Ujian Kesabaran dari Seorang Anak

Seorang ayah yang baru saja pulang kantor dengan menjadi “ROKER” alias rombongan kereta (pulang pergi ke kantor naik kereta) terperanjat kaget melihat mobil yang baru sebulan dibelinya dan lebih sering diparkir di garasi depan rumah “baret” kira-kira 10 garis di sepanjang badan mobil sisi sebelah kiri dan kanan.

Emosinya tak terkendali, pikirannya tak dapat diatur lagi, sontak saja dia tendang pintu masuk dan berteriak panggil bibi yang tinggal di rumah bersama 2 orang anaknya yang masih kecil.  ” Bi….Siapa yang merusak mobil itu?, Siapa yang berani ngebaretin mobil baru ini?, katanya dengan nada tinggi”.

Bibi yang sudah 10 tahun bersama keluarga itu terlihat bengong dan penuh tanda-tanya, hal apa yang dimaksud oleh majikannya?, dan dengan polosnya dia juga tanya balik, maksudnya yang mana tuan?, mobil yang mana?.  Kemarahan sang majikan terus bertambah sambil menggeret bibi ke luar dan menunjukkan baretan yang dia maksud.  Dan ketika itu pula, dua anak laki-laki yang masih kecil dan lucu menghampiri ayahnya sambil bersemangat mengatakan: ” Ayah…Ayah, tadi kita berdua lagi main garpu dan kita bikin garis-garis seperti mewarnai di mobil Ayah yang baru, boleh ya?“, kata dua anaknya dengan polos dan lugunya.

Wah…..darah hitam emosi sang Ayah terus terpancing mengalir.  Tak sadar ia menarik kedua anaknya ke dalam rumah, dipukulnya pantat sang anak berkali-kali, kemudian dihantamnya tangan kedua anak yang telah berbuat dengan keras lebih dari dua puluh kali, anaknya menjerit-jerit kesakitan dan minta-minta ampun memberi sinyal tidak akan mengulangnya lagi.  Tidak sampai disitu, anak yang sudah tak berdaya dibawanya ke kamar mandi dan diguyurnya dengan sebanyak-banyak air yang ada di bak mandi sampai akhirnya anak terduduk lesu menggigil kedinginan dan ia tinggalkan begitu saja.

Saking emosinya, dia pun pergi berlalu meninggalkan rumah entah kemana.  Sore harinya, ketika ia pulang didapatinya rumah kosong, istrinya yang seharusnya sudah di rumah pun tak terlihat, berikut kedua anak dan pembantunya.  Dia tak sadar, ternyata sudah beberapa kali miss call di HP-nya serta satu sms dari istrinya yang mengatakan bahwa mereka tengah berada di rumah sakit menemani kedua anak mereka yang tengah panas sangat tinggi dan terpaksa di rawat intensive.

Dalam suasana emosi yang masih tersisa, sang ayah malah terduduk lunglai dan kaku, sambil memegang kedua tangannya dia berbisik: “Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi?, kenapa aku bisa berbuat demikian terhadap anak kandungku?.

Haruskah harta dan kemewahan yang kita punya dapat mengalahkan 
dan menyingkirkan kasih-sayang kita kepada anak?. 
Untuk siapakah semua pencapaian yang kita perjuangkan 
berhari-hari, bermalam dan bertahun-tahun itu?. 
Apakah kebanggaan dan kasih sayang kita kepada mobil baru 
dapat menghalalkan amarah yang tak sepatutnya kepada anak?.
Mari kita belajar untuk lebih sabar lagi dari anak-anak kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: