Silek – Seni Beladiri Minangkabau

Silek adalah nama Minangkabau buat seni beladiri yang ditempat lain dikenal dengan Silat. Sistem matrilineal yang dianut membuat anak laki-laki setelah akil balik harus tinggal di surau dan silat adalah salah satu dasar pendidikan penting yang harus dipelajari oleh anak laki-laki disamping pendidikan agama islam. Silek merupakan unsur penting dalam tradisi dan adat masyarakat Minangkabau yang merupakan ekspersi etnis Minang.

pendekar silek sitaralak
(Gambar 1.1 Pendekar silek aliran Sitaralak dalam posisi kudo-kudo)

Silek sudah merasuk dalam setiap kehidupan sehari-hari dan muncul sebagai unsur penting dalam cerita rakyat, legenda, pepatah dan tradisi lisan di Minangkabau. Ada banyak jenis aliran beladiri silek di Sumatera Barat dan dapat dikatagorikan dalam sebelas aliran silek yang berhasil didata antara lain:

  • Silek Kumanggo
  • Silek Lintau
  • Silek Tuo
  • Silek Sitaralak
  • Silek Harimau
  • Silek Pauh
  • Silek Sungai Patai
  • Silek Luncua
  • Silek Gulo Gulo Tareh
  • Silek Baru
  • Silek Ulu Ambek

Menurut Hiltrud Cordes hanya sepuluh pertama saja yang dapat digolongkan sebagai aliran beladiri silek tetapi silek Ulu Ambek banyak terdapat pada pesisir Pariaman.

Jenis beladiri silek diatas ditemukan dibanyak tempat di Sumatera Barat meskipun banyak jenis lain yang lebih lokal bahkan ada yang hanya terdapat dalam suatu kampung saja dan untuk yang terakhir ini lebih tepat rasanya untuk disebut perguruan silek daripada aliran yang sebagian besar menamakan aliran sileknya dengan nama kampung asal aliran silek itu berasal dan tidak mengasosiasikan diri mereka dengan salah satu aliran diatas, malah beberapa menamakan diri dengan nama yang unik seperti Harimau Lalok, Gajah Badorong, Kuciang Bagaluik atau Puti Mandi.

Metoda Latihan Silek

Silek biasanya dilakukan ditempat yang disebut sasaran, sebuah tempat terbuka atau kosong dan luas yang dekat dengan rumah guru silek. Latihan beladiri silek dilaksanakan pada saat menjelang malam setelah sholat magrib dan berlangsung selama 2-3 jam meskipun kadang sampai tengah malam. Latihan beladiri silek juga dilakukan dengan pencahayaan seadanya seperti cahaya bulan, obor atau lampu minyak tanah. Hal ini dilakukan untuk melatih ketajaman penglihatan dan juga sebagai latihan intuisi. Kadang-kadang latihan silek ini juga dihadiri oleh penghulu desa dan diiringi oleh nyanyian, talempong ataupun saluang. Pakaian silek adalah galembong (celana hitam), taluak balango dan destar.

murid silek sedang latihan
(Gambar 1.2 Murid dari perguruan silek sedang berlatih dimalam hari)

Latihan beladiri silek tidak dilakukan pemanasan seperti aliran beladiri di asia pada umumnya. Dua orang dengan ukuran fisik dan kemampuan tehnik yang sama bermain silek dalam sasaran dengan pengawasan yang ketat dari sang guru dan disaksikan oleh murid-murid yang lain. Permainan silek (demikian sebutan untuk sesi latihan) berlangsung setelah peserta memberi hormat pada guru dan kemudian pada lawan mainnya, setelah permainan usai penghormatan berlangsung sebaliknya. Suasana latihan biasanya santai dan jauh dari kesan formal dimana latihan fisik yang keras bukan prioritas tertinggi.

Waktu rata-rata yang diperlukan untuk menamatkan pendidikan dasar silek adalah 6-8 bulan dan untuk memiliki dasar silek yang baik seorang murid harus belajar secara teratur selama 2-3 tahun. Sedangkan untuk dapat menjadi master atau pendekar dalam beladiri silek diperlukan latihan selama 15 tahun.

Dalam latihan beladiri silek, murid berbaris ataupun membentuk lingkaran dan meniru gerakan dari guru ataupun murid senior. Guru biasanya memberi aba-aba dengan suara atau tepukan tangan untuk menandakan perubahan gerakan yang disebut tapuak. Setelah cukup mahir dengan tehnik dasar, murid disarankan untuk berlatih dengan murid lain yang berbeda ukuran fisik hingga mampu beradaptasi dengan berbagai postur, gerakan dan tingkatan tehnik.

Strategi dasar dari silek ini adalah garak-garik yang dapat diartikan sebagai aksi dan reaksi yang seimbang. Garak-garik dapat dianalogikan seperti permainan catur dimana masing-masing memiliki beberapa pilihan jurus dan harus memilih jurus yang paling efektif untuk dilaksanakan. Masing-masing harus mengantisipasi semua kemungkinan gerakan dari lawan dan mampu memanipulasi lawan untuk mengambil langkah sehingga lawan memiliki lebih sedikit pilihan jurus dan pada akhirnya tidak memiliki jurus lagi untuk dilancarkan. Tetapi tidak seperti catur, dalam beladiri silek waktu adalah hal yang penting, setiap langkah dan jurus harus dilancarkan secara cepat, tepat dan penuh kejutan sehingga lawan gagal mengantisipasinya. Semakin ahli para pemain semakin lama permainan ini berakhir.

Apabila seorang murid telah cukup mahir dalam tehnik maupun fisik serta mampu mendapat kepercayaan dari sang guru maka ia akan mendapat latihan pribadi khusus dari sang guru. Dalam proses mengajarkan pengetahuan khusus ini, murid disumpah untuk menggunakan ilmu beladiri ini untuk kebaikan.

Latihan tingkat lanjut lain berupa mengirim murid kedalam hutan untuk meditasi, menaklukkan rasa takut dan bertahan hidup selama beberapa hari dihutan. Latihan yang kurang berbahaya adalah dengan mengirim murid untuk latih tanding dengan perguruan silat lain.

Aspek Seni dari Silek

Beberapa karakter dari silek membuatnya dapat dilaksanakan seperti tarian karena itu silek sering diiringi oleh musik dan lagu dimana para pemain musik mencocokkan irama musik dengan gerakan para pendekar silek.

latihan silek galombang
(Gambar 1.3 Suasana latihan silek di Minangkabau dalam formasi yang disebut galombang diperagakan oleh murid silek tingkat dasar)

Sebuah karakter unik dari silek adalah barisan melingkar (galombang) yang dipakai saat latihan pada beberapa aliran silek. Setiap peserta latihan melaksanakan gerakan secara simultan sehingga memberikan kesan seperti tarian. Maka tidaklah mengherankan bila seni beladiri silek merupakan asal dari banyak seni tari dan seni teater di Minangkabau seperti randai, tari ratak, tari persembahan dan tari tanduk (tari tanduak).

tarian ratak
(Gambar 1.4 Tarian ratak yang banyak mengambil gerakan silek diperagakan oleh kaum wanita juga)

Cerita menarik tentang pendekar-pendekar silek minang dapat dibaca pada tulisan : Si Pitung dari Padang

Reference:
 Kirstin Pauka, Journal of Asian Martial Arts, Volume 6 Number 1 - 1997
Corder, H. (1990). Pencak silat: Die kampfkunst der Minangkabau und ihr kulturelles umfeld. Ph.D. dissertation, University of Köln.
Draeger, D. (1969). Comprehensive Asian fighting arts. Rutland, VT: Charles E. Tuttle.
Kirstin Pauka. (1972). Weapons and fighting arts of the Indonesian archipelago. Rutland, VT: Charles E. Tuttle.
Kirstin Pauka. (1995). Martial arts, magic, and male bonding: The pauleh tinggi ceremony of West Sumatra. Journal of Asian Martial Arts, 4(3): 26-45.
Kirstin Pauka . (1996). Conflict and combat in performance: An analysis of the Randai folk theatre of the Minangkabau in West Sumatra. Ph.D. dissertation with CD-ROM, University of Hawaii.
Sumber
Iklan

Tragedi Tenggelamnya Tampomas II

“Pergi! Jangan tonton kematian kami!”, teriak seorang penumpang Kapal. Makian-makian itu makin menjadi-jadi manakala kapal-kapal lain yang mencoba membantu malah menjauh dari kapal tersebut. 40 menit kemudian lenyaplah semua suara-suara dan makian-makian memilukan itu. Kapal tersebut akhirnya karam dan menghunjam dasar Laut Jawa pada siang hari naas tersebut, bersama semua skandal-skandal persoalan dan penyebabnya.

Bagi mereka yang hidup pada paruh pertama dekade 80-an, pastilah mengenal musibah ini, sebuah musibah yang menggemparkan Indonesia, dan tergolong sebagai Musibah Terparah Keempat Dunia. Tragedi Tenggelamnya KMP Tampomas II di Perairan Kepulauan Masalembo (114˚25’60” BT – 53˚0’0” LS), Laut Jawa pada tanggal 27 Januari 1981. Sebuah kapal “bekas” terbesar Indonesia yang dibeli dari Jepang.

SELAYANG PANDANG

KMP Tampomas II yang semula bernama MV Great Emerald diproduksi tahun 1956, tergolong jenis Kapal RoRo (Roll On-Roll Off) dengan tipe Screw Steamer berukuran 6139 GRT (Gross Registered Tonnage) dan berbobot mati 2.419.690 DWT (Dead-Weight Tonnage). Dimodifikasi ulang (Retrofit) tahun 1971 di Taiwan. Kapal ini berkapasitas 1250-1500 orang penumpang, dengan kecepatan maksimum 19.5 knot. Memiliki lebar 22 meter dan Panjang 125,6 meter.

Kapal ini dibeli oleh PT. PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional) dari Pihak Jepang, Comodo Marine Co. SA seharga US$ 8.3 Juta. Kemudian PT. PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia) membeli secara mengangsur selama sepuluh tahun kepada PT. PANN. Berbagai pihak telah heran akan mahalnya harga kapal ini, mengingat pernah ditawarkan ke Perushaan Pelayaran Swasta lain hanya seharga US$ 3.6 Juta. Berbagai pihak, termasuk Jepang sendiri telah menyatakan kapal ini Afkir karena telah berumur 25 tahun.

Begitu dioperasikan, kapal penumpang ini langsung dipacu untuk melayani jalur Jakarta-Padang dan Jakarta-Ujungpandang yang memang padat. Setiap selesai pelayaran, kapal ini hanya diberi waktu istirahat selama 4 jam dan harus siap untuk melayani pelayaran selanjutnya. Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin dan perlengkapan kapal pun hanya dapat dilaksanakan sekedarnya saja, padahal mengingat usianya yang sudah cukup berumur, seyogyanya kapal ini perlu mendapat perawatan yang jauh lebih cermat.

Namun dibalik semua kejanggalan itu, kapal ini memulai Pelayaran Perdananya menuju Ujungpandang pada bulan Mei 1980. Pada pelayaran ini pun, yang diikuti oleh beberapa anggota DPR, sempat menyaksikan sendiri dan turut pula mempertanyakan perihal mesin yang sering mengalami kerusakan selama perjalanan. Anggota DPR dari Fraksi PDI-P, Ahmad Soebagyo menyebutkan berbagai kejanggalan selama perjalanan diantaranya kapal yang berputar-putar dalam radius yang sama dikarenakan rusaknya salah satu Knop Otomatis pengatur mesin kapal, dan dibatalkannya Acara Show Kapal karena matinya aliran listrik dalam waktu yang lama.

LAUT JAWA, 24 – 27 JANUARI 1981

KMP Tampomas II bertolak dari Dermaga Tanjungpriok hari Sabtu, 24 Januari 1981 Pukul 19.00 WIB dengan tujuan Ujungpandang, perjalanan seyogyanya memakan waktu 2 hari 2 malam di atas laut, sehingga diperkirakan hari Senin, 26 Januari 1981 Pukul 10.00 WIB akan tiba. Seorang pemandu kapal menyebutkan bahwa salah satu mesin kapal telah mengalami kerusakan sebelum bertolak.

Kapal membawa Puluhan Kendaraan Bermotor termasuk Mesin Giling SAKAI, Skuter Vespa, dll yang diletakkan di Cardeck. Berdasarkan Data Manifest Kapal menyebutkan, terdapat 191 Mobil dan 200 Motor di atas kapal. Dalam Pelayaran tersebut, sebanyak 1055 Penumpang Terdaftar dan 82 Awak Kapal berada di atas kapal. Estimasi Total Penumpang adalah 1442 termasuk penumpang gelap.

24 Januari Malam, tidak terjadi apa-apa. Yang terlihat hanyalah Awan Senja yang memukau dan Pemandangan Laut Jawa yang datar. Namun diakui Ombak Januari memang sangat besar dibandingkan di bulan-bulan lain, Ombak setinggi 7-10 meter dengan kecepatan angin 15 knot sangat wajar terjadi. Di dalam kapal sendiri direncanakan sebuah Acara Show di Bar Kapal dengan Penyanyi Ida Farida dari Band Kapal. Namun berbagai tanda keanehan terjadi, diantaranya dibawakannya Lagu Salam Perpisahan oleh seorang yang bernama Ferry, yang kemudian tidak diketahui keberadaannya.

25 Januari Pagi, keadaan berlangsung seperti biasa. Namun, 25 Januari Malam, sekitar Pukul 20.00 WITA, dalam kondisi badai laut yang hebat, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, dan Puntung Rokok yang berasal dari ventilasi menyebabkan Percikan Api. Para kru melihat dan mencoba memadamkannya menggunakan Tabung Pemadam Portabel, namun gagal. Api semakin menjalar ke Kompartemen Mesin karena Pintu Dek terbuka. Akibatnya selama 2 jam tenaga utama mati, dan generator darurat pun gagal (Failure) dan usaha pemadaman pun dihentikan karena sudah tidak memungkinkan. Ditambah dengan Bahan Bakar yang “ternyata” masih terdapat disetiap Kendaraan, menyebabkan Api merambat dan membakar semua dek dengan cepat.

30 menit setelah Api Muncul, para penumpang diperintahkan menuju dek atas dan langsung menaiki sekoci. Namun hal ini berlangsung lambat, karena hanya ada 1 Pintu menuju Dek Atas. Begitu berada di Dek Atas, para ABK dan Mualim Kapal tidak ada yang memberitahu arah dan lokasi Sekoci. Beberapa ABK malah dengan egois menurunkan sekoci bagi dirinya sendiri. Dari 6 sekoci yang ada, masing-masing hanya berkapasitas 50 orang. Sebagian penumpang nekat terjun bebas ke Laut, dan sebagian lagi menunggu dengan panik pertolongan selanjutnya.

Tanggal 26 Januari Pagi, Laut Jawa dilanda Hujan yang sangat deras. Api mulai menjalar ke ruang mesin dimana terdapat bahan bakar yang tidak terisolasi. Akibatnya Pagi Hari tanggal 27 Januari, terjadi ledakan di Ruang Mesin dan membuatnya penuh oleh air laut. Ruang Propeller dan Ruang Generator turut pula terisi air laut, yang mengakibatkan Kapal miring 45 derajat.

Akhirnya pada siang hari tanggal 27 Januari 1981 Pukul 12.45 WIB atau Pukul 13.45 WITA (sekitar 30 jam setelah percikan api pertama), KMP Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.

EVAKUASI DAN AFTERMATH

Tanggal 25 Januari Pukul 23.00 WITA Syahbandar Ujungpandang (Pelabuhan Pangkalan Hatta), menerima berita dari KMP Wayabula, bahwa KMP Tampomas II terbakar di sekitar Perairan Kepulauan Masalembo, 220 Mil dari Ujungpandang. KMP Wayabula sendiri mendapat kabar dari KMP Sangihe yang sedang memberikan pertolongan kepada para korban KMP Tampomas II.

Nakhoda KMP Sangihe, Kapten Agus KS mengaku melihat Kepulan Asap sejak Pukul 06.00 WITA. Dengan spontan mereka mengarahkan kapal ke arah tersebut. 90 menit kemudian, sekitar 100 mil dari sumber asap, barulah dapat dipastikan bahwa KMP Tampomas II terbakar. Berita S.O.S segera dikirimkan ke Surabaya dan mendapat balasan agar mengawasi keadaan kapal dan mengkoordinir Tim SAR dari kapal lainnya. Namun akibat cuaca yang kurang bersahabat, sehari semalam KMP Sangihe hanya dapat menyelamatkan 149 orang.

Tanggal 26 Januari Pagi, KMP Sangata yang bermuatan Kayu sedang menuju Pagetan, Kalimantan Selatan untuk kemudian menuju Korea. Namun, mereka berhasil menangkap berita S.O.S dari Radio Surabaya atas dasar siaran dari KMP Sangihe, sehingga mereka mengubah haluan kapal berdasarkan koordinat yang diberikan, dengan kecepatan penuh. Pukul 10.30 WIB, kapal tiba di lokasi dan segera menurunkan jala-jala muat di kiri-kanan lambung kapal sepanjang 200 meter dan mencoba menghubungi KMP Tampomas II di bagian haluan.

Tanggal 26 Januari Malam, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Sekditjen PERLA) J.E. Habibie mengumumkan dalam Siaran TVRI bahwa KMP Tampomas II mengalami Kebakaran Kecil namun telah berhasil diatasi oleh ABK Kapal. Namun demikian, Kapal tetap harus menurunkan Jangkar untuk memperbaiki Mesin Kapal. Sebuah Pengumuman yang sangat menyesatkan dan merugikan, yang ditebus dengan kehilangan ratusan nyawa. J.E. Habibie beralasan bahwa ia mengumumkan demikian bertujuan untuk menenangkan Keluarga Penumpang Kapal. Namun konsekuensi yang dibayar sangat mahal, karena seluruh tenaga penolong dibatalkan karena “ucapannya”.

Tanggal 28 Januari, KMP Niaga XXIX merapat di Dermaga Pangkalan Hatta Ujungpandang, membawa 56 Orang Korban, 5 diantaranya berupa Jenazah. Kemudian menyusul KMP Sangata, membawa 169 Orang Korban, 1 diantaranya berupa Jenazah Anak Kecil.

Tanggal 29 Januari, KMP Ilmamui membawa 34 Orang Korban, semuanya dalam keadaan hidup. Menyusul KMP Adhiguna Kurnia, membawa 21 orang korban yang semuanya dalam keadaan hidup, namun cacat karena KMP Adhiguna Kurnia merapatkan badan kapal dengan KMP Tampomas II yang terbakar, sehingga banyak yang terjepit.

Sampai tanggal 29 Januari Tim SAR gagal melakukan pencarian karena besarnya badai laut, dan 5 hari kemudian 80 orang yang selamat dalam sekoci ditemukan 150 km dari lokasi kejadian karamnya Tampomas. Estimasi tim menyebutkan 431 tewas (143 ditemukan mayatnya dan 288 karam bersama kapal) dan 743 berhasil diselamatkan.

Tanggal 30 Januari, KMP Thamrin membawa 30 Jenazah, hanya seorang yang hidup termasuk Gadis Cilik berusia 3 Tahun. Menyusul kemudian KMP Wayabula membawa 36 korban dan 3 Jenazah.

Hari Terakhir tanggal 31 Januari, KMP Brantas yang datang dari Surabaya dengan Tenaga Pengobatan, menjaring 35 Jenazah, dan 1 Korban Kritis. Yang terakhir, Kapal Ivy berbendera Inggris, menyelamatkan 1 orang korban.

Tak ada pejabat yang bertanggung jawab, semuanya berujung dengan kesalahan awak kapal. Hasil penyidikan Kejaksaan Agung yang menugaskan Bob Rusli Efendi Nasution sebagai Kepala Tim Perkara pun tidak ada tuntutan kepada pejabat yang saat itu memerintah, salah satunya J.E. Habibie selaku Sekditjen PERLA. Skandal ini kemudian ditutup-tutupi oleh pemerintahan Suharto-Habibie, kendati banyak tuntutan pengusutan dari sebagian anggota parlemen. Dalam suatu acara dengar pendapat yang diadakan oleh DPR-RI tentang kasus ini, Menteri Perhubungan menolak permintaan para wakil rakyat untuk menunjukkan laporan Bank Dunia yang merinci pembelian kapal bekas seharga US$ 8.3 Juta itu. Makelar kapal Tampomas II — Gregorius Hendra yang mengatur kontrak pembelian antara Jepang dan pemerintah Indonesia itu juga lepas dari tuntutan Kejaksaan Agung.

Kelahiran Silek Minang

Kelahiran Silek Minang terjadi pada saat yang bersamaan dengan kelahiran Minangkabau itu sendiri. Silek didirikan oleh Datuak Marajo Panjang dari Padang Panjang dan Datuak Bandaharo Kayo dari Pariangan. Dari pemikiran Datuak Marajo Panjang dan Datuak Bandaharo itulah lahir tiga hukum asli yaitu:

1. Hukum Simumbang Jatuah

2. Hukum Sigamak – Gamak

3. Hukum Silamo – Lamo

Ketiga undang-undang tersebut menjadi standar hukum bagi kedua Datuak (Datuak Perpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan), yang disebut disebut “Bajanjang Naiak Batanggo Turun“.

Pada waktu itu Datuak Suri Dirajo menciptakan ilmu pertahanan diri yang dikenal sebagai “Silek”. Sebelumnya, Datuak Suri Dirajo mewarisi ilmu bela diri (bukan silek) dari sang ayah Cati Bilang Pandai dan Sultan Maharajo Dirajo, ilmu pertahanan diri yang diwarisi oleh ayahnya disebut “Gayuang”.

silek_minang

Gayuang adalah ilmu bela diri yang digunakan untuk melawan atau untuk mengalahkan saingannya, sementara Gayuang terdiri dari dua macam. Gayuang Fisik dan Gayuang Mental. Apa yang dimaksud dengan “Gayuang Lahir” (Gayuang fisik) adalah menendang dengan tiga kaki untuk membunuh target atau lebih baik, yang dikenal dengan “Duo Sajangka Jari” (dua jari sepengukuran).

Dan target adalah diseluruh leher (jakun), pusar, dan kedua atas kaki atau kemaluan. Target ini telah menjadi sumber utama penciptaan Silek. Ilmu Gayuang Angin (Mental) adalah teknik berkelahi untuk mengalahkan lawan dengan sumber kekuatan mentalitas ke tiga sasaran penting dalam tubuh. Jantung, kelenjar getah bening dan hati. Ada juga memerangi mental lain, hal ini tidak disebut “Gayuang” karena itu digunakan beberapa alat atau media lain. Bentuk ilmu bisa bervariasi. Sijundai, Tinggam, Sewai, Parmayo dan sebagainya.
Ilmu ini masih disimpan oleh orang-orang tua Minangkabau sampai dengan saat ini yang dikenal sebagai tabungan ilmu (Panaruahan).

Di samping “Gayuang ilmu” yang dimiliki oleh Datuak Suri Dirajo, ia juga mewarisi ilmu pertahanan diri dari empat pengikut Sultan Maharajo Dirajo yaitu Kuciang Siam, Harimau Campo, Kambiang Hutan dan Mantap Mualim.

Kuciang Siam

Kuciang Siam adalah Pengikut Sultan Maharajo Dirajo yang disebut Ko-Chin yang berasal dari Siam sekarang disebut Muangthai (Thailand). Ko-Chin dihormati karena ilmu pertahanan diri yang dimilikinya mewakili gerakan kucing dan juga karakteristik kucing.

Harimau Campo

Harimau Campo atau Harimau Campa, adalah pengikut Sultan Maharajo Dirajo yang datang dari Kamboja dan nama itu dihormati karena ilmu pertahanan diri yang dimilikinya benar-benar buatan dari gerakan harimau.

Kambiang Hutan

Kambiang Hutan, yang nama aslinya Kan-Bin, adalah ahli bela diri dari Cambay di Malabar utara, dari gerakan pembelaan dirinya gerakan seupa kambing, ia dihormati dengan nama Kambiang Hutan.

Mantap Mualim

Disebut Mantap Mualim karena ilmu pertahanan diri serta strategi berperang untuk mengalahkan saingan dengan meniru gerakan anjing. Nama aslinya adalah An-Jin, yang berasal dari selatan Hindi atau Persia dan kata Mualim di sini berarti navigator.

Untuk Datuak Suri Dirajo semua ilmu warisan itu adalah satu dengan hasil yang berbeda dari yang asli. Ilmu ini kini dikenal dengan Silek Usali (Silek asli), setelah dikenal sebagai bangsal Silek Tuo (Silek Lama).

Pembangunan Silek

Perkembangan Silek dimulai seiring dengan perkembangan tanah Minangkabau itu sendiri. Perkembangan tanah Minangkabau disebabkan oleh berkembang biaknya penduduk Pariangan pada waktu itu. Sultan Maharajo Dirajo memerintahkan pengikutnya untuk memimpin tim dalam misi pembangunan di daerah itu.

Pada saat itu kelompok-kelompok dipimpin oleh:

* Harimau Campo ditugaskan untuk membawa kelompok untuk Luhak Agam
* Kambiang Hutan ditugaskan untuk tinggal Luhak Limapuluh
* Kuciang Siam diarahkan ke wilayah Lasi
* Mantap Mualim membawa kelompok ke wilayah rantau.

Seiring pembangunan daerah terjadi pula perkembangan pendidikan “silek” Minangkabau. Namanya tidak lagi Silek Tuo Silek Usali, tetapi saat ini bervariasi berdasarkan nama wilayah (daerah) dan guru.

Sama seperti Silek Harimau Campo, Kambiang Hutan, Mantap Mualim, Kuciang Siam, ada juga silek yang dikembangkan sesuai dengan pembangunan daerah seperti Silek Pakiah Rabun, Silek Lintau, Silek Inyiak Uban, Silek Starlak, Batu Mandi, Kumango, Silek Pauah, dan sebagainya.

Disamping Silek, Minangkabau selalu mengikuti perkembangan daerah (wilayah) dan ilmu pengetahuan.

Pada prinsipnya, sumber Silek Minangkabau berasal dari sumber tunggal yang dibuat oleh Datuak Suri Dirajo. Dan perkembangan wilayah Minangkabau menjadi lebih besar yang dinyatakan dalam sejarah bahwa Minangkabau timur adalah wilayah Melayu lama (Melayu tua) di utara Sriwijaya.

Hal ini didukung oleh pendeta Buddha, I’Tsing dalam perjalanan pulang ke Cina dari perjalanan ke India tahun 671. Hal yang paling menarik untuk sementara I’Tsing adalah perjalanannya ke ibukota daerah “Mo – Lo – Yoe” (Melayu) yang berada di lembah Waktu Kampar dan sungai-sungai Kampar Kanan pada siang hari di mana ia telah berhenti di kepalanya sendiri bayangan, yang berarti itu terletak di bawah garis khatulistiwa.

Selain perkembangan Silek Minangkabau yang telah dikembangkan serta perkembangan daerah baru, seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penugasan tim untuk mengembangkan wilayah oleh Datuak Suri Dirajo dan Datuak Nan Baduo (Datuak Perpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan) ilmu Silek Minangkabau telah bervariasi.

Ilmu Silek Harimau Campo

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa Harimau Campo adalah komandan yang memimpin tim ke daerah Luhak Agam. Karena akrab dengan masyarakat Minangkabau di Agam, anak dari Luhak Agam disebut macan. “Harimau Campo” juga mengajarkan Silek Tuo (Silek yang asli) kepada generasi yang secara dominan diwarnai dengan gerakan imitasi harimau dari daerah asalnya.

Ilmu Silek Kuciang Siam

Selain ilmu Silek Minangkabau yang dikembangkan di Canduang Lasi oleh Kuciang Siam dari generasi ke generasi. Secara umum masih Silek Tuo (Silek tua), tetapi pada dasarnya gerakan dominan dengan gerakan kucing, sebagai hewan peliharaan rumah untuk melindungi dari gangguan tikus.

Gerakan kucing sangat lembut dan tenang tapi berbahaya jika tertangkap olehnya. Ketika merasa diri di dihancurkan, yang pertama jatuh adalah kakinya dan tidak akan nyenyak, seperti tidak menginjak tanah. Dalam gerakan Silek, ada gerakan yang disebut “Jatuah Kuciang” berarti jatuh ke bawah seperti kucing.

Ilmu Silek Kambiang Hutan

Kan-Bin atau Kambiang Hutan yang berasal dari Cambay Malabar utara juga mewarisi ilmu atau Silek Tuo Silek Usali oleh Datuak Suri Dirajo. Ilmu Kambiang Hutan Silek dikembangkan di daerah Luhak Lima Puluh Kota, yang cirinya semacam ini bertindak lebih Silek gerakan menggunakan tangan di samping itu juga menggunakan memukul kepala dan kaki persimpangan tak terduga oleh lawan.

Ilmu Silek Mantap Mualim

Anjing Mualim yang berasal dari Hindi selatan Persia atau Gujarat mengembangkan ilmu Silek Rantau Pesisir (wilayah rantau). Ketika kami anggap sudah seharusnya keberadaan Bukit Barisan (pegunungan) membentang dari Utara ke Selatan Barat Timur, dan dari pemerintah pusat ke Selatan bisa melihat etnis pegunungan dimulai dari Angkola, Mandailing, Minangkabau, Lebong, Rawas, Pasaman, gunung Marapi, gunung Seblat, gunung Kaba, dan Gunung Dempo, serta sungai mengalir dan pergi ke muara ini Pantai Timur Sumatera. Ini adalah daerah tempat An- Jin memimpin bagi pembangunan daerah asing serta tumbuh dari masyarakat. Semacam ini digunakan Silek gerakan pertempuran dan pertahanan dalam bentuk lingkaran.

Silek Usali (Silek Tuo) Silek Lama

Ilmu gayuang milik Datuak Suri Dirajo dan kombinasi dengan tiga jenis Silek di atas, adalah menciptakan Silek jenis bervariasi dari pertahanan diri dari Tanah Basa (India Selatan). Menangkap semacam ini disebut Silek begitu Silek Langkah Tigo (langkah tiga Silek) atau Silek Usali daripada yang bernama Silek Tuo, pada dasarnya adalah sumber utama Gayuang atau paling terkenal dengan sasaran “Sajangka Duo Jari”

Sasaran
Sasaran (target) adalah tempat untuk mengajarkan murid (Anak Sasian) dari Silek. Ada beberapa cara atau beberapa persyaratan yang harus dilakukan terlebih dahulu sesuai dengan “Alua jo Patuik”, diantaranta berdarah pada sasaran dengan darah ayam.

Pendidikan berbasis Silek ” Tau di Garak jo Garik” (mengerti gerak gerik) yang memerlukan kesadaran dan keputusan yang solid sebagai nasihat sebagai berikut:

Tahu dibayang kato sampai

Tahu di tunggua kamanaruang

Tahu dirantiang kamalantiang

Alun bakilek alah bakalam

Artinya:
Tahu apa yang sedang dikatakan

Tahu apa yang bahaya

Tahu apa yang akan terluka

Berpikir secara mendalam sebelum suatu tindakan

Syarat menjadi “Pandeka” (Pendekar) adalah mengetahui dari Garak jo Garik (tujuan dan tindakan). Garak di Minangkabau tidak berarti tindakan, ini berarti suatu tujuan atau isyarat. Atau dapat dikatakan dalam perasaan, sementara Garik berarti tindakan yang dapat terlihat sehingga dapat dihindari, dihentikan, ditangkap atau dikunci.

Pengaruh hukum adat adalah begitu kuat di Minangkabau yang benar-benar membantu dalam pembentukan jiwa Pendekar Minangkabau seperti:

Yang bajanjang batanggo turun naiak

Batatah babarih, jauah buliah ditunjuakkan

Dakek buliah dipacikkan, cancang mamampeh

Ndak lapuak dek hujan, ndak lakang dek paneh

Yang berarti:

– Hormat

– Penuh kepercayaan

– Kejujuran

– Loyalitas

Silek Dan Perkembangan Agama Islam

Setelah Agama Islam menyebar dengan cepat di tanah Minangkabau, perkembangan Silek maju dengan cepat disesuaikan dengan ajaran Islam.

Perkembangan Silek menyeberang ke Negeri Sembilan (Malaysia). Hal ini dapat dibuktikan oleh orang-orang Minangkabau pertama yang tiba di Negeri Sembilan, Datuak Raja dengan Tok Seri, dan dilakukan sebuah desa bernama Kampung Galau, yang diikuti oleh Datuak Raja dari keluarga Datuak Bandaharo Pangulu Alam dan tinggal di desa Sungai Layang.

Pada periode berikutnya diikuti oleh Sutan Sumaniak dan Johan Kebesaran dan berdiam di Gunung Pasir, dan demikian juga Datuak Putiah dan Sari Lamak yang akhirnya berdiam di Seri Menanti.

Raja pertama yang memerintah di Malaka pertama adalah Raja Malewar (1773 – 1795) dan dari sini kita bisa membandingkan bahwa ilmu Silek dari orang malayu yang kata mereka ilmu tentang Silek “Seni Gayong” (Gayuang) berasal dari Minangkabau, yang telah berubah sesuai dengan waktu dan daerah.

Perkembangan Setelah Reformasi Silek Islam

Pada masa keruntuhan Kerajaan Minangkabau ada juga reformasi pada ilmu Silek Minangkabau. Islam (Syi’ah) yang dikembangkan di Minangkabau tahun 1150. tiga haji muda Minangkabau pulang dari Mekah pada tahun 1803, untuk mereformasi Islam, yang memiliki kesempatan menyaksikan kekacauan di Minangkabau. Tiga Haji itu adalah:

1. Haji Miskin dari luhak Tanah Datar Masjid yang berada di tanah airnya Pandai Sikat
2. Haji Piobang dari luhak Lima Puluh Kota
3. Haji Sumaniak dari luhak Agam

Ketiga pria itu pulang ke Minangkabau untuk tujuan Reformasi Islam, dari Syi’ah ke keyakinan Wahabi. Dalam era reformasi ini, ketiganya dibantu oleh lima anak muda yang telah mempelajari Islam secara mendalam. Mereka adalah Tuanku Nan Renceh dari Kamang, Tuanku Nan Tuo dari Cangkiang, Malin Putiah di Aia Tabik, Tuanku Pamansiang dan Peto Syarif di Bonjol atau dikenal sebagai Imam Bonjol. Mereka, pada kenyataannya, lebih dikenal dengan nama “Harimau Nan Salapan” (delapan harimau).

Nama Harimau Nan Salapan terhormat untuk mereka, dalam kasus jalan mereka dalam reformasi Islam waktu itu diduga berada di kekerasan yang benar-benar melawan oleh kelompok-kelompok adat. Delapan harimau ini kemudian dikenal dengan “Harimau Nan Sambilan” (sembilan harimau), sejak Tuanku Rao menjadi anggota kelompok yang datang dari Rao Pasaman. Di samping ahli agama, mereka juga pengembang Silek Minangkabau.

Warisan Silek “Langkah Tigo” (tiga anak tangga) atau SilekTuo (Silek tua) mulai menjadi berwarna diskusi pendapat pendidikan Islam. Dari situs ini, daripada nama dan corak bervariasi dari Silek di Minangkabau mulai berkembang, pada umumnya adalah disempurnakan oleh kekuatan rohani melalui diskusi dan aktivitas ritual dilakukan berdasarkan pendidikan Islam.

Semakin berkembang daerah dan kebudayaan mereka semakin berkembang corak Silek Minangkabau. Nama Silek ada dan mengembangkan ideologi waktu itu bernama ini pada orang yang mengajar atau di daerah asalnya. Ini dapat dilihat dari beberapa ideologi Silek terkenal di Minangkabau.

Silek Kumango

Kumango adalah daerah di Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar. Silek ini diciptakan oleh Syech Abdurrahman atau yang terkenal dengan nama Syech Kumango (1825). Di samping ajaran agama, Syech Kumango juga mengajarkan ilmu pertahanan diri Silek Tuo (Silek tua), yang berwarna inspirasi Islam. Sampai dengan saat ini Silek semacam ini telah disebut Silek Kumango, karena guru itu dari Kumango.

Untuk nama ideologi Silek, dari kasus ini, kita dapat menyatakan bahwa hal itu diambil dari nama daerah atau wilayah mana berasal dari orang yang diajarkan itu hanya sebagai salah satu murid Silek Kumango, Malin Marajo, ketika ia mengembangkan Silek semacam ini di Batu Sangkar, ideologi-nya adalah Silek Malin Silek Dipanggil Marajo.

Di samping itu terdapat juga Silek Pakiah Rabun dari Muaro Labuah, Silek Inyiak Uban dari Maninjau, Silek Lintau dari daerah di Lintau Lubuak Jantan Lintau Penuh daerah di Kabupaten Tanah Datar yang dikembangkan oleh Sutan Ahmad Tuanku Laras Lintau di awal dari Abad 19.

Silek Starlak, dari Kamang di Kabupaten Agam dikembangkan oleh Ulud Bagindo Chatib 1865.
Perkembangan Silek sekolah serta nama-nama mereka, bagaimanapun, mempunyai efek yang besar terhadap sejarah tumbuh dari Silek di Minangkabau. Di samping variasi ideologi Silek yang dikembangkan di Minangkabau, telah terjadi penurunan keberadaan pendekar Silek Minangkabau yang benar-benar memahami atau mengetahui sejarah Silek Minangkabau.

Hal ini pada kenyataannya sangat menyedihkan, yang relevan terhadap kemajuan teknologi, sebagian besar masyarakat Minangkabau telah meniru kebiasaan impor dari negara asing dan kurangnya perhatian kaum muda untuk masa depan budaya adat tradisi yang katanya “ndak lapuak dek hujan ndak lakang dek paneh” (abadi)

Dan sehingga pendidikan Silek Minangkabau saat ini tampaknya langka. Hal ini, pada kenyataannya, yang dianggap sebagai sangat rahasia sistem pendidikan Silek itu sendiri, di mana umumnya seorang guru yang akan mengajar muridnya di malam hari, dan demikian juga para pewaris pendidikan itu seperti kata berikut. “kok ndak ado nan nan sajangka cari saeto (jika tidak ada yang sejengkal cari yang sehasta).

Ini berarti dalam menghasilkan ilmu Silek seorang guru tidak bisa mengajarkan kepada setiap orang, tetapi hanya untuk generasi mereka saja (keturunan/kaum mereka) seperti anak, keponakan, atau saudara. Apalagi dalam menghasilkan ilmu berbasis Silek sisi spiritual, ritual diskusi yang disebut “Panaruahan” atau tabungan, itu sebabnya pendekar Silek Minangkabau menjadi semakin berkurang. Ini dapat dibuktikan dengan minimnya pusat pelatihan Silek tradisional di Minangkabau.

Di pusat pelatihan Silek, murid tidak hanya diajarkan ilmu Silek tetapi juga sikap, filosofi kehidupan dan adat dan Budaya Minangkabau. Seorang murid akan disebut “pendekar” ketika dia telah sangat mengetahui dan sangat memahami philosopy kehidupan dan ajaran agama Islam.

Alam Takambang Jadikan Guru

Ini dapat dikatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, para murid akan belajar lebih banyak dari alam dan memiliki rasa hormat yang lebih besar untuk semua hal yang didapatnya.
Ritual ini pendapat “Alam Takambang Jadikan Guru” (alam adalah guru terbaik) memiliki makna yang lebih besar tertutup alam semesta dan itu terkandung dalam pengajaran ilmu pengetahuan Silek. Secara formal, seorang guru Silek juga diajarkan filosofi hidup yang sangat berguna dalam membentuk kepribadian pesilat.Dalam Silek para murid juga diajarkan sikap, kesopanan dan kepribadian batiniah.