KOMIK Perjalanan darat Padang – Jogyakarta

Komik ini akan mengekplorasi keindahan alam, tempat wisata dan kisah perjalanan kami sekeluarga via darat dengan menggunakan kendaraan sendiri dari Padang menuju Jakarta, Puncak Bogor, Bandung, Karanganyar dan Jogyakarta pada musim liburan sekolah Juni 2014 lalu, karena masa liburan maka tiket pesawat pada mahal semua sementara kami 5 beranak dan tempat yang dituju juga ke beberapa kota akhirnya kami memutuskan untuk perjalanan melalui darat dengan pertimbangan bisa melihat keindahan kota yang dilalui, bisa berhenti pada tempat-tempat yang disukai, jumlah orang yang dibawa juga bisa lebih banyak dan yang utama lebih hemat dari segi biaya.

Mohon maaf dan ucapan terima kasih kepada rekan-rekan semua yang photo2 atau karya gambarnya telah kami gunakan dalam pembuatan komik ini tanpa minta izin lebih dulu.

Page_1Page_2Page_3Page_4

Liburan Panjang April 2011

Bukittinggi Dengan Kecantikan yang Memukau

SEPANJANG MENYUSURI BUKITTINGGI tak henti hati memuji keindahan daerah yang pernah menjadi kota utama negara ini. Udara nan dingin, panorama indah dilingkungi perbukitan, plus tanaman hijau yang menambah kesejukan. Dengan modal semacam itu, tidaklah salah jika Bukittinggi menjadi salah satu tujuan wisata yang mesti dikunjungi pelancong yang datang di provinsi Sumatera Barat.

Ada beberapa tempat wisata juga di kabupaten yang pernah menjadi ibu kota negara RI kala perang masih berkecamuk. Salah satunya adalah Goa Jepang yang masih berada di areal pusat kota Bukittinggi.

Goa Jepang adalah bukti sejarah pendudukan Jepang yang masih tersisa hingga sekarang. Lubang gunung yang berdinding batu keras ini panjangnya puluhan meter di bahwa Jl. Raya Ngarai Sihanok, memiliki rahasia dan keunikan tersendiri.

Dengan rongga berbentuk setengah lingkaran yang rata-rata tingginya sekitar dua meter itu– kecuali beberapa rongga yang memaksa para pengunjung membungkuk untuk melewatinya—gua ini dulunya memiliki fungsi strategis bagi serdadu Jepang.

Lorong masuknya sangat dalam dan panjang. Ada sekitar 128 anak tangga untuk turun ke bawah sebelum akhirnya para pengunjung melewati ruang demi ruang Goa Jepang itu. Laksana ”rumah semut tanah”, para pengunjung akan melewati beberapa lorong gua yang bercabang-cabang. Memang tak begitu rumit bagi yang mengetahui gua ini, tapi buat orang yang belum pernah melintasinya lumayan membingungkan. Saat di dalam, pengunjung tak akan bisa membedakan antara pagi, siang, atau malam. Lorong-lorong diberi penerangan lampu neon.

”Gua ini panjang sebenarnya satu setengah kilometer, sekarang hanya sekitar 750 meter,” ujar Oki Satria, pemandu wisata yang juga penduduk asli di sekitar gua.

Goa Jepang itu terbagi dalam beberapa kamar. Mulai dari lorong untuk rapat mereka, tempat makan hingga kamar para tahanan yang orang Indonesia.

Ada 12 barak militer, 12 tempat tidur, 6 buah ruang amunisi, dua ruang makan romusha dan satu ruang sidang. Yang unik adalah, karena lorong gua ini punya beberapa saluran untuk ke atas tanah, beberapa lorong dipakai sebagai lorong penyergapan dan pengintaian bagi para penduduk – Indonesia – yang kebetulan melintasi daerah itu.

”Ini tempat pengintaiannya. Setelah diintai, mereka masuk lewat lorong yang di situ, untuk menyergap,” ujar Oki.

Yang cukup mengagetkan, menurut Oki, selain dua lubang itu, ada sebuah lubang yang dijadikan untuk pembuangan para korban yang jelas telah berupa mayat.

”Ini lubangnya, tapi sudah diperkecil dengan semen agar tak berbahaya buat pengunjung sekarang. Kabarnya, dulu, di lubang ini pernah ada orang luar negeri yang jatuh terperosok,” ujarnya.

Lumayan menyeramkan. Bila seseorang terperosok masuk lubang, ia akan langsung ke bibir jurang Ngarai Sihanok, dan kemudian menghilang untuk selamanya.

Menurut juru kuncinya, gua itu ditemukan pada tahun 1946 setelah Indonesia Merdeka. Menurut Jul Ikram, kepala museum Perjuangan ”Tri Daya Ekadarma” di Jl. Raya Panorama, Satu-satunya senjata yang tersisa dari Goa Jepang itu ada di museum ini. ”Ada pistol yang diambil dari gua, sedangkan yang lain tidak diketemukan,” ujar Jul. ”Sejarah setelah Jepang terlalu panjang sehingga tidak bisa dipastikan kapan senjata-senjata itu hilang.”

Sementara Oki berpendapat bahwa gua yang ditemukan tahun 1942 hingga 1945 ini berisi banyak orang dari berbagai kepulauan di Indonesia yang menjadi tahanan di gua ini. Untuk menjaga kerahasiaan gua pada masa itu, orang Indonesia yang pernah datang akan dibungkam selamanya agar tak ada yang bisa bercerita atau bersaksi.

Di depan gua yang diresmikan sebagai objek wisata oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan pada tanggal 11 Maret 1986 itu, terdapat taman Panorama, yang selain berupa tempat yang rindang, juga tempat bercengkerama dan berjualan cenderamata. Taman yang merupakan bagian dari areal Ngarai Sihanok ini dihiasi pepohonan. Kera-kera liar kerap muncul untuk mendapatkan makanan dari para pengunjung.

”Beli kacangnya, Da. Buat kera-kera itu,” ujar seorang penjual kacang kepada setiap para pengunjung yang melintas.

Tak ada cerita pasti mengapa kera-kera itu muncul. Namun, mereka memang hidup di antara pepohonan lebat. Jumlah mereka cukup besar. Sekali pun mau menerima makanan dari para pengunjung, jangan harap mereka bisa disentuh. SH yang berniat berfoto bersama kera itu hampir dicengkeram kalau tak segera mengelak. Malah beberapa pengunjung terkejut karena si kera tiba-tiba merebut plastik berisi kacang dari tangan mereka. Agaknya, sang kera sudah terlalu lapar.

Jam Gadang

Konon, Goa Jepang ini masih berhubungan dengan jalan yang menuju Jam Gadang. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun.
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun.
Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota). Dulu, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan di masa Belanda, dan berbentuk klenteng pada masa Jepang. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.

Ukuran diameter jam ini adalah 80 cm, dengan denah dasar 13×4 meter sedangkan tingginya 26 meter. Pembangunan Jam Gadang konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden ini, akhirnya menjadi landmark atau lambang dari kota Bukittinggi.

Ada keunikan dari angka-angka romawi pada Jam Gadang ini. Bila penulisan huruf romawi biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka delapan adalah VIII, maka pada angka empat adalah IIII. Entah mengapa angka empat tak dilambangkan dengan IV. Tidak disengaja atau agar bisa membedakan dengan angka enam yang berupa VI? Entahlah.

”Kabarnya ada korban saat pendirian jam ini. Angka empat yang dibuat dalam bentuk angka satu romawi yang berderet dimaksudkan untuk jumlah tumbal itu,” jelas Iben, seorang pemandu yang juga berdarah Sumatera Barat. Agak sumir juga keterangan itu, karena bukankah jam itu sudah dibuat dari negeri Paman Sam sana, sedangkan korban atau tumbal baru terjadi setelah pendirian Jam Gadangnya?

Beragam Lokasi Wisata

Beberapa tempat yang menarik di kota Bukittinggi ini adalah salah satunya benteng tertua adalah Benteng Vort de Kock. Benteng tertua ini memang sudah banyak mengalami renovasi, namun sangat bersejarah dalam perjuangan bangsa.

Tak jauh dari Bukittinggi, sekitar 25 kilometer jaraknya, di Padang Panjang ada Lembah Anai yang biasa dijadikan para pengunjung sebagai tempat untuk berwisata karena air terjun dan sungai di bawah air terjun yang sangat sejuk dan biasa dinikmati orang yang berlintasan di jalan raya yang jaraknya tak jauh dari Lembah Anai.

Dari Jalan Raya Ngarai Sihanok tadi bisa ke arah Danau Maninjau maupun ke Koto Gadang. Keindahan Danau Maninjau memang dapat menarik perhatian para pengunjung, asalkan kelestarian alamnya bisa diperhatikan baik masyarakat dan pemerintah, keindahan danau ini bisa jadi penarik buat kota Bukittinggi yang perlu didukung dengan promosi wisata.

Di sana juga ada istana Paguruyung yang bersejarah terutama bagi masyarakat Padang. Tempat itu mengingatkan kita pada Raja Johan Iskandar (1851) yang mempunyai sembilan orang anak perempuan.

Cukup banyak lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi dan semuanya mengandung sejarah tersendiri. Tak cukup sehari dua hari menyusuri semua tempat tersebut. Dan yang mengesankan adalah semua lokasi wisata ini dibalut dengan keindahan alam khas yang tak bisa dijumpa di daerah lain.

Kalau setiap kabupaten yang ada di provinsi Sumatera Barat dan beribukotakan Padang ini bisa mempercantik diri, alamnya pasti akan mengundang baik turis lokal maupun internasional. Onde mande, rancak bana, itu juga ungkapan yang keluar setiap para pengunjung yang singgah ke sana.

Pengunjung MVF Gratis Bea Masuk

Padangpanjang, Padek— Para pecinta water park Sumbar kini dimanjakan dengan hadirnya Minang Village Fantasy (MVF). Suasana kolam renang plus fasilitas serba komplit menjadi salah satu andalan MVF yang kini ditangani PT Niagara Fantasy Island.  Bagaimana tidak, lihat saja sembilan kolam yang terdiri dari dua kolam anak-anak (Kiddy slide/water boom anak-anak), kolam khusus wanita, kolam semi Olympic, kolam air panas, kolam dewasa (water boom dewasa), kolam ombak, kolam arus dan danau bumper boot. Ditambah lagi bumper car (boom-boom car), menjadi pelengkap MVF sebagai ikon pariwisata Sumbar.

Kepada Padang Ekspres, Supervisi PT Niagara fantasy Island, Arif, dari 60 persen pembangunan yang sudah rampung tersebut, pengunjung sudah bisa menikmati empat fasilitas kolam, yaitu satu kolam anak-anak (Kidy-I), kolam semi Olympic, kolam khusus wanita dan danau bumper boot.

”Awalnya, pembangunan MVF diperkirakan bakal rampung sekitar Juni atau Juli 2008. Namun, karena terjadinya kenaikan BBM, secara otomatis terjadi perubahan pada anggaran pembangunan yang sedikit berakibat terhadap penggandaan material yang pada umumnya di impor dari Australia,” tambah Direktur Utama PT Niagara Fantasy Island, Ir Isnel Eriadi. Meskipun begitu, Isnel Eriadi tetap optimis pembangunan bakal rampung sekitar November ini. Semoga tidak terjadi lagi kendala sehingga harapan masyarakat bisa diwujudkan.

Gratis

Sebagai tanggung jawab moral kepada masyarakat, manajemen PT Niaga Fantasy Island hari ini saja (Selasa, 8/7) membuka MVF gratis untuk umum. Pengunjung tidak dipungut bea masuk dan dipersilakan menikmati empat kolam yang sudah dioperasikan, kecuali fasilitas yang menggunakan koin seperti bumper boot (kapal-kapalan) dan bumper car (boom-boom car).

“Besok (hari ini, red) Minang Village Fantasy gratis untuk umum. Pengunjung tidak dipungut uang masuk dan bebas menikmati empat kolam yang sudah rampung, kecuali arena permainan yang menggunakan koin seperti bumper boot (kapal-kapalan) dan bumper car (bom-bom car),” ujar Isnel.

MVF yang dikelola PT Niagara Fantasy Island sudah mengasuransikan setiap pengunjung kepada Jasaraharja. Dirut PT Niagara Fantasy Island, Isnel Eriadi ketika ditemui wartawan Padang Ekspres di ruangannya mengatakan keselamatan pengunjung sudah kami asuransikan secara penuh. ”Setiap pengunjung kami asuransikan melalui Jasaraharja, baik itu kecelakaan kecil hingga besar,” lanjut Isnel lagi. (wr)

Sumber : www.padangekspres.co.id

Hari Ini, Minang Fantasy Digratiskan

Selasa, 08 Juli 2008 
PADANGPANJANG, METRO– Khabar gembira bagi anda warga Kota Padang Panjang dan Sumatera Barat pada umumnya. Hari ini, Selasa (8/7), objek wisata terpadu Minang Fantasy dibuka secara gratis untuk umum. Setidaknya, berbagai jenis permainan bertekhnologi canggih yang terdapat di lokasi eks Perkampungan Minangkabau Village itu, telah dapat anda nikmati di objek wisata nomor dua terbesar setelah Dunia Fantasy Jaya Ancol tersebut.

Direktur Utama PT Niagara Fantasy Island (NFI) Ir Isnel Eriadi kepada POSMETRO mengatakan, dibukanya kesempatan gratis bagi masyarakat untuk masuk dan berkunjung ke Minang Fantasy, tak lain dalam rangka memperkenalkan ke tengah-tengah masyarakat Sumbar akan keberadaan objek wisata terpadu, yang hadir dengan mengkolaborasikan konsep wisata religi, edukasi, teknologi dan bernilai budaya tersebut.

“Hari ini, kita memang memberikan kesempatan gratis bagi masyarakat Sumbar untuk berkunjung ke Minang Fantasy ini. Setidaknya, dari hal ini diharapkan agar masyarakat benar-benar mengetahui dan dapat melihat dari dekat, jika di Kota Padang Panjang dan Sumbar pada umumnya, telah terdapat sebuah objek wisata yang akan memanjakan mereka dengan aneka permainan berteknologi canggih,” ujar Isnel sedikit berpromosi. Disinggung terkait kesiapan pengerjaan pembangunan kawasan itu, Isnel mengaku jika sebelum memasuki musim liburan Idul Fitri Oktober mendatang, Minang Fantasy telah dapat beroperasi secara optimal (90-95 persen, red).

Bahkan dijadwalkan, Oktober merupakan bulan yang telah ditetapkan untuk dilaksanakannya grand opening Minang Fantasy. “Insya Allah, hal itu dapat kita wujudkan sebelum memasuki musim liburan mendatang. Sehingga untuk memanfaatkan masa liburannya, masyarakat Sumbar tidak harus jauh-jauh lagi berkunjung ke luar daerah. Yang jelas, untuk saat ini saja telah banyak aneka permainan yang bisa dioperasikan,” tandasnya.

Selain aneka permainan basah (water park) seperti kolam wanita, kolam anak, kolam air hangat dan danau bumper boat, saat ini sebut Isnel juga telah beroperasi aneka permainan kering (dry park) seperti bom-bom car, mini disco dan lain sebagainya. Pokoknya imbuh pria murah senyum ini, masyarakat yang datang berkunjung hari ini tetap akan dapat menikmati suguhan aneka permainan bertekhnologi canggih dan pertama di Ranah Bundo ini.

“Sejak beberapa waktu terakhir ini saja, arus kunjungan wisatawan telah mulai berdatangan dari luar daerah. Sebut saja dari sejumlah daerah tetangga seperti Pekanbaru, Medan, Jambi, bahkan para pelancong dari Kota Jakarta. Tak ada salahnya jika anda datang dan berkunjung pada kesempatan ini,” undang Isnel. (ryn)

Sumber : www.posmetropadang.com

Manajer PT SGG ‘Berburu Harta Karun’

PADANG, METRO–Sebanyak 45 manajer dan staf pemasaran PT Semen Gresik Grup (SGG) akan “berburu harta karun” melalui perlombaan penuh tantangan (treasure hunt and amazing race). Kegiatan outbond training ini digelar biro perjalanan wisata Sumatra and Beyond di kawasan wisata Lembah Harau, Kabupaten Limopuluah Koto, 8-10 Juli ini.

Pimpinan Sumatra and Beyond Ridwan Tulus kepada wartawan di Padang menyebutkan, para peserta tersebut terdiri dari 20 pemasaran PT Semen Padang, 16 dari PT Semen Gresik dan sembilan dari PT Semen Tonasa. Menurut dia, “harta karun” yang diburu para peserta adalah keindahan panorama alam Lembah Harau dan aneka budaya tradisional masyarakat Lembah Harau.

Ia menjelaskan, dalam outbond training yang dikemas Sumatra and Beyond dalam paket “Sumatra Challenge” ini para peserta akan dibagi dalam empat kelompok dan melaksanakan tahapan-tahapan training tiga hari penuh. “Setiap kolompok dituntut melaksanakan kerjasama tim, kepemimpinan dan komunikasi antar anggota ketua kelompok untuk menghadapi dan menyelesaikan berbagai tantangan di alam bebas yang ditemui dalam kegiatan outbond,” sebutnya.

Ia mengatakan, para peserta terlebih dahulu mendapat pengenalan materi sebanyak 30 persen dan 70 persen lain berupa perlombaan penuh tantangan di alam bebas yakni dalam kawasan Lembah Harau. “Puncak training ini, adalah aksi penculikan terhadap pimpinan kelompok dan para anggota melakukan pencarian melewati kawasan-kawasan wisata di Lembah Harau menggunakan kendaraan jeep terbuka, sepeda motor, berjalan kaki hingga naik perahu dari susunan bambu,” kata Ridwan.

“Selain ajang training, kegiatan ini sekaligus untuk memperkenalkan keindahan panorama Lembah Harau dan seni budaya Minangkabau kepada para peserta,” tambahnya. Menurut dia, bagi Sumatra and Beyond, kegiatan ini juga bagian untuk memperkenalkan Sumbar sebagai salah satu daerah tujuan wisata tantangan di wilayah Asia Tenggara.

“Sumatra and Beyond pun telah dipercaya ditingkat nasional sebagai biro wisata untuk menggelar kegiatan wisata tantangan dan outbond, karena dinilai sudah memiliki pengalaman ditingkat internasional dan biro pertama yang melaksanakan outbond di Sumbar,” kata Ridwan. Selain itu, tambahnya, Sumatra and Beyond memiliki sejumlah paket wisata tantangan dan outbond yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan multi nasional dan kalangan wisatawan umumnya. (max/rel)

Sumber : www.posmetropadang.com

Melestarikan Budaya Lewat Tenun Pandai Sikek

Liputan6.com, Padang: Hampir di semua wilayah bisa ditemui kerajinan tenun yang sudah turun temurun dengan ciri khas masing-masing. Begitu pula di kawasan Pandai Sikek, Padangpanjang, Sumatra Barat. Dengan 350 ragam motif dan kualitas bahan yang digunakan, tenun songket Pandai Sikek harganya mencapai jutaan rupiah.

Umumnya, songket Pandai Sikek adalah usaha turun temurun. Erma Yunita, misalnya. Dia meneruskan usaha warisan ibu. “Dari tujuh atau delapan tahun khusus perempuan sudah mulai belajar membuat songket ini,” kata Erma menggambarkan menenun menjadi tuntutan yang harus dimiliki kaum perempuan di wilayah itu.

Berbagai cara dilakukan mempromosikan tenun songketnya, mulai agen travel, hotel, dan dari mulut ke mulut. Hasilnya, tenun songket karya Erma banyak diminati wisatawan baik domestik maupun mancanegara. “Kalau Mei-Juni tamu banyak dari Malaysia dan Singapura. Tapi Juli-Agustus irang Indonesia seperti Jakarta, Medan. Turis Eropa Maret-April,” kata dia.

Tantangan usaha ini bukan hanya melestarikan budaya tapi lebih pada agar kerajinan tetap menjadi milik bangsa. Sebab di balik kemasyhuran tenun Pandai Sikek, muncul kekhawatiran kerajinan ini dikuasai negara lain. “Tidak usah takut lah mereka juga tidak akan bisa meniru,” kata Istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla.(YNI/Julianus Kriswantoro)

Hj Erma Yulinita
Desa Pandai Sikek, Kecamatan Sepuluh Koto,
Kabupaten Tanah Datar,
Sumatera Barat
0811.666.179
(0752) 498191, 498327

Sumber : www.liputan6.com