pada hal pengayaan tersebut tidak menambah ataupun merobah dasar gerak yang diwarisi beliau dari ayah beliau Syekh Kumango, melainkan memperkaya gerak–gerak dasar tersebut. Dan semuanya itu tidak mengurangi bahkan sebaliknya justru mempertinggi mutu teknik silat itu sendiri.

Pendapat-pendapat tersebut tidak perlu dipermasalah kan, karena yang berpendapat demikian hanyalah orang-orang yang melihat dari luar, hanya melihat rupa, tidak mencimpunginya ke dalam. Kalau mereka mencimpunginya ke dalam maka mereka akan merasakan hal yang berbeda dengan apa yang mereka lihat sehingga pandangan mereka akan berobah. Pepatah mengatakan bahwa “tahu di rupo urang mancaliak tahu diraso urang mamakan.” (tahu di rupa orang melihat, tahu dirasa orang memakan).

Keberhasilan Syamsarif Malin Marajo meraih medali emas di arena Pekan Olahraga Nasional ke-dua (PON II) berpasangan dengan M. Zen pada tahun 1952 membuat nama silat Kumang lebih terangkat lagi. Sejak itu silat Kumangao telah dikenal secara Nasional. Hal itu ditambah lagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan almarhum di era sesudah PON II itu.
Setelah PON II itu, Almarhum bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menyusun buku pelajaran silat untuk diajarkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Draft buku pelajaran itu sudah siap lengkap dengan gambar-gambarnya yang semuanya dibuat di Simpurut Batusangkar. Akan tetapi karena adanya pergolakan-pergolakan daerah yang terjadi pada tahun 1956, buku tersebut belum/tidak jadi diterbitkan. Bagaimana keberadaan draft buku tersebut sekarang tidak diketahui sama sekali.

Pada era sesudah PON II itu juga beliau bermain dalam sebuah film cerita nasional hasil garapan dari Usmar Ismail (PERFINI) “Harimau Campa.” Almarhum berperan sebagai guru silat (Saleh), sedangkan Harimau Campa diperankan oleh Bambang Hermanto sebagai murid dari Saleh. Silat yang dipakai dalam film tersebut adalah silat Kumango.
Sebagai informasi tambahan almarhum juga pernah ikut aktif dalam organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dibawah pimpinan Mr. Asaat. Almarhum sendiri menjabat sebagai wakil ketua untuk daerah SumateraTengah.

Masih pada masa setelah PON II, selain banyaknya berdiri sasana, silat juga pernah diajarkan pada lembaga pendidikan formal, khususnya di SMP Negeri 1 Batusangkar lembaga pendidikan tempat penulis menuntut ilmu. Pelajaran silat ini diprakarsai oleh seorang guru yang mempelajari silat kepada Ibrahim Paduko. Penulis sendiri juga terlibat di dalamnya membantu guru yang bersangkutan. Pelajaran silat di sekolah tersebut diberikan dalam 2 bentuk kegiatan pembelajaran.

Pertama, pelajaran/latihan masal yang wajib diikti oleh seluruh siswa laki-laki dari kelas satu sampai kelas tiga. Dilaksanakan sekali dalam seminggu sebelum pelajaran sekolah dimulai. Kedua, pelajaran/latihan per kelas yang dilaksanakan sesuai dengan jam pelajaran yang telah ditentukan. Sangat disayangkan setelah penulis tamat belajar dari sekolah tersebut dan guru yang bersangkutan sudah pensiun pelajaran silat tidak pernah diberikan lagi.

Penulis sendiri juga terlibat dalam pengembangan silat ini baik dalam dunia pendidikan formal maupun informal. Dalam dunia pendidikan formal penulis mengajar di Perguruan Tinggi di Padang seperti di IKIP (sekarang UNP) dan di Sekolah Tinggi Olahraga (STO) yang sekarang FKIK UNP. Ini berlangsung dari tahun 1966 sampai dengan tahun 1975. Hanya saja waktu yang tersedia tidak mencukupi, hanya satu kali dalam satu minggu selama 16 minggu, termasuk kegiatan ujian, dengan alokasi waktu hanya 90 menit. Dengan waktu yang sangat ditambah pula dengan pesertanya kurang lebih 40 orang, pelajaran yang diberikan tidak intensif dan hasilnya tidak memuaskan. Pelajaran yang dapat diberikan hanya gerak-gerak dasar dan itupun tidak pula tuntas. Tidak salah kalau dikatakan bahwa pelajaran yang diberikan hanya sekedar memperkenalkan gerak-gerak dasar silat Kumango.

Dalam rangka pengembangan silat ini penulis juga mengajar silat untuk orang-orang yang berminat yang datang ke rumah. Tapi tidak membuka sasana secara resmi karena ketidaktersediaan waktu berhubung dengan tugas sebagai PNS. Pesertanya terdiri dari berbagai tingkat umur dan pendidikan, mulai dari siswa SMP, SMA, mahasiswa, sarjana muda dan sarjana. Jumlah peserta yang sedikit dan waktu belajar dua kali seminggu maka pelajaran dapat lebih intensif sehingga diantara mereka ada yang telah sampai pada tingkat penguasaan yang memadai, terutama mereka-mereka yang telah berpredikat sarjana dan sarjana muda.
Perkembangan silat ini sampai sekarang masih berjalan terus. Di sekitar Batusangkar kini terdapat beberapa sasana yang aktif mengajarkan silat, seperti di Simpurut, Pagaruyung, Lima Kaum, Pasir Lawas dan di kota Batusangkar sendiri. Di luar negeri silat ini berkembang terutama di negara tetangga Malaysisa. Yang pertama kali mengajarkan silat di negara ini adalah Syamsarif Malin Marajo pada tahun 1940 an. Setelah beliau pulang ke tanah air pengembangan silat diteruskan oleh Mat Hadzir (Bang Suddin) bin Mat Zain bin Haji Ali bin Haji Ibrahim. Kini pengembangan silat di negara ini masih berlanjut dibawah pimpinan Mat Kirul Anwar bin Mat Hadzir dengan jumlah anggota perguruan lebih dari 1000 orang.

Di negara-negara Eropa sekarang ini silat Kumango sudah mulai pula dikenal oleh orang-orang di sana, antara lain di Spanyol, Jerman dan Belanda. Khusus di negara Belanda sejak beberapa tahun yang lalu konon kabarnya sudah berdiri sebuah sasana silat Kumango yang dipelopori oleh Van den Boom (Muhammad Abdul Latif). Selain orang-orang Eropah yang telah disebutkan di atas, silat ini juga telah dikenal oleh orang Jepang. Pada pertengahan tahun 2005 seorang mahasiswa Jepang program Doktor datang ke Sumatera Barat melakukan penelitian bahan desertasinya. Mahasiswa bersangkutan mengambil silat Kumango sebagai obyek penelitian.Karenanya, tidaklah salah kiranya atau tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa silat Kumango kini tidak lagi merupakan milik orang Sumatera Barat, khususnya masyarakat Kumango saja, tapi telah milik masyarakat mancanegara. Dengan kata lain silat Kumango dewasa ini sudah mulai mendunia.
Dasar dan Tujuan Silat

Dalam bab ini akan disajikan dasar-dasar kerohanian dan tujuan silat Kumango. Dasar dan tujuan iu tersimpul dalam rumusan falsafah berikut ini:
“Bagantuang ka tali nan indak ka putuih, bapagang ka raso nan indak kahilang, jago tali jan putuih, awasi raso jan hilang, basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih, lahia silek mancari kawan batin silek mancari tuhan”
(Bergantung kepada tali yang tidak akan putus berpegang kepada rasa yang tidak akan hilang, jaga tali jangan putus, awasi rasa jangan hilang, bersiang sebelum tumbuh, melantai sebelum roboh, dhohir silat mencari kawan, bathin silat mencari Tuhan).

Dasar-dasar silat.
Dalam rumusan falsafah di atas terkandung tiga hal pokok yang merupakan dasar atau sandaran fundamental dari silat.

1. Penggunaan akal dan perasaan.
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya. Keutamaan manusia dari makhluk-makhluk lainnya terletak pada akal dan perasaan. Manusia dikarunia oleh Allah SWT. dua hal utama yang tidak dimiliki makhluk lainnya, yaitu akal dan perasaan. Dengan akalnya manusia dapat menimbang-nimbang dan menganalisa sesuatu dan kemudian mengambil keputusan yang terbaik baginya. Dengan persaan manusia dapat meresapkan dan menciptakan kesenian dan pada akhirnya sampai kepada suatu kebenaran dan keadilan. Demikianlah dengan akal dan perasaan manusia akan sampai kepada kebenaran yang mutlak.

Orang-orang yang menggunakan akal dan perasaannya itu disebut orang-orang yang dadanya berisi atau orang-orang yang “berakal budi “ yang dalam istilah Al Quran disebut “Ulil Albab“. Inilah kandungan yang pertama dalam rumusan falsafah silat “Bagantuang ka tali nan indak ka putuih, bapagang ka raso nan indak ka hilang, jago tali jan putuih, awasi raso jan hilang, basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih” yaitu penggunaan “akal” dan “perasaan“. Sesuatu yang bersifat logis. Silat adalah hasil akal budi manusia. Semua gerakan dalam silat harus berdasarkan dan dapat diterima akal sehat, sesuai dengan akal budi manusia. Jika tidak demikian tidak dapat dinamakan silat.

2. Ketuhanan/Iman dan Taqwa.
Manusia menurut fitrahnya adalah makhluk yang percaya kepada adanya Tuhan. Pengakuan atas eksistensi Tuhan itu diucapkan sendiri oleh manusia pada waktu akan dikeluarkan dari punggung anak Adam sebagaimana yang diperlihatkan oleh ayat-ayat suci Alquran.

3. Kemanusiaan/Persaudaraan dan Kekeluargaan.
Manusia sebagai makhluk berakal ciptaan Allah swt ditakdirkan hidup dengan manusia lain. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa manusia lainnya. Dengan mengambil ungkapan ahli ilmu sosial manusia baru bernama manusia bila ia hidup bersama manusia lainnya dalam suatu pergaulan hidup yang dinamakan masyarakat.
Suatu pergaulan hidup memerlukan kedamaian dan kerukunan. Untuk itu diperlukan adanya peraturan-peraturan hidup. Islam diturunkan oleh Allah swt justru untuk membawa perdamaian, mengajak manusia hidup rukun dan damai. Islam mengajak ummat manusia untuk saling mengasihi, sayang menyayangi, tolong menolong dan saling membantu. Islam sangat mengutamakan persatuan dan kesatuan serta persaudaraan antara ummat manusia dan menempatkan persatuan dan persaudaraan itu di tempat pertama dan utama.
Semuanya itu hanya mungkin kalau setiap manusia memelihara tali persaudaraan atau hubungan silaturrahmi. Inilah yang dinamakan dengan “kemanusiaan“, kandungan ketiga dari rumusan falsafah silat di atas.
Segala macam perbedaan, seperti geogafis tempat lahir, suku, warna kulit bangsa dan sebagainya tidaklah menjadi ukuran atau alasan untuk membedakan ummat manusia. Miskin dan kaya, rakyat ataupun pejabat semuanya sama dalam pandangan Allah.

Kedua esensi falsafah yang disebut terakhir, yaitu “Ketuhanan dan Kemanusiaan” ini yang harus terus dipelihara dan dijaga, seperti diungkapkan dalam falsafah di atas “jago tali jan putuih awasi raso jan hilang” bersendikan kepada Al Quran.

Tujuan Silat.
Sesuai dengan rumusan dasar falsafah di atas maka tujuan dari silat ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. “Mendidik para pesilat yang selalu menggunakan akal sehatnya, berfikir logis efektif dan efisien yang dilandasi oleh iman dan taqwa kepada Allah serta kasih sayang sesama manusia”Untuk mencapai tujuan tersebut pesilat dituntut untuk memiliki sikap diri sebagai berikut:
  2. Selalu memelihara ketaatan kepadaNya, menjalankan segala perintah dan menjauhi semua laranganNya.  Menunaikan ibadah kepada Allah, karena memang untuk itulah manusia diciptakan
  3. Memperbanyak berzikir dan bertasbih untuk mengingat dan mensucikan Allah seperti diperintahkan dalam Al Quran dan hadis Rasulullah.
  4. Mawas diri, tidak lalai dalam mengingat Allah karena mereka menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya.
  5. Mendidik dan membina para pesilat yang berbudi mulia, rendah hati, selalu menghormati dan menjaga hubungan dengan manusia lain.
  6. Tidak merasa mulia diri, karena kemuliaan itu hanyalah milik Allah, dan rasa mulia diri membawa kepada kesombngan dan bangga diri serta takabur, sifat yang tidak disukai Allah.
  7. Mampu mengendalikan nafsu, tidak zalim dan tidak mau berbuat jahat karena menyadari bahwa hal itu hanya akan menimpa dirinya sendiri.
  8. Tidak menggunakan kependekarannya, kecuali untuk membela diri demi kebenaran dan keadilan.

Dalam hal ini lebih suka mengambil sikap bijak, pemaaf yang dilandasi rasa kasih sayang dan tidak berbuat zalim. Dalam ajaran silat ini tidak dikenal apa yangdinamakan lawan atau musuh dan berlaku suatu adagium: “Musuah indak dicari, basuo paralu diilakkan “ (Musuh tidak dicari-cari, bertemu perlu dielakkan). Bila diserang tidak dibenarkan membalas langsung.

Seorang pesilat tidak dibenarkan melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti orang. Biasanya seseorang yang menyerang orang lain berada dalam keadan marah. Oleh karenanya kalau disakiti akan bertambah-tambah kemarahannya. Akibatnya perkelahian tidak dapat dihindarkan. Maka yang akan terjadi adalah permusuhan bukan persaudaraan. Ini bertentangan dengan falsafah zhahir silat mencari kawan.
Kepada setiap pesilat ditanamkan sikap diri untuk selalu menghormati manusia lain. Sikap diri ini diwujudkan dalam perbuatan. Kalau diserang pada tahapan pertama anggaplah yang menyerang itu ibu atau bapa.

Reaksi yang boleh dilakukan adalah mengelak atau menangkis serangan dengan lemah lembut dalam arti tidak menyakiti sipenyerang. Berilah dia nasehat secara baik-baik. Kalau yang bersangkutan masih menyerang anggap dia guru. Reaksi yang dilakukan sama dengan pada serangan pertama dan nasehati dengan baik. Pada serangan yang ketiga anggap sipenyerang itu kawan atau saudara. Reaksi yang dilakukan teatap sama dengan yang sebelum-sebelumnya. Nasehati pula dengan baik.

Kalaupun pada diri sipenyerang terjadi sesuatu, seperti luka, patah, cedera dan sebagainya maka itu adalah sebagai akibat dari perbuatannya sendiri. I’tikad jahatnya yang menjadi hakim pada waktu itu. “Jatuah patah dek pan jeknyo, rusak binaso karano parangainyo”

Dengan sikap diri yang telah diuraikan diatas sipesilat telah bertindak sesuai dengan falsafah dan tujuan silat. Memelihara hubungan dengan manusia sesuai dengan hukum-hukum Allah. Sehingga terwujudlah hablumminallah dan hablumminannaas sekaligus terwujud pula zhahir silat mencari kawan, batin silat mencari Tuhan.

Semua sikap dan perilaku yang diharapkan itu dilatih dan dibinakan kepada setiap pesilat dalam latihan-latihan. Setiap akan memulai latihan pesilat harus membersihkan diri baik secara zahiriah maupun bathiniah. Selanjutnya tatkala mulai melangkah, pesilat dilatih untuk selalu
menyerahkan diri kepada Allah SWT. Demikian pula pada setiap geraknya pesilat dilatih untuk selalu ingat kepadanNya serta tidak menyakiti kawan berlatih.Nilai-nilai filosifis dari dasar-dasar dan tujuan silat kumango ini digambarkan juga di dalam lambang Silat Kumango yang dirancang oleh penulis sendiri

Lambang Silat Kumango
Lambang Silat Kumango, yang merupakan hasil rancangan oleh penulis.

Arti dari lambang Silat Kumango adalah sebagai berikut ini.

  1. Lingkaran yang bertuliskan PERGURUAN SILAT KUMANGO yang bahagian bawahnya diikat pita hijau yang di dalamnya terdapat tulisan PERSIKUM. Lingkaran melambangkan bumi dan warna hijau melambangkan kebenaran dan keadilan. Makna yang terkandung di dalamnya bahwa Perguruan Silat Kumango bertujuan membina dan mendidik para pesilat yang bertanggung jawab dan berani membela serta menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi.
  2. Bangunan yang terdapat di dalam lingkaran terdiri dari surau dan rumah adat serta makam tempat Syekh Kumango dikuburkan, melambangkan tempat silat kumango diwariskan dan dikembangkan. Makna dari lambang ini bahwa Perguruan Silat Kumango membina para pesilat yang mengamalkan ajaran agama dan adat dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Tulisan Allah pada puncak surau melambangkan keyakinan bahwa Allah adalah puncak dari segala-galanya.
  4. Dua tangan yang berjabatan melambangkan hubungan antar sesama. Makna lambang pada no. 3 dan no. 4 adalah bahwa Perguruan Silat Kumango membina pesilat yang selalu memelihara hubungan dengan Allah (hablum-minallah) dan memelihara hubungan dengan manusia (hablum-minannas). Sekaligus melambangkan tujuan utama silat Kumango ”zhahir silek mancari kawan, bathin silek mancari Tuhan”.
  5. Warna kuning mas yang yang memenuhi ligkaran melambangkan kemuliaan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa Perguruan Silat Kumango membina para pesilat yang berhati mulia.
  6. Warna coklat muda yang terdapat pada bangunan melambangkan tanah. Manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Makna yang terkandung di dalamnya bahwa Perguruan Silat Kumango membina pesilat yang rendah hati tidak sombong dan tidak congkak.ini adalah dalam pengertian umum. Jangko berarti ukuran atau mad. Cakak bajangko berarti bahwa serangan harus terukur dalam arti sampai dan tepat ke sasaran, tidak boleh kurang dan tidak boleh berlebih. Dengan menggunakan prinsip mawas diri atau kehati-hatian, ”basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih.”

Beberapa Istilah Teknis dalam Silat
Setiap aliran silat mempunyai istilah teknis yang berbeda satu sama lain. Mungkin saja terjadi untuk hal yang berbeda digunakan istilah yang sama oleh aliran yang berbeda atau sebaliknya, untuk hal yang sama digunakan istilah yang berbeda. Oleh karenanya untuk mengerti suatu aliran silat perlu dipahami pula istilah-istilah teknis yang terdapat dalam silat yang bersangkutan.Dalam silat kumango ada beberapa istilah teknis yang penting untuk diketahui.

1.    Cakak Bajangko.
Istilah cakak dalam silat ini dapat digunakan dalam dua arti, arti umum dan arti khusus. Dalam arti umum cakak sama dengan serangan, sedangkan dalam arti khusus cakak adalah salah satu bentuk dari bermacam-macam serangan yang nanti akan djelaskan dalam bab tentang  gerak-gerak silat.
Cakak dalam rangka pembicaraan kita pada bagian ini adalah dalam pengertian umum. Jangko berarti ukuran atau mad. Cakak bajangko berarti bahwa serangan harus terukur dalam arti sampai dan tepat ke sasaran, tidak boleh kurang dan tidak boleh berlebih. Dengan menggunakan prinsip mawas diri atau kehati-hatian, ”basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih.”

2. Sambuik Bagamo
Sambuik (sambut) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut segala macam tangkisan. Bagamo artinya lemah lembut tetapi liat, tidak sepenuh tenaga dan juga tidak terlalu lemah, sekedar untuk tidak kena serangan lawan.. Dalam gerakan ini lawan bersilat tidak boleh disakiti. Dengan cara demikian diharapkan lawan bersilat tidak akan meneruskan serangannya dan berakhir dengan persaudaraan sesesuai dengan falsafah “lahia silek mancari kawan”.

3. Ganggam Bagamak
Ganggam (genggam), suatu perbuatan memegang. Gamak berarti tidak menggunakan seluruh telapak tangan. Yang berperan di sini adalah ujung-ujung jari. Dengan cara yang demikian ini kita tidak akan kehilangan rasa, “awasi raso jan hilang”.

4. Sapu Bagamang
Sapu adalah suatu gerakan dalam silat yang dimaksudkan untuk menjatuhkan lawan. Sasarannya adalah kaki lawan. Alat yang paling ampuh untuk menyapu adalah tumit. Gamang artinya kejut. Sapu bagamang artinya gerakan menyapu harus disertai dengan gerakan mengejutkan lawan. Caranya dengan mengalihkan perhatian lawan biasanya dengan menggunakan tangan. Dengan gerakan tipuan tersebut konsentrasi lawan menjadi terpecah, bahkan mungkin lupa sama sekali dengan kakinya. Dengan cara itu posisi kaki lawan menjadi lemah, mudah disapu dan akibatnya lawan mudah dijatuhkan.

Beberapa contoh gerakan silat kumango

5. Gelek
Gelek adalah semacam gerakan memutar badan yang diikuti dengan perobahan posisi tangan dan kaki. Gerakan ini digunakan untuk merobah posisi badan baik dalam rangka memindahkan langkah, melakukan serangan, mengelakkan serangan, mengunci, maupun membuka kuncian.
Dengan gelek ini posisi badan berobah menjadi miring atau menyanding sehingga lawan sukar untuk mencari sasaran serangan, dan dengan posisi badan yang demikian akan berlaku salah satu prinsip silat “aturan kanai tapek kanai tipih, aturan kanai tipih lapeh samo sakali” (dengan gerakan gelek ini serangan lawan yang semula akan mengena secara tepat mengena dengan tipis dan serangan yang tadinya akan mengena secara tipis tidak mengena sama sekali).

6. Kaliek
Kaliek (geliat) adalah gerakan khusus dari tangan. Dalam gerakan ini tangan diputar sambil menarik atau mendorongnya sedikit dalam rangka melepaskannya dari pegangan lawan. Kaliek ini dapat pula dilakukan bersama dengan gelek dan oyak sekaligus.
7. Oyak
Oyak adalah suatu gerakan menurunkan posisi badan dengan mematahkan kedua lutut dan badan tetap tegak lurus. Gerakan ini dimaksudkan untuk melepaskan tangan dari pegangan lawan.

8. Mati jo Langkah Iduik jo Langkah
Istilah ini menunjukkan bahwa langkah dalam silat merupakan unsur yang menentukan. Mati jo langkah artinya adalah bahwa bila dikunci oleh lawan posisi kita tetap dalam posisi langkah. Iduik jo langkah artinya membuka dan melepaskan kuncian lawan harus dengan menggunakan langkah. Tidak itu saja, bahkan untuk menyerang harus menggunakan langkah.

Dalam hal membuka atau melepaskan kuncian berlaku hukum :
Mati jo langkah satu, idui jo langkah duo;
Mati jo langkah duo, iduik jo langkah tigo;
Mati jo langkah tigo, iduik jo langkah ampek;
Mati jo langkah ampek, iduik jo langkah satu.

9. Nan Sakik Mancari Ubek
Artinya yang sakit mencari obat. Setiap usaha melepaskan pegangan ataupun kuncian haruslah dimulai dari bagian tubuh yang dipegang atau dikunci lawan. Kemudian dibantu oleh anggota tubuh yang lain, misalnya dengan gelek, oyak dan kaliek.

10. Cancang Talandeh Jadi Ukia
Ini adalah suatu hukum dalam silat yang berhubungan dengan kecepatan mengambil keputusan. Tentu saja kaitannya dengan kemahiran menguasai gerakan-gerakan dalam silat. Arti dari ungkapan ini adalah bahwa kemampuan menggunakan gerakan-gerakan silat dalam berbagai kondisi dan situasi. Dalam keadaan tertentu pesilat tidak lagi harus memikirkan gerak-gerak tertentu. Gerakan apa saja yang menjadi gerak silat ini dapat digunakan dalam situasi yang bagaimanapun.

11. Mamatah Tapatah
Istilah ini berhubungan dengan niat dan perbuatan jahat. Seseorang yang berniat atau melakukan perbuatan untuk mencederai orang lain maka ia sendiri yang akan cedera.

12. Cuek, Baliang, Hantam, Simbek, Sepok, dan Gayuang
Istilah-istilah ini berhubungan dengan serangan kaki. Cuek adalah serangan kaki yang menggunakan ibu jari kaki. Sasarannya pusar, perut, baik sebelah kanan maupun sebelah kiri.
Baliang adalah serangan kaki yang menggunakan sisi kaki sebelah luar. Sasarannya dari pinggang sampai ke lutut dan dapat juga digunakan untuk menyapu dan menggunting.
Hantam adalah serangan dengan menggunakan tumit. Sasarannya adakah lutut dan ibu jari kaki.
Simbek adalah serangan dengan menggunakan sisi kaki bagian dalam, sasarannya adalah bagian kaki dari lutut ke bawah, dan juga dapat digunakan untuk guntingan atau sapuan.
Sepok adalah serangan yang menggunakan telapak kaki, sasarannya adalah pipi dan mata.
Gayuang adalah serangan dengan menggunakan punggung kaki, sasarannya adalah ari-ari.

Riwayat Hidup Penulis

  1. Lahir di Kumango, kecamatan Sungai Tarab, kabupaten Tanah Datar tahun 1937. Mulai mengenal/belajar silat sejak kelas IV Sekolah Rakyat (SR) di Kumango. Kemudian mendalaminya setelah duduk di bangku SMP sampai di Perguruan Tinggi.
  2. Mengajar silat pada Perguruan Tinggi Negeri Sekolah Tinggi Olahraga (STO) Padang dari tahun 60-an sampai dengan tahun 70-an, dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang. Di samping itu juga aktif mengajar untuk masyarakat di luar lembaga pendidikan formal yang diikuti oleh pelajar, mahasiswa, dosen dan masyarakat umum lainnya sampai sekarang.
  3. Duduk dalam kepengurusan Pengurus Daerah Ikatan Pencak Silat (Pengda IPSI) Sumatera Barat, dari tahun 1968 sampai sekarang, sebagai ketua bidang/komisi teknik, dan sekarang sebagai Dewan Pakar.
  4. Memimpin tim pencak silat kontingen Sumatera Barat dan sekaligus menjadi juri pencak silat Pekan Olahraga Nasional (PON) VII di Surabaya tahun 1969.
  5. Mengikuti pendidikan Wasit dan Juri Pencak Silat tingkat Nasional di Jakarta tahun 1972.
  6. Mengikuti penataran pencak silat yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Jayagiri Lembang Bandung.
  7. Menatar guru-guru mata pelajaran Olahraga SPG/PGSLB yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Padang tahun 1980.
  8. Ketua/anggota Dewan Wasit Juri, Dewan Hakim pada kejuaraan tingkat daerah, wilayah dan Pekan Olahraga Nasional.
  9. Ofisial tim pencak silat mahasiswa Sumatera Barat ke kejuaraan mahasiswa tingkat nasional di Medan tahun 1981.
  10. Menjadi ofisial tim pencak silat Sumatera Barat di berbagai kejuaraan nasional dan seleksi Seagames di Jakarta dan Surabaya.
  11. Mengikuti Musyawarah Nasional Ikatan Pencak Silat Indonesia ke IX di Jakarta tahun 1994.
  12. Berpartisipasi pada seminar Studi Kelayakan Pembentukan Program Studi Seni Pencak Silat yang diselenggarakan Sekolah Tingi Seni Indonesia Padang Panjang tahun 2005

Sumber

Ikatan Pencak Silat Budi Suci Perpaduan Gerak Silat dan Zikir

PERGURUAN SILAT BUDI SUCI salah satu perguruan silat batin atau kerohanian yang sudah berkembang sejak dulunya. Aliran perguruan ini memadukan pernafasan dengan amalan doa melalui zikir.

Secara ilmiah, Silat Budi Suci memanfaatkan tenaga listrik yang mempunyai tegangan tinggi yang ada dalam diri. Dengan adanya kekuatan yang timbul dari gelombang listrik itu, maka musuh yang mempunyai niat salah akan terpental dan terjatuh.

Artis Dt. Rajo Indo

Begitu tingginya kekuatan dari dalam tubuh, dapat menimbulkan tenaga yang maha dasyat. Tidak salah kalau seorang anggota Budi Suci itu berzikir. Dalam berzikir mempunyai tingkatan-tingkatan amalan sesuai dengan perkembangan anggota yang mempelajarinya.

Perguruan Budi Suci merupakan tenaga batin atau kerohanian. Sebab, kekuatan yang ditimbulkan perpaduan pernapasan dengan amalan doa dan menyebutnya bukan Tenaga Dalam karena masih menggunakan amalan diiringi metode olah napas.

klik untuk perbesar gambar

Tenaga batin, adalah kekuatan luar biasa yang merupakan anggota kelengkapan ditubuh manusia sebagaimana halnya panca indra dan anggota tubuh lainnya. Tenaga batin bisa dibangkitkan melalui jurus-jurus silat yang dipadukan dengan olah nafas serta konsentrasi, dengan memohon keridhoan Allah SWT.

Karena itu, pengamalan Budi Suci berdasarkan kepada Al-Quran dan Hadist serta selalu berzikir. Dalam pelaksanaan zikir memakai suatu metode yang terdapat dalam ilmu sufi.

Metode pengamalannya dinamakan tarikat yang khusus mutlak diperlukan untuk amalan itu.

Aliran perguruan tenaga batin Budi Suci, mempunyai 10 jurus yang perlu diketahui setiap anggotanya. Masing-masing jurus tersebut, juga mempunyai amalan doa yang dilakukan melalui zikir.

 klik untuk perbesar gambar

Namun, sebelum memasuki amalan doa jurus yang akan dizikirkan, setiap anggota harus lulus zikir pondasi atau zikir awal. Hal ini bertujuan, agar diamalkan lebih berfaedah dan bermakna. Seperti dengan perguruan silat aliran tenaga bathin lainnya, Budi Suci juga mempunyai larangan dan pantangannya.

Larangan dan pantangan yang harus dihindari anggota Budi Suci itu, adalah melawan kepada kedua orang tua, melakukan zina, melakukan zina, meminum minuman yang memabukkan, berjudi dan berdusta.

 Syarat utama jadi anggota Budi Suci adalah beragama Islam dan mengerjakan salat. Kalau larangan dan pantangan itu dilanggar, maka dampaknya akan dirasakan.

Diterima IPSI karena Pencaksilatnya

ALIRAN perguruan tenaga bathin Budi Suci berkembang di Sumatera Barat, khususnya kota Padang sekitar tahun 1976. Orang – orang yang telah berjasa mengembangkannya adalah Tuangku Khaidir dan Buya M. Noer.

Kedua guru ini belajar dari Buya Baharudin sekitar tahun 1960-an, dan Buya Baharudin menuntut Budi Suci kepada Buya Syai’un di Palembang. Diatas Buya Syai’un itu ada tiga tokoh yang sangat berjasa sekali dalam pengembangan aliran Budi Suci, yaitu Syekh Siddiq, Syekh Arman dan Syekh Imran.

 klik untuk perbesar gambar

Tuangku Khaidir membawa Budi Suci ke Sumatera Barat sekitar tahun 1970-an dengan dua murid pertama nya, yaitu Nurdin Nong dan Syofyan yang pada tahun 1976 pergi ke Padang mengembangkan Budi Suci, tepatnya di Mata Air yang sekarang ini menjadi Sekretariat Pusat IPSBS.

Sedangkan Bagindo Bujang pun ikut mengembangkan Budi Suci di Pasir Sebelah Koto Tangah. Murid dari Syofyan, adalah Artis (Dt. Rajo Indo), Arpis, Akmal Men dan Asril. Pengangkatan Artis Dt. Rajo Indo menjadi guru, dilakukan oleh Tuangku Khaidir dan kemudian Nurdin Nong, murid dari Tuangku Khaidir didatangkan ke Padang dan bersama-sama mengembangkan Budi Suci. Keberadaan Budi Suci tidak hanya di Mata Air dan Pasir Sebelah saja, tapi menyebar dalam bentuk sasaran.

Berkat kegigihan Artis Dt. Rajo Indo yang ketika itu sudah diangkat menjadi guru, beliau bersama dengan yang lainnya mengurus izin latihan. Pada tanggal 22 Juli 1978, keluar izin latihan dari Polsek Teluk Bayur dan pada tahun itu juga diajukan izin ke IPSI untuk bergabung.

klik untuk perbesar gambar

Pada tanggal 4 April 1985, Perguruan Budi Suci yang selama ini berlatih bersifat sasaran diterima menjadi anggota Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) Sumatera Barat.

Diterimanya Budi Suci menjadi anggota IPSI, karena ada pencak silat nya, maka resmi lah Perguruan Budi Suci menjadi Ikatan Pencak Silat Budi Suci (IPSBS).

Selanjutnya IPSBS ditunjuk menjadi koordinator seluruh Perguruan Budi Suci yang membuka sasaran, maka dilakukan pendekatan dan pengalangan seluruh Perguruan Budi Suci yang ada.

Kemudian tanggal 4 Januari 1992, Pengurus IPSBS dikukuhkan IPSI Sumatera Barat yaitu oleh Ketua Umum IPSI Sumbar H. Bulkaini HA. Kini Perguruan Budi Suci terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Pendekar60

Beberapa lokasi sasaran Budi Suci, yaitu di Parak Laweh gang kuburan, Banuaran, Mata Air, Parak Karakah, Pampangan, Taruko, Limau Manih, Pasar Ambacang, Pasir Jambak, SMK 5 Padang (eks STM 2 Padang)  dan Limau Manis serta GOR H. Agus Salim.

Untuk luar Kota Padang berada di Pesisir Selatan, Pasaman Barat, Pasaman Timur, Solok, Solok Selatan, Tanah Datar, Bukittinggi bertempat di Tigo Baleh, Agam bertempat di Ambun Pagi, Dumai, Pekan Baru, Batam, Tembilahan, Jakarta, Malang, Bagan Siapi-Api dan beberapa kota besar lainnya.

BERITA TERKAIT :

Padukan Keimanan dan Kesucian Budi

Fauzi Bahar Lantik Pengurus dan Dewan Guru IPS-BS

Fauzi Bahar Lantik Pengurus dan Dewan Guru IPS-BS

PADANG, SOKetua Umum terpilih Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumbar, Dr. H. Fauzi Bahar M.Si melantik Pengurus dan Dewan Guru Ikatan Pencak Silat Budi Suci (IPS-BS) Sumbar masa bakti 2012-2017, di Gedung Serba Guna Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) GOR. H Agus Salim Padang, Minggu (3/6).

Prosesi pelantikan yang berlangsung sederhana ini, turut dihadiri Waketum I KONI Sumbar, Syaiful SH, M.Hum, Danrem 032 Wirabraja dan Kapolda Sumbar.

Ketua IPSI Sumbar, Fauzi Bahar mengatakan, IPS-BS merupakan salah satu perguruan andal yang mampu melahirkan beberapa pesilat di tingkat PORDA serta melahirkan atletnya untuk mewakili IPSI Sumbar tingkat Porwil dan PON.”Oleh sebab itu, sambungnya, sebagai partner dari IPSI kita harapkan dapat melahirkan tenaga-tenaga yang siap pakai dalam membantu dan mengisi babak pembangunan demi memajukan silat di ranah Minang,” tuturnya.

Fauzi Bahar menekankan, bahwa silat memiliki empat aspek yang patut dipelajari serta ditauladani yaitu aspek mental spiritual yang didapat di surau, aspek seni dan budaya Minangkabau, aspek olahraga dan aspek beladiri.

“Karenanya kita mengharap perguruan IPS-BS akan mampu mengembangkan dan memanfaatkannya,” katanya.

“Selain itu Walikota juga akan menerapkan di sekolah-sekolah untuk membuka sasaran silat dan mengganti baju olahraga dengan baju silat, agar ada keseragaman sekaligus menghindari tawuran antar pelajar, dan lebih penting lagi baju tersebut akan bisa diwariskan kepada adik-adik pelajarnya,” terangnya.

Sementara Ketua Dewan Guru Artis Dt.Rajo Indo, ST dan Ketua Umum IPS-BS, AKBP Delvia Derita, S.Kom, MM senada menuturkan, perguruan IPS-BS telah berdiri sejak tahun 1975 di Mata Air Padang Selatan dalam bentuk sasaran silat, dan resmi bergabung dengan IPSI tahun 1985, tetapi IPS-BS  berbeda dengan beladiri Budi Suci (BS), dimana beladiri Budi Suci tidak tergabung dengan beladiri Pencak Silat, dan bukan anggota keluarga IPSI.

Namun dalam pengolahan tenaga dalam IPS-BS dan BS mungkin saja sama, karena IPS-BS memang berasal dari Budi Suci. Tapi dalam perkembangannya, IPS-BS resmi berpedoman kepada Pancasila dan UUD 1945 dan berlandaskan Al,Quran dan Hadist, serta sesuai dengan anggaran rumah tangga yang diakui IPSI, katanya.

Untuk keanggotaan mulai dari Sumatera Barat sampai dekade terakhir ini, IPS-BS telah berkembang di beberapa provinsi dan Negara di luar Sumbar seperti DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Riau, Jambi, Kerinci, Medan, Malaysia dan Thailand.

Sedangkan di dalam Sumbar sendiri terdiri dari sepuluh Kab/Kota yakni Darmasraya, Sijunjung, Pessel, Pasaman, Pasbar, Padang, Bukittinggi, Kabupaten Solok, Solsel dan kota Sawahlunto.

Dilaporkan : MUL
Sumber : disini