Rumah Dikontrakan di Air Pacah Padang (1)

 
DIKONTRAKAN sebuah rumah di daerah By Pass Air Pacah belakang Kantor PLN Kuranji Jalan Parak Rumbio Sungai Sapih Padang.
Berlokasi di Komplek Perumahan Keyzana I Blok A No. 3 yang berjarak ± 1 km dari jalan raya By Pass Air Pacah.

Lokasi bebas banjir dan sangat dekat dengan Kantor Walikota Padang, Kampus Kedokteran, Rumah Sakit & Mesjid Baiturrahmah dan Kampus II Universitas Bung Hatta sehingga rumah ini sangat cocok untuk tempat tinggal keluarga, pegawai ataupun mahasiswa.

 

Biaya kontrak Rp. 13.000.000 / tahun.

Tanah disamping rumah dapat digunakan selama bukan untuk kepentingan bisnis atau mendirikan bangunan lain seperti gudang dll.
  •   Posisi rumah berada di Hook
  •   Luas tanah 174 M2
  •   2 Kamar tidur
  •   1 Kamar mandi
  •   Dapur cukup luas
  •   Full teralis
  •   Full keramik
  •   Air PDAM
  •   Listrik prabayar token 1300 watt
  •   Terdapat 2 buah penampungan air (water toren) kapasitas @ 500 liter
  •   Dekat dengan mushalla

Lingkungan persawahan yang asri dan nyaman, anak-anak aman karena tidak ada lalu lintas ramai di depan rumah, jalan depan rumah cukup lebar yaitu 8 meter dan 10 meter.

 

Untuk info lebih lanjut :
– Telepon : 0812-673-6850
– WhatsApp : 0811-66-32050

Tidak membalas SMS, gunakan WhatsApp atau telpon saja.
Jangan pakai pola sms “tolong telpon suami saya”.

Bisa lihat rumah dengan perjanjian lebih dahulu (jangan mendadak, karena saya bekerja di kantor senin – jumat), pada hari sabtu atau minggu / tanggal merah.

Mohon maaf tidak menerima pemilik anjing, peminum miras dan pengguna narkoba.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Rumah Dikontrakan di Air Pacah Padang (2)

 

Dikontrakan sebuah rumah di daerah By Pass Aie Pacah belakang Kantor PLN Kuranji Jalan Parak Rumbio Sungai Sapih Padang.

Berlokasi di Komplek Perumahan Keyzana I Blok A No. 9 yang berjarak ± 1 KM dari jalan raya By Pass Aie Pacah.

Lokasi bebas banjir dan sangat dekat dengan Kantor Walikota Padang, Kampus Kedokteran, Rumah Sakit & Mesjid Baiturrahmah dan Kampus II Universitas Bung Hatta sehingga rumah ini sangat cocok ditempati oleh keluarga, pegawai maupun mahasiswa.

Biaya kontrak Rp. 12.000.000 / tahun.

2 Kamar tidur
2 Kamar mandi

1 Ruang keluarga
Full teralis

Full keramik
Air pam
Car port.

Listrik prabayar token 1300VA

Lingkungan aman dan nyaman, anak-anak aman, tidak ada lalu lintas ramai di depan rumah, jalan depan rumah juga lebar yaitu 8 meter.

Jika berminat dapat hubungi ke telepon atau WhatsApp : 0852-1974-3857

Tidak membalas SMS. Gunakan Whatsapp atau telpon saja.
Jangan pakai pola sms “tolong telpon suami saya”.

Bisa lihat rumah dengan perjanjian lebih dahulu (jangan mendadak, karena saya bekerja di kantor senin – jumat), pada hari sabtu atau minggu / tanggal merah.

Mohon maaf tidak menerima pemilik anjing, peminum miras dan pengguna narkoba.

KOMIK Perjalanan darat Padang – Jogyakarta

Komik ini akan mengekplorasi keindahan alam, tempat wisata dan kisah perjalanan kami sekeluarga via darat dengan menggunakan kendaraan sendiri dari Padang menuju Jakarta, Puncak Bogor, Bandung, Karanganyar dan Jogyakarta pada musim liburan sekolah Juni 2014 lalu, karena masa liburan maka tiket pesawat pada mahal semua sementara kami 5 beranak dan tempat yang dituju juga ke beberapa kota akhirnya kami memutuskan untuk perjalanan melalui darat dengan pertimbangan bisa melihat keindahan kota yang dilalui, bisa berhenti pada tempat-tempat yang disukai, jumlah orang yang dibawa juga bisa lebih banyak dan yang utama lebih hemat dari segi biaya.

Mohon maaf dan ucapan terima kasih kepada rekan-rekan semua yang photo2 atau karya gambarnya telah kami gunakan dalam pembuatan komik ini tanpa minta izin lebih dulu.

Page_1Page_2Page_3Page_4

Silek Luncua

Salah Satu Aliran Silek Tradisional Minangkabau

Berbicara tentang salah satu kesenian tua di Minangkabau berupa Silek memang tak ada habis- habisnya untuk di kupas dalam berbagai bentuk tulisan seperti makalah, laporan penelitaian, skripsi maupun tesis. Karena Minangkabau mempunyai keragaman silat atau silek yang sangat kaya dilihat dari nama nama aliran yang ada hingga berkembang menjadi nama nama perguruan sebagai identitas dari pengembangan silat tersebut.

Adapun nama nama aliran silat yang terdapat di Minangkabau adalah Silek Tuo, Silek Harimau, Silek Lintau, Silek Taralak, Silek Pangean, silek bungo, silek koto anau, silek Luncua, silek pauah.Pada kesempatan kali ini kita coba sajikan salah satu silek cukup fenomenal di Minangkabau, tepatnya di Alam Surambi Sungai Pagu, Muaro Labuah Solok Selatan. Aliran Silek ini bernama Silek Luncua yang juga dikenal dengan Silek Pakiah Rabun.

Menurut cerita para pewaris silek Luncua ini, silat ini diciptakan oleh Pakiah Rabun yang berasal dari kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok, karna tak berkembang di daerah asalnya Pakiah Rabun akhirnya mengembangkanya di Sungai Pagu Solok Selatan.

Silek Luncua ini diberi nama karena gerakan gerakan kunciannya seperti meluncur, misalnya pada jurus “sauak” apabila serangan lawan berupa tangan atau pukulan seperti tinju maka dengan sigap silat Luncua akan menangkap nya dengan cara menyonsong serangan lawan dengan dengan tangan kanan menuju leher melalui bawah ketiak lawan, posi tangan kiri menangkap tangan kiri lawan dari belakang dan kaki kanan diluncurkan dari belakang paha lawah hingga betis setelah semua terkunci tinggal lawan di jatuhkan.

Itu adalah salah satu jurus atau kuncian disamping puluhan lainnya jurus dari silat Luncua dan juga Jurus pertama yang dipelajari murid silat jenis ini adalah gelek. Gelek adalah suatu gerakan mengelak dari pukulan lawan. Posisi tubuh lurus, kemudian saat tinju hampir tiba, pesilat memutar 80 derajad badan. Gelek disilat Luncua tidak menggunakan telapak tangan, akan tetapi tinju lawan dielakkan dengan dada dengan memutar badan seperti tadi.

Setelah menguasai semua jurus, untuk ”pemutusan kaji” di akhir pembelajaran murid silek Luncua di ajarkan jurus “Sambuik nan Limo”, untuk menguasai jurus ini diperlukan ketelitian yang tinggi dan keseriusan, karna pada tingkat ini anak sasian atau murid sudah di berikan pisau, parang atau benda tajam lainnya, karna ini merupakan puncak dari pelatihan silat Luncua.

Biasanya tuo silek Luncua memberikan syarat yang harus di penuhi oleh anak sasian untuk pemutusan kaji pada silek Luncua, seperti pengalaman penulis yang pernah mengikuti latihan silat aliran Luncua pada Perguruan Silat Garuda Putih Bukittinggi pada tahun 1995 sampai dengan tahun 2001. Pada saat itu Tuo Silek yang bernama Bapak Basrinal, S.Pd selaku guru silat juga Guru Pendidikan jasmani dan olah raga di SMK N 2 Bukittinggi, beliau mengatakan kepada penulis jika ingin melaksanakan ”pemutusan kaji” harus menyiapkan seekor ayam yang mempunyai bulu hingga kaki ayam tersebut. Selanjutnya akan di bawa melakukan prosesi “pemutusan kaji” ke kampung beliau di Muaro Labuah Solok Selatan tempat asal dan berkembangnya silek Luncua atau silek pakiah rabun ini.

Sayangnya penulis tidak sempat melakukan prosesi tersebut karna harus melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan, dan sekarang pun tuo silek Bapak Barsrinal S.Pd tersebut sudah pindah tugas ke kampungnya di muaro labuah solok selatan, kabar yang di peroleh beliau sekarang menjabat sebagai Kepala SKPD Satuan Polisi Pamong Paraja Solok Selatan dan tetap masih tetap mengembangakan silek Luncua melalui Perguruan Silat Garuda Putih Solok Selatan.

Jenis Jurus tangkapan atau kuncian Silek Luncua diantaranya adalah :

  1. Gelek
  2. Tangkok baruak
  3. Tangkok maliang
  4. Sauak ateh
  5. Sauak bawah
  6. Sambuik sumbayang
  7. Ampok,
  8. Alang babega,
  9. Kabalai,
  10. Sambuik ali,
  11. Sawuak,
  12. Sandang.
  13. Sambuik nan Limo
  14. Tangkok ampang
  15. Tangkok ambuang
  16. Tangkok alief timbang
  17. Tangkok batang padi
  18. Tangkok elo aia
  19. Tangkok kedong
  20. Tangkok kedong kadalam
  21. Tangkok kedong kalua
  22. Tangkok kungkuang karo kalua
  23. Tangkok kungkuang tagak
  24. Tangkok kabek pinggang
  25. Tangkok patah itiak
  26. Tangkok patah lutuik
  27. Tangkok patah bahu
  28. Tangkok patah kuduak
  29. Tangkok patiang kicuah
  30. Tangkok sisiak palapah
  31. Tangkok sonta
  32. Tangkok sauik
  33. Tangkok siLuncua kadalam
  34. Tangkok siLuncua kalua
  35. Tangkok sambuik kabalai
  36. Tangkok sambuik sasek
  37. Tangkok sambuik rabah
  38. Tangkok sandang lacuik
  39. Tangkok sandang Mariah
  40. Tangkok sandang kadalam
  41. Tangkok sandang panantian
  42. Tangkok tupang pungguang
  43. Tangkok guntiang kaki

Sampai saat ini silat Luncua tersebut masih berkembang baik dalam daerah Sumatra Barat sendiri seperi Muaro Labuah, Solok, Pesisir Selatan, PadangPanjang, Sawahlunto Bukittinggi dan juga daerah  tetangga Seperti Jambi, kerinci, pecan baru dan lainnya. Selain untuk mengikuti Festival Silat Tradisional, Silat Luncua juga ditampilkan pada kegiatan kegiatan seperti penyambutan tamu, Pekan Budaya Sumatra Barat, Pagelaran Pentas Seni Budaya Daerah maupun Nasional dan event event kebudayaan lainnya.

Diharapkan tulisan ini dapat menambah wawasan kita semua tentang kekayaan khasanah budaya khususnya silat tradisional, dan dapat merangsang minat pesilat pesilat Minangkabau untuk dapat menulis atau mendeskripsikan silat atau silek yang mereka pelajari.

Mohon maaf jika terdapat kesalahan atau kejanggalan dari tulisan ini.

Terima kasih.

“Jikok Lamak Agiah Tau Urang Lain, Jikok Ndak Lamak Agiah Tau Kami”

Maksudnya, Jika tulisan ini bermanfaat kasih tahu kepada orang lain, jika tidak bermanfaat beri tahu kami. (Syukri, S.Sn – 11082012)

Foto Foto Silek Luncua






















Referensi

http://www.antarasumbar.com/berita/kab-solok-selatan/d/17/103321/disbudparpora-rencanakan-gelar-festival-silekLuncua.html

Sumber

Silat Kumango

Silat Kumango

Cuplikan buku Silat Kumango karangan Drs. Rusli, Pen. UNP Press.
Pendahuluan
Buku ini diberi judul “Silat Kumango dalam Kemurnian dan Keutuhannya”. Yang dimaksud dengan kemurnian di sini adalah sesuai dengan apa adanya seperti yang diterima dari yang mewariskannya. Utuh maksudnya lengkap/ menyeluruh baik sejarah atau asal usulnya, falsafah (dasar dan tujuan silat) yang merupakan unsur kebathinan, serta gerak-gerak pisik yang merupakan unsur lahiriah silat.

Silat sebagaimana yang diwariskan dan diajarkan pendahulu kita mengandung dua unsur, yaitu unsur kerohanian dan unsur fisik. Unsur kerohanian adalah unsur mental spiritual berupa “falsafah” yang berisi ajaran moral yang tidak lain merupakan rohnya silat. Unsur fisik adalah unsur keterampilan jasmani yang diwujudkan dalam bentuk gerakan-gerakan serangan, pembelaan dan sebagainya, yang dapat kita umpamakan sebagai tubuh atau jasmani dari silat. Di dalam Silat Kumango penekanannya justru terletak pada unsur kerohanian. Dalam pengamatan penulis, dewasa ini di kalangan generasi muda/remaja yang belajar silat teradapat kecendrungan untuk mengutamakan unsur fisik atau jasmani dan mengabaikan bahkan meninggalkan sama sekali unsur kerohanian, atau jiwanya silat. Kecenderungan seperti ini menurut pengamatan penulis terdapat hampir pada semua aliran, tidak terkecuali dalam Silat Kumango. Hal itu dapat dibuktikan dengan kenyataan sehari-hari. Bila kepada mereka kita tanyakan sejarah ataupun falsafah dari silat yang mereka pelajari tidak ada yang dapat menjawabnya. Kalaupun ada jarang sekali yang dapat menjawabnya dengan benar atau sempurna. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa kebanyakan mereka lebih mengutamakan mempelajari kulitnya silat, tidak mendalami isi atau jiwanya.

Sisi lain yang juga sangat besar pengaruhnya terhadap kemurnian silat adalah adanya pertandingan-pertandingan ataupun perlombaan-perlombaan silat. Misalnya saja pertandingan silat olahraga.
Dalam pertandingan silat olah raga akan ber hadapan dua pesilat yang berasal dari perguruan / aliran yang berbeda. Layaknya dalam suatu pertandingan ada yang menang dan ada yang kalah. Dan setiap pesilat tentu saja mengharapkan kemenangan.Menang atau kalah ditentukan oleh nilai yang dikumpulkan berdasarkan serangan yang masuk tepat pada sasaran dan bertenaga. Apalagi ada pula ketentuan menang mutlak atau knock out (K.O). Peraturan/ketentan yang berhubungan dengan penilaian tersebut jelas akan memotivasi pesilat untuk berlaku keras bahkan mungkin saja brutal demi mencapai kemenangan. Padahal berlaku keras dan brutal akan menyakiti bahkan dapat saja mencederai lawan bertanding. Hal yang demikian itu sangat bertentangan dengan rasa kemanusiaan yang merupakan salah satu jiwa dari silat (setidaknya dalam Silat Kumango).

Tidak saja pertandingan olahraga, lomba peragaan silat bela diri pun sedikit banyak berpotensi merusak keaslian atau kemurnian silat. Kaedah dan keaslian silat boleh dikatakan tidak menjadi unsur utama dalam penilaian. Kadang-kadang yang mendapat nilai baik justru pesilat yang penampilannya menarik dan mengagumkan, walaupun gerakan-gerakannya diambil dari bela diri asing, tidak asli gerak silat dan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah silat. Pada hal dalam peraturan pertandingan terutama pertandingan olah raga dalam mukadimahnya dinyatakan dengan tegas bahwa pertandingan harus menggunakan kaedah-kaedah silat.
Di samping itu ada pula orang yang mengaku-ngaku silatnya adalah silat Kumango atau menisbahkan silatnya kepada Syekh Abdurrahman Al Khalidi. Akan tetapi setelah diteliti apa yang dikatakan itu tidak terbukti sama sekali. Artinya di dalam silat itu tidak kelihatan sama sekali unsur Kumangonya baik unsur ruhaniah maupun unsur jasmaniahnya. Di kalangan perguruan silat Kumango sendiri terdapat pula perbedaan antara satu sama lain yang sudah sedemikian jauh menyimpang, sehingga sudah tidak sesuai lagi dengan dasar/azas-azas aslinya.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, demi kelestarian serta kemurniannya, penulis mencoba meng- ungkapkan dalam tulisan ini sosok Silat Kumango yang murni dan utuh sebagaimana yang diturunkan/diajarkan oleh yang mewariskannya, Syekh Abdurrahman Al Khalidi/Syekh Kumango kepada anak-anak dan khalifah / pewaris beliau.
Buku bahagian pertama ini berisi uraian tentang hal-hal yang mendasar dai silat Kumango yang terdiri dari :
• Asal usul dan perkembangan silat Kumango
• Falsafah yang mendasari dan tujuan silat
• Beberapa istilah teknis dalam silat
• Syarat-syarat mempelajari Silat Kumango
• Gerak-gerak silat

Asal Usul dan Perkembangan Silat Kumango
M engawali tulisan ini penulis akan mengungkapkan terlebih dahulu asal usul silat Kumango. Hal ini perlu guna menjawab dan meluruskan pandangan atau pendapat yang berkembang dalam masyarakat tentang asal usul serta hakekat silat ini. Ada beberapa pendapat atau pandangan yang terdapat dalam masayarakat. Antara lain bahwa silat Kumango berasal dari silat Lintau yang dibawa ke Batusangkar dan di Batusangkar ditambah dengan ilmu kebatinan. Pendapat lain mengasosiasikan nama silat ini dengan istilah barang kumango, barang dagangan yang terdiri dari bermacam-macam barang. Mereka berpendapat bahwa silat ini berasal dari bermacam-macam silat yang ada di Minang Kabau yang digabungkan menjadi satu. Benarkah demikian?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa dari segi umurnya Silat Kumango dibanding dengan silat-silat lainnya seperti Silat Lintau dan Silat Tuo memang relatif lebih muda. Pertama kali diajarkan oleh almarhum Syekh Abdurrahman Al Khalidi sekitar tahun 1850-an. Almarhum menurut penuturan orang tua-tua dan juga beberapa guru silat memang pernah datang ke Lintau untuk berguru silat.

Gambar Bagan Ahli Waris Silat Kumango (oleh penulis tahun 2008)

Akan tetapi keinginan beliau itu tidak terpenuhi karena setelah beberapa hari berada di sana beliau tidak pernah diajar oleh guru yang bersangkutan. Keberadaan beliau di sana hanya sekedar melihat atau sebagai penonton orang bersilat. Karenanya beliau pulang saja ke Kumango. Dari penuturan di atas jelas tidak mungkin Silat Kumango berasal dari Silat Lintau. Adalah hal yang musykil hanya dengan melihat orang belajar silat selama beberapa hari saja seseorang dapat menguasai silat. Apalagi dikatakan bahwa dari Lintau dibawa ke Batusangkar kemudian diberi ilmu kebatinan. Kalau demikian halnya maka namanya haruslah Silat Batusangkar, bukan Silat Kumango. Seperti kita ketahui di Minang Kabau pada masa lalu itu silat diberi nama menurut daerah asalnya seperti Silat Koto Anau, Silat Maninjau, Silat Pauh, Silat Sungai Patai dan sebagainya. Apa lagi ditambah dengan embel-embel bahwa tiba di Batusangkar diberi ilmu kebatinan. Apa yang dimaksud dengan ilmu kebatinan itu tidak pula jelas. Sepanjang yang penulis warisi dalam silat Kumango tidak pernah ada apa yang disebut ilmu kebatinan itu. Yang ada hanyalah bahwa Silat Kumango memiliki suatu falsafah yang berdasarkan ajaran-ajaran agama sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasul. Dan ini memang merupakan dasar pertama yang harus ditanamkan kepada pesilat.

Pendapat yang mengatakan Silat Kumango merupakan gabungan dari berbagai macam silat yang ada di Minang Kabau agaknya juga tidak beralasan dan sukar untuk diterima. Bagaimana mungkin seseorang bisa menggabungkan beberapa aliran silat, sedangkan mempelajari satu macam silat saja tidak pernah dapat karena orang tidak mau mengajarkan.

Gambar. Syekh Abdurrahman Al Khalidi

Silat Kumango adalah sebuah aliran di Minang Kabau dan nama itu didasarkan kepada daerah tempat lahirnya yaitu nagari Kumango kecamatan Sungai Tarab kabupaten Tanah Datar. Dan silat ini seperti telah disinggung di atas diwariskan oleh Syekh Abdurrahman Al Khalidi atau Syekh Kumango. Almarhum mewarisi silat ini sekitar tahun 1840-an dari seseorang dengan cara yang luar biasa, diluar jangkauan akal dan tidak mungkin dialami oleh semua orang. Kisahnya adalah seperti berikut.

Datuk Majoindo (sebelum beliau bergelar syekh) bertoko di Pasar Gadang Padang. Pada suatu pagi ketika beliau membuka pintu toko tanpa diketahui dari mana datangnya di belakang beliau sudah berdiri saja seorang laki-laki berpakaian serba putih seperti penampilan orang peminta-minta yang di Minang Kabau biasanya dipanggil “PAKIAH”. Dengan penuh keheranan beliau bertanya tentang maksud kedatangan pakiah, asal usul darimana pakiah berasal dan apa tujuannya datang pagi–pagi betul. Oleh pakiah dijawab bahwa kedatangannya pagi itu hendak minta uang untuk membeli nasi karena pagi itu dia belum makan. Kemudian karena belas kasihan beliau beri pakiah uang dan melanjutkan pekerjaan membuka pintu toko.

Si pakiah setelah menerima uang tidak beranjak dari tempat semula. Ketika ditanya oleh Datuk Majoindo mengapa pakiah belum juga pergi, oleh pakiah dijawab bahwa uang itu belum cukup, minta ditambah lagi. Walaupun merasa kesal dalam hatinya permintaan pakiah itu dipenuhi juga oleh Datuk Majoindo. Namun walaupun telah ditambah uangnya pakiah itu masih belum pergi, ia masih berdiri di tempat semula. Melihat perilaku pakiah yang demikian itu, dengan nada marah Datuk Majoindo bertanya lagi mengapa pakiah belum juga pergi. Kemudian dengan nada datar pakiah menjawab bahwa uang yang diberikan masih belum cukup juga. Jawaban pakiah ini menambah kemarahan Datuk Majoindo. Namun demikian beliau mengeluarkan uang dari kantong lalu menyerahkannya kepada pakiah dan mengusirnya sambil mengancam akan menampar pakiah kalau belum juga pergi.

Ancaman Datuk Majoindo akan menampar itu mendapat reaksi atau jawaban yang mengejutkan dari pakiah. Saya memang menunggu tamparan dari Datuk, ujarnya. Kemudian dilanjutkannya bahwa tamparan itu tidak akan diterimanya saat itu tetapi berjanji tujuh hari lagi, pada saat ia akan datang lagi ke Padang. Yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa pakiah menyuruh Datuk Majoindo dalam masa tujuh hari itu untuk pergi menemui guru-guru atau teman-teman beliau guna menambah ilmu dalam menghadapi pakiah nantinya. Selesai berucap pakiahpun pergi.

Peristiwa pagi itu membuat Datuk Majoindo tidak habis pikir, lebih-lebih lagi mengingat ucapan pakiah yang menyuruh beliau menambah ilmu lagi. Betapa tidak, Datuk Majoindo bukanlah orang sembarangan. Beliau telah menuntut ilmu ke mana-mana dalam Luhak Nan Tigo ini. Di mana saja ada guru-guru yang berilmu tinggi beliau datangi, sehingga beliau juga memiliki ilmu yang tinggi pula. Selama kurang lebih sepuluh tahun beliau menjadi parewa (preman) malang melintang dalam dunia judi, tidak seorangpun yang berani melawan atau menantang beliau. Sekarang tiba-tiba datang seorang pakiah yang kalau dilihat dari lahiriahnya atau penampilan secara fisik tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Datuk Majoindo, menantang untuk menguji ilmu.
Hampir semalaman Datuk Majoindo tidak tidur memikirkan peristiwa itu. Dalam benaknya Datuk Majoindo bertanya-tanya siapa pakiah itu sebenarnya, dan apakah perintah pakiah untuk menemui guru-guru atau kawan-kawan guna menambah ilmu lagi akan dituruti atau tidak. Akhirnya sampailah Datuk Majoindo kepada suatu kesimpulan bahwa mungkin saja pakiah itu seorang yang berilmu tinggi, kalau tidak tentu saja tidak mungkin dia mengeluarkan ucapan yang menantang itu. Karenanya perintahnya perlu pula dipertimbangkan untuk dilaksanakan.

Demikanlah akhirnya Datuk Majoindo mengambil keputusan untuk mencari guru-guru atau kawan-kawan beliau seperti perintah pakiah. Keesokan paginya berangkatlah Datuk Majoindo dari Padang. Mula-mula beliau menuju Batusangkar, kemudian dilanjutkan ke Payakumbuh. Dari Payakumbuh terus ke Bukittinggi. Setiap guru atau kawan yang beliau temui di ketiga tempat itu tidak ada yang dapat menambah ilmu Datuk Majoindo. Jangankan menambah malahan setiap orang yang ditemui justru minta ilmu kepada beliau. Kembalilah Datuk Majoindo ke Padang tanpa tambahan ilmu sama sekali.

Genap tujuh hari sebagaimana yang dijanjikan, selesai menutup tokonya Datuk Majoindo sudah bersiap-siap menunggu kedatangan pakiah. Sudah masuk waktu Isya pakiah belum juga datang. Datuk Majoindo mengira mungkin pakiah tidak jadi datang. Beliau masuk ke kamar mengunci pintunya lalu tidur-tiduran. Sambil tidur-tiduran beliau terus merenungkan soal pakiah apakah dia akan datang atau tidak. Dalam merenung-renung itu beliau tertidur.

Beberapa saat kemudian Datuk Majoindo terkejut dibangunkan oleh seseorang yang tidak lain adalah pakiah. Dia telah berdiri di sisi tempat tidur Datuk Majoindo. Setelah berbincang-bincang sebentar keduanya turun ke luar toko. Keduanya sudah siap menguji ilmu masing-masing. Pakiah mempersilahkan Datuk Majoindo untuk menyerang terlebih dahulu. Setiap serangan yang dilakukan Datuk Majoindo tidak satupun yang dapat mengenai pakiah. Serangan-serangan itu lepas begitu saja sehingga beliau membentur dinding dan tiang toko yang membuat badan beliau memar dan kepala beliau berdarah. Datuk Majoindo terus mencoba lagi menyerang pakiah dengan mengerahkan semua ilmu yang beliau miliki, akan tetapi semuanya luput , tidak ada yang mengena sasaran. Karena serangan-serangan yang dilakukan Datuk Majoindo tidak mempan dan tubuh serta kepalanya mengalami cedera, maka Datuk Majoindo mengaku kalah dan mintakepada pakiah untuk dijadikan sebagai murid. Beliau ingin berguru kepada pakiah. Selesai pertarungan hal pertama yang dilakukan pakiah adalah mengobati luka-luka dan cedera yang diderita Datuk Majoindo. Pengobatan itu dimulai oleh pakiah dengan Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulilah. Dengan pertolongan Allah semua luka-luka dan cedera yang diderita Datuk Majoindo sembuh sehingga kondisi fisik beliau kembali seperti semula. Setelah itu Datuk Majoindo disadarkan oleh pakiah atas kejahilan dan dosa-dosa beliau di masa lalu dan kemudian ditaubatkan.

Permintaan Datuk Majoindo untuk berguru dipenuhi oleh pakiah, tetapi belum dilaksanakan pada saat itu. Pakiah berjanji akan datang lagi. Rupanya janji pakiah untuk datang lagi tidak segera terlaksana. Karena tidak sabar menunggu lama-lama maka Datuk Majoindo berusaha mencari pakiah. Selama tiga bulan lamanya Datuk Majoindo mencari pakiah ke mana-mana, sampai ke Kerinci. Akhirnya pakiah ditemukan juga, maka mulailah pakiah mengajari Datuk Majoindo. Menjadilah sekarang hubungan pakiah dengan Datuk Majoindo hubungan guru dengan murid.

Pelajaran yang harus diikuti dalam dua tahapan. Tahap pertama berlangsung di daerah sekitar Minamg Kabau dan tahap kedua di Tanah Suci, khususnya di Madinah. Tahap pertama berlangsung selama empat puluh hari empat puluh malam. Yang dilakukan oleh guru pada tahap pertama ini adalah latihan fisik dan mental termasuk pelajaran silat. Selama empat puluh hari empat puluh malam Datuk Majoindo harus mengikuti guru melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Perjalanan dilakukan siang malam, menempuh medan yang sulit, semak belukar, mendaki dan menurun, menempuh jalan-jalan yang tidak pernah dilalui orang tanpa istirahat, kecuali pada waktu sholat. Datuk tidak boleh mengeluh ataupun bertanya. Alhamdulillah perjalanan ini dapat diikuti dan diselesaikan oleh Datuk Majoindo dengan baik.

Pada hari keempat puluh atau hari terakhir berhentilah guru dan Datuk Majoindo di bawah sebuah pohon besar, konon lokasinya menurut H. Abdul Malik bin Syekh Mudo Abdul Qodim Balubus Payakumbuh, pohon besar itu berlokasi di Tanah Bato Panyabungan Tapanuli Selatan. Setelah istirahat sebentar guru menyuruh Datuk Majoindo berdiri lalu mereka bersilat berdua. Selesai bersilat maka berkatalah guru kepada Datuk Majoindo bahwa pelajaran tahap pertama selesai sampai di situ dan akan dilanjutkan dengan tahap kedua di Tanah Suci. Untuk itu Datuk Majoindo harus datang sendiri ke Mekkah pada musim haji, sedangkan guru menunggu di sana. Datuk Majoindo disuruh pulang dulu ke kampung untuk mempersiapkan diri dan minta izin orang tua. Seperti halnya dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya selesai berucap gurupun pergi, dan Datuk Majoindo pulang ke Kumango.

Setelah cukup segala persiapan dan telah mendapat izin orang tua Datuk Majoindo harus berangkat menuju Medan karena keberangkatan ke Mekkah melalui pelabuhan Belawan. Datuk Majoindo berangkat dengan berjalan kaki melalui jalan-jalan pintas. Dari Kumango ke Payakumbuh ke daerah Suliki, dari sana ke Pasaman. Di daerah Pasaman menjelang daerah Kumpulan, Datuk Majoindo dikeroyok oleh empat orang laki-laki. Tanpa disadari oleh Datuk Majoindo keempat laki-laki itu terjerembab ke dalam selokan saling berhimpitan, diantara mereka ada yang luka-luka dan ada yang patah tulang.

Pada waktu itu datang bisikan halus ke telinga Datuk Majoindo agar orang-orang itu dikasihani dan diobati. Setelah mendengar bisikan itu maka diobatilah keempat orang itu seperti yang dilakukan oleh pakiah kepada beliau waktu di Padang, dimulai dengan Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulilah. Dengan pertolongan Allah keempat orang tersebut sembuh dari cederanya. Keempat orang itu berterima kasih dan minta maaf kepada Datuk Majoindo. Oleh Datuk Majoindo ditanya apa maksud orang-orang tersebut mengeroyoknya. Oleh keempat orang itu dijawab bahwa mereka melakukan itu semua untuk barang-barang bawaan Datuk Majoindo. Setelah minta maaf dan mengakui kesalahan orang-orang itu dinasehati dan disuruh bertaubat.
Muncul persoalan akan dikemanakan orang-orang tersebut. Akan dibawa tentu saja tidak mungkin dan akan mengganggu perjalanan walaupun mereka ingin ikut dengan Datuk Majoindo. Dalam berpikir-pikir itu teringat oleh beliau Syekh/Ayah Kumpulan, seorang tokoh/guru tareqat Naqsyabandiyah. Beliau tanyakan kepada orang–orang tersebut di mana surau Ayah Kumpulan. Rupanya orang-orang tersebut mengetahuinya. Dengan petunjuk orang–orang tersebut beliau berjalan menuju surau Ayah Kumpulan. Oleh Datuk Majoindo keempat orang itu dititipkan kepada Ayah Kumpulan. Setelah itu beliau berangkat menuju Medan.
Di Medan Datuk Majoindo tinggal di Deli Tua di rumah seorang Imam Masjid H. Abdul Gafar, khalifah dari Syekh Kumpulan. Keberadaan beliau di Deli Tua diketahui oleh kepala keamanan istana. Pada suatu hari , Datuk Majoindo diundang oleh kepala keamanan istana raja Deli Tua ke suatu tempat. Sesampai di tempat beliau dikeroyok oleh kepala keamanan itu bersama dua orang temannya. Sama halnya dengan kejadian di Pasaman, tanpa disadari oleh Datuk Majoindo orang tersebut jatuh berhimpitan. Ada yang cedera dan ada yang luka karena terkena senjatanya sendiri. Datang pula bisikan agar ketiganya dikasihani dan diobati. Hal itu dilakukan pula oleh Datuk Majoindo seperti yang di Pasaman.

Setelah diobati ketiga orang tersebut langsung kembali ke tempatnya. Sampai di istana, karena tidak puas dengan kekalahannya mereka membuat fitnah bahwa Datuk Majoindo akan membuat kekacauan di istina. Berita itu didengar oleh raja, dan memerintahkan seorang hulubalang menjemput dan membawa Datuk Maoindo ke istana. Di istana oleh Datuk Majoindo diceritakan semua kejadian yang telah dialaminya kepada raja. Setelah mendengar keterangan dari Datuk Majoindo raja menyuruh beliau pulang. Keesokan harinya Datuk Majoindo dipanggil kembali oleh raja ke istana. Di istana diberi tahukan oleh raja bahwa semenjak hari itu beliau diangkat sebagai penasehat keamanan istana. Bersamaan dengan pengangkatan tersebut kepada beliau oleh raja dihadiahkan sebidang tanah dan raja berjanji bahwa seluruh biaya naik haji Datuk Majoindo akan ditanggung oleh raja. Jabatan itu dipegang oleh Datuk Majoindo kurang lebih enam bulan, yaitu sampai waktu keberangkatan beliau ke Mekkah.

Di Mekkah Datuk Majoindo hanya selama menunaikan ibadah haji. Selesai melaksanakan ibadah haji beliau pindah ke Madinah dan mukim di sana selam lebih kurang sepuluh tahun. Di Madinah beliau mendalami ilmu agama khususnya ilmu tareqat. Selesai mendalami agama pada waktu akan pulang ke tanah air oleh guru dan teman-teman beliau Datuk Majoindo diberi nama Syekh Abdurrahman Al Khalidi. Nama Abdurrahman diambil dari nama Syekh Abdurrahman Batuhampar Payakumbuh, guru beliau mengaji pada waktu remaja.
Dari Madinah Syekh Abdurrahman Al Khalidi tidak langsung pulang ke Kumango, beliau singgah dulu di Kedah Malaysia. Di Kedah beliau banyak menundukkan/menaklukan para jawara, bahkan beliau sampai ke Patani, Thailand mentaubatkan dan mengislamkan orang. Oleh Sultan Kedah ditawarkan untuk tinggal disana dan diangkat sebagai penasehat. Bersamaan dengan itu kepada beliau disuguhkan sebidang tanah yang cukup luas sebagai hadiah. Tawaran tersebut beliau tolak dan memilih untuk pulang ke kampung di Kumango.
Di Kumango Syekh Abdurrahman Al Khalidi tinggal/mendiami sebuah surau di atas tanah waqaf warga suku Piliang Laweh. Lokasinya di seberang sebuah sungai kecil, sehingga masyarakat atau warga Kumango menamakanya “Surau Subarang”. Di surau inilah beliau mengajar tareqat dan silat. Silat yang beliau ajarkan adalah silat yang beliau warisi dari guru beliau, yaitu pakiah.

Gambar  Surau dan Makam Syekh Abdurrahman Al Khalidi

Dari uraian di atas kiranya dapat kita ambil kesimpulan bahwa silat Kumango adalah silat yang tidak dapat dilepaskan dari sosok Syekh Abdurrahman Al Khalidi. Silat Kumango bukanlah silat Lintau yang diberi ilmu batin atau silat yang merupakan gabungan dari bermacam-macam silat.

Syekh Abdurrahman Al Khalidi mewarisi silat itu dari seseorang laki-laki yang dikenal sebagai Pakiah. Pertanyaannya sekarang adalah siapakah pakiah, guru yang mengajar beliau itu? Tidak banyak keterangan yang dapat penulis gali sehubungan dengan pertanyaan ini. Semua khalifah, murid serta anak-anak beliau sama-sama mengatakan bahwa beliau Syekh Kumango belajar kepada seorang pakiah. Namun tidak semua mereka dapat menjelaskan siapa pakiah itu yang sesungguhnya. Namun ada juga satu dua orang diantara mereka yang mengatakan bahwa pakiah itu adalah waliyullah.

H. Abdul Malik bin Syekh Abdul Qodim menyebut- kan secara kongkrit nama waliyullah itu, yakni Autad. Salah seorang anak Syekh Abdurrahman Al Khalidi, Ismail Rahman Dt. Paduko Mulia dalam tulisannya mengatakan bahwa pakiah adalah salah seorang waliyullah yang diutus oleh guru beliau di Batu Hampar dahulu, yaitu Syekh Abdurrahman Nan Tuo untuk menyadarkan beliau akan kejahilan yang beliau lakukan selama kurang lebih 15 tahun dan menasehati serta menyuruh beliau bertaubat. Ada seorang guru silat yang mengatakan bahwa pakiah itu adalah cindaku (sebangsa syaitan atau hantu), na’udzubillahi min dzalik.

Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para pendahulu kita itu, kita tinggalkan pendapat-pendapat tersebut tanpa memberikan penilaian benar atau salah, karena mungkin ilmu kita tidak cukup untuk itu. Tidak ada seorangpun yang tahu persis, oleh sebab itu benar atau salah kita serahkan saja kepada Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menentukan.

Syekh Kumango mewariskan ilmu tareqat dan ilmu silat kepada para khalifah dan anak-anak beliau, yang kemudian mewariskan lagi kepada muridnya. Diantara khalifah-khalifah beliau dapat disebutkan antara lain Syekh Baringin di Tebing Tinggi Sumatera Utara, Syekh Mudo Abdul Qodim di Balubus Payakumbuh yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Balubuih, dan H. Idris di Sungai Puar Bukittinggi. Para khalifah beliau ini lebih menitik beratkan kepada tareqat. Syekh Balubuih ada mengembangkan silat melalui anak beliau H. Abdul Malik. (catatan : di daerah sekitar Balubus silat ini sering disebut silat Balubuih atau silat Angku Malik, akan tetapi yang bersangkutan sendiri dalam tulisannya menyebutkan silat ayah Kumango).

Anak-anak Syekh Kumango semuanya mewarisi baik tareqat maupun silat, akan tetapi tidak semuanya aktif mengembangkannya. Anak-anak beliau yang aktif mengembangkan silat adalah M. Saleh di Kedah, Malaysia; M. Daya di Padang; Syamsuddin (Udin Mauji) di Kumango. Sedangkan M. Dali Angku Gadang di Kumango lebih menitik beratkan pada tareqat dan merupakan anak Syekh Kumango satu-satunya yang mengajarkan tareqat sampai akhir hayatnya. Di antara anak-anak beliau yang menonjol perannya dalam mengembangkan silat adalah Ibrahim Paduko yang mengajar silat di Kumango, Simpurut Batusangkar dan juga pernah mengajar di Padang; Syamsarif Malin Marajo yang mengajar di Simpurut, Batusangkar, Bukittinggi, Medan, dan Malaysia; dan Ismail Rahman di Tanjung Aro Sikabu-kabu Payakumbuh dan juga mengajar di Medan.
Di Batusangkar dan sekitarnya pengembangan silat dilakukan oleh anak-anak sasian (murid) dari Ibrahim Paduko dan Syamsarif Malin Marajo. Mereka itu adalah Maarif di Simpurut, M. Zen di Sijangek dan Zaenal Abidin Rasyad di Kumango. Murid-murid mereka sudah berpencar pula ke seluruh pelosok tanah air dan diantaranya ada pula yang mengembangkan silat di tempat mereka tinggal.

Sosok yang paling menonjol diantara anak-anak Syekh Kumango dalam pengembangan silat ini adalah Syamsarif Malin Marajo. Almarhum dengan kemampuan ilmu dan pengalaman mengajar yang beliau miliki, telah berhasil memperkaya gerakan-gerakan silat sehingga lebih lengkap dan tampil beda dengan yang dimiliki para guru/pendekar silat Kumango lainnya.

Seperti telah disinggung di atas pada waktu muda almarhum pernah mengajar silat di Medan dan di Malaysia pada awal-awal than 1940-an. Pengalaman mengajar itu telah memperluas ilmu dan itulah yang digunakan almarhum dalam memeperkaya gerakan silat. Sayangnya dalam pandangan sementara guru-guru silat baik silat Kumango maupun aliran lain silat yang almarhum ajarkan yang sekarang sudah dirobah ataupun dicampur bahkan tidak jarang yang mencapnya bukan silat Kumango. Bahkan ada yang menisbahkan silat ini kepada diri almarhumsehingga disebutnya silat ”Malin Marajo“, sesuatu yang tidak pernah terpikir dan tidak pernah diinginkan almarhum sebagaimana yang penulis dengar langsung dari almarhum. Pada hal pengayaan tersebut tidak menambah ataupun merobah dasar gerak yang diwarisi beliau dari ayah beliau Syekh Kumango, melainkan memperkaya gerak–gerak dasar tersebut. Dan semuanya itu tidak mengurangi bahkan sebaliknya justru mempertinggi mutu teknik silat itu sendiri.

Pendapat-pendapat tersebut tidak perlu dipermasalah kan, karena yang berpendapat demikian hanyalah orang-orang yang melihat dari luar, hanya melihat rupa, tidak mencimpunginya ke dalam. Kalau mereka mencimpunginya ke dalam maka mereka akan merasakan hal yang berbeda dengan apa yang mereka lihat sehingga pandangan mereka akan berobah. Pepatah mengatakan bahwa “tahu di rupo urang mancaliak tahu diraso urang mamakan.” (tahu di rupa orang melihat, tahu dirasa orang memakan).

Keberhasilan Syamsarif Malin Marajo meraih medali emas di arena Pekan Olahraga Nasional ke-dua (PON II) berpasangan dengan M. Zen pada tahun 1952 membuat nama silat Kumang lebih terangkat lagi. Sejak itu silat Kumangao telah dikenal secara Nasional. Hal itu ditambah lagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan almarhum di era sesudah PON II itu.
Setelah PON II itu, Almarhum bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menyusun buku pelajaran silat untuk diajarkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Draft buku pelajaran itu sudah siap lengkap dengan gambar-gambarnya yang semuanya dibuat di Simpurut Batusangkar. Akan tetapi karena adanya pergolakan-pergolakan daerah yang terjadi pada tahun 1956, buku tersebut belum/tidak jadi diterbitkan. Bagaimana keberadaan draft buku tersebut sekarang tidak diketahui sama sekali.

Pada era sesudah PON II itu juga beliau bermain dalam sebuah film cerita nasional hasil garapan dari Usmar Ismail (PERFINI) “Harimau Campa.” Almarhum berperan sebagai guru silat (Saleh), sedangkan Harimau Campa diperankan oleh Bambang Hermanto sebagai murid dari Saleh. Silat yang dipakai dalam film tersebut adalah silat Kumango.
Sebagai informasi tambahan almarhum juga pernah ikut aktif dalam organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dibawah pimpinan Mr. Asaat. Almarhum sendiri menjabat sebagai wakil ketua untuk daerah SumateraTengah.

Masih pada masa setelah PON II, selain banyaknya berdiri sasana, silat juga pernah diajarkan pada lembaga pendidikan formal, khususnya di SMP Negeri 1 Batusangkar lembaga pendidikan tempat penulis menuntut ilmu. Pelajaran silat ini diprakarsai oleh seorang guru yang mempelajari silat kepada Ibrahim Paduko. Penulis sendiri juga terlibat di dalamnya membantu guru yang bersangkutan. Pelajaran silat di sekolah tersebut diberikan dalam 2 bentuk kegiatan pembelajaran.

Pertama, pelajaran/latihan masal yang wajib diikti oleh seluruh siswa laki-laki dari kelas satu sampai kelas tiga. Dilaksanakan sekali dalam seminggu sebelum pelajaran sekolah dimulai. Kedua, pelajaran/latihan per kelas yang dilaksanakan sesuai dengan jam pelajaran yang telah ditentukan. Sangat disayangkan setelah penulis tamat belajar dari sekolah tersebut dan guru yang bersangkutan sudah pensiun pelajaran silat tidak pernah diberikan lagi.

Penulis sendiri juga terlibat dalam pengembangan silat ini baik dalam dunia pendidikan formal maupun informal. Dalam dunia pendidikan formal penulis mengajar di Perguruan Tinggi di Padang seperti di IKIP (sekarang UNP) dan di Sekolah Tinggi Olahraga (STO) yang sekarang FKIK UNP. Ini berlangsung dari tahun 1966 sampai dengan tahun 1975. Hanya saja waktu yang tersedia tidak mencukupi, hanya satu kali dalam satu minggu selama 16 minggu, termasuk kegiatan ujian, dengan alokasi waktu hanya 90 menit. Dengan waktu yang sangat ditambah pula dengan pesertanya kurang lebih 40 orang, pelajaran yang diberikan tidak intensif dan hasilnya tidak memuaskan. Pelajaran yang dapat diberikan hanya gerak-gerak dasar dan itupun tidak pula tuntas. Tidak salah kalau dikatakan bahwa pelajaran yang diberikan hanya sekedar memperkenalkan gerak-gerak dasar silat Kumango.

Dalam rangka pengembangan silat ini penulis juga mengajar silat untuk orang-orang yang berminat yang datang ke rumah. Tapi tidak membuka sasana secara resmi karena ketidaktersediaan waktu berhubung dengan tugas sebagai PNS. Pesertanya terdiri dari berbagai tingkat umur dan pendidikan, mulai dari siswa SMP, SMA, mahasiswa, sarjana muda dan sarjana. Jumlah peserta yang sedikit dan waktu belajar dua kali seminggu maka pelajaran dapat lebih intensif sehingga diantara mereka ada yang telah sampai pada tingkat penguasaan yang memadai, terutama mereka-mereka yang telah berpredikat sarjana dan sarjana muda.
Perkembangan silat ini sampai sekarang masih berjalan terus. Di sekitar Batusangkar kini terdapat beberapa sasana yang aktif mengajarkan silat, seperti di Simpurut, Pagaruyung, Lima Kaum, Pasir Lawas dan di kota Batusangkar sendiri. Di luar negeri silat ini berkembang terutama di negara tetangga Malaysisa. Yang pertama kali mengajarkan silat di negara ini adalah Syamsarif Malin Marajo pada tahun 1940 an. Setelah beliau pulang ke tanah air pengembangan silat diteruskan oleh Mat Hadzir (Bang Suddin) bin Mat Zain bin Haji Ali bin Haji Ibrahim. Kini pengembangan silat di negara ini masih berlanjut dibawah pimpinan Mat Kirul Anwar bin Mat Hadzir dengan jumlah anggota perguruan lebih dari 1000 orang.

Di negara-negara Eropa sekarang ini silat Kumango sudah mulai pula dikenal oleh orang-orang di sana, antara lain di Spanyol, Jerman dan Belanda. Khusus di negara Belanda sejak beberapa tahun yang lalu konon kabarnya sudah berdiri sebuah sasana silat Kumango yang dipelopori oleh Van den Boom (Muhammad Abdul Latif). Selain orang-orang Eropah yang telah disebutkan di atas, silat ini juga telah dikenal oleh orang Jepang. Pada pertengahan tahun 2005 seorang mahasiswa Jepang program Doktor datang ke Sumatera Barat melakukan penelitian bahan desertasinya. Mahasiswa bersangkutan mengambil silat Kumango sebagai obyek penelitian.Karenanya, tidaklah salah kiranya atau tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa silat Kumango kini tidak lagi merupakan milik orang Sumatera Barat, khususnya masyarakat Kumango saja, tapi telah milik masyarakat mancanegara. Dengan kata lain silat Kumango dewasa ini sudah mulai mendunia.
Dasar dan Tujuan Silat

Dalam bab ini akan disajikan dasar-dasar kerohanian dan tujuan silat Kumango. Dasar dan tujuan iu tersimpul dalam rumusan falsafah berikut ini:
“Bagantuang ka tali nan indak ka putuih, bapagang ka raso nan indak kahilang, jago tali jan putuih, awasi raso jan hilang, basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih, lahia silek mancari kawan batin silek mancari tuhan”
(Bergantung kepada tali yang tidak akan putus berpegang kepada rasa yang tidak akan hilang, jaga tali jangan putus, awasi rasa jangan hilang, bersiang sebelum tumbuh, melantai sebelum roboh, dhohir silat mencari kawan, bathin silat mencari Tuhan).

Dasar-dasar silat.
Dalam rumusan falsafah di atas terkandung tiga hal pokok yang merupakan dasar atau sandaran fundamental dari silat.

1. Penggunaan akal dan perasaan.
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya. Keutamaan manusia dari makhluk-makhluk lainnya terletak pada akal dan perasaan. Manusia dikarunia oleh Allah SWT. dua hal utama yang tidak dimiliki makhluk lainnya, yaitu akal dan perasaan. Dengan akalnya manusia dapat menimbang-nimbang dan menganalisa sesuatu dan kemudian mengambil keputusan yang terbaik baginya. Dengan persaan manusia dapat meresapkan dan menciptakan kesenian dan pada akhirnya sampai kepada suatu kebenaran dan keadilan. Demikianlah dengan akal dan perasaan manusia akan sampai kepada kebenaran yang mutlak.

Orang-orang yang menggunakan akal dan perasaannya itu disebut orang-orang yang dadanya berisi atau orang-orang yang “berakal budi “ yang dalam istilah Al Quran disebut “Ulil Albab“. Inilah kandungan yang pertama dalam rumusan falsafah silat “Bagantuang ka tali nan indak ka putuih, bapagang ka raso nan indak ka hilang, jago tali jan putuih, awasi raso jan hilang, basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih” yaitu penggunaan “akal” dan “perasaan“. Sesuatu yang bersifat logis. Silat adalah hasil akal budi manusia. Semua gerakan dalam silat harus berdasarkan dan dapat diterima akal sehat, sesuai dengan akal budi manusia. Jika tidak demikian tidak dapat dinamakan silat.

2. Ketuhanan/Iman dan Taqwa.
Manusia menurut fitrahnya adalah makhluk yang percaya kepada adanya Tuhan. Pengakuan atas eksistensi Tuhan itu diucapkan sendiri oleh manusia pada waktu akan dikeluarkan dari punggung anak Adam sebagaimana yang diperlihatkan oleh ayat-ayat suci Alquran.

3. Kemanusiaan/Persaudaraan dan Kekeluargaan.
Manusia sebagai makhluk berakal ciptaan Allah swt ditakdirkan hidup dengan manusia lain. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa manusia lainnya. Dengan mengambil ungkapan ahli ilmu sosial manusia baru bernama manusia bila ia hidup bersama manusia lainnya dalam suatu pergaulan hidup yang dinamakan masyarakat.
Suatu pergaulan hidup memerlukan kedamaian dan kerukunan. Untuk itu diperlukan adanya peraturan-peraturan hidup. Islam diturunkan oleh Allah swt justru untuk membawa perdamaian, mengajak manusia hidup rukun dan damai. Islam mengajak ummat manusia untuk saling mengasihi, sayang menyayangi, tolong menolong dan saling membantu. Islam sangat mengutamakan persatuan dan kesatuan serta persaudaraan antara ummat manusia dan menempatkan persatuan dan persaudaraan itu di tempat pertama dan utama.
Semuanya itu hanya mungkin kalau setiap manusia memelihara tali persaudaraan atau hubungan silaturrahmi. Inilah yang dinamakan dengan “kemanusiaan“, kandungan ketiga dari rumusan falsafah silat di atas.
Segala macam perbedaan, seperti geogafis tempat lahir, suku, warna kulit bangsa dan sebagainya tidaklah menjadi ukuran atau alasan untuk membedakan ummat manusia. Miskin dan kaya, rakyat ataupun pejabat semuanya sama dalam pandangan Allah.

Kedua esensi falsafah yang disebut terakhir, yaitu “Ketuhanan dan Kemanusiaan” ini yang harus terus dipelihara dan dijaga, seperti diungkapkan dalam falsafah di atas “jago tali jan putuih awasi raso jan hilang” bersendikan kepada Al Quran.

Tujuan Silat.
Sesuai dengan rumusan dasar falsafah di atas maka tujuan dari silat ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. “Mendidik para pesilat yang selalu menggunakan akal sehatnya, berfikir logis efektif dan efisien yang dilandasi oleh iman dan taqwa kepada Allah serta kasih sayang sesama manusia”Untuk mencapai tujuan tersebut pesilat dituntut untuk memiliki sikap diri sebagai berikut:
  2. Selalu memelihara ketaatan kepadaNya, menjalankan segala perintah dan menjauhi semua laranganNya.  Menunaikan ibadah kepada Allah, karena memang untuk itulah manusia diciptakan
  3. Memperbanyak berzikir dan bertasbih untuk mengingat dan mensucikan Allah seperti diperintahkan dalam Al Quran dan hadis Rasulullah.
  4. Mawas diri, tidak lalai dalam mengingat Allah karena mereka menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya.
  5. Mendidik dan membina para pesilat yang berbudi mulia, rendah hati, selalu menghormati dan menjaga hubungan dengan manusia lain.
  6. Tidak merasa mulia diri, karena kemuliaan itu hanyalah milik Allah, dan rasa mulia diri membawa kepada kesombngan dan bangga diri serta takabur, sifat yang tidak disukai Allah.
  7. Mampu mengendalikan nafsu, tidak zalim dan tidak mau berbuat jahat karena menyadari bahwa hal itu hanya akan menimpa dirinya sendiri.
  8. Tidak menggunakan kependekarannya, kecuali untuk membela diri demi kebenaran dan keadilan.

Dalam hal ini lebih suka mengambil sikap bijak, pemaaf yang dilandasi rasa kasih sayang dan tidak berbuat zalim. Dalam ajaran silat ini tidak dikenal apa yangdinamakan lawan atau musuh dan berlaku suatu adagium: “Musuah indak dicari, basuo paralu diilakkan “ (Musuh tidak dicari-cari, bertemu perlu dielakkan). Bila diserang tidak dibenarkan membalas langsung.

Seorang pesilat tidak dibenarkan melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti orang. Biasanya seseorang yang menyerang orang lain berada dalam keadan marah. Oleh karenanya kalau disakiti akan bertambah-tambah kemarahannya. Akibatnya perkelahian tidak dapat dihindarkan. Maka yang akan terjadi adalah permusuhan bukan persaudaraan. Ini bertentangan dengan falsafah zhahir silat mencari kawan.
Kepada setiap pesilat ditanamkan sikap diri untuk selalu menghormati manusia lain. Sikap diri ini diwujudkan dalam perbuatan. Kalau diserang pada tahapan pertama anggaplah yang menyerang itu ibu atau bapa.

Reaksi yang boleh dilakukan adalah mengelak atau menangkis serangan dengan lemah lembut dalam arti tidak menyakiti sipenyerang. Berilah dia nasehat secara baik-baik. Kalau yang bersangkutan masih menyerang anggap dia guru. Reaksi yang dilakukan sama dengan pada serangan pertama dan nasehati dengan baik. Pada serangan yang ketiga anggap sipenyerang itu kawan atau saudara. Reaksi yang dilakukan teatap sama dengan yang sebelum-sebelumnya. Nasehati pula dengan baik.

Kalaupun pada diri sipenyerang terjadi sesuatu, seperti luka, patah, cedera dan sebagainya maka itu adalah sebagai akibat dari perbuatannya sendiri. I’tikad jahatnya yang menjadi hakim pada waktu itu. “Jatuah patah dek pan jeknyo, rusak binaso karano parangainyo”

Dengan sikap diri yang telah diuraikan diatas sipesilat telah bertindak sesuai dengan falsafah dan tujuan silat. Memelihara hubungan dengan manusia sesuai dengan hukum-hukum Allah. Sehingga terwujudlah hablumminallah dan hablumminannaas sekaligus terwujud pula zhahir silat mencari kawan, batin silat mencari Tuhan.

Semua sikap dan perilaku yang diharapkan itu dilatih dan dibinakan kepada setiap pesilat dalam latihan-latihan. Setiap akan memulai latihan pesilat harus membersihkan diri baik secara zahiriah maupun bathiniah. Selanjutnya tatkala mulai melangkah, pesilat dilatih untuk selalu
menyerahkan diri kepada Allah SWT. Demikian pula pada setiap geraknya pesilat dilatih untuk selalu ingat kepadanNya serta tidak menyakiti kawan berlatih.Nilai-nilai filosifis dari dasar-dasar dan tujuan silat kumango ini digambarkan juga di dalam lambang Silat Kumango yang dirancang oleh penulis sendiri

Lambang Silat Kumango
Lambang Silat Kumango, yang merupakan hasil rancangan oleh penulis.

Arti dari lambang Silat Kumango adalah sebagai berikut ini.

  1. Lingkaran yang bertuliskan PERGURUAN SILAT KUMANGO yang bahagian bawahnya diikat pita hijau yang di dalamnya terdapat tulisan PERSIKUM. Lingkaran melambangkan bumi dan warna hijau melambangkan kebenaran dan keadilan. Makna yang terkandung di dalamnya bahwa Perguruan Silat Kumango bertujuan membina dan mendidik para pesilat yang bertanggung jawab dan berani membela serta menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi.
  2. Bangunan yang terdapat di dalam lingkaran terdiri dari surau dan rumah adat serta makam tempat Syekh Kumango dikuburkan, melambangkan tempat silat kumango diwariskan dan dikembangkan. Makna dari lambang ini bahwa Perguruan Silat Kumango membina para pesilat yang mengamalkan ajaran agama dan adat dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Tulisan Allah pada puncak surau melambangkan keyakinan bahwa Allah adalah puncak dari segala-galanya.
  4. Dua tangan yang berjabatan melambangkan hubungan antar sesama. Makna lambang pada no. 3 dan no. 4 adalah bahwa Perguruan Silat Kumango membina pesilat yang selalu memelihara hubungan dengan Allah (hablum-minallah) dan memelihara hubungan dengan manusia (hablum-minannas). Sekaligus melambangkan tujuan utama silat Kumango ”zhahir silek mancari kawan, bathin silek mancari Tuhan”.
  5. Warna kuning mas yang yang memenuhi ligkaran melambangkan kemuliaan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa Perguruan Silat Kumango membina para pesilat yang berhati mulia.
  6. Warna coklat muda yang terdapat pada bangunan melambangkan tanah. Manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Makna yang terkandung di dalamnya bahwa Perguruan Silat Kumango membina pesilat yang rendah hati tidak sombong dan tidak congkak.ini adalah dalam pengertian umum. Jangko berarti ukuran atau mad. Cakak bajangko berarti bahwa serangan harus terukur dalam arti sampai dan tepat ke sasaran, tidak boleh kurang dan tidak boleh berlebih. Dengan menggunakan prinsip mawas diri atau kehati-hatian, ”basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih.”

Beberapa Istilah Teknis dalam Silat
Setiap aliran silat mempunyai istilah teknis yang berbeda satu sama lain. Mungkin saja terjadi untuk hal yang berbeda digunakan istilah yang sama oleh aliran yang berbeda atau sebaliknya, untuk hal yang sama digunakan istilah yang berbeda. Oleh karenanya untuk mengerti suatu aliran silat perlu dipahami pula istilah-istilah teknis yang terdapat dalam silat yang bersangkutan.Dalam silat kumango ada beberapa istilah teknis yang penting untuk diketahui.

1.    Cakak Bajangko.
Istilah cakak dalam silat ini dapat digunakan dalam dua arti, arti umum dan arti khusus. Dalam arti umum cakak sama dengan serangan, sedangkan dalam arti khusus cakak adalah salah satu bentuk dari bermacam-macam serangan yang nanti akan djelaskan dalam bab tentang  gerak-gerak silat.
Cakak dalam rangka pembicaraan kita pada bagian ini adalah dalam pengertian umum. Jangko berarti ukuran atau mad. Cakak bajangko berarti bahwa serangan harus terukur dalam arti sampai dan tepat ke sasaran, tidak boleh kurang dan tidak boleh berlebih. Dengan menggunakan prinsip mawas diri atau kehati-hatian, ”basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih.”

2. Sambuik Bagamo
Sambuik (sambut) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut segala macam tangkisan. Bagamo artinya lemah lembut tetapi liat, tidak sepenuh tenaga dan juga tidak terlalu lemah, sekedar untuk tidak kena serangan lawan.. Dalam gerakan ini lawan bersilat tidak boleh disakiti. Dengan cara demikian diharapkan lawan bersilat tidak akan meneruskan serangannya dan berakhir dengan persaudaraan sesesuai dengan falsafah “lahia silek mancari kawan”.

3. Ganggam Bagamak
Ganggam (genggam), suatu perbuatan memegang. Gamak berarti tidak menggunakan seluruh telapak tangan. Yang berperan di sini adalah ujung-ujung jari. Dengan cara yang demikian ini kita tidak akan kehilangan rasa, “awasi raso jan hilang”.

4. Sapu Bagamang
Sapu adalah suatu gerakan dalam silat yang dimaksudkan untuk menjatuhkan lawan. Sasarannya adalah kaki lawan. Alat yang paling ampuh untuk menyapu adalah tumit. Gamang artinya kejut. Sapu bagamang artinya gerakan menyapu harus disertai dengan gerakan mengejutkan lawan. Caranya dengan mengalihkan perhatian lawan biasanya dengan menggunakan tangan. Dengan gerakan tipuan tersebut konsentrasi lawan menjadi terpecah, bahkan mungkin lupa sama sekali dengan kakinya. Dengan cara itu posisi kaki lawan menjadi lemah, mudah disapu dan akibatnya lawan mudah dijatuhkan.

Beberapa contoh gerakan silat kumango

5. Gelek
Gelek adalah semacam gerakan memutar badan yang diikuti dengan perobahan posisi tangan dan kaki. Gerakan ini digunakan untuk merobah posisi badan baik dalam rangka memindahkan langkah, melakukan serangan, mengelakkan serangan, mengunci, maupun membuka kuncian.
Dengan gelek ini posisi badan berobah menjadi miring atau menyanding sehingga lawan sukar untuk mencari sasaran serangan, dan dengan posisi badan yang demikian akan berlaku salah satu prinsip silat “aturan kanai tapek kanai tipih, aturan kanai tipih lapeh samo sakali” (dengan gerakan gelek ini serangan lawan yang semula akan mengena secara tepat mengena dengan tipis dan serangan yang tadinya akan mengena secara tipis tidak mengena sama sekali).

6. Kaliek
Kaliek (geliat) adalah gerakan khusus dari tangan. Dalam gerakan ini tangan diputar sambil menarik atau mendorongnya sedikit dalam rangka melepaskannya dari pegangan lawan. Kaliek ini dapat pula dilakukan bersama dengan gelek dan oyak sekaligus.
7. Oyak
Oyak adalah suatu gerakan menurunkan posisi badan dengan mematahkan kedua lutut dan badan tetap tegak lurus. Gerakan ini dimaksudkan untuk melepaskan tangan dari pegangan lawan.

8. Mati jo Langkah Iduik jo Langkah
Istilah ini menunjukkan bahwa langkah dalam silat merupakan unsur yang menentukan. Mati jo langkah artinya adalah bahwa bila dikunci oleh lawan posisi kita tetap dalam posisi langkah. Iduik jo langkah artinya membuka dan melepaskan kuncian lawan harus dengan menggunakan langkah. Tidak itu saja, bahkan untuk menyerang harus menggunakan langkah.

Dalam hal membuka atau melepaskan kuncian berlaku hukum :
Mati jo langkah satu, idui jo langkah duo;
Mati jo langkah duo, iduik jo langkah tigo;
Mati jo langkah tigo, iduik jo langkah ampek;
Mati jo langkah ampek, iduik jo langkah satu.

9. Nan Sakik Mancari Ubek
Artinya yang sakit mencari obat. Setiap usaha melepaskan pegangan ataupun kuncian haruslah dimulai dari bagian tubuh yang dipegang atau dikunci lawan. Kemudian dibantu oleh anggota tubuh yang lain, misalnya dengan gelek, oyak dan kaliek.

10. Cancang Talandeh Jadi Ukia
Ini adalah suatu hukum dalam silat yang berhubungan dengan kecepatan mengambil keputusan. Tentu saja kaitannya dengan kemahiran menguasai gerakan-gerakan dalam silat. Arti dari ungkapan ini adalah bahwa kemampuan menggunakan gerakan-gerakan silat dalam berbagai kondisi dan situasi. Dalam keadaan tertentu pesilat tidak lagi harus memikirkan gerak-gerak tertentu. Gerakan apa saja yang menjadi gerak silat ini dapat digunakan dalam situasi yang bagaimanapun.

11. Mamatah Tapatah
Istilah ini berhubungan dengan niat dan perbuatan jahat. Seseorang yang berniat atau melakukan perbuatan untuk mencederai orang lain maka ia sendiri yang akan cedera.

12. Cuek, Baliang, Hantam, Simbek, Sepok, dan Gayuang
Istilah-istilah ini berhubungan dengan serangan kaki. Cuek adalah serangan kaki yang menggunakan ibu jari kaki. Sasarannya pusar, perut, baik sebelah kanan maupun sebelah kiri.
Baliang adalah serangan kaki yang menggunakan sisi kaki sebelah luar. Sasarannya dari pinggang sampai ke lutut dan dapat juga digunakan untuk menyapu dan menggunting.
Hantam adalah serangan dengan menggunakan tumit. Sasarannya adakah lutut dan ibu jari kaki.
Simbek adalah serangan dengan menggunakan sisi kaki bagian dalam, sasarannya adalah bagian kaki dari lutut ke bawah, dan juga dapat digunakan untuk guntingan atau sapuan.
Sepok adalah serangan yang menggunakan telapak kaki, sasarannya adalah pipi dan mata.
Gayuang adalah serangan dengan menggunakan punggung kaki, sasarannya adalah ari-ari.

Riwayat Hidup Penulis

  1. Lahir di Kumango, kecamatan Sungai Tarab, kabupaten Tanah Datar tahun 1937. Mulai mengenal/belajar silat sejak kelas IV Sekolah Rakyat (SR) di Kumango. Kemudian mendalaminya setelah duduk di bangku SMP sampai di Perguruan Tinggi.
  2. Mengajar silat pada Perguruan Tinggi Negeri Sekolah Tinggi Olahraga (STO) Padang dari tahun 60-an sampai dengan tahun 70-an, dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang. Di samping itu juga aktif mengajar untuk masyarakat di luar lembaga pendidikan formal yang diikuti oleh pelajar, mahasiswa, dosen dan masyarakat umum lainnya sampai sekarang.
  3. Duduk dalam kepengurusan Pengurus Daerah Ikatan Pencak Silat (Pengda IPSI) Sumatera Barat, dari tahun 1968 sampai sekarang, sebagai ketua bidang/komisi teknik, dan sekarang sebagai Dewan Pakar.
  4. Memimpin tim pencak silat kontingen Sumatera Barat dan sekaligus menjadi juri pencak silat Pekan Olahraga Nasional (PON) VII di Surabaya tahun 1969.
  5. Mengikuti pendidikan Wasit dan Juri Pencak Silat tingkat Nasional di Jakarta tahun 1972.
  6. Mengikuti penataran pencak silat yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Jayagiri Lembang Bandung.
  7. Menatar guru-guru mata pelajaran Olahraga SPG/PGSLB yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Padang tahun 1980.
  8. Ketua/anggota Dewan Wasit Juri, Dewan Hakim pada kejuaraan tingkat daerah, wilayah dan Pekan Olahraga Nasional.
  9. Ofisial tim pencak silat mahasiswa Sumatera Barat ke kejuaraan mahasiswa tingkat nasional di Medan tahun 1981.
  10. Menjadi ofisial tim pencak silat Sumatera Barat di berbagai kejuaraan nasional dan seleksi Seagames di Jakarta dan Surabaya.
  11. Mengikuti Musyawarah Nasional Ikatan Pencak Silat Indonesia ke IX di Jakarta tahun 1994.
  12. Berpartisipasi pada seminar Studi Kelayakan Pembentukan Program Studi Seni Pencak Silat yang diselenggarakan Sekolah Tingi Seni Indonesia Padang Panjang tahun 2005

Sumber

1000 Pepatah Petitih Minang

SEKAPUR SIRIH

Disusun jari nan sapuluah, ditakuakan kapalo nan satu dihujamkan lutuik nan duo. Kapado ALLAH Ampun dimintak, sambah dianta dipuhunkan, kapado Panghulu Pamangku Adat, bilo maulana jo tuanku, Nan manjunjuang soko dalam adat, sarato imam dengan khatib. Nan mudo pambimbiang dunia Bundo kanduang samo didalam.

Ujuik kato buah rundiagan, sakiro paham dikahandaki bahubuang jo maso nan ditampuah, musim nan tumbuah iko kini, syariat ado bahakikat, lahia kulik manganduang isi. Dilua nan tampak nyato, didalam kanduangan ulemu, tiliak nyato paham mamanjek, dijauah hari simpanan kito. Kalau dipiliah jo ihktiar, jikok aka dijalankan, jo tanang budi marangkak, kateh nyato taambun jantan, kabawah jaleh takasiak bulan.
Sampai tabagi dek ulemu, lahia manjadi buah ama, dek enggeran soko nan tatagak, Malangkah diujuang padang, basilek dipangka karieh, kato salalu baumpamo, rundiang nan banyak bakiasan. Dalam kulik pandanglah isi, dinan lahia bathin tabayang. Kulik manieh ditimpo bathin, bathin ditimpo galo-galo, dalam lahia manganduang bathin, dalam bathin bahakikat pulo.

Rumah gadang bari bapintu, nak tarang jalan kahalaman, jokok dikumpa saleba kuku, kalau dikambang saleba alam, Talago adat nan indak kariang, sapayah payah manimbo, walau dalam musim kamarau, mailia taruih aia nan janiah . Latiak latiak tabang ka pinang, jatuah kapangka salironyo aia satitiak dalam pinang, sinan bamain ikan rayo.

Didorong dek kandak bana, dielo dek cinto hati, mangingek papatah dalam adat, bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun, ratak sabuah jadi tuah. Jokok dibukak pusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam , lah banyak ragi nan barubah. Seni budaya tanah aia, lapuak dizaman panjajahan, kinilah jadi buah pikia, sadang didalam panggalian. Lapuak lapuak dikanjangi, usang usang dibarui. Mamandang gujalo zaman, edaran maso putaran zaman , lah lanyap zaman panjajahan, lah patuik disalam nan tabanam.

Ambo nan bukan cadiak pandai, ulemu di TUHAN tasimpannyo, kok senteng tolonglah bilai, tandonyo kito sa-undiko. Ampun sagalo niniak mamak, nan gadang basa batuah, kok tasalah maaf pabanyak, nan Qadim hanyo sifat ALLAH.

PENDAHULUAN

Dengan nama ALLAH Swt. Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, serta Taufiq dan Hidayah – NYA, telah mengerakan hati saya untuk menyusun buku kecil ini dengan menghimpun 1000 buah pepatah-petitih, mamang, bidal pantun dan gurindam Minang Kabau.

Hal ini didorong oleh rasa cinta kepada Kebudayaan/Adat Minang Kabau yang merupakan ke-Bhinnekaan dari Kebudayaan Nasional Indonesia, serta menyadari bahwa Adat Minang Kabau adalah merupakan pengetahuan yang mengandung arti dan ajaran yang mencangkupi setiap aspek kehidupan dalam masyarakat adalah tersimpan dalam bentuk pepatah-petitih, mamang, bidal pantun dan gurindam.

Dalam pepatah-ptitih, mamang, bidal pantun dan gurindam itulah tersimpan mutiara-mutiara dan kaedah-kaedah yang tinggi nilainya untuk kepentingan hidup bergaul dalam masyarakat. Diaman kalimat demi kalimat yang disusun, diucapkan dengan kata-kata kiasan ( indirek ), yang juga merupakan kesukaran untuk memahami arti dan tujuannya tanpa membaca arti yang tersirat didalamnya.

1000 buah pepatah-petitih yang kita himpun ini adalah sebahagian kecil dari 500.000 pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun di Minang Kabau, yang pernah dipelajari oleh seorang pelancong dari negri Cina yang namanya ITSING 455 th. SM, yang datang ke negri Saruaso dan Pariangan Padang Panjang sekarang (Keterang Alm. Dt Batuah tj,. Barulak Batusangkar dan Dt Tumbijo Dirajo Batipuah)

Semoga usaha saya ini akan mengetuk hati putra Minangkabau (Sumbar) untuk mengali dan menghimpun 499.000 lagi dari pepatah-petitih Minang Kabau yang sekarang masih tersimpan dalam Tambo Adat Minamg Kabau atau para ahli Adatnya. Dan kemudian dapat disumbangkan dalam membangun dan memperkaya Kebudayaan Nasional Indonesia yang kita cintai.

Saya mengaharapkan perbaikan disana sini kalau kiranya ditemui kekhilafan dalam mengartikannya, begitupun dalam menyusun kalimat demi kalimat, dan kemudian kepada ALLAH yang Alim jua saya berserah diri.

Penyusun, Idrus Hakimy Dt Rajo Panghulu

Bismillahirrahmanirrahim

1. Anak nalayan mambaok cangkua, mananam ubi ditanah darek. Baban sakoyan dapek dipikua, budi saketek taraso barek.
Beban yang berat dapat dipikul, tetapi budi sedikit terasa berat.
2. Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi.
Hubungan yang erat sesama manusia bukan karena emas dan perak, tetapi lebih diikat budi yang baik.
3. Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi.
Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi.
4. Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati.
Sifat seseorang yang tegas bertindak atas kebenaran dengan penuh bijaksana
5. Tarandam randam indak basah, tarapuang apuang indak hanyuik.
Suatu persoalan yang tidak didudukan dan pelaksanaannya dilalaikan.
6. Anyuik labu dek manyauak, hilang kabau dek kubalo.
Karena mengutamakan suatu urusan yang kurang penting hingga yang lebih penting tertinggal karenanya.
7. Anguak anggak geleng amuah, unjuak nan tidak babarikan.
Sifat seseorang yang tidak suka berterus terang dan tidak suka ketegasan dalam sesuatu.
8. Alua samo dituruik, limbago samo dituang.
Seorang yang mentaati perbuatan bersama dan dipatuhi bersama.
9. Alat baaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku.
Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak.
10 Alang tukang binaso kayu, alang cadiak binaso Adat, alang arih binaso tubuah.Alat baaluah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku.
Seseorang yang tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mentalnya telah rusak.
11. Alah bauriah bak sipasin, kok bakiek alah bajajak, habih tahun baganti musim sandi Adat jangan dianjak.
Walaupun tahun silih berganti musim selalu beredar, tetapi pegangan hidup jangan dilepas.
12. Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang.
Yang baik sama dipakai, yang buruk sama ditinggalkan.
13. Anak-anak kato manggaduah, sabab manuruik sakandak hati, kabuik tarang hujanlah taduah, nan hilang patuik dicari.
Sekarang suasana telah baik, keadaan telah pulih, sudah waktunya menyempurnakan kehidupan.
14. Anggang nan datang dari lauik, tabang sarato jo mangkuto, dek baik budi nan manyam buik, pumpun kuku patah pauahnyo.
Seseorang yang disambut dengan budi yang baik dan tingkah laku yang sopan, musuh sekalipun tidak akan menjadi ganas.
15. Anjalai pamaga koto, tumbuah sarumpun jo ligundi, kalau pandai bakato kato, umpamo santan jo tangguli.
Seseorang yang pandai menyampaikan sesuatu dengan perkataan yang baik, akan enak didengar dan menarik orang yang dihadapi.
16. Atah taserak dinan kalam, intan tasisiah dalam lunau, inyo tabang uleklah tingga, nak umpamo langgau hijau.
Seseorang yang menceraikan istrinya yang sedang hamil, adalah perbuatan tidak baik.
17. Aia diminum raso duri, nasi dimakan raso sakam.
Seseorang yang sedang menanggung penderitaan bathin.
18. Adaik rang mudo manangguang rindu, adaik tuo manahan ragam.
Sudah lumrah seorang pemuda mempunyai suatu idaman, dan lumrah seorang yang telah tua menahan banyak karena umurnya.
19. Alah limau dek mindalu, hilang pusako dek pancarian.
Kebudayaan asli suatu bangsa dikalahkan oleh kebudayaan lain.
20. Adat dipakai baru, jikok kain dipakai usang.
Adat Minang Kabau kalau selalu diamalkan dia merupakan ajaran yang bisa berguna sepanjang zaman.
21. Basuluah mato hari, bagalanggang mato rang banyak.
Suatu persoalan yang sudah diketahui oleh umum didalam suatu masyarakat.
22. Baribu nan tidak lipuah, jajak nan indak hilang.
Satu ajaran yang tetap berkesan, yang diterima turun temurun.
23. Bariak tando tak dalam, bakucak tando tak panuah.
Seseorang yang mengaku dirinya pandai, tetapi yang kejadiannya sebaliknya.
24. Bajalan paliharolah kaki, bakato paliharolah lidah.
Hati-hatilah dalam berjalan begitu juga dalam melihat, sehingga tidak menyakiti orang lain.
25. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.
Setiap pekerjaan yang dikerjakan secara bersama.
26. Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.
Suatu pengetahuan yang tanggung dipelajari tidak lengkap dan cukup, kurang bisa dimanfaatkan.
27. Bakato bak balalai gajah, babicaro bak katiak ula.
Suatu pembicaraan yang tidak jelas ujung pangkalnya.
28. Bapikia kapalang aka, ba ulemu kapalang paham.
Seseorang yang mengerjakan sesuatu tanpa berpengetahuan tentang apa yang dikerjakannya.
29. Bak kayu lungga panggabek, bak batang dikabek ciek.
Suatu masyarakat yang berpecah belah, dan sulit untuk disusun dan diperbaiki.
30. Batolan mangko bajalan, mufakat mangko bakato.
Dalam masyarakat jangan mengasingkan diri, dan bertindak tanpa mufakat.
31. Bak kancah laweh arang, bapaham tabuang saruweh.
Seseorang yang besar bicaranya, dan tidak bisa merahasiakan yang patut dirahasiakan.
32. Bak balam talampau jinak, gilo ma-angguak-anguak tabuang aia, gilo mancotok kili-kili.
Seseorang yang sifatnya terlalu cepat mempercayai orang lain, tanpa mengetahui sifat orang lain tersebut.
33. Bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun ratak sabuah jadi tuah, jikok dibukakpusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam lah banyak ragi nan barubah.
Karena banyaknya yang mempengaruhi kebudayaan kita yang datang dari luar, kemurnian kebudayaan Adat istiadat mulai kabur dari masyarakat.
34. Batang aua paantak tungku, pangkanyo sarang sisan, ligundi disawah ladang sariak indak babungolai. Mauleh jokok mambuku, mambuhua kalau manggasan, kalau budi kelihatan dek urang, hiduik nan indak baguno lai.
Seseorang dalam masyarakat yang telah kehilangan kepercayaan, karena tindakannya yang kurang teliti dalam suatu hal. Sehingga kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.
35. Basasok bajarami, bapandam pakuburan, soko pusako kalau tadalami, mambayang cahayo diinggiran.
Kalau ajaran adat dapat didalami dan difahami, serta diamalkan oleh masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi tinggi mutunya.
36. Basasok bajarami, bapandam pakuburan.
Adalah syarat mutlak bagi satu nagari di Minang Kabau
37. Bapuntuang suluah sia, baka upeh racun sayak batabuang, paluak pangku Adat nan kaka, kalanggik tuah malambuang.
Kalau ajaran Adat Minang Kabau benar-benar dapat diamalkan oleh anggota masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi masyarakat yang tinggi peradabannya dan kuat persatuannya.
38. Bajalan batolan, bakato baiyo, baiak runding jo mufakat. Turuik panggaja urang tuo, supayo badan nak salamaik.
Hormati dan turuti nasehat Ibu Bapak dan orang yang lebih tua umurnya dari kamu, Insya ALLAH hidupmu akan selamat.
39. Barakyat dulu mangko barajo, jikok panghulu bakamanakan. Kalau duduak jo nan tuo pandai nan usah dipanggakkan.
Sewaktu duduk bersama orang tua, baiak orang tua umurnya dari kita, janganlah membanggakan kepandaian kita sendiri.
40. Bakato bapikiri dulu, ingek-ingek sabalun kanai, samantang kito urang nan tahu, ulemu padi nan kadipakai.
Seseorang yang pandai dalam hidup bergaul, dia selalu umpama padi berisi, makin berisi makin tunduk, bukan membanggakan kepandaian.
41. Banyak diliek jauah bajalan, lamo hiduik banyak diraso. Kalau kito dalam parsidangan marah jo duko usah dipakai.
Didalam duduk rapat dalam suatu persidangan, tidak boleh berhati murung, dan tidak boleh bersifat marah.
42. Biopari kato ibarat, bijaksano taratik sopan, pacik pitaruah buhua arek, itu nan ijan dilupokan.
Nasehat yang baik jangan dilupakan, pegang erat-erat untuk diamalkan.
43. Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua baying-bayang maso.
Ajaran Adat kalau didalami dia akan dapat menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia.
44. Baitu barieh balabiahnyo, dari luhak maso dahulu, kok tidak disigi dipanyato, lipuah lah jajak nan dahulu.
Tentang Adat Minangkabau sebagai kebudayaan daerah kalau tidak dibina dan dikembangkan, maka hilanglah kebudayaan yang asli di Minang Kabau, karena di pengaruhi kebudayaan asing.
45. Buruak muko camin dibalah.
Seseorang yang membuat kesalahan karena kebodohannya, tetapi yang disalahkannya orang lain atau peraturan.
46. Banggieh dimancik, rangkiang disaliangkan.
Marah kepada satu orang tetapi semua orang yang dimusuhi.
47. Barajo Buo Sumpu Kuduih tigo jo rajo Pagaruyuang, Ibu jo bapak pangkanyo manjadi anak rang bautang.
Kesalahan seorang anak, akan banyak tergantung kepada didikan kedua ibu bapaknya.
48. Bak cando caciang kapanehan, umpamo lipeh tapanggang.
Seseorang yang tidak mempunyai sifat ketenangan, tetapi selalu keluh kesah dan terburu buru.
49. Bak lonjak labu dibanam, umpamo kacang diabuih ciek.
Seseorang yang mempunyai sifat angkuh dan sombong, sedang dia sendiri tidak tahu ukurannya dirinya.
50. Bak ayam manampak alang, umpamo kuciang dibaokkan lidieh.
Seseorang yang sangat dalam ketakutan, sehingga kehidupannya kucar kacir.
51. Bak caro tontoang diladang, umpamo pahek ditokok juo barunyo makan, urang-urang ditanggah sawah digoyang dulu baru manggariek.
Seseorang yang tidak tahu kepada tugas dan kewajibannya sehingga selalu menunggu perintah dari atasan, tidak mempunyai inisiatif dalam kehidupan.
52. Bak sibisu barasian, takana lai takatokan indak.
Seseorang yang tidak sanggup menyebut dan mengemukakan kebenaran, karena mempunyai keragu-raguan dalam pengetahuan yang dimiliki.
53. Bak baruak dipataruahkan, bak cando kakuang dipapikekkan.
Seseorang hidup berputus asa, selalu menunggu uluran tangan orang lain, tidak mau berusaha dan banyak duduk bermenung.
54. Bak manjamua ateh jarami, jariah abieh jaso tak ado.
Pekerjaan yang dikerjakan tanpa perhitungan, sehingga menjadi rugi dan sia sia.
55. Bak balaki tukang ameh, mananti laki pai maling.
Menunggu suatu yang sulit untuk dicapai, karena kurang tepatnya perhitungan dan harapan yang tak kunjung tercapai.
56. Baulemu kapalang aja, bakapandaian sabatang rokok.
Seseorang yang tidak lengkap pengetahuan dalam mengerjakan sesuatu, atau kurang pengetahuannya.
57. Bunyi kecek marandang kacang, bunyi muluik mambaka buluah.
Seseorang yang besar bicara tetapi tidak ada memberi hasil.
58. Baguno lidah tak batulang, kato gadang timbangan kurang.
Pembicaraan yang dikeluarkan secra angkuh dan sombong, tidak memikirkan orang lain akan tersinggung.
59. Bak bunyi aguang tatunkuik, samangaik layua kalinduangan.
Seseorang yang tidak bisa bicara karena banyak takut dan ragu dalam pendirian.
60. Bak itiak tanggah galanggang, cando kabau takajuik diaguang.
Seseorang yang sangat tercegang dan takjub dengan sesuatu, sehingga tidak sadarkan diri sebagai seorang manusia.
61. Bungkuak saruweh tak takadang, sangik hiduang tagang kaluan.
Seseorang yang tidak mau menerima nasehat dan pendapat orang lain, walaupun dia dipihak yang tidak benar sekalipun.
62. Bumi sampik alam tak sunyi, dio manjadi upeh racun.
Biasanya orang yang disebut dalam no.61 diatas menyusah dan menjadi batu penarung.
63. Bak umpamo gatah caia, bak cando pimpiang dilereng, iko elok etan katuju.
Sifat seorang laki-laki atau perempuan yang tidak mempunyai pendirian dan ketetapan hati dalam segala hal.
64. Basikelah anggan kanai, basisuruak jikok kanai, tasindoroang nyato kanai.
Sifat yang harus dihindarkan, seorang yang tidak mau bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
65. Budi nan tidak katinjauan, paham nan tidak kamaliangan.
Seseorang yang tidak mau kelihatan budi, dan selalu hati-hati dalam berbuat bertindak dalam pergaulan.
66. Bak basanggai diabu dingin, bak batanak ditungku duo.
Suatu pekerjaan yang sia-sia dan kurang mempunyai perhitungan.
67. Bak taratik rang sembahyang, masuak sarato tahu, kalua sarato takuik.
Seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh ketelitian dan menguasai segala persoalannya.
68. Bak galagak gulai kincuang, bak honjak galanggang tingga.
Seseorang yang berlagak pandai dalam sesuatu, tetapi yang sebenarnya kosong belaka.
69. Bak ayam lapeh malam, bak kambiang diparancahkan.
Seorang yang kehilangan pedoman hidup serta pegangan, berputus asa dalam sesuatu.
70. Bak balam talampau jinak, gilo maangguak tabuang aia, gilo mancotok kili kili.
Seseorang yang mudah dipuji sehingga kalau telah dipuji bisa terbuka segala rahasia.
71. Bagai kabau jalang kareh hiduang, parunnyuik pambulang tali, tak tantu dima kandangnyo.
Seseorang yang keras kepala tak mau menerima nasehat orang lain, sedangkan dia sendiri tak memahami tentang sesuatu.
72. Bak umpamo badak jantan, kuliek surieh jangek lah luko, namun lenggok baitu juo.
Seorang yang tidak tahu diri, sudah tua disangka muda, ingin kembali cara yang muda.
73. Bak ma eto kain saruang, bak etong kasiak dipantai.
Suatu persoalan yang tidak berujung berpangkal dan tidak ada keputusannya dalam masyarakat.
74. Barundiang siang caliak-caliak, mangecek malam agak-agak.
Berbicaralah dengan penuh hati-hati dan jangan menyinggung orang lain.
75. Bak manungkuih tulang didaun taleh, bak manyuruakan durian masak.
Suatu perbuatan jahat walaupun bagaimana dia pandai menyembunyikannya, lambat laun akan diketahui orang lain juga.
76. Bilalang indak manjadi alang, picak-picak indak jadi kuro-kuro. Walau disapuah ameh lancuan, Kilek loyang kan tampak juo.
Setiap penipuan yang dilakukan dan ditutup dengan kebaikan, dia akan kelihatan juga kemudian.
77. Bak mandapek durian runtuah, bak mandapek kijang patah.
Seseorang yang mendapat keuntungan dengan tiba-tiba, yang tidak dikira pada mulanya.
78. Bagai sipontong dapek cicin, bak mancik jatuah kabareh.
Nikmat yang diperdapat sedang orang yang bersangkutan lupa dari mana asal mulanya,dan menjadikan dia lupa diri.
79. Bak kabau dicucuak hiduang umpamo langgau di ikua gajah.
Seseorang yang selalu menurut kemauaan orang lain, tanpa mengeluarkan pendapat hatinya.
80. Bak mamaga karambia condong, bak ayam baranak itiak.
Pengetahuan seseorang yang tidak dapat dimamfaatkan dan berfaedah bagi dirinya, tetapi menguntungkan kepada orang lain.
81. Bak mangantang anak ayam, umpamo basukek baluik hiduik.
Suatu masyarakat karena kurang keahlian sulit untuk disusun dan dikoordinir.
82. Bak mahambek aia hilia, bak manahan gunuang runtuah.
Mengerjakan suatu pekerjaan berat yang harus dikerjakan bersama, dikerjakan sendirian, dan tidak mempunyai keahlian pula tentang itu.
83. Bak mancari jajak dalam aia, bak mancari pinjaik dalam lunau.
Mencari sesuatu yang mustahil didapat, walaupun sesuatu itu ada.
84. Bak manatiang minyak panuah, bak mahelo rambuik dalam tapuang.
Suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan hati-hati dan teliti, karena memikirkan akibatnya.
85. Bak aia didaun kaladi, bak talua diujuang tanduak.
Sesuatu yang sulit menjaganya dalam pergaulan, kalau hilang atau jatuh hilang semua harapan, seperti kehilang budi dari seseorang.
86. Bak manggadangkan anak ula, umpamo mamaliharo anak harimau.
Seseorang yang didik dari kecil dengan ilmu pengetahuan, tetapi kelak setelah dia besar dibalas dengan perbuatan yang jahat.
87. Bak aia jatuah ka kasiak, bak batu jatuah ka lubuak.
Sesuatu persoalan yang diajukan, tetapi dilupakan buat selamnya, yang seharusnya perlu lu ditekel dengan segera.
88. Bak bagantuang di aka lapuak, bak bapijak didahan mati.
Seseorang yang mengantungkan nasib pada orang yang sangat lemah ekonomi dan pemikirannya.
89. Bak ayam indak ba induak, umpamo siriah indak ba junjuang.
Suatu masyarakat atau anak-anak yang tidak ada yang akan memimpin atau memeliharanya.
90. Bak malapehkan anjiang tasapik, bak mangadangkan anak harimau.
Seseorang yang ditolong dengan perbuatan baik diwaktu dia dalam kesempitan tetapi setelah dia terlepas dari kesulitan, dia balas dengan kejahatan.
91. Bak api didalam sakam, aia tanang mahannyuikkan.
Seseorang yang mempunyai dendam diluar tidak kelihatan, tetapi setelah terjadi kejahatan saja baru diketahui.
92. Bak tapijak dibaro angek, bak cando lipeh tapanggang.
Seseorang yang sifatnya tergesa-gesa, berbuat tanpa memikirkan akibat.
93. Bak maungkik batu dibancah, bak manjujuang kabau sikua.
Suatu pekerjaan yang sukar dikerjakan, dan kalau dikerjakan menjadi sia-sia, bahkan menimbulkan kesulitan.
94. Baban barek singguluang batu, kayu tapikua dipangkanyo.
Suatu pekerjaan yang dikerjakan tetapi tidak ada keuntungan materil yang diharapkan (sosial)
95. Bak kudo palajang bukik, umpamo gajah paangkuik lado.
Suatu pekerjaan bersama-samalah seorang dari orang yang berjasa dalam pekerjaan itu tidak diberi penghargaan sewajarnya.
96. Bak banang dilando ayam, bak bumi diguncang gampo.
Suatu kerusuhan dan kekacauan yang timbul dalam suatu masyarakat yang sulit untuk diatasi.
97. Bak baluik di gutiak ikua, bak kambiang tamakan ulek.
Seseorang yang mempunyai sifat dan tingkah laku yang kurang sopan dan tidak memperdulikan orang lain yang tersinggung karena perbuatannya.
98. Babana ka ampu kaki, ba utak ka pangka langan.
Seseorang yang mudah tersinggung dan mudah berkelahi karena hal kecil.
99. Baumpamo batuang tak bamiyang, bak bungo tak baduri.
Seseorang yang tidak mempunyai sifat malu dalam hidup, baik laki -laki dan perempuan.
100. Basilek dipangka padang, bagaluik diujuang karieh, kato salalu baumpamo, rundiang salalu bamisalan.
Pepatah, petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam Adat Minang Kabau, selalu mempunyai arti yang tersurat dan tersirat (berkias).
101. Bakato sapatah dipikiri, bajalan salangkah madok suruik.
Setiap yang akan dikatakan hendaklah dipikirkan lebih dahulu, sehingga perkataan itu tidak menyinggung orang lain.
102. Bajalan paliharolah kaki, maliek paliharolah mato.
Menurut adat berjalan dan melihat, bahkan setiap gerak dan perilaku hendaklah diawasi, jangan sampai merussak perasaan orang lain.
103. Bukik putuih rimbo kaluang, dirandang jaguang dihanggusi. Hukum putuih badan tabuang, dipandang gunuang ditangisi.
Seseorang yang berpantun diwaktu dia akan menjalani hukuman karena melawan penjajah Belanda.
104. Camin nan tidak namuah kabua, palito nan tidak kunjuang padam.
Ajaran Adat/Syarak di Minangkabau bagaimanapun tetap dicintai dan dihormati oleh masyarakatnya
105. Cadiak jan bambuang kawan, gapuak nan usah mambuang lamak, tukang nan tidak mambuang kayu.
Dalam pergaulan hendaklah bisa mempergunakan semua orang, jangan dengan jalan bertindak sendiri, walaupun cukup mempunyai kecerdasan.
106. Condong jan kamari rabah, luruih manantang barieh Adat.
Didalam pergaulan hendaklah mempunyai pendirian yang kokoh, dan selalu dijalan yang benar.
107. Cupak basitalago panuah, undang maisi kandak, bak kain pambaluik tubuah, paralu dipakai tak buliah tidak.
Adat dan Syarak di Minangkabau adalah dua ajaran yang mutlak dipakai dan diamalkan.
108. Capek kaki ringan tangan, capek kaki indak panaruang, ringan tangan bukan pamacah.
Sifat pemuda-pemudi yang terpuji dan dikehendaki oleh Adat dan agama di Minangkabau, yakni tangkas dan kesatria tetapi tidak melampaui kesopanan.
109. Cadiak malam biguang siang, gilo maukia kayu tagak.
Seseorang yang panjang angan-angan, tetapi satupun tak dapat dikerjakannya, rencana tinggal rencana, mempunyai sifat pemalas.
110. Cancang tadadek jadi ukia, kuah talenggang ateh nasi.
Suatu pekerjaan yang tidak terduga salah melaksanakannya, tetapi karena keahliannya dapat menjadi baik.
111. Cinto banyak parisau ragu, budi manunggu di ulemu, paham babisiak didalam bathin.
Sifat seseorang yang selalu mengelamun, tetapi tak berani melahirkan maksud hati.
112. Caliak anak pandang minantu, mato nan condoang ka nan elok.
Seorang ibu/bapak hendaklah mencari menantunya yang sesuai dengan anaknya.
113. Calak-calak ganti asah, pananti tukang manjalang datang, panunggu dukun manjalang tibo.
Seseorang yang dapat bertindak sementara tenaga yang diharapkan dan ditunggu datang, ( memberikan pertolongan pertama )
114. Cabua samo dibuang, usua samo dipamain.
Setiap kita harus menjauhi perbuatan cabul, dan selalulah mempergunakan informasi dengan sebaik-baiknya.
115. Dek ribuik rabahlah padi, dicupak datuak tumangguang, hiduik kalau tidak babudi, duduak tagak kamari tangguang.
Seseorang yang tidak berbudi pekerti yang baik maka hidupnya dalam masyarakat serba susah dan sukar mendapat teman.
116. Dicancang pua manggarik andilau.
Seorang membikin malu semua keluarga merasa malu.
117. Dimudiak tubo dilapeh, dihilia lukah mananti, ditanggah jalo takambang, dilua parangkok makan.
Suatu pekerjaan dalam masyarakat, atau suatu persoalan yang tidak dapat mengelakan diri dari padanya.
118. Dek ketek taanjo-anjo, lah gadang tabao-bao, lah tuo tarubah tido, sampai mati manjadi paranggai.
Setiap pekerjaan yang dibiasakan mengerjakannya semenjak kecil baik atau buruk, sukar untuk merobahnya, bahkan sampai mati tetap akan merupakan pakaian.
119. Dimano kain kabaju, diguntiang indaklah sadang, lah takanak mangko diungkai, dimano nagari namuah maju, Adat sajati nanlah hilang, dahan jo rantiang nan dipakai.
Kamajuan suatu negri di Minangkabau, tidak akan dapat dicapaidengan baik, kalaukiranya ajaran Adat diamalkan tidak sepenuh hati, atau tinggal sebutan.
120. Dalam aia buliah diajuak, dalam hati siapo tahu.
Manusia bisa mengetahui yang lahir, yang bathinnya dalam hati manusia hanya Tuhan yang mengetahuinya.
121. Dimano bumi dipijak, disinan langik dijunjuang, dimano sumua dikali disinan aia disauak, dimano nagari diunyi disinan Adat dipakai.
Ajaran Adat Minangkabau dapat diamalkan dimana saja, asal pandai menyesuaikan diri dengan masyarakat yang kita gauli.
122. Darah samo dikacau, dagiang samo dilapah, tanduak samo ditanam.
Meresmikan penggangkatan atau penobatan suatu jabatan didalam Adat seperti melantik penghulu.
123. Dihannyuik ka aia dareh, dibuang katah lakang.
Membuang segala sifat-sifat yang jelek dan meninggalkan segala perbuatan yang tercela, tidak ingin mengulang kembali.
124. Dibaok ribuik dibaok angin, dibaok pikek dibaok langgau, muluik jo hati kok balain pantangan Adat Minangkabau.
Lain dimulut lain dihati, tidak sesuai kata dengan perbuatan adalah larangan dalam Adat Minangkabau.
125. Dikaji Adat nan ampek, itu pusako tanah Minang. Nak tuah cari sapakaik, nak cilako bueklah silang.
Bersatu teguh dan kuat, bercerai dan berpecah belah adalah kelemahan dan kehancuran.
126. Ditiliak duduak hukum Adat, ateh bainah nan duo baleh. Sarintiak kudarat jo iradat, dikurasai soko mangko nyo jaleh.
Untuk memahami dan mendalami ajaran Adat dan filsafatnya perlu menghendaki ketekunnan dan mau memahami arti yang tersirat.
127. Diatua cupak nan duo, dikaji kato nan ampek, dalam tambolah tasuo, paham disinan mangko dapek.
Kalu untuk mendalami ajaran Adat dan filsafatnya jangan hanya sekedar menangapi arti lahir kata, tetapi perlu dipahami arti yang tersirat dibelakangnya.
128. Dibilang kato nan ampek, partamo kato pusako, sanang hati santoso tampek, disinan ado raso mardeka.
Kemerdekaan itu baru dapat dirasakan hasilnya apabila pembangunan dibidang kesejahteraan hidup dan tempat kediaman telah cukup dan selesai.
129. Dubalang kato mandareh, pagawai kato basipaik, antaro masin jo padeh, disinan raso mangkonyo dapek.
Setelah dibandingkan ajaran Adat Minangkabau dengan Adat Adat lain, maka disana baru jelas nilainya yang baik.
130. Dek rajin pandai nan datang, dek malu buruak tasuo, hari pagi mananti patang, insyaflah diri dengan tubuah.
Ingatlah didalam hidup, muda akan menjadi tua, tua akan kembali kepada asalnya yakni kembali kepada tanah.
131. Deta batiak basaluak timbo, pakaian bangsawan rang di Minang. Dek cadiak niniak nan baduo, dituka bantuak deta datang.
Kebijaksanaan yang baik yang dapat diamalkan dalam pergaulan hidup, menjamin hubungan baik sesama angota masyarakat yang datang dan yang menanti.
132. Dibukak buhua deta datuak, disamek kain saluak timbo. Kok gapuak lamak tak dibuang, dek pandai alam santoso.
Kebijaksanaan dalam pergaulan, pandai menyesuikan diri menimbulkan hubungan yang harmonis sesama anggota masyarakat.
133. Dibaliak pandakian ado panurunan, dibaliak panurunan ado pandakian.
Dibalik kesusahan ada kemudahan, dibalik penderitaan ada kesenangan.
134. Ditiliak barieh jo balabeh, jo papatah pakaian rang panghulu. Supayo budi samo marateh, nak tantu ruweh jo buku.
Kalau budi diamalkan dalam pergaulan, dapat menentukan seseorang baik dan buruk.
135. Didalam luhak nan tigo, untuak padoman dalam hiduik, kato kiasan didalamnyo, indaklah paham kok indak dirunuik.
Ajaran Adat Minangkabau banyak mengandung kiasan dan perumpamaan, tidaklah dapat dipahami kalau tidak benar didalami.
136. Dimaso tuo mangucambah, bukanlah tuo manyularo, sungguah kasumba alah merah tibo disago nan nyato bana.
Tentang sumber pepatah budi merah sago jadi pilihan, walaupun ada yang merah selain dari sago.
137. Dimano asa titiak palito, dibaliak telong nan batali, dari mano asa niniak moyang kito iyo dilereang gunuang marapi.
Orang Minang asal mula keturunannya ialah dilereng gunung merapi Pariangan Padang Panjang.
138. Diagak mangko diagiah, dibaliak mangko dibalah.
Setiap pekerjaan yang akan dikerjakan hendaklah dipikirkan semasak-masaknya, dan buatlah rencana kerja.
139. Elok baso tak katuju, baik baso tak manantu.
Seseorang yang kurang perhitungan dalam pergaulan terlalu royal dengan kawan.
140. Elok diambiak jo etongan, buruak dibuang jo mufakaik.
Didalam Adat setiap yang tidak baik, dibuang baik-baik dengan perhitungan dan musyawarah, begitupun yang baik perlu diambil dengan mufakat.
141. Elok sairiang jo juru mudi, elok saiyo jo sakato, kok pandai bamain budi, nan lia jinak malakok.
Kalau pergaulan dilengkapi dengan budi yang baik dan tinggi, segala kesukaran dapat diatasi.
142. Elok nan tidak mangalua, gadang nan indak mangatanggah.
Seseorang yang tidak berani mengeluarkan pendapatnya dalam pergaulan.
143. Elok bak karabang talua itiak, eloknyo tabuang juo, indak babaliak naik lai.
Orang pandai dan cerdik, tetapi tidak mempergunakan kepandaiannya dan kecerdasan untuk kepentingan orang banyak.
144. Elok tungkuih tak barisi, gadak agak tak manyampai.
Seseorang yang lagaknya seperti orang pandai terlalu jelimet tetapi tidak berhasil.
145. Elok nagari dek panghulu, elok tapian dek nan mudo, elok masajik dek tuanku, elok rumah dek bundo kanduang.
Baik suatu negari karena pimpinannya, begitupun Masjid, tepian karena pemuda pemudi yang tinggi budinya.
146. Faham insyaf faham nan haniang, faham sangko didoroang hati.
Keinsyafan yang sungguh datang dari hati akan menimbulkan kecintaan untuk berbuat kebaikan.
147. Faham sak barisi antah, faham waham bambao lalai.
Keragu-raguan karena kurang keinsyafan, ia akan membawa kepada kelalaian dalam suatu pekerjaan yang dilaksanakan.
148. Faham yakin ulemu tatap, ujuik satu pangang bunta.
Keyakinnan akan membawa ketetapan hati, dan tekun menghadapi sesuatu pekerjaan.
149. Faham arieh balawan banyak, faham cadiak maangan urang.
Mempunyai faham yang terlalu arief menimbulkan sak wasangka, dan cerdik yang tidak dengan pengetahuan akan selalu merugikan diri sendiri.
150. Faham waham mambao lalai, faham mati mangunyah bangkai.
Ragu membawa kelalaian, cemburu buta merugikan diri sendiri.
151. Gadang ombak caliak kapasianyo, gadang kayu caliak kapangkanyo.
Menilai seseorang jangan dari pakaiannya, tetapi nilailah dari pengetahuannya dan budi pekertinya.
152. Gadang buayo dimuaro, gadang garundang dikubangan.
Seseorang akan berkuasa dalam lingkungan dan bidangnya masing-masing.
153. Gadang sendok tak mambao, gadang suok tak manganyang, gadang antak indak lalu.
Orang yang besar bicara takabur dan sombong, biasanya tidak sebesar apa yang dibicarakannya yang dapat dibuatnya.
154. Gadang tungkuih tak barisi, gadang galogok tak bamalu.
Seseorang yang berlagak sombong dan angkuh biasanya dia kurang mempunyai rasa malu.
155. Galogok kuciang kanaiak, bak mancik palajang atah.
Seseorang yang senantiasa tergesa-gesa dalam setiap pekerjaan, tetapi hasilnya sangat mengecewakan.
156. Gadang tungkuih tak barisi, tungkuih elok pangabek kurang.
Seseorang yang bertampang pandai dan pintar, tetapi sebenarnya isi kosong dari segala-galanya
157. Gadanglah aia banda baru, nampak nan dari mandi angin. Elok nan usang dipabaru, pado mancari ka nan lain.
Dari pada mencari sesuatu yang baru, lebih baik memelihara dan memperbaiki yang telah ada.
158. Gadiang tak ado nan tak ratak, tak ado mingkudu nan tak bagatah.
Sifat tersalah dan lupa itu adalah sifat bagi manusia, kecuali yang qadim hanya sifat ALLAH.
159. Gadang jan malendo, panjang jan malindih.
Kalau menjadi orang yang memegang kekuasaan jangan berbuat sekehendak hati.
160. Gadang kayu gadang bahan, ketek kayu ketek bahannyo.
Berbuatlah dalam masyarakat, baik berkorban dan bekerja sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.
161. Gadang agiah baonggok, ketek agiah bacacah.
Setiap pembahagian dalam bersama hendaklah disesuaikan dengan hasi yang diperoleh.
162. Gayuang basambuik, kato bioso bajawab, himbau basahuti.
Kebaikan orang lain hendaklah dibalas dengan kebaikan dengan ikhlas dan jujur.
163. Gabak dihulu tando kahujan, cewang dilangiek tando kapaneh.
Ada suatu alamat dan tanda-tanda menunjukkan mara bahaya akan datang, atau kerusuhan akan terjadi.
164. Garuih tak namuah hilang walau nan luko lah sambuah bana.
Suatu kejahatan yang dibuat seseorang yang sulit dilupakan oleh orang banyak.
165. Geleang kapalo bak sipatuang inggok, lonjak bak labu dibanam.
Seseorang yang talen dan gagah yang dibuat-buat karena sombong dan angkuhnya.
166. Gadang maimpok, panjang malindieh, laweh nak manyawok.
Sifat seseorang berkuasa yang ingin memperbudak orang lain dalam segala hal.
167. Guruah patuih panubo limbek, pandan tajamua disubarang, tujuah ratuih carikan ubek badan batamu mangkonyo sanang.
Seseorang yang sakit karena cinta dan rindu kepada sesuatu atau kepada seseorang, dia akan sembuh kapan dapat bertemu atau tercapai yang dicintainya.
168. Gadih panagak ateh janjang, gadih pancaliak bayang-bayang.
Larangan bagi seorang anak gadis di Minangkabau.
169. Galundi disawah ladang, sarik indak babungo lai, budi kalau nampak dek urang, hiduik indak baguno lai.
Baik laki-laki atau perempuan kalau budi telah kelihatan dalam pergaulan, sulit untuk dipercaya buat selama-lamanya.
170. Gilo dimabuak bayang-bayang, gilo maukia kayu tagak.
Seseorang yang selalu hidup dalam khayalan tetapi tak mau berusaha.
171. Galang dicinto galang buliah, niaik sampai cinto basuo.
Seseorang yang memperoleh nikmat yang selama ini menjadi idamannya.
172. Habih sandiang dek bagesoh, habih miyang dek bagisia.
Pergaulan bebas antara muda dan mudi, akan menghilangkan rasa malu antara dua insan yang berlainan jenis.
173. Habih bisa dek biaso, habih gali dek galitik.
Pekerjaan yang dilarang oleh adat dan syarak akan merupakan kebiasaan mengerjakannya, kalau rasa malu telah hilang dari diri seseorang.
174. Hati gajah samo dilapah, hati tunggau samo dicacah.
Rasa social dalam hidup bergaul, harus melaksanakan pembahagian keuntungan dengan adil melihat kepada keuntungan yang diperoleh sesuai dengan usaha masing
masing.
175. Hawa nan pantang karandahan, nafasu nan pantang kakurangan.
Nafsu itu seperti lautan tak penuh karena air dan sampah.
176. Hanyuik sarantau sagan badayuang, karano tidak mambao galah. Kanan jo kiri tak malenggong, mudharat mamfaat tak takana.
Seseorang dalam pekerjaannya tidak memikirkan kerugian dan kesakitan orang lain.
177. Hati ibo mambao jauah, sayang dikampuang ditinggakan, hati luko mangkonyo sambuah, tacapai niaik jo tujuan.
Seseorang yang rajin berusaha untuk mencapai cita-citanya, dia belum merasa puas kalau belum dapat dicapainya.
178. Hujan batu dikampuang kito, hujan ameh dikampuang urang, walau bak mano misikin misikin awak, bacinto juo badan nak pulang.
Kecintaan seseorang kepada kampung halaman tumpah darahnya, walau senang badan dirantau orang namun kampung teringat juga
179. Harok diburuang tabang, punai ditangan dilapehkan.
Seseorang yang mengharapkan sesuatu yang belum tentu didapatnya, tetapi dia telah membuang apa yang dimilikinya.
180. Hari sahari diparampek, hari samalam dipatigo.
Seseorang yang pandai mempergunakan waktu dalam hidupnya.
181. Hutang lansai dek babaia, ketek utang dek angsuran.
Hutang wajib dibayar, dan dia akan bertambah kecil kalau tetap diangsur membayar.
182. Hulu baiak pandai batenggang, hulu malang salah galogok.
Seseorang akan bahagia kalau pandai bertengang dalam hidup, tetapi bahaya mudah terjadi kalau tidak mempunyai perhitungan.
183. Haniang saribu aka, pikia palito hati.
Seseorang yang tenang dalam menghadapi kesulitan akan mudah mengatasi kesulitan karena pikiran itu pelita hati.
184. Hukum jatuah sangketo sudah, dandam habih kasumat putuih.
Terciptanya perdamaian dalam masyarakat.
185. Habih dayo badan talatak, habih paham aka baranti.
Berusahalah sejauh kemampuan yang ada pada kita dalam masyarakat.
186. Hilang raso jo pareso, habih malo jo sopan, hewan babantuak manusia.
Kalau raso pareso telah lenyap dari seseorang, walaupun hilang sendirinya, bukan disebut manusia lagi, tetapi hewan yang berbentuk manusia.
187. Hari baiak dibuang-buang, hari buruak dipagunokan.
Seseorang yang senang tiasa membuang waktu yang baik, dan memakai waktu yang banyak untuk hura hura.
188. Iduik batampek, mati bakubua, kuburan hiduik dirumah tanggo, kuburan mati ditangah padang.
Seseorang harus mempunyai tempat kediaman, dan kalu mati perlu dikuburkan.
189. Inggok mancakam batang, tabang manumpu dahan.
Perpindahan masyarakat dari suatu negeri kenegeri lain, diperlukan penyesuaian diri dengan masyarakat yang ditempati.
190. Ingek-ingek sabalun kanai, bakulimek sabalun habih.
Dalam bergaul perlu ada kehati-hatian jangan sampai berbuat kesalahan.
191. Iman nan tak buliah ratak, kamudi nan tidak buliah patah.
Ke-Imanan harus dijaga jangan sampai tergelincir, dan kemudian harus dijaga jangan sampai patah, karena kedua-duanya menjadikan karam seseorang dalam kehidupan dan kehilangan pedoman.
192. Isi kulik umpamo lahia, gangam arek pagangan taguah.
Sesuaikanlah kata dengan perbuatan, dan itulah yang harus diamalkan didalam hidup.
193. Indomo di Saruaso, Datuak Mangkudun di Sumaniak, sabab anak jatuah binaso, ibu bapak nan kurang cadiak.
Kemelaratan dan kesesatan seorang anak adalah disebabkan kelalaian kedua orang ibu bapaknya.
194. Ilang tak tantu rimbonyo, hanyuik tak tantu muaronyo.
Sesuatu persoalan yang tidak tentu penyelesaiannya dan hilang begitu saja.
195. Jalan dialiah dek rak lalu, cupak dipapek dek rang manggaleh.
Secara tidak disadari kebudayaan asli kita dipenggaruhi oleh kebudayaan dan adat istiadat asing.
196. Janji biaso mungkia, titian biaso lapuak.
Peringatan agar jangan mudah berjanji dengan seseorang, hendaklah dikuatkan kata-kata InsyaAllah.
197. Jan dicampuakan durian jo antimun, jan dipadakekkan api jo rabuak.
Selalulah hati-hati terhadap pergaulan muda mudi, karena pergaulan bebas akan mengakibatkan rusaknya moral antara keduanya.
198. Jan taruah bak katidiang, jan baserak bak anjalai.
Setiap yang akan dikatakan hendaklah dipikirkan terlebih dahulu, karena lidah tidak bertulang, membicarakan orang lain.
199. Jauah nan buliah ditunjuakkan, dakek nan buliah dikakokkan.
Sesuatu bukti dan keterangan yang dapat dikemukakan dan ditunjukkan dengan nyata.
200. Jalan pasa nan kadituruik, labuah goloang nan kaditampuah.
Selalulah kita berbuat dan bertindak atas kebenaran dan menurut undang-undang yang berlaku.
201. Jatuah mumbang jatuah kalapo, jatuah bairiang kaduonyo. Rusak adaik hancua pusako habih kabudayaan nan usali.
Kalau tidak hati-hati dan tidak dibina dan dikembangkan kebudayaan asli (Adat Minangkabau) hancurlah kebudayaan asli kita.
202. Jikok panghulu bakamanakan, maanjuang maninggikan. Pandai nan usah dilagakkan manjadi takabua kasudahannyo.
Pengetahuan dan kepintaran jangan dibanggakan karena mengakibat hati menjadi takbur jadinya.
203. Jauah cinto mancinto, dakek jalang manjalang.
Rasa kekeluargaan yang tak kunjung habis, walau jauh dimata tapi dekat dihati.
204. Jangek suriah kuliklah luko, namun lenggok baitu juo.
Seseorang yang tidak tahu diri walaupun dia telah jatuh hina karena perbuatannya, tetapi dia tetap membanggakan diri.
205. Jan disangko murah batimbakau, maracik maampai pulo, jan disangko murah pai marantau, basakik marasai pulo.
Hidup dirantau orang tidaklah semudah hidup dikampung halaman tempat kita dilahirkan, karena jauh handai tolan.
206. Jauah bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak diraso.
Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak pengalaman.
207. Kuaik rumah karano sandi, rusak sandi rumah binaso, kuaik bangso karano budi, rusak budi hancualah bangso.
Ketinggi suatu bangsa akan ditentukan oleh kepribadian bangsa itu sendiri. Kalau budi bangsanya telah hancur, akibat kehancuran bangsa itu sendiri.
208. Kilek baliuang lah ka kaki, kilek camin lah ka muko.
Suatu perbuatan dan perkataan yang telah difahami maksud dan tujuannya.
209. Kalau hari lah paneh lah lupo kacang jo kuliknyo.
Melupakan jasa baik orang lain yang pernah menolong kita, tetapi kapan kita telah mendapat kesenangan atau yang dicitakan melupakannya.
210. Kalau karuah aia di hulu sampai ka muaro karuah juo.
Pada umumnya keturunan menentukan corak dan kelakuan yang pernah dimiliki oleh ibu bapaknya.
211. Kalau kuriak induaknyo rintiak anaknyo.
Ibu bapak yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik pula dan sebaliknya.
212. Kasingka talalu ampang, kapitungguah talampau unjua.
Seseorang yang memiliki pengetahuan serba tanggung sehingga tidak dapat dimanfaatkannya.
213. Kato iduik banyawa iduik, kato mati bapambunuahan.
Suatu keterangan yang diberikan ternyata ada kebenarannya, dan suatu keterangan yang tidak terbukti kebenarannya.
214. Kuaik katam karano tumpu, kuaik sapik karano takan.
Suatu pekerjaan atau kewajiban yang dikerjakan karena terpaksa, bukan karena kesadaran.
215. Ka bukik samo mandaki kalurah samo manurun.
Suatu pekerjaan yang dikerjakan secara bersama dan didorong oleh kesadaran.
216. Kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang.
Suatu pekerjaan begitupun tingkah laku dan peranggai yang dapat dicontoh oleh orang lain.
217. Kacak langan lah bak langan, kacak batih lah bak batih.
Seseorang yang baru saja mendapatkan suatu nikmat tetapi senantiasa dipergunakan dengan hati bangga dan sombong.
218. Kalau tasungkuik pado nan tinggi, jikok basanda pado nan gadang.
Sesuatu perbuatan hendaklah dilandaskan kepada Agama, Adat dan Undang-Undang Pemerintah.
219. Kato panghulu manyalasai, mandareh kato dubalang. Adaik kok kurang takurasai, dunia manjadi takupalang.
Ajaran Adat Minangkabau yang sejati kalau tidak diamalkan oleh masyarakatnya, hilanglah budi didalam diri.
220. Kalau dek pandang sapinteh lalu, banyak pahamnyo tagaliciak, pandai tak rago dek ba guru, salam tak sampai pado kasiah.
Ajaran Adat tidak dapat dipahami, apalagi untuk diamalkan kalau sekiranya hanya dengan mendengar pepatah petitih, tampa mendalaminya.
221. Katiko taimpik nak diateh, katiko takuruang nak dilua, bajalan baduo nak ditangah bajalan surang nak dahulu.
Pepatah ini mengandung arti: bagaimana sulitnya memimpin masyarakat yang jiwanya sangat kritis dan koreksi.
222. Kahilia jalan ka Padang, ka mudiak jalan ka Ulakan, kok musuah indak dihadang, tasuo nan indak ba ilakkan.
Tidak mau bermusuhan dalam hidup bermasyarakat tetapi kalua datang dengan tiba-tiba tidak pula dielakkan.
223. Kahilia jalan ka Sumani, sasimpang jalan ka Singkarak, saukua mangko manjadi, sasuai mangko takanak.
Sesuatu hendaklah dengan musyawarah untuk mufakat. Satu pendapat dan satu tujuan.
224. Kaduo kato mufakat, sakato urang kasadonyo, elok sapahan sahakikat, santoso kito salamonyo.
Satu pendapat dan satu gerak, satu tujuan akan melahirkan kesentosaan dan kebahagiaan dalam masyarakat.
225. Kaampek kato kamudian, patuik bana kato dicari, taruah naraco jo katian, paniliak langgam nan tadiri.
Didalam diri manusia yang berpengetahuan dan diamalkannya, ada neraca yang menentukan baik dan buruk.
226. Kato rajo kato basahajo, kato titah kato balimpahan, dari duo capailah tigo, jangan sakali disudahi.
Setiap manusia perlu mempunyai cita-cita yang tinggi dan mulia, tetapi harus dicapai dengan cara ber angsur-angsur.
227. Kato panghulu manyalasai, kato alim kato hakikat, talamun patuik kito kakeh, lahia jo bathin nak saikek.
Perlu penggalian adat dan agama Islam secara mendalam , sehingga lahir dan bathin dapat sesuai.
228. Kato bapak kato panggaja, kato kalipah dari mamak, mujua indak dapek kito kaja, malang tak dapek kito tulak.
Keuntungan tak dapat dikejar-kejar, begitupun mara bahaya dan musibah tidak kuasa manusia menolaknya.
229. Kato guru kato batuah, kato saudaro paringatan, kuncilah bathin jan taruah, budi nan jan sampai nampak.
Keteguhan bathin menyimpan rahasia seseorang, menjadikan orang yang teguh ini mulia budinya.
230. Kato parampuan kato manuruik, mangambiak hati suami, labiahkan rusuah jo takuik, jarek sarupo jo jarami.
Rusuh hati jangan kelihatan, takut paham tergadai, hati-hati dalam berbicara karena banyak musuh dalam selimut.
231. Kato adaik pahamnyo aman, malangkapi rukun dengan syarat, kalau elok pegang padoman, santoso dunia jo akhirat.
Ajaran adat dan agama Islam kalau benar-benar diamalkan, menjamin keselamatan dunia akhirat.
232. Koroang kampuang didalam jurai, baitu limbago sajak dahulu, dunialah lamo inyo pakai, raso pareso nyolah tahu.
Orang yang tua harus dihormati, karena ketuaannya dia telah banyak merasakan pahit manis dalam kehidupan.
233. Kalau adaik dalam nagari, bulek sagiliang picak satapiak, sabarek saringan kasadonyo Urang mulia dalam nagari, muluik manih basonyo baiak, sakati limo nilai haragonyo.
Kemuliaan dalam pandangan adat terletak pada budi baik dan indah bahasanya seseorang.
234. Karano indak mambao galah, mananti takadia kasamonyo, mudarat mufaat tak dikana, alamaik binaso kasudahannyo.
Senantiasalah kita dalam hidup bergaul memikirkan mudarat dan mamfaat, agar sentosa hidup bersama. Kalau tidak dipikirkan alamat hidup akan sengsara.
235. Kato manti kato bahubuang, kato dubalang kato mandareh. Jauhari pandai manyambuang, nan singkek buliah diuleh.
Orang jauhari bijaksana pandai mencari jalan keluar dalam suatu kesulitan yang datang secara tiba-tiba.
236. Kiniko coraklah barubah, alam mardeka lah tabantang, sadang manggali kasajarah usahokan galian dek basamo.
Kemerdekaan telah tercapai, kita harus menggali sejarah kebudayaan bangsa secara bersama.
237. Kok alah sampai di hulu, balunlah pulo sacukuiknyo. Dek kokoh niniak nan dahulu kunci nan limo pambukaknyo.
Nenek moyang di Minangkabau pemikirannya jauh memandang kedepan untuk masa anak cucu, dengan mempergunakan panca indra yang lima.
238. Kito di alam Minangkabau lah patuik tasintak pulo, katiko balun talampau elok dirunuik sitambo lamo.
Sudah masanya sekarang kita mengali dan mengembangkan adat Minangkabau sebagai rangkaian dari kebudayaan nasional.
239. Kauak indak sahabih gauang, awai indak sahabih raso, paham pahamnyo nan tak lansuang, batuka tujuan mukasuiknyo.
Adat Minangkabau selama ini tidak pernah mendapat pengalian dan pembinaan, akibatnya banyak orang salah pengertian tentang tujuan adat itu.
240. Kalau pai tampak pungguang, jikok babaliak tampak muko.
Kalau pergi hendaklah memberi tahu, jika kembali hendaklah memberi khabar.
241. Kalau indak pandai bakato-kato, bak alu pancukia duri, kalau pandai bakato-kato bak santan jo tangguli.
Seseorang yang tak pandai berbicara secara baik, sama dengan alu pencongkel duri tetapi kalau pandai umpama santai dengan tengguli.
242. Kato papatah caro Minang, patitiah luhak nan tigo. Nan turun dari Parpatiah nan sabatang, manjadi kato pusako.
Ajaran adat Minangkabau yang disusun oleh Dt. Parpatih nan Sabatang, merupakan ajaran yang dapat mengikuti perkembangan zaman.
243. Kito nan bukan cadiak pandai, ulemu di Tuhan tasimpannyo. Kok senteang batolong bilai tandonyo kito samo sabanso.
Kalau dijumpai kekilafan dan kesalahan tolong maaf dan betulkan, karena khilaf itu sifat manusia, tandanya kita orang satu bangsa.
244. Kito nan bukan cadiak pandai, hanyo manjawek pituah dari guru. Pituah guru nan dipakai, nak jadi paham jo ukuran.
Nasehat guru dan pelajaran yang diajarkannya kepada murid, adalah menjadi pedoman dalam kehidupan.
245. Kalau ketek dibari namo, urang gadang dibari gala, nak tapek adaik jo limbago, faham adaik nak nyato bana.
Kalau dapat mendalami ajaran adat kita akan mendapatkan mutiara yang berharga didalamnya yang berguna untuk hidup bergaul dalam masyarakat.
246. Kaluah kasah papek nan ampek, sarato anggota katujuahnyo, panca indra manangguangkan, batang tubuah marasokan.
Sesuatu perbuatan tanpa pemikiran dan pertimbangan akan menimbulkan penyiksaan terhadap bathin kita sendiri.
247. Kalau balaia banakodoh, jikok bajalan jo nan tuo.
Mengerjakan suatu pekerjaan hendaklah dengan yang ahlinya, memasuki suatu negeri hendaklah dengan orang yang mengetahuinya.
248. Kuaik dari paga basi, kokoh nan dari paga tembok.
Pagar yang paling kokoh ialah pagar sesuatu dengan budi yang baik.
249. Kato sapatah dipikiri, bajalan salangkah madok suruik.
Pikirkanlah semasak-masaknya apa yang akan kita sampaikan kepada orang lain sehingga tidak menyinggung perasaannya.
250. Karantau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, dirumah baguno balun.
Pergilah merantau kenegeri orang, cari ilmu pengetahuan, serta cari mata penghidupan, untuk kemudian dibawa dan dikembangkan dikampung halaman.
251. Kasiah sayang dapek dicari, tampek hati jarang basuo.
Untuk mencari istri paling mudah, yang sulit mencari istri untuk menjadi teman sehidup semati.
252. Kalauik riak maampeh, kapulau riak mamutuih, kalau mangauik iyo bana kameh, kalau mancancang iyo bana putuih.
Setiap pekerjaan yang kita kerjakan, begitupun pengetahuan yang kita pelajari jangan patah ditengah.
253. Kalau tali kaia panjang sajangka, lauik dalam usah didugo.
Kalau pengetahuan baru seujung kuku jangan dicoba mengurus pekerjaan yang sulit.
254. Kulik maia ditimpo bathin, bathin ditimpo galo-galo, dalam lahia ado ba bathin, dalam bathin bahakikat pulo.
Ajaran adat Minangkabau bukan sekedar lahiriyah, tetapi banyak mengandung arti dan makna yang tersirat, yang menuju kepada mental manusia.
255. Kacimpuang pamenan mandi, rasian pamenan lalok.
Mimpi itu kebanyakan sesuatu yang terangan-angan diwaktu bangun.
256. Lain geleang panokok asiang kacundang sapik.
Gelagat seseorang atau suasana yang menunjukkan tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang tak diingini.
257. Lah samak jalan kapintu, lah tarang jalan kadapua.
Seorang suami yang tidak kenal lagi pada tugasnya sebagai mamak dari kemenakan, tetapi semata tahu kepada si istri saja.
258. Limpato batang sitawa, digulai cubadak mudo, lah biaso kito tasalah, karano pangana indak sakali tibo.
Kekilafan dan kesalahan adalah sifat seorang manusia, karena pemikirannya tidak secara serentak.
259. Lauik gadang kalau dihadang, sadiokan sampan jo pandayuang.
Hiduik didunia mangupalang, sagalo karajo kamari cangguang.
260. Limpapeh rumah nan gadang, umbun puruik pegangan kunci.
Kaum wanita di Minangkabau adalah merupakan tiang kokoh diatas rumah tangga dan nageri, dan kunci tentang kebaikan dan keburukan suatu negeri.
261. Lauik banyak nan sati, rantau banyak nan batuah.
Kalau pergi berjalan kerantau orang hendaklah pandai menyesuaikan diri dalam pergaulan.
262. Lah bacampua lamak jo galeme, indak babedo sadah jo tapuang.
Dalam suatu masyarakat tidak ada lagi batas-batas dalam pergaulan menurut norma adat dan agama.
263. Lahia jo bathin saukuran, isi kulik umpamo lahia.
Seseorang yang baik dan jujur sesuai kata dan perbuatannya.
264. Labuah luruih jalannyo pasa jan manyipang suok jo kida.
Sudah aturan dan undang-undang dan sudah cukup norma adat dan agama, jangan menyimpang dari itu.
265. Mumbang jatuah kalapo jatuah, indak babedo kaduonyo.
Setiap yang bernyawa akan menemui ajalnya baik tua ataupun muda, kecil dan besar.
266. Malabihi ancak-ancak, mangurangi sio-sio.
Setiap pekerjaan hendaklah pertengahan, jangan berlebih-lebihan, begitupun dalam tingkah dan laku.
267. Mukasuik hati mamaluak gunuang, apo dayo tangan indak sampai.
Seseorang yang mempunyai cita-cita tinggi, tetapi tidak ada kemampuan untuk mencapainya.
268. Mancabiak baju didado, manapuak aia didulang.
Seseorang yang berbicara tetapi tidak disadarinya bahwa dia telah memberi malu diri dan keluarganya sendiri.
269. Malakak kuciang didapua, manahan jarek dipintu.
Perbuatan seseorang yang tidak baik yang dilakukan kepada keluarga sendiri.
270. Mancari dama ka bawah rumah, mamapeh dalam balanggo.
Mencari keuntungan kedalam lingkungan anak kemenakan sendiri.
271. Mairikkan galah jo kaki, manjulaikan aka bakeh bagayuik, malabiahkan lantai bakeh bapinjak.
Seseorang yang ingin menjadikan orang lain tersalah, dengan jalan anjuran dan petunjuknya.
272. Mandapek samo balabo, kahilangan samo barugi.
Rasa social dan kerja sama yang baik yang harus diamalkan dalam pergaulan.
273. Manyauak di ilia-ilia, bakato dibawah-bawah.
Bergaul dalam masyarakat, begitupun dirantau orang hendaklah merendahkan diri.
274. Mancaliak jo suduik mato, bajalan di rusuak labuah.
Seseorang yang telah merasa malu, karena perbuatan yang tidak benar telah diketahui orang.
275. Mancaliak tuah ka nan manang, maliek contoh ka nan sudah, manuladan ka nan baik.
Selalulah kita melihat hasil yang baik dan dapat pula kita laksanakan, yakni yang telah positif baik.
276. Mamakai hereang jo gendeang, mamakai raso jo pareso.
Seseorang yang memakai perasaan malu dan mempunyai kesopanan yang baik.
277. Muluik manih talempong kato, baso baiak gulo dibibia.
Seseorang yang berbicara dengan lemah lembut dan baik susunan bahasanya.
278. Maliang cilok taluang dinding, tikam bunuah padang badarah. Ibo di adat katagiliang turuikkan putaran roda.
Kebudayaan asli jangan sampai hilang, sesuaikan diri dan aturan adat beradat serta istiadat dengan kemajuan.
279. Malu batanyo sasek dijalan, sagan bagalah hanyuik sarantau.
Seseorang yang tidak mau bertanya tentang suatu pekerjaan yang tidak/belum dikerjakan. Karena ajaran adat itu pada umumnya berkiasan, tidak mudah dipahami tanpa mengetahuinya akan mengalami kesulitan.
280. Minangkabau dahulunyo, adaiknyo tuah disakato, kalau dipandang kato-kato, dipahamkan makonyo nyato, didalami sungguh-sungguh.
281. Maniah nan jan lakeh di raguak, pahik nan jan lakeh di luahkan.
Sesuatu pelajaran dan pengetahuan dari orang lain pikirkan dahulu semasak-masaknya, benar atau tidaknya.
282. Mati harimau tingga balang, mati gajah tingga gadiang.
Manusia mati hendaknya meninggalkan jasa yang baik untuk anak dan keluraga seta masyarakat.
283. Mati samuik karano manisan, jatuah kabau dek lalang mudo.
Biasanya manusia itu banyak terpedaya oleh mulut manis dan budi bahasa yang baik.
284. Marangkuah tungua ka dado, maraiah suatu ka diri.
Setiap suatu yang dirasakan oleh orang lain hendak dapat dirasakan oleh kita sendiri
285. Mampahujankan tabuang garam, mampaliakkan rumah indak basasak.
Seseorang yang membukakan aibnya sendiri kepada oaring lain.
286. Manjujuang balacan dikapalo, mangali-gali najih dilubang.
Seseorang yang senang membukankan aib orang lain.
287. Managakkan banang basah, manaiakkan banda sundai.
Seseorang yang menolong orang lain, sedang orang lain itu dipihak yang tidak benar.
288. Musang babulu ayam, musuah dalam salimuik.
Seseorang yang berpurak menolong dan berpihak kepada kita, tetapi dia sebenarnya ingin mengetahui pendirian kita dan musuh kita.
289. Manusia manahan kieh, binatang Manahan palu.
Manusia yang sempurna selalu mengetahui kata-kata kiasan di Minangkabau.
290. Murah kato takatokan, sulik kato jo timbangan.
Berbicara sangat mudah, tetapi sulit memelihara perkataan yang akan menyinggung perasaan orang lain.
291. Marabah sadundun jo balam, sikok barulang pai mandi, sambah sadundun jo salam, kato harok dibinisi.
Biasanya dalam pergaulan hidup, Tanya diberi kata berjawab, gayung bersambut.
292. Nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baiak iyo budi, nan indah iyo lah baso.
Yang paling berharga dalam kehidupan bergaul adalah budi pekerti yang baik, serta sopan santun.
293. Nak urang koto hilalang, nak lalu kapakan baso, malu jo sopan kok nyo hilang, habih lah raso jo pareso.
Kalau sifat malu telah hilang dalam diri seseorang, hilang segala perasaan sopan santun.
294. Nan bungkuak dimakan saruang, nan bengkok dimakan tali.
Setiap sifat dan tindak tanduk yang tidak jujur dan benar, akan senantiasa ada ganjarannya (hukum karma)
295. Nan luruih katangkai sapu, nan bungkuak katangkai bajak, satampok kapapan tuai, nan ketek kapasak suntiang, panarahan kakayu api, abunyo kapupuak padi.
Didalam ajaran adat tidak ada bahan yang tidak berguna, tidak ada orang yang tidak dapat dimamfaatkan.
296. Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak pamasang badia, nan lumpuah pahunyi rumah, nan patah pangajuik ayam, nan bingguang kadisuruah-suruah, nan cadiak bao baiyo, nan kayo bakeh batenggang.
Semua orang dapat dimamfaatkan, mulia hina, kaya dan miskin, sempurna, cacat, pandai dan bodoh. Sistim yang terdapat dalam adat Minangkabau.
297. Nan condoang makanan tungkek, nan lamah makanan tueh.
Dalam adat manusia lemah harus dibimbing dan dibantu, lebih-lebih kaum wanita, yang qudrat hayatinya lemah dari kaum lelaki.
298. Nan landai batitih, nan condong baraiah, nan lamah baindiak.
Dilarang didalam adat orang yang memperlakukan si lemah semau-maunya.
299. Nak mulia tapek-i janji, nak taguah paham dikunci.
Kalau ingin jadi orang yang dimuliakan selalu tepati janji, dan tidak suka membuka rahasia.
300. Nak tinggi naiak kan budi, nak haluih baso jo basi.
Kalau ditinggikan orang dalam masyarakat peliharalah budi, dan pakailah basa basi.

Sumber

Silek – Seni Beladiri Minangkabau

Silek adalah nama Minangkabau buat seni beladiri yang ditempat lain dikenal dengan Silat. Sistem matrilineal yang dianut membuat anak laki-laki setelah akil balik harus tinggal di surau dan silat adalah salah satu dasar pendidikan penting yang harus dipelajari oleh anak laki-laki disamping pendidikan agama islam. Silek merupakan unsur penting dalam tradisi dan adat masyarakat Minangkabau yang merupakan ekspersi etnis Minang.

pendekar silek sitaralak
(Gambar 1.1 Pendekar silek aliran Sitaralak dalam posisi kudo-kudo)

Silek sudah merasuk dalam setiap kehidupan sehari-hari dan muncul sebagai unsur penting dalam cerita rakyat, legenda, pepatah dan tradisi lisan di Minangkabau. Ada banyak jenis aliran beladiri silek di Sumatera Barat dan dapat dikatagorikan dalam sebelas aliran silek yang berhasil didata antara lain:

  • Silek Kumanggo
  • Silek Lintau
  • Silek Tuo
  • Silek Sitaralak
  • Silek Harimau
  • Silek Pauh
  • Silek Sungai Patai
  • Silek Luncua
  • Silek Gulo Gulo Tareh
  • Silek Baru
  • Silek Ulu Ambek

Menurut Hiltrud Cordes hanya sepuluh pertama saja yang dapat digolongkan sebagai aliran beladiri silek tetapi silek Ulu Ambek banyak terdapat pada pesisir Pariaman.

Jenis beladiri silek diatas ditemukan dibanyak tempat di Sumatera Barat meskipun banyak jenis lain yang lebih lokal bahkan ada yang hanya terdapat dalam suatu kampung saja dan untuk yang terakhir ini lebih tepat rasanya untuk disebut perguruan silek daripada aliran yang sebagian besar menamakan aliran sileknya dengan nama kampung asal aliran silek itu berasal dan tidak mengasosiasikan diri mereka dengan salah satu aliran diatas, malah beberapa menamakan diri dengan nama yang unik seperti Harimau Lalok, Gajah Badorong, Kuciang Bagaluik atau Puti Mandi.

Metoda Latihan Silek

Silek biasanya dilakukan ditempat yang disebut sasaran, sebuah tempat terbuka atau kosong dan luas yang dekat dengan rumah guru silek. Latihan beladiri silek dilaksanakan pada saat menjelang malam setelah sholat magrib dan berlangsung selama 2-3 jam meskipun kadang sampai tengah malam. Latihan beladiri silek juga dilakukan dengan pencahayaan seadanya seperti cahaya bulan, obor atau lampu minyak tanah. Hal ini dilakukan untuk melatih ketajaman penglihatan dan juga sebagai latihan intuisi. Kadang-kadang latihan silek ini juga dihadiri oleh penghulu desa dan diiringi oleh nyanyian, talempong ataupun saluang. Pakaian silek adalah galembong (celana hitam), taluak balango dan destar.

murid silek sedang latihan
(Gambar 1.2 Murid dari perguruan silek sedang berlatih dimalam hari)

Latihan beladiri silek tidak dilakukan pemanasan seperti aliran beladiri di asia pada umumnya. Dua orang dengan ukuran fisik dan kemampuan tehnik yang sama bermain silek dalam sasaran dengan pengawasan yang ketat dari sang guru dan disaksikan oleh murid-murid yang lain. Permainan silek (demikian sebutan untuk sesi latihan) berlangsung setelah peserta memberi hormat pada guru dan kemudian pada lawan mainnya, setelah permainan usai penghormatan berlangsung sebaliknya. Suasana latihan biasanya santai dan jauh dari kesan formal dimana latihan fisik yang keras bukan prioritas tertinggi.

Waktu rata-rata yang diperlukan untuk menamatkan pendidikan dasar silek adalah 6-8 bulan dan untuk memiliki dasar silek yang baik seorang murid harus belajar secara teratur selama 2-3 tahun. Sedangkan untuk dapat menjadi master atau pendekar dalam beladiri silek diperlukan latihan selama 15 tahun.

Dalam latihan beladiri silek, murid berbaris ataupun membentuk lingkaran dan meniru gerakan dari guru ataupun murid senior. Guru biasanya memberi aba-aba dengan suara atau tepukan tangan untuk menandakan perubahan gerakan yang disebut tapuak. Setelah cukup mahir dengan tehnik dasar, murid disarankan untuk berlatih dengan murid lain yang berbeda ukuran fisik hingga mampu beradaptasi dengan berbagai postur, gerakan dan tingkatan tehnik.

Strategi dasar dari silek ini adalah garak-garik yang dapat diartikan sebagai aksi dan reaksi yang seimbang. Garak-garik dapat dianalogikan seperti permainan catur dimana masing-masing memiliki beberapa pilihan jurus dan harus memilih jurus yang paling efektif untuk dilaksanakan. Masing-masing harus mengantisipasi semua kemungkinan gerakan dari lawan dan mampu memanipulasi lawan untuk mengambil langkah sehingga lawan memiliki lebih sedikit pilihan jurus dan pada akhirnya tidak memiliki jurus lagi untuk dilancarkan. Tetapi tidak seperti catur, dalam beladiri silek waktu adalah hal yang penting, setiap langkah dan jurus harus dilancarkan secara cepat, tepat dan penuh kejutan sehingga lawan gagal mengantisipasinya. Semakin ahli para pemain semakin lama permainan ini berakhir.

Apabila seorang murid telah cukup mahir dalam tehnik maupun fisik serta mampu mendapat kepercayaan dari sang guru maka ia akan mendapat latihan pribadi khusus dari sang guru. Dalam proses mengajarkan pengetahuan khusus ini, murid disumpah untuk menggunakan ilmu beladiri ini untuk kebaikan.

Latihan tingkat lanjut lain berupa mengirim murid kedalam hutan untuk meditasi, menaklukkan rasa takut dan bertahan hidup selama beberapa hari dihutan. Latihan yang kurang berbahaya adalah dengan mengirim murid untuk latih tanding dengan perguruan silat lain.

Aspek Seni dari Silek

Beberapa karakter dari silek membuatnya dapat dilaksanakan seperti tarian karena itu silek sering diiringi oleh musik dan lagu dimana para pemain musik mencocokkan irama musik dengan gerakan para pendekar silek.

latihan silek galombang
(Gambar 1.3 Suasana latihan silek di Minangkabau dalam formasi yang disebut galombang diperagakan oleh murid silek tingkat dasar)

Sebuah karakter unik dari silek adalah barisan melingkar (galombang) yang dipakai saat latihan pada beberapa aliran silek. Setiap peserta latihan melaksanakan gerakan secara simultan sehingga memberikan kesan seperti tarian. Maka tidaklah mengherankan bila seni beladiri silek merupakan asal dari banyak seni tari dan seni teater di Minangkabau seperti randai, tari ratak, tari persembahan dan tari tanduk (tari tanduak).

tarian ratak
(Gambar 1.4 Tarian ratak yang banyak mengambil gerakan silek diperagakan oleh kaum wanita juga)

Cerita menarik tentang pendekar-pendekar silek minang dapat dibaca pada tulisan : Si Pitung dari Padang

Reference:
 Kirstin Pauka, Journal of Asian Martial Arts, Volume 6 Number 1 - 1997
Corder, H. (1990). Pencak silat: Die kampfkunst der Minangkabau und ihr kulturelles umfeld. Ph.D. dissertation, University of Köln.
Draeger, D. (1969). Comprehensive Asian fighting arts. Rutland, VT: Charles E. Tuttle.
Kirstin Pauka. (1972). Weapons and fighting arts of the Indonesian archipelago. Rutland, VT: Charles E. Tuttle.
Kirstin Pauka. (1995). Martial arts, magic, and male bonding: The pauleh tinggi ceremony of West Sumatra. Journal of Asian Martial Arts, 4(3): 26-45.
Kirstin Pauka . (1996). Conflict and combat in performance: An analysis of the Randai folk theatre of the Minangkabau in West Sumatra. Ph.D. dissertation with CD-ROM, University of Hawaii.
Sumber