Sejarah Logo PT Semen Padang

Sebuwah artikel yang sangat menarik, oleh Pak Bersihar Lubis yang dimuwat di Majalah Gamma, dari sebuwah wawancara dengan almarhum Drs. Andi Asoka, M.Hum, dan Zulqaiyyim yang merupakan dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang . Artikel ini membahas mengenai sejarah panjang logo PT Semen Padang sejak pendiriannya di tahun 1910 sampai dengan saat ini yang dipaparkan secara historis dan menarik oleh kedua pakar sejarah ini. Saya sendiri yang pernah setiyap hari melihat logo-logo itu sewaktu masih dipajang di kantor (sebelum kantor direnovasi dan logo-logo itu dilepas dari dinding) cukup menikmati ulasan-ulasan mengenai sejarah logo PT Semen Padang yang diuraikan secara santai namun berisi oleh kedua narasumber dibawah ini.

Copyright: Bersihar Lubis, GAMMA Nomor: 40-3 – 27-11-2001

Title: “KOBOI SOMBRERO MENGANCAM RUMAH GADANG”

SENJA itu tiba-tiba aku ingin berbicara dengan dua sahabat yang jauh dari Jakarta. Satunya adalah Zulqaiyyim. Lainnya adalah Andi Asoka. Keduanya adalah dosen jurusan sejarah di Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang. Asyik juga. Kugunakan fasilitas teleconference, lalu kuhubungi dua nomor telepon kedua rekan yang suka berbicara tentang ikonologi, ilmu tentang patung, lambang, atau logo.
Setelah “mohon maaf lahir batin menyambut puasa Ramadan yang suci”, dari seberang kudengar sebuah pernyataan, “Bung, ikon itu amat filosofis.” “Sebab, sebuah lambang mengandung sebuah visi dan misi dari sebuah lembaga, atau apa pun,” kata Zulqaiyyim. “Bahkan, dapat pula membangkitkan rasa percaya diri,” kata Andi Asoka, menyambar percakapan. “Atau bahkan perang, bila damai semakin jauh,” kataku. Kudengar tawa renyah keduanya. Namun, aku terhening ketika Andi Asoka berbicara tentang kasus Semen Padang justru dari perspektif ikonologi, sejarah, dan kebudayaan. Bukan dari pandangan ekonomi dan politik yang menjemukan dan sok tahu itu.

Zulqaiyyim berkisah bahwa logo PT Semen Padang (PTSP) pertama kali diciptakan pada 1910, semasih bernama Nederlandsch Indische Portland Cement (Pabrik Semen Hindia Belanda). Logonya berbentuk bulat, terdiri atas dua lingkaran (besar dan kecil) dengan posisi lingkaran kecil berada di dalam lingkaran besar. Di antara kedua lingkaran tersebut terdapat tulisan “Sumatra Portland Cement Works”. Di dalam lingkaran kecil terdapat huruf N.I.P.C.M, singkatan Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij, sebuah pabrik semen di Indarung, 15 km di timur kota Padang.

Logo itu hanya berumur 3 tahun karena pada 1913 dibuat sebuah logo baru, meski bentuk bulat dengan dua garis lingkaran dan kata-katanya tetap dipertahankan. Hanya saja, NIPCM ditambah dengan NV. Nah, ini yang menarik: ada gambar seekor kerbau jantan dalam lingkaran kecil tampak sedang berdiri menghadap ke arah kiri dengan latar panorama alam Minangkabau. Gambar ini menggantikan posisi huruf NIPCM sebelumnya.

Eh, logo itu diubah lagi pada 1928. Kata Nederlandsch Indische diubah menjadi Padang. Jadi, tulisan di antara kedua lingkaran tersebut adalah N.V. Padang Portland Cement Maatschapij. Di bagian bawahnya tertulis Fabrik di Indarung Dekat Padang, Sumatera Tengah, yang ditulis dengan huruf yang lebih kecil. Wah, telah muncul bahasa Melayu, setelah Sumpah Pemuda pada 1928. Dalam lingkaran kecil, selain gambar kerbau, terdapat gambar seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan sebelah kanan kerbau sambil memegang tali kerbaunya. Ada pula gambar sebuah rumah adat, kelihatan hanya dua gonjongnya, di belakang sebelah kanan kerbau. Panorama di latar belakang ditambah dengan lukisan Gunung Merapi, lambang sumarak ranah Minang. Gambar kerbau tetap ditampilkan mendominasi di lingkaran kecil tersebut.

“Sejarah beredar, logo pun beredar, Bung Zulqaiyyim?” kataku. “Ya, Jepang kemudian datang membawa perubahan,” kata Zulqaiyyim. “Bahkan, Fort de Kock dan Buitenzorg digantinya dengan Bukittinggi dan Bogor. NV PPCM diganti dengan Semen Indarung. Logo PTSP tidak diubah, kecuali perubahan tulisan
dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia,” kata Andi Asoka. Demikianlah sampai Perang Kemerdekaan (1945-1949). Ada sedikit perubahan, yaitu digantinya tulisan Semen Indarung dengan Kilang Semen Indarung. Namun, saat Belanda kembali pada 1950, nama NVPPCM muncul kembali.

Logo PTSP dimodifikasi lagi, pada 1958, seiring dengan kebijakan pemerintah pusat tentang nasionalisasi perusahaan asing. Logonya yang bulat dipertahankan, tapi tulisan NV PPCM diganti dengan Semen Padang
Pabrik Indaroeng. Gambar kerbau tetap ada. Tapi tiada lagi gambar seorang laki-laki, rumah adat, dan gambar panorama Gunung Merapi. Penggantinya adalah gambar atap rumah gadang dengan lima gonjong di atas gambar kerbau.

Logo PTSP diperbarui lagi pada 1970. Dua lingkaran dihilangkan, sehingga tulisan Padang Portland Cement Indonesia dibuat melingkar sekaligus menjadi pembatasnya. Gambar kerbau hanya menampilkan kepalanya saja dengan posisi menghadap ke depan. Di atas kepala kerbau dibuat pula gambar atap/gonjong (5 buah) rumah adat. Muncul pula moto PTSP yang berbunyi “Kami Telah Berbuat Sebelum yang Lain Memikirkan”. Namun, pada 1972 logo tersebut dimodifikasi dengan memunculkan dua garis lingkaran: besar dan kecil. Perubahan terjadi lagi pada 1991, saat tulisan Padang Portland Cement menjadi Padang Cement Indonesia.

Perjalanan Logo Semen PadangPerjalanan Logo Semen Padang

“Wah, logo PTSP sudah berubah delapan kali, dong,” kataku. “Tapi, bila disimak, benang merahnya tak pernah hilang,” kata Andi Asoka. Memang, persamaannya yang pertama terlihat dalam bentuk logo yang bulat/lingkaran. Yang lainnya, tetap menampilkan gambar kerbau. Empat logonya yang pertama (1913, 1928, 1950, dan 1958) memuat gambar seekor kerbau sedang berdiri menghadap ke arah kiri, sedang 3 logo terakhir (1970, 1972, 1991) tetap menampilkan simbol kepala kerbau.

Yang tetap adalah gambar rumah adat. Pada dua logo (1928 dan 1950) hanya ada anjungan rumah adat sebelah kiri dengan dua gonjongnya. Empat logo terakhir menampilkan lima gonjong rumah adat yang terletak di atas gambar kerbau. Memang ada sedikit perbedaan antara logo tahun 1958 dan logo tahun
1970, 1972, dan 1991. Pada logo tahun 1958 gonjong tersebut menghadap ke kiri, sesuai arah kerbau, sedangkan sesudahnya menghadap ke depan.

“Okelah. Namun, mengapa logo PTSP selalu menggunakan bentuk “bulat” dengan simbol “kerbau” dan “rumah adat?” tanyaku. “Sebab, kolonial Belanda paham antropologi, Bung. Saya duga mereka ingin memperlihatkan “saham” masyarakat Lubuk Kilangan khususnya dan Minangkabau umumnya, hatta kebanggaan penduduk lokal pun muncul,” kata Zulqaiyyim.

Memang, bentuk bulat (bulek) adalah lambang dari hasil suatu musyawarah. Kok bulek lah buliah digolongkan, kok picak lah buliah dilayangkan (kalau bulat sudah dapat digelindingkan, jika pipih sudah dapat dilayangkan). “Kalau begitu, bisa ditafsirkan bahwa pendirian Semen Padang merupakan kesepakatan antarninik mamak di Nagari Lubuk Kilangan dengan pemerintah Hindia Belanda,” kataku. “Ha-ha-ha, bila saja Anda masih lajang, Anda bisa menjadi urang sumando,” kata Andi Asoka terbahak-bahak.

Kolonial Belanda tak buruk belaka. Mereka juga menghargai nilai sejarah dan budaya Indonesia. “Politik utang budi” pun telah dulu dicanangkan sebelum Semen Padang berdiri pada 1910. Buktinya, hanya berselang tiga tahun Semen Padang berdiri, muncullah logo yang menampilkan gambar kerbau. “Kerbau jangan hanya dilihat karena memiliki kekuatan, tetapi juga sangat erat kaitannya dengan mitos Minangkabau,” kata Andi Asoka.

Tak ayal, Zulqaiyyim bersorak dan berkata bahwa Minangkabau, menurut tambo, berasal dari menang dan kerbau.

Alkisah, ketika pasukan dari luar Sumatera menyerbu Ranah Minang, para pemuka adat berunding untuk menghadapi musuh yang banyak dan tangguh. Musuh tidak dihadapi secara fisik, tetapi diajak bertarung berupa “adu kerbau”. Para penghulu memilih anak kerbau yang sedang menyusu, sedangkan pasukan lawan menampilkan seekor kerbau besar. Ketika “perang” dimulai, anak kerbau yang telah diberi “tanduk” langsung mengejar kerbau besar itu dan menyerunduk untuk menyusu. Sang kerbau besar tidak menghiraukannya, sehingga perut kerbau besar itu pun tabusai (berserakan) ditanduk si anak kerbau. Telah menang sang kabau, berubah menjadi Minangkabau.

Kemudian, Andi Asoka memetik Prof. Nasroen dalam bukunya Dasar Falsafah Adat Minangkabau. Menurutnya, masyarakat Minangkabau sengaja memilih totem kerbau karena mengandung filosofi, yaitu konflik dalam keseimbangan. “Jika dibandingkan dengan binatang lainnya yang menundukkan kepalanya untuk menunjukkan ketundukannya kepada siapa yang di depannya, kerbau menundukkan kepala justru hendak melakukan penyerangan kepada siapa yang ada di hadapannya,” kata Andi Asoka.

Filosofi itu menunjukkan adanya pertentangan dalam keseimbangan, yakni antara individu dan masyarakat. Dalam masyarakat Minangkabau tidak dikenal istilah individualisme, dan sebaliknya juga tidak mengenal istilah totaliterisme. Keberadaan individu dan masyarakat diakui dengan konsep seorang untuk bersama dan bersama untuk seorang.

Rumah adat Minangkabau alias rumah gadang melambangkan kebesaran pemiliknya. Bisa pula berupa balairung, tempat bersidang para ninik mamak untuk membicarakan kemaslahatan anak nagari, sebuah nilai-nilai demokrasi Minangkabau. Semua anggota keluarga mempunyai hak yang sama untuk menyampaikan pendapatnya. Hasilnya sedapat-dapatnya dimufakati secara bulat, sehingga tidak ada yang merasa dikalahkan atau sebaliknya.

Ya, ya. Aku semakin mafhum mengapa masyarakat Sumatera Barat memperjuangkan spin-off alias pemisahan diri dari Semen Gresik, dan sekaligus menolak rencana put option, penjualan saham pemerintah sebesar 51% kepada Cemex Meksiko. Sebab, jika sampai Cemex menguasai saham Grup PT Semen Gresik Tbk. sampai senilai 25% + 51%, dikhawatirkan Cemex akan mempunyai wewenang menetapkan harga semen sesuka hatinya. Memang, untuk jangka pendek dapat membantu beban keuangan negara yang berat. Tapi, untuk jangka panjang, tidak mustahil rakyat akan terbebani, seperti yang terjadi di Filipina sekarang.

Apabila itu terjadi, mungkin, Andi Asoka akan menangis sembari menyanyikan kembali lagu Elli Kasim, yang salah satu baitnya mempunyai sampiran yang berkaitan dengan keberadaan Semen Padang: “Sajak pabirik di Indaruang, lori bajalan di ateh kawek. Sajak maningga mande kanduang, nasi diminta sumpah nan dapek”. (Semenjak pabrik didirikan di Indarung, lori berjalan di atas kawat.

Semenjak meninggal ibu kandung, nasi diminta sumpah yang dapat) Bait lagu itu pula, dalam mimpi buruk Zulqaiyyim, akan mengiringi pergantian logo Semen Padang menjadi seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang koboi yang memakai topi sombrero dari Meksiko. Tidak ada lagi rumah gadang……dan sang kerbau pun akan menundukkan kepalanya. -Bersihar Lubis, Wartawan

Sumber : Disini
Iklan

Karena Kalimatmu Adalah Siapa Dirimu…

Seringkali kita menganggap enteng dari apa yang kita bicarakan atau apa yang kita janjikan pada seseorang. Bukanlah hal yang aneh jika kita seringkali, mungkin tanpa sadar atau mungkin dengan magsud bercanda, basa-basi atau hanya sekedar nyeletuk, kita mengeluarkan kalimat atau kata-kata yang mungkin saja bisa berdampak besar bagi si pendengar atau pembaca.

Dampak besar tidaklah buruk jika dampak itu mendatangkan energi atau semangat positif bagi si pendengar. Namun bagaimana jika apa yang kita bicarakan itu berdampak negatif ??

Dengan membuat dampak negatif bagi perasaan orang lain, secara tidak sadar atau mungkin saja kita sadar, kita sudah melemparkan orang tersebut pada jalan yang tidak seharusnya. Tidak jarang, bahwa akibat dari apa yang kita bicarakan akan menghasilkan yang sama sekali tidak pernah kita duga. Hilangnya nyawa karena mencoba bunuh diri, hilangnya percaya diri dan merusak masa depan, merasa tidak berguna dan sia-sia, membangun rasa dendam yang mendalam dan membuat kecewa yang tidak pernah hilang.

Untuk itu, berhati-hatilah dalam berkata, setiap kata yang kita keluarkan mungkin saja akan sangat berarti bagi orang lain. Berkata baik dan bertutur santun adalah hal yang paling mudah dan paling baik yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki terutama diri sendiri selain untuk orang lain.

Apa yang kita katakan pada orang lain, itu sangat mencerminkan siapa diri kita dan menetukan kelanjutan dari sebuah pembicaraan yang akan kita lakukan. Sebuah kata yang kita katakan bisa jadi akan menjadi sebuah rujukan bagi orang lain yang akan mempengaruhi sikapnya di hari selanjutnya.

Seringkali kita mengatakan pada orang lain, kata-kata yang menurut kita biasa saja dalam konteks bercanda, seperti.. gendut!, kuping loe kemana!, liat donk!, molor mulu!, lelet amat!, dan berbagai kata singkat yang akan berpengaruh besar bagi sipendengarnya.

Tidak jarang juga kita berjanji akan sesuatu ke orang lain yang tanpa kita sadar atau bahkan kita lupa bahwa orang yang kita janjikan justru sangat mengharapkan janji itu, lain halnya jika kita memang belum bisa memenuhinya dan tidak melupakannya, namun akan berdampak berbeda jika kita melupakannya/mengingkarinya.

Seperti sebuah kalimat yang kakak saya bilang dan juga sempat saya jadikan status FB saya.

”Kalau hewan, itu talinya yang dipegang, tapi kalo manusia, itu omongannya yang dipegang. Kalo omongannya udah ga bisa dipeganng, ya terpaksa kasih tali aja lehernya, dan kita pegang talinya, karena sepertinya dia lebih pantas menjadi hewan…”

Semoga kita bukan dari golongan hewan yang berwujud manusia…

Setiap kata adalah doa…

Mulutmu harimau mu…

Beware with your words…

Sumber : Disini

Pemilikan Tanah Secara Warisan

Dalam kolom comment pada blog ini, sering sekali timbul pertanyaan mengenai bagaimana proses pemilikan ataupun peralihan hak yang diperoleh secara warisan. Oleh karena itu, saya merasa perlu untuk menuliskannya secara khusus melalui artikel ini.

Secara umum, pertanyaan mengenai pemilikan tanah secara warisan ini dapat kelompokkan berdasarkan kondisi perolehannya, yaitu:

1. Sertifikat masih terdaftar atas nama Pewaris dan akan dibalik nama ke seluruh ahli waris
2. Sertifikat masih terdaftar atas nama pasangan pewaris (suami/isteri pewaris)
3. Sertifikat sudah terdaftar atas seluruh ahli waris dari pewaris (sudah dibalik nama),namun akan di lepaskan ke salah seorang ahli waris saja.

Sedangkan kelompok berikutnya adalah mengenai cara peralihan atau cara memperoleh tanah berdasarkan warisan tersebut, yang meliputi:

  1. Bagaimana cara peralihan hak atas tanah warisan yang diperoleh dari kakek/nenek mereka atau
  2. Bagaimana jika ahli waris ada beberapa orang dan sertifikat akan dibalik nama ke atas nama salah satu ahli waris saja atau
  3. Bagaimana jika tanah warisan atas nama bapak/ibu akan dijual apakah seluruh ahli waris harus hadir, dan bagaimana jika ada salah seorang ahli waris yang tidak dapat hadir pada saat penandatanganan akta jual belinya di hadapan PPAT
  4. Pajak-pajak apa saja yang harus dibayarkan oleh ahli waris?

Oleh karena itu, mari kita bahas satu satu ya..

1. Sertifikat masih terdaftar atas nama pewaris.

Dalam hal ini, contohnya: seorang bernama Amir misalnya memiliki sebidang tanah.
Amir memiliki isteri (Betty) dengan 4 orang anak (Cici, Didi, Edi, Fifi). Kemudian
Amir meninggal pada th 2007 dan tak lama kemudian Fifi meninggal th 2008. Dimana
Fifi memiliki 1 orang anak yang masih hidup bernama Gugun.
Dengan meninggalnya Amir, tanah tersebut mau di balik nama ke atas nama seluruh ahli waris dari Amir, yaitu: Betty, Cici, Didi, Edi dan Gugun (sebagai pengganti dari Fifi). Setiap terjadinya kematian, maka yang harus dilakukan adalah pembuatan surat kematian dari kelurahan (untuk pribumi) dan dengan akta Notaris (untuk WNI keturunan). Oleh karena pewarisnya ada 2 orang, yaitu Amir dan Fifi, maka keterangan waris tersebut harus dibuat 2 buah, yaitu atas nama Amir dan atas nama Fifi.
Setelah dimiliki surat kematian dan surat keterangan waris tersebut, maka proses yang harus di lakukan adalah:
1. Pembayaran BPHTB waris sebesar
{(NJOP – nilai tidak kena pajak untuk waris) X 5%} x 50%
Catatan: nilai tidak kena pajak untuk waris di tiap daerah berbeda. Untuk Jakarta
misalnya sebesar Rp. 300jt.
2. balik nama ke seluruh ahli waris (Betty, Cici, Didi, Edi dan Gugun).

Jika tanah tersebut akan dijual, setelah dibuatkan proses tersebut di atas, bisa langsung di jual ke pembeli dengan menggunakan cara dan syarat jual beli sebagaimana pernah saya uraikan dalam artikel mengenai jual beli.
Proses di atas juga bisa langsung dilakukan sekaligus dengan jual beli. Misalnya, tanah tersebut masih terdaftar atas nama Amir, kemudian tanah tersebut akan dijual langsung oleh ahli waris Amin tersebut, maka proses yang dilakukan adalah proses jual beli tanah warisan. Jadi bisa dilakukan sekaligus, walaupun pada proses di BPN nantinya, balik nama nya tetap dilakukan 2 kali.

2. Sertifikat Masih Terdaftar Atas Nama Pasangan Pewaris

Dalam kasus ini, sertifikat terdaftar atas nama Amir, namun isterinya yaitu Betty meninggal dunia. Sedangkan anak mereka ada 2 orang, yaitu Cici dan Didi.
Karena tanah tersebut terdaftar atas nama orang yang masih hidup, maka atas sertifikat tanah tersebut tidak perlu dilakukan balik nama ke seluruh ahli waris, seperti yang telah diuraikan pada point I artikel sebelumnya. Namun, tetap harus dibuatkan Surat Keterangan Waris (untuk pribumi) oleh lurah/Camat dan Surat Keterangan waris secara Notariil (untuk WNI keturunan).

Bagaimana jika tanah tersebut akan dijual atau dijaminkan?

Karena sebagian dari tanah tersebut adalah harta bersama, maka jika ingin dilakukan penjualan atau misalnya tanah tersebut akan dijadikan sebagai agunan di bank, maka seluruh ahli waris yang lain (dalam kasus di atas: Cici dan Didi) harus hadir untuk memberikan persetujuan. Dalam hal salah seorang ahli waris (Didi misalnya) tidak bisa hadir di hadapan Notaris pembuat akta tersebut (karena berada di luar kota), maka Didi dapat membuat Surat Persetujuan di bawah tangan yang dilegalisir notaris setempat atau dibuat Surat persetujuan dalam bentuk akta notaris.

3. Sertifikat sudah atas nama seluruh ahli waris, namun akan dialihkan ke salah seorang ahli waris.

Sebagai contoh: sertifikat atas nama Amir. Karena Amir meninggal dunia, maka sertifikat harus di balik nama ke atas nama isterinya (Betty), dan kedua orang anaknya (Cici dan Didi) – lihat artikel sebelumnya.
Namun, dalam hal ini Cici ingin membeli bagian Betty dan Didi. sehingga nantinya sertifikat bisa atas nama Cici sepenuhnya.
Dalam hal tersebut, maka tahapan yang harus dilakukan adalah:
1. Tetap dibuatkan keterangan waris
2. Pembayaran BPHTB waris sebesar
{(NJOP – nilai tidak kena pajak untuk waris) X 5%} x 50%
Catatan: nilai tidak kena pajak untuk waris di tiap daerah berbeda. Untuk Jakarta misalnya sebesar Rp. 300jt.
3. balik nama ke seluruh ahli waris (Betty, Cici dan Didi).
4. dibuatkan akta Pembagian Hak Bersama secara PPAT (agar sertifikat tersebut dapat di
balik nama ke atas nama Cici)
5. Untuk proses tersebut, Cici harus membayar
– Pph sebesar = 2/3 x  (NJOP x 5%) dan
-BPHTB sebesar = 2/3 x (NJOP – NTKP) x 5%
6. Pelaksanaan balik nama ke atas nama Cici.

Jika kondisi sertifikat masih atas nama Amir, kemudian Cici akan langsung membeli bagian dari Betty dan Didi, maka proses di atas bisa dilakukan sekaligus (bersamaan). Namun demikian, tidak ada yang bisa dilewati.

Sumber : disini

Siap Menerima tapi Tidak Siap Melihat

Kita siap menerima tapi terkadang tidak siap untuk melihat… (Thomy Hampriyandy, 2011)

Ungkapan ini memberikan semacam arti bahwa disaat kita memperoleh kenikmatan, seperti saat mendapat kenaikan pangkat, memperoleh keturunan, habis ditraktir makan oleh kawan atau relasi, setelah memperoleh sesuatu dan lain sebagainya, namun kita sering lupa diri sehingga mengekpresikannya secara berlebihan.

 
Namun dibalik semua itu banyak juga dari kita yang pada saat sedang diliputi kegembiraan tersebut tiba-tiba melihat ada orang lain yang mendapat nikmat lebih dari yang telah diperolehnya, hati mereka  menjadi tidak senang, kegembiraan tadi langsung lengap dari mukanya, disana lah terkadang kita siap menerima pemberian dengan gembira ria tanpa menimbang perasaan orang lain namun tidak siap melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang telah diperolehnya sendiri.
Kita sering tidak lagi bisa memikirkan orang lain yang keadaannya belum tentu sama dengan kita yang sedang tertawa gembira, terbahak-bahak, siapa tahu orang yang ada disekitar kita hatinya sedang menyimpan duka, bahkan kadangkala ujian hidup terasa begitu berat sehingga menjadi penderitaan yang menimbulkan kesedihan sangat mendalam, barangkali ada yang anaknya – buah hatinya – baru saja berpulang ke Rahmatullah, atau barangkali seseorang baru saja bercerai dengan pasangan hidupnya, atau barangkali baru dapat vonis dokter kalau dirinya mengidap penyakit berat.
Alangkah lebih baiknya pada saat kita mendapatkan sesuatu kita menerimanya dengan rasa syukur, gembira dan tertawa ala kadarnya tanpa harus tertawa terbahak-bahak, apalagi kalau tertawanya sampai terdengar dari ujung ke ujung lorong lainnya, tersenyum penuh syukur mungkin lebih dihargai oleh orang yang melohat dan mendengarnya.
Kita menikmati kehangatan karena kita pernah kedinginan, kita menghargai cahaya karena kita pernah dalam kegelapan, begitu pula kita dapat bergembira karena kita pernah merasakan kesedihan.