Kebakaran Istana Silinduang Bulan

Kebakaran Istana Silinduang Bulan, Musibah datang lagi melanda Ranah Minang, dini hari tadi Istano Silinduang Bulan, tempat kedudukan Raja Pagaruyung di Batusangkar habis terbakar. Berbagai benda-benda kerajaan terutama yang berupa tekstil ludes.

Kejadian memilukan itu diketahui sekitar pukul 01.30 WIB dini hari tadi. “Saya dibangunkan keluarga lima belas menit setelah api membesar,” kata Puti Reno Raudha Taib, salah seorang anggota keluarga kerajaan, adik dari Raja Pagaruyung St. Muhammad Taufiq Thaib.

Puti Raudha Thaib menyebutkan belum mengetahui dari mana asal muasal api yang menghanguskan lambang kerajaan Minangkabau itu. Menurut Raudha, mengutip keterangan beberapa saksi mata di situ, api berasal dari bagian belakang istano yang diresmikan pada 1985 itu.

Tapi untunglah kebakaran besar itu tidak sampai menghanguskan pusaka-pusaka utama dari kerjaaan Minangkabau. Pusaka-pusaka utama seluruhnya disimpan di satu tempat di luar Istano Silinduang Bulan.

Raudha belum bisa memastikan berapa total kerugian akibat kebakaran ini. Yang jelas ia bersama St. Muhammad Tufiq Thaib sudah memberi tahu semua anggota kerajaan termasuk ke seluruh trah Pagaruyung yang disatukan dalam apa yang disebut dengan `Basa Ampek Balai, Tuan Gadang Batipuah, Tampuak Tangkai Alam di Pariangan, Gajah Gadang Patah Gadiang di Limo Kaum, Simarajo Nan Sambilan, Langgam Nan Tujuah, Lubuak Nan Tigo, Tanjuang Nan Ampek, Sapiah Balahan Kuduang Karatan, Kapak Radai dan Timbang Pacahan’

Puti Raudha Thaib mengatakan bahwa Istano ini harus dibangun kembali, bagaimanapun caranya. Hal itu juga sudah diberitahunya kepada karib kerabat keluarga kerajaan yang tersebar di seantero nusantara.

Istano Silinduang bulan pernah terbakar pada tahun 1961. Sejak itu selama beberapa waktu lamanya Istano belum dibangun. Baru pada 1987 Istano Silinduang Bulan dibangun kembali atas prakarsa Sutan Oesman Yang Dipertuan Tuanku Tuo, Tan Sri Raja Khalid, Raja Syahmenan bin Raja Harun, Aminuzal Amin Dt Rajo Batuah dan segenap anggota keluarga kerajaan. Dalam sebuah perhelatan kolosal, Istano ini diresmikan pada tahun 1989 dengan dihadiri berbagai tokoh dan petinggi negara, termasuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Istano Silinduang Bulan. Rumah Gadang Sambilan Ruang yang merupakan rumah pusaka dari Ahli Waris Daulat Yang Dipertuan Raja Pagaruyung. Sama seperti Istano Basa, istana ini juga pernah terbakar. Di dalam Istano Silinduang Bulan ini katanya banyak tersimpan benda pusaka peninggalan Kerajaan Pagaruyung.

Di halaman Istano Silinduang Bulan ada dua tenda yang menjual karih (keris) untuk oleh-oleh. Keris Minang dengan Jawa, meskipun bentuknya relatif sama, memiliki perbedaan dalam posisi pemasangannya di pakaian adat. Keris Jawa dipasang di belakang, keris Minang di depan.

Di sisi selatan halaman ada sebuah pohon kelapa yang aneh. Batang bagian atas pohon kelapa itu meliuk-liuk seperti spiral. Mungkin sewaktu masih berupa tunas kecil, pohon itu sering dipuntir-puntir orang.

Sejarah Kerajaan Dharmasraya

Kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Melayu Jambi adalah kerajaan yang terletak di Sumatra, berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Lokasinya terletak di selatan Sawahlunto, Sumatera Barat sekarang, dan di utara Jambi.

Hanya ada sedikit catatan sejarah mengenai Dharmasraya ini. Diantaranya yang cukup terkenal adalah rajanya yang bernama Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297) yang menikah dengan Puti Reno Mandi. Sang raja dan permaisuri memiliki dua putri, yaitu Dara Jingga dan Dara Petak.

Setelah Kerajaan Sriwijaya musnah di tahun 1025 karena serangan Kerajaan Chola dari India, banyak bangsawan Sriwijaya yang melarikan diri ke pedalaman, terutama ke hulu sungai Batang Hari. Mereka kemudian bergabung dengan Kerajaan Melayu Tua yang sudah lebih dulu ada di daerah tersebut, dan sebelumnya merupakan daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi menaklukan Sriwijaya. Situasi jadi berbalik di mana daerah taklukannya adalah Kerajaan Sriwijaya.

Dara Jingga

Di tahun 1288, Kerajaan Dharmasraya, termasuk Kerajaan Sriwijaya, menjadi taklukan Kerajaan Singhasari di era Raja Kertanegara, dengan mengirimkan Adwaya Brahman dan Senopati Mahesa Anabrang, dalam ekspedisi Pamalayu 1 dan 2. Sebagai tanda persahabatan, Dara Jingga menikah dengan Adwaya Brahman dari Kerajaan Singasari tersebut. Mereka memiliki putra yang bernama Adityawarman, yang di kemudian hari mendirikan Kerajaan Pagaruyung, dan sekaligus menjadi penerus kakeknya, Mauliwarmadhewa sebagai penguasa Kerajaan Dharmasraya berikut jajahannya, termasuk eks Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Anak dari Adityawarman, yaitu Ananggawarman, menjadi penguasa Palembang di kemudian hari. Sedangkan Dara Jingga dikenal sebagai Bundo Kandung/Bundo Kanduang oleh masyarakat Minangkabau.

Dara Petak

Di tahun 1293, Mahesa Anabrang beserta Dara Jingga dan anaknya, Adityawarman, kembali ke Pulau Jawa. Dara Petak ikut dalam rombongan tersebut. Setelah tiba di Pulau Jawa ternyata Kerajaan Singasari telah musnah, dan sebagai penerusnya adalah Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu Dara Petak dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet yang bergelar Sri Jayanegara setelah menjadi Raja Majapahit kedua.

Tanah dan Airnya Nagari Tanjung-Sungayang

TANAH DAN AIRNYA nagari Tanjung-Sungayang ini pernah ditumpahi darah moyang serta putera-puterinya dalam beberapa periode peristiwa besar yang terjadi:

1. PERTIKAIAN ANTARA KAUM PIDARI DENGAN KAUM ADAT, YANG DITUNGGANGI PENJAJAH BELANDA

Pada tanggal 12 April 1823 di negari Tanjung, yang sebelumnya telah dibakar, berkumpul 600 tentara Belanda dipimpin 28 perwira termasuk satuan marinir, serta pribumi yang membantu Belanda sebanyak lk.12.000 orang. Mereka memiliki senjata kira-kira 2500 senapan, 8 meriam.
Tujuannya untuk menaklukkan kaum Pidari yang bertahan di Puncak Marapalam (Pato).

Kini nagari Tanjung berpenduduk lk 2000 orang; mungkin pada kejadian tersebut Tanjung hanya berpenduduk beberapa ratus saja!

Inilah catatan seorang prajurit Belanda dari medan perang:………….. sewaktu mereka mundur, salah seorang dubalang mereka dengan berpakaian merah seluruhnya mendekati saya dengan klewang terhunus. Karena saya yakin bisa menang maka sayapun menerima tantangannya. Saya terlambat melihat bahwa di belakangnya ada seorang Pidari dengan senjata senapan………. mereka menyerang dengan teriakan-teriakan “kafir Belanda anjing”. Pada tanggal 16 April malam diadakan rapat di Tanjung dimana hadir juga residen Du Puy.

Hendriks menasehatkan agar musuh dari Sumatra itu jangan sekali-kali dianggap enteng. Kadang-kadang, dalam keadaan paling sulit sekalipun mereka bisa memperlihatkan tindakan-tindakan berani luar biasa (daden van ongelooflijken moed). Di tengah hutan puncak Pato, kini masih tersisa satu kuburan tentara Belanda yang tewas pada perang Pidari. Kuburan tersebut tidak terpelihara, padahal ini merupakan situs bukti perlawanan anak-nagari Puncak Pato, jalan menuju Lintau dan Luhak 50 Koto atau dikenal juga dengan sebutan puncak Marapalam, tempat berlangsungnya Sumpah Sati: Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah, saat ini menjadi lokasi tujuan wisata. Dari puncak ini orang dapat memandang lembah Tanjung di bawahnya, serta ke gunung Bungsu yang misterius itu, yang konon tempat orang Bunian bermukim dan terlihat laksana puri raja-raja di Eropa.

2. PENDUDUKAN JEPANG

Merupakan periode penderitaan yang luar biasa, mengakibatkan kesengsaraan pada anak-negari, mirip bahaya yang terjadi di benua Afrika yang dilanda perang saat ini.  Di jalan-jalan bergelimpangan mayat orang mati kelaparan yang tak terurus. Peristiwa ini digambarkan dalam pantun sbb:

It, ni, san, shi, gho, rok; Berbaju goni, berkain tarok (tarok, nama pohon yang kulitnya dapat dibuat menjadi bahan penutup aurat seadanya). Penderitaan semacam ini tak seharusnya cepat dilupakan oleh kita. Qur’an mengajarkan kepada kita untuk selalu mengingat peristiwa-peristiwa kelalaian manusia.

Ambillah hikmahnya, mengapa bangsa kita sampai kalah dan terjajah oleh bangsa asing, ialah karena kurangnya kemampuan tehnologi atau ilmu pareso yang dimiliki. Musuh menyerang dengan meriam, bangsa kita berperang hanya mengandalkan (raso) semangat dan senjata seadanya.

Adalah kewajiban kita semua untuk mendidik anak-kemenakan agar mampu mengusai ilmu-ilmu yang bit informasinya tersimpan di otak kiri dan otak kanan. Buatlah Rencana Keluarga periksalah kehamilan, berikan gizi yang cukup. Bukan hanya mampu berbangga karena memiliki mobil atau perangkat elektronik buatan orang asing, tapi tak punya ilmu apa-apa.

Ke depan marilah kita berlomba-lomba mendidik anak-kemenakan kita sehingga pada saatnya nanti ada orang dari nagari Tanjuang yang meraih hadiah Nobel.

3. PERANG KEMERDEKAAN 1945-1950

Negari Tanjung merupakan basis perjuangan gerilyawan Republik Indonesia. Pada suatu malam yang sunyi, jembatan di sungai batang Selo dihancurkan dengan ledakan dinamit; dan gema gelegar ledakannya sampai kini masih tersimpan dengan baik di dalam memori otak penulis, yang ketika peristiwa itu terjadi berusia lk. 4 th.

Di lain peristiwa rumah gadang Dt. Soda, tempat dapur umum tentara (pusat persiapan makanan), suatu ketika didatangi oleh beberapa tentara KNIL putih dan KNIL hitam (suku Ambon). Mereka menyiramkan minyak ke lantai papan, sambil membentak-bentak. Penulis mengintip semua kejadian ini dari celah-celah lantai. Di bawah lantai tersebut kami bersembunyi, sambil didekap ibu.

Rumah ini tak jadi dibakar, sedangkan rumah lainnya di kampung sebelahnya hangus dibakar. Beberapa saat kemudian barulah diketahui bahwa “Si lupito”, seorang anggota tim kesehatan KNIL ini, pernah bersahabat dengan ibunda, yang dulunya bidan di RS Batavia Centrum.

Si lupito, engkau yang menurut kabarnya dari suku Jawa, mungkin namanya Lupito, telah ikut menyelamatkan salah satu martabat kaum kami, yaitu kaum Datuk Paduko Rajo Dindo, rumah gadangnya. Semoga Allah yang maha esa mengampuni dosamu, dan memberi pahala karena telah berusaha menolong kaum kami.

4. PERGOLAKAN DAERAH 1958-1960

Pada mulanya perjuangan PRRI ini didukung oleh seluruh komponen masyarakat Minangkabau, alim-ulama, cerdik-pandai, penghulu-adat, bunda-kandung/kaum perempuan, kecuali kaum komunis.

Sekali lagi negari Tanjung menjadi basis pertahanan tentara PRRI dari batalyon Harimau Minang dengan komandannya Mayor Badaruddin. Kompi Beringin Sati dibawah pimpinan Bung Muhir Aloha dan Malin Marajo membuat lubang-lubang pertahanan di sepanjang Bukit Guguak Panjang dan Tanah Sirah.

Jembatan Batang Selo dan Selo Tongah dihancurkan agar tentara pusat tak leluasa bergerak menuju puncak Pato. Rumah Gadang Datuk Soda kembali dijadikan markas Koterketj. (Komando Teritorial Ketjamatan) sektor timur tentara PRRI.

Suatu pagi, pada hari Jum’at, hari pekan di negari Tanjung, kira-kira pukul 7 pagi, mungkin tahun 1958 atau tahun 1959, ketika penulis sedang makan pagi,dua pesawat Mustang AURI tiba-tiba menjatuhkan bom serta tembakan senapan mitraliur 12,7 dengan sasaran rumah gadang.

Pesawat jenis Mustang pada saat itu belum memiliki alat navigasi canggih seperti sekarang ini, terbang dari Padang yang berjarak lk. 120 km, menelusuri lereng-lereng rimba raya Bukit Barisan, khusus untuk menghancurkan rumah gadang.  Bom tersebut sedikit meleset sehingga mengenai rumah di depannya, dan menimbulkan kerusakan besar.

Sepanjang dua tahun pergolakan, negari Tanjung sangat menderita. Secara periodik, kampung Melayu-Mandahiling, lokasi rumah penulis dihujani tembakan kanon. Bom-bom yang jatuhnya secara bersamaan ini, dalam beberapa kejadian membunuh dan melukai orang-orang kampung. Dalam suatu kejadian, satu keluarga tetangga penulis mati selurunya karena ditimpa bom disaat tidur.

Penduduk mengungsi ke bukit-bukit di sekitar kampung dan membuat dangau di sana. Seingat penulis, ketika perang kemerdekaan di tahun 1949, dangau itu berada di Lurah si Kuniang, sedangkan ketika peristiwa pergolakan daerah, dangau itu di Lomba. Seandainya tak ada perang, bermukim di dangau dalam hutan merupakan pengalaman masa kecil yang indah, tiada hiruk-pikuk manusia; flora dan fauna adalah sahabat yang tulus dan akrab sepanjang hari.

Di puncak bukit Kayu nan Sebatang, yang ada kuburan seorang wali penyebar agama serta ada mata air dan dianggap keramat oleh anak-nagari, dijadikan benteng pertahanan oleh tentara pusat. Kaum komunis mengambil kesempatan bekerjasama dengan pemerintahan rezim Soekarno meneror masyarakat.

Balai adat nagari Sungayang dijadikan tempat tahanan.

Segala macam kejadian ini telah menimbulkan akibat yang teramat besar dalam peri kehidupan masyarakat petani tradisional tersebut. Rumah-rumah adat runtuh, korban jiwa berjatuhan; lebih lebih mental-perasaan rakyat yang kalah dalam perang melawan pusat. Rakyat merasa rendah diri bersamaan menguatnya pengaruh kaum Komunis sampai dengan peristiwa G30S/PKI.

Negari, yang memiliki suku-suku, sebagai basis kehidupan bermasyarakat di Tanjung dihilangkan pula peranannya dalam periode pemerintahan orde baru.

Akibat dari peristiwa tersebut di atas banyak anak-kemenakan dari negari Tanjung Sungayang yang merantau ke luar tanah leluhur, atau ke luar tanah dan air milik moyang mereka, bak kata pantun mamak H.Y. Dt. Paduko St. Kayo:

Kalau tidak di rumput sarut,
Tidaklah pandan tumbuh berderai 
Kalau tidak karena sulit hidup
Tidaklah kita bercerai berai

Pantun dibalas oleh kemenakan:

Kita sesama anak nagari Tanjung Kini tersebar di atas planet Saling jelang, saling berkunjung
Walau hanya di dunia internet.

Istano Pagaruyung Terbakar, Semua Bukti Sejarah Hangus

BUKTI SEJARAH KERAJAAN Pagarayung, yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, Istano Basa Pagaruyung, ludes terbakar tadi malam. Batusangkar, Padek—Bukti sejarah Kerajaan Pagarayung, yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, Istano Basa Pagaruyung, ludes terbakar, tadi malam.

pagaruyung-2.jpg

Istano yang merupakan replika asli tersebut ludes setelah api yang diduga kuat berasal dari sambaran petir meluluhlantakkan bangunan yang sebagian besarnya dari kayu itu. Atapnya yang berupa ijuk ikut mempercepat api melalap semua bangunan dan isi istano.

Informasi yang dihimpun koran ini dari lokasi kejadian menyebutkan, kebakaran yang menghanguskan Istano Basa Pagaruyung yang terletak di Kenagarian Pagaruyung, Kecamatan Tanjuang Ameh, Kabupaten Tanahdatar, mulai terjadi sekitar pukul 19.46 WIB. Sampai pukul 22.00 WIB api belum benar-benar padam, meski sejumlah mobil kebakaran dari sejumlah daerah dikerahkan ke lokasi.

Sebelumnya, daerah setempat dilanda hujan yang diikuti angin kencang. Lalu, tiba-tiba sebuah sambaran petir menggelegar menyambar bagian puncak istano dengan cepat, menurut saksi mata, yakni pegawai honor yang bertugas di Istano Pagaruyung Anwar, api awalnya membakar dua bagian belakang istano. Api kemudian dengan cepat menjalar ke gonjong, di mana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah di-lewa-kan saat menerima gelar kehormatan adat beberapa waktu lalu. “Waktu itu saya mendengar suara ledakan. lalu api muncul begitu saja. Saya dan kawan-kawan panik, dan mengubungi BPK (Badan Pemadam Kebakaran) Tanah datar,” kata Anwar.

Wakil Kepala Kepolisian Resort (Wakapolres) Tanahdatar Kompol Diarsyah Darwis yang turun langsung ke lokasi kejadian mengungkapkan, upaya pemadaman api terkendala dengan minimnya peralatan.

pagaruyung-1.jpg

Armada pemadam kebakaran yang dikerahkan dari Batusangkar, tidak ada yang dilengkapi dengan tangga. Sehingga upaya pemadaman tidak bisa dilakukan dari jarak dekat. ”Mobil pemadam kebakaran dari Padang baru datang, sekitar pukul 21.00 WIB, ketika istano sudah ludes dan rata dengan tanah,” kata Diarsyah.

Dibangun Tahun 1976

Istano Basa yang terbakar sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa Pagaruyung asli terletak di atas Bukit Batu Patah, yang terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804.

Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat (waktu itu Harun Zain). Pada akhir 1970-an, istano ini dibuka untuk umum. Istano ini juga tercatat sebagai salah satu obyek wisata paling banyak dikunjungi di Sumbar. Sebagai konsultan pembangunan adalah PT Pembangunan Perumahaan, dan proyek pembangunan berada di bawah Departemen Kebudayaan. Pembangunan keseluruhan baru dimulai tahun 1977 dan selesai tahun 1985.

Sampai saat ini diperkirakan dana pembangunan sudah mencapai sekitar Rp 10 miliar. Dana pembangunan sebesar itu tidak saja berasal dari dana APBD Tanahdatar, iuran ninik mamak, tapi juga bantuan Bank Dunia. Bahkan Pemerintah Malaysia ikut menyumbang membangun pagar Istano Basa Pagaruyung. Di kompleks Istano Pagaruyung saat ini terdapat 11 gonjong, 72 buah tonggak. serta dilengkapi dengan surau, tabuh, dan rangkiang.

Pejabat Penting Pernah Di-lewa-kan

Sejak resmi dibuka untuk umum, sejumlah pejabat dan tokoh penting pernah di-lewa-kan (dilantik) menerima gelar kehormatan adat Minangkabau di Istano ini.

malewakan-gala.jpg

Menurut Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie menyebutkan, di antara pejabat dan tokoh penting yang pernah dilantik di Istano Basa Pagaruyung adalah, Raja Negeri Sembilan Malaysia Tuanku Ja’afar Bin Tuanku Abdul Rahman, Sultan Hamengkubowono X, Taufik Kemas (suami mantan Presiden Megawati), Megawati (ketika menjadi Presiden), Gubernur Sumatera Selatan, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution, dan terakhir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dari pejabat dan tokoh penting itu, hanya Taufik Kemas yang di-lewa-kan menjadi datuak, selebihnya cuma menerima gelar kehormatan. ”Taufik Kemas telah menjadi datuak di nagari asalnya, Batipuah. Jadi, karena menjadi suami presiden, maka Taufik juga di-lewa-kan di Istano Basa Pagaruyung,” kata Kamardi.

”Kita berharap Gubernur Gamawan segera merembukkan lagi pembangunan Istano Basa Pagaruyung, seperti Harun Zain membangun dulu.”

Istano Pagaruyung, kata Kamardi harus secepatnya dibangun. Sebab, istano itu merupakan simbol-simbol penting dari sejarah Minangkabau dan Sumatera Barat.

“Jangan sampai simbol-simbol kita hilang,” tukasnya. Ditanya apa saja bukti sejarah penting yang hangus, Kamardi menyebutkan, salah satunya foto raja terakhir Kerajaan Pagaruyung Sultan Alam Bagagarsyah. ”Dalam sambutan saya ketika me-melewa-kan gelara kehormatan Presiden SBY saya meminta agar Sultan Alam Bagagarsyah dijadikan pahlawan nasional. Sebab beliau sangat berjasa. Beliaulah yang mengumpulkan penghulu untuk mendukung kaun paderi melawan penjajah Belanda,” tandasnya.

Gubernur Gamawan Fauzi yang masih berada di Jakarta tadi malam, mengaku terkejut dengan peristiwa kebakaran yang menghanguskan Istano Basa Pagaruyung.
”Tapi yang jelas, kita segera bicarakan dengan pihak terkait, seperti LKAAM, dan pemuka-pemuka adat, serta kepala daerah di Sumbar. Yang pasti, istano itu harus segera kita bangun,” tegasnya.

Kerugian Besar

Sementara, Bundo Kanduang Sumbar Raudha Taib mengatakan akibat kebakaran itu telah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Sebab yang ludes tidak hanya istano, tapi juga seluruh candi, kain-kain hiasan di dalam istano juga ikut hangus. ”Isinya candi dan kain-kain hiasan. Kerugiannya sangat besar,” kata Raudha ketika dihubungi koran ini, tadi malam.

Menyinggung apakah kebakaran itu, merupakan pertanda tentang sesuatu, ia tidak mau berkomentar. Raudha Taib hanya mengatakan terbakarnya, istano tersebut merupakan rahasia Tuhan yang tak bisa ditebak-tebak. ”Ada orang mengatakan itu peringatan, tapi kita tidak bisa menebaknya,” katanya.

Pada bagian lain peristiwa terbakarnya Istano Basa Pagaruyung menyebar cepat. Para perantau yang peduli terhadap sejarah dan wisata Sumatera Barat menyatakan berduka atas kejadian naas yang menimpa Istano Pagaruyung. Para perantau berharap, pemerintah dan pihak yang berkepentingan tidak larut dalam kedukaan.
“Mari buat rencana lagi untuk membangun yang lebih baik. Kita galang bantuan dari simpatisan,” kata Sekretaris Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar (MPKAS) Nofrins. (mal/ztl/mon/abk)

Tokoh yang Pernah dilewakan di Istano Basa Pagaruyung :

  1. Raja Negeri Sembilan Malaysia Tuanku Ja’afar Bin Tuanku Abdul Rahman
  2. Sultan Hamengkubowono X
  3. Taufik Kemas (suami mantan Presiden Megawati)
  4. Megawati (ketika menjadi Presiden RI)
  5. Gubernur Sumatera Selatan
  6. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution
  7. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono
  8. Ny Ani Yudhoyono (istri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono

Jangan Biarkan Hal-hal Kecil Menguasai Perasaan Anda

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Janadah, ia berkata, “Tatkala Rasulullah saw serta  para sahabat kembali dari peperangan Hunain, kami singgah di satu padang tandus. ” Lalu Nabi saw berkata, “Kumpulkanlah oleh kalian apa saja. Barangsiapa di antara kalian mendapatkan sesuatu, bawalah kemari. Barangsiapa menemukan tulang atau gigi, bawalah kemari.”

Said melanjutkan, “Dalam watu sekejap kami telah berhasil mengumpulkan setumpukan besar benda-benda. Lantas Nabi saw bersabda, “Tidaklah kalian lihat benda-benda ini? Begitu juga halnya dosa-dosa yang berkumpul pada salah seorang kalian. Seperti apa yang telah kalian kumpulkan ini. Karena itu, hendaklah orang takut kepada Allah, janganlah ia berbuat dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, karena semuanya akan dihitung!”

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas? Antara lain, setiap kita harus mempertimbangkan lebih dulu baik buruk segala perbuatan yang akan dilakukan. Boleh jadi, karena kurang menaruh perhatian pada perbuatan yang dipandang kecil, namun adakalanya hal kecil itu dapat mengakibatkan keburukan yang besar.

Sebagaimana timbunan hal-hal kecil itu dapat mengancam kehidupan manusia, begitu juga membesar-besarkan yang kecil, juga sangat merugikan.

Allah akan mengampuni dosa-dosa kecil bagi orang mukmin yang selalu berupaya menghiasi  amalnya dengan kesempurnaan sesuai kemampuan. Dia berfirman, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya kami menghapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkankamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An-Nisa : 31)

Alangkah baiknya bila kita menerapkan kaidah penuh toleransi ini dalam pergaulan kita antar sesama. Tidak mengecilkan sesuatu yang mungkin menjadi besar, dan tidak membesarkan sesuatu yang mungkin sebenarnya kecil. Singkatnya, bersikap objektif dan proporsional.

Jika ada seorang suami merasa dongkol karena kekasaran istrinya, hendaklah diingatnya bahwa isterinya itu pun memiliki banyak sikap yang benar. Atau, jika seorang suami sedih melihat salah satu tingkah isterinya, hendaklah dilihatnya dari sisi lain bahwa isterinya itu juga menyenangkannya.

Dalam kaitan ini Rasululllah saw bersabda, “Janganlah seorang suami mu’min membenci isterinya yang mu’minah. Jika ia tidak menyukai salah satu sifat isterinya itu, tentu ada satu sifat lainnya yang akan menyenangkannya.”

Benarlah apa yang pernah ditegaskan oleh Muhammad al-Ghazali, “Jangan Anda biarkan masalah-masalah kecil menguasai perasaan Anda”. Seperti juga penelitian yang dilakukan oleh Joseph Sabeth, seorang hakim di Chicago yang pernah menjadi penasehat perkawinan dan berhasil menolong 40.000 pasangan yang tidak berbahagia. Ia mengatakan, “Sebagian besar ketidakbahagiaan dalam perkawinan disebabkan oleh hal-hal sepele!

Begitulah. Kalau kita perhatikan, salah tanggap, perasaan sensitif yang mudah tersinggung, terpancing emosi menghadapi suatu penghinaan dan perasaan semacamnya dapat menjadikan hal kecil menjadi besar. Dampaknya bisa sampai bentrok fisik hingga pertumpahan darah sampai pada kematian!

Apa jalan keluarnya?

Bersihkan lensa pikiran Anda sehingga Anda dapat menangkap gambar yang besar dari peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Kemudian tentukan gambar ini dalam zona pandangan yang lapang. Pandangan yang meletakkan kelebihan dan kekurangan pada kedudukan yang sama. Jangan melupakan kebaikan jika dilanda keburukan. Dengan cara inilah, ketidakbahagiaan yang diderita dalam jiwa akan sirna.