Ketika Mulai Sadar, Dia Memanggil Ibu

Dia masih berumur 8 tahun, gadis manis anak tunggal keluarga pegawai negeri yang baru dapat memiliki sepeda motor kredit dengan potong gaji. Sudah menjadi kebiasaan, setiap Sabtu sore mereka bertiga jalan-jalan dengan anak duduk di tengah melewati jalan aspal mulus lintas Sumatera untuk menyaksikan indahnya mentari tenggelam di antara Bukit Barisan yang permai. Saat itulah mereka akan saling berbagi cerita, tapi lebih sering mendengar cerita tentang pengalaman sekolah dari anaknya.

Cerita tentang mimpi-mimpi masa depan dari ibu guru, tentang teguran akibat lupa membawa tugas sekolah, tentang teman-temannya yang usil dan tak lupa keinginannya punya internet dan  komputer di rumah seperti teman-teman lainnya. Kedua orangtuanya berjanji akan membelikan komputer sebagai tambahan wawasan anaknya bila cicilan motor lunas nantinya. Namun nahas bagi keluarga itu, suasana ceria berujung tragedi ketika di sebuah kelokan ada dua mobil  yang mendadak berpapasan dan menyenggol mereka. Kejadian begitu tiba-tiba dan mereka terhempas berat pada sisi mobil lainnya.

Ayah ibunya meninggal ditempat dan dia sendiri pingsan disertai patah tulang paha. Kakek dan neneknya yang mulai renta, mendapati anak dan menantunya telah dingin tak bernyawa, serta cucunya yang masih pingsan di puskesmas yang sedang dikerubungi famili dan penduduk sekitar. Sejenak kakek dan nenek itu larut dalam suasana tangisan pilu bersama kerabat lainnya, namun nenek itu segera sadar dan setuju bahwa cucunya harus segera dilarikan ke rumah sakit yang punya fasilitas pembedahan. Hanya nenek dan beberapa famili yang ikut mengantarkan dia ke rumah sakit, sementara kakek menghadiri pemakaman bapak ibunya.

Di rumah sakit, setelah dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan dan persiapan darah, dokter menyarankan untuk dilakukan pertolongan segera. Hanya satu permintaan neneknya, berikan pertolongan yang terbaik, namun dengan linangan air mata dia berpesan agar jangan diberi tahu bahwa kedua orangtuanya telah pergi untuk selamanya.

Dalam kesadaran yang belum pulih, dokter bius dan dokter bedah segera melakukan operasi agar sesudah sadar nanti, dia akan bangun seperti sesudah tidur panjang tanpa merasakan pahanya patah kecuali sedikit nyeri luka setelah operasi. Operasi pun berjalan lancar dan sekitar 20 menit dia mulai sadar dari pembiusan. Kata pertama yang terucap di mulutnya adalah, ”Ibu, ibu”. Tak henti dia berteriak memanggil dan bertanya di mana ayah dan ibunya tercinta. Para perawat yang mengawasinya di ruang pemulihan (RR) berusaha menghibur dan mengalihkan perhatiannya kepada cerita lain. Namun, di pojok lain bangku duduk sang nenek yang tabah dengan deraian air mata berkata, ”Ini nenek, ini nenek..”.

Kejadian-kejadian demikian adalah hal–hal yang lumrah dihadapi dokter bedah dan petugas rumah sakit lainnya. Namun, kita sering tak habis pikir kenapa hal tersebut selalu dan selalu terjadi dan makin meningkat setiap hari apalagi bulan-bulan libur, tahun ajaran baru, termasuk acara berlimau memasuki puasa sebentar lagi.

Penelitian ahli-ahli bedah tulang sedunia menyimpulkan bahwa kira-kira hampir 60 persen kecelakaan pada manusia menimpa alat geraknya, dan dari sepertiganya akibat kecelakaan lalu lintas. Tiap tahun kita membaca laporan berapa banyak anak muda yang merenggut nyawa di jalanan ataupun menjadi cacat seumur hidup dengan masa depan tak menentu. Ironisnya, kejadian tersebut lebih banyak terjadi di negara berkembang di mana sarana transportasi yang aman semakin jauh dari harapan. Jumlah kendaraan yang tidak sesuai lagi dengan kapasitas jalan apalagi untuk memiliki kendaran kredit begitu murahnya.

Kita semua mungkin berharap, kapan ya, transportasi masal yang aman diperbanyak dan sopan santun berkendaraan menjadi budaya. Tidak jarang kita alami bagaimana tingkah pola pengendara di daerah kita yang kurang menghargai penyeberang jalan, pejalan kaki dan pengendara lainnya. Kalau ada kemacetan sering berebut menerobos mendahului dengan suara klakson berdenging-denging, sehingga kemacetan semakin parah.  Di lain pihak, trotoar dan pinggir jalan yang menjadi hak pejalan kaki telah dirampas pedagang asongan, dipenuhi papan-papan reklame, diambil untuk tempat pesta, dan bahkan dijadikan taman bunga PKK yang dilombakan pada tingkat kabupaten dan kota. Hal tersebut menambah daftar runyamnya lalu lintas kita, walaupun beberapa jalan sudah diperlebar, tetapi tetap juga kembali sesak.

Kita jadi iri dengan negara lain seperti China dan Jepang yang memproduksi sepeda motor roda dua, tapi di kota-kota besarnya sendiri penggunaannya sangat dibatasi ketat dan malah ada kota yang melarang sama sekali memakainya, karena sarana transportasi yang aman dan murah merupakan prioritas utama. Pemerintahnya ikut merasakan betapa susahnya menghadapi kemacetan dan betapa pentingnya nyawa manusia. Demikian juga budaya masyarakat dan pemerintahnya yang saling menghargai dan tetap patuh pada peraturan lalu lintas. Jarang sekali terdengar raungan sirene forider yang punya andil menambah kemacetan jalan, kecuali hanya untuk kepala negara atau tamu negara yang sangat penting saja. Hal yang sangat berlawanan dengan keadaan di negeri kita, di mana para pejabat dari tingkat kabupaten, kota, provinsi, anggota DPR dan orang berduit menembus kemacetan memakai forider mulai di luar kewajaran.

Apakah wajar seorang pejabat atau wakil rakyat hanya untuk pergi maraton pagi, pergi pesta, pergi berhari raya, melihat rumah lamanya di gang sempit diantar raungan sirene yang memekakkan telinga dengan petugasnya yang sering jauh dari keramahan. Penulis sendiri pernah mengalami kejadian ketika melewati jalan macet di Padangluar, Agam. Mungkin karena anak-anak ribut dengan musik yang keras, kami kurang mendengar sirene forider petugas DLLAJR. Tiba-tiba ada yang berdentang keras dan ternyata mobil kami dipukul keras oleh petugas dengan mata melotot seakan hanya dia yang berhak atas jalan negara yang dibuat dari pajak rakyat. Kami semua terkejut, begitukah cara pengatur jalan raya bersikap? Kami hanya mengurut dada sambil memberi nasihat pada anak-anak agar jangan suka menghidupkan tape dengan keras.

Anak-anak yang polos bertanya, apakah pemimpin yang kita hormati itu pernah merasakan antre saat kemacetan dan apakah mereka lupa bahwa di antara pengendara lain di jalan, juga mempunyai tugas dan kerja yang lebih penting dan segera. Mungkin juga pengendara lain itu seperti petugas rumah sakit, yang harus segera menolong pasien yang berada di antara hidup dan mati, mungkin juga seseorang buru-buru karena di sekitar rumahnya ada kebakaran, atau pun yang harus segera membawa anaknya yang tengah kejang ke rumah sakit dan lain-lain.

Kita merindukan, sekali-sekali coba pemimpin kita itu membawa kendaraannya sendiri tanpa embel-embel diantar oleh forider agar dapat merasakan permasalahan seputar jalan raya. Mungkin keadaan dan masa telah berubah, namun kita masih ingat banyak pemimpin, baik bupati, wali kota ataupun gubernur masa lalu enggan sekali berjalan memakai forider. Walaupun terlalu sulit dibandingkan bagaimana bapak Gubernur Harun Zain bersama ibu tanpa didampingi ajudannya sering mengendarai sendiri sedan VW kodok dan akan memperlambat kendaraannya sambil menyapa orang-orang yang lagi bekerja di halaman rumahnya. Tidak jarang pemilik rumah itu sadar bahwa yang menyapanya setelah mobilnya berlalu.

Setelah tiga hari dirawat, kesadaran gadis itu pulih dan lukanya mulai mengering dan dia diperbolehkan pulang, namun sang nenek masih merahasiakan keadaan orangtuanya yang sesungguhnya. Ketika di atas mobil pulang, nenek itu terkantuk-kantuk setelah beberapa hari tidak tidur menemani cucunya. Dalam kantuknya dia melamun seandainya sore itu mereka pakai helm, seandainya pengendara mobil-mobil itu sadar ada orang lain juga yang mempergunakan jalan dan tidak saling mendahului. Seandainya ada transportasi umum masal yang aman, seandainya pemerintah peduli dengan karut-marut transportasi, tentu anak menantu dan cucunya tetap akan utuh. Lamunan sedih itu terpecah ketika cucunya yang tidur di atas pangkuannya bertanya, ”Sedang apa ayah dan ibu di rumah sekarang”.

Nenek itu hanya menoleh ke samping meneteskan air mata. Terlalu berat pikirannya yang dipikulnya, bagaimana nanti masa depan cucunya seandainya dia juga cepat dipanggil pergi dan yang paling berat adalah bagaimana harus memberi tahu saat berhadapan dengan tanah merah makam kedua orangtuanya sesampai di kampung nanti. (*)

Sumber : disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: