Karena Kalimatmu Adalah Siapa Dirimu…

Seringkali kita menganggap enteng dari apa yang kita bicarakan atau apa yang kita janjikan pada seseorang. Bukanlah hal yang aneh jika kita seringkali, mungkin tanpa sadar atau mungkin dengan magsud bercanda, basa-basi atau hanya sekedar nyeletuk, kita mengeluarkan kalimat atau kata-kata yang mungkin saja bisa berdampak besar bagi si pendengar atau pembaca.

Dampak besar tidaklah buruk jika dampak itu mendatangkan energi atau semangat positif bagi si pendengar. Namun bagaimana jika apa yang kita bicarakan itu berdampak negatif ??

Dengan membuat dampak negatif bagi perasaan orang lain, secara tidak sadar atau mungkin saja kita sadar, kita sudah melemparkan orang tersebut pada jalan yang tidak seharusnya. Tidak jarang, bahwa akibat dari apa yang kita bicarakan akan menghasilkan yang sama sekali tidak pernah kita duga. Hilangnya nyawa karena mencoba bunuh diri, hilangnya percaya diri dan merusak masa depan, merasa tidak berguna dan sia-sia, membangun rasa dendam yang mendalam dan membuat kecewa yang tidak pernah hilang.

Untuk itu, berhati-hatilah dalam berkata, setiap kata yang kita keluarkan mungkin saja akan sangat berarti bagi orang lain. Berkata baik dan bertutur santun adalah hal yang paling mudah dan paling baik yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki terutama diri sendiri selain untuk orang lain.

Apa yang kita katakan pada orang lain, itu sangat mencerminkan siapa diri kita dan menetukan kelanjutan dari sebuah pembicaraan yang akan kita lakukan. Sebuah kata yang kita katakan bisa jadi akan menjadi sebuah rujukan bagi orang lain yang akan mempengaruhi sikapnya di hari selanjutnya.

Seringkali kita mengatakan pada orang lain, kata-kata yang menurut kita biasa saja dalam konteks bercanda, seperti.. gendut!, kuping loe kemana!, liat donk!, molor mulu!, lelet amat!, dan berbagai kata singkat yang akan berpengaruh besar bagi sipendengarnya.

Tidak jarang juga kita berjanji akan sesuatu ke orang lain yang tanpa kita sadar atau bahkan kita lupa bahwa orang yang kita janjikan justru sangat mengharapkan janji itu, lain halnya jika kita memang belum bisa memenuhinya dan tidak melupakannya, namun akan berdampak berbeda jika kita melupakannya/mengingkarinya.

Seperti sebuah kalimat yang kakak saya bilang dan juga sempat saya jadikan status FB saya.

”Kalau hewan, itu talinya yang dipegang, tapi kalo manusia, itu omongannya yang dipegang. Kalo omongannya udah ga bisa dipeganng, ya terpaksa kasih tali aja lehernya, dan kita pegang talinya, karena sepertinya dia lebih pantas menjadi hewan…”

Semoga kita bukan dari golongan hewan yang berwujud manusia…

Setiap kata adalah doa…

Mulutmu harimau mu…

Beware with your words…

Sumber : Disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: