Sejarah Maenpo Cikalong

Telah disepakati oleh kalangan tokoh pencak silat bahwa pencipta dan penyebar pertama aliran pencak silat Cikalong adalah R. Jayaperbata yang kemudian berganti nama menjadi R. Haji Ibrahim setelah beliau berziarah ke Tanah Suci. R.H. Ibrahim adalah keturunan bangsawan Cianjur.

Sejarah terbentuknya aliran ini, menurut beberapa sumber dimulai ketika R.H. Ibrahim berguru kepada kakak iparnya sendiri (suami Nyi Raden Hadijah, kakak R.H. Ibrahim) yaitu R. Ateng Alimuddin, seorang saudagar kuda dari Jatinegara. Permainan pencak silat R. Ateng Alimudin sendiri adalah Cimande Kampung Baru. Atas perunjuk R. Ateng Alimudin, R.H. Ibrahim kemudian disarankan untuk melanjutkanpelajarannya pada Bang Ma’ruf, seorang guru pencak silat di Kampung Karet, Tanah Abang, Jakarta.

R.H. Ibrahim yang juga mempunyai usaha jual beli kuda kerap kali pulang pergi antara Cianjur dan
Jakarta. Sewaktu berada di Jakarta, dimanfaatkannya untuk belajar pencak silat dari Bang Ma’ruf. Ketika sedang belajar di Bang Ma’ruf, secara tidak sengaja R.H. Ibrahim berkenalan dengan tetangga Ban Ma’ruf yang bernama Bang Madi, seorang penjual kuda yang berasal dari Pagarruyung, Sumatra Barat. Setelah berkenalan dan akhirnya bersambung tangan, akhirnya diketahui bahwa Bang Madi adalah seorang ahli pencak silat yang sangat tangguh. Sejak saat itu, tanpa sepengetahuan Bang Ma’ruf, R.H. Ibrahim mulai berguru kepada Bang Madi.

Karena R.H. Ibrahim adalah seorang bangsawan yang cukup kaya, maka agar lebih leluasa, Bang Madi langsung didatangkan ke Cianjur untuk mengajar di sana. Segala keperluan hidup untuk keluarganya ditanggung oleh R.H. Ibrahim. Dari Bang Madi diperoleh ilmu permainan rasa,
yaitu sensitivitas atau kepekaan rasa yang positif sehingga pada tingkat tertentu akan mampu membaca segala gerak lawan saat anggota badan bersentuhan dengan anggota badan lawan, serta segera melumpukannya.

Menurut beberapa tokoh, salah satu ciri atau kebiasaan dari Bang Madi adalah mahir
dalam melakukan teknik “bendung” atau menahan munculnya tenaga lawan, di samping “mendahului tenaga dengan tenaga”. Di kalangan aliran Cikalong teknik ini disebut “puhu tanaga” atau “puhu gerak”.

Setelah dianggap mahir, atas petunjuk Bang Madi, R.H. Ibrahim disarankan untuk menemui seorang
tokoh dari Kampung Benteng, Tangerang yang bernama Bang Kari. Sebelum diterama menjadi murid, R.H. Ibrahim sempat dicoba dahulu kemampuannya. Bang Kari pun kemudian mengetahui bahwa yang datang kali ini adalah orang yang sangat berbakat dan mempunyai masa depan yang cemerlang di dunia persilatan.

Dari Bang Kari, R.H. Ibrahim mendapatkan (ulin peupeuhan) ilmu pukulan yang mengandalkan
kecepatan gerak dan tenaga ledak. Selain dari keempat tokoh pencak silat dia tas, R. H. Ibrahim banyak berguru pada tokoh-tokoh lain. Ada yang mengatakan sampai tujuh belas orang guru, bahkan ada juga yang mengatakan lebih dari empat puluh orang guru. Dari hasil berguru tersebut kemudian R.H. Ibrahim melakukan perenungan selama tiga tahun dengan cara sering berkhalwat di sebuah gua di kampung Jelebud, di pinggir sungai Cikundul Leutik, Cikalong Kulon, Cianjur. Dari Sinilah mulai terbentuk cikal bakal aliran Cikalong.

Nama aliran Cikalong diberikan oleh para pengikutnya dengan mengambil nama tempat
tinggal R.H. Ibrahim atau tempat mulaialiran pencak silat ini disebarkan. Pada mulanya aliran ini melalui tahapan atau proses tertentu yang masih berubah-ubah dari waktu ke waktu sebelum ditemukan bentuk yang baku. Di samping cara R.H. Ibrahim mengajar selalu disesuaikan
dengan keadaan badan, bakat, serta kesenangan murid.

Maka tidaklah mengherankan apabila banyak murid-murid R.H. Ibrahim yang mempunya permainan yang berbeda satu sama lain. R.H. Tamidi misalnya, menyukai ameng peupeuhan atau permainan yang banyak mengandalkan pukulan; R. Obing yang lebih senang menggunakan ulin rasa atau ulin tempelan yang mengandalkan kehalusan rasa; R. Muhyidin lebih sering menggunakan usik puhu yang selalu mendahului gerak lawan. Sedangkan R. Idrus lebih menyukai usik tungtung yang melakukan serangan balik ketika serangan lawan suda habis, dan masih banyak lagi lainnya.

Yang menarik adalah pada saat yang sama di Cianjur juga terdapat seorang tokoh pencak silat bernama Muhammad Kosim asal Pagarruyung yang tinggal di Kampung Sabandar Cianjur (lebih terkenal dengan panggilan Mama Sabandar). Ia mengajarkan ilmunya kepada beberapa
bangsawan Cianjur, yang juga merupakan murid R.H. Ibrahim, di antaranya adalah R.H. Enoh, sehingga pada Perkembangan selanjutnya di Cianjur terdapat aliran Cikalong –Sabandar. R.H. Ibrahim sendiri tidak pernah berguru kepada Mama Sabandar. Menurut beberapa sumber, mereka pernah bertemu dan bertanding di Purwakarta dan hasilnya tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, namun masingmasing saling mengakui kehebatan lawannya.

Silsilah Leluhur RD. Haji Ibrahim

     Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar I (Kanjeng Dalem Cikundul)
      Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar II (Kanjeng Dalem Tarikolot)
      Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar III (Kanjeng Dalem Dicondre)
      Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar IV (Kanjeng Dalem Sabirudin)
      Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar V (Kanjeng Dalem Muhyidin)
      Kangjeng Dalem Rd. Wiratanudatar VI (Kanjeng Dalem Dipati Enoh)
      Rd. Wiranagara (Aria Cikalong)
      Rd. Rajadireja (Aom Raja) Cikalong
      Rd. Jayaperbata (Rd. Haji Ibrahim)

  
Salah satu ciri aliran Sabandar adalah mahir dalam mengalirkan tenaga, yang dalam kalangan pencak silat dikenal dengan istilah liliwatan, coplosan atau kocoran. Perkembangan aliran Cikalong pada awalnya tidak begitu pesat. Ini disebabkan beberapa hal. Di antaranya R.H. Ibrahim sangat selektif dalam memilih muridnya, diduga karena adanya kekhawatiran adanya penyalahgunaan ilmu pencak silat yang dapat membahayakan itu.

Di samping itu, sebagai seorang keturunan bangsawan yang tidak membutuhkan tambahan biaya hidup dari murid-muridnya, dengan sendirinya ia dapat memilih-milih muridmuridnya.
Hanya mereka yang disukainya atau yang dianggap akan menjaga nama baik keluarganya dan aliran pencak silatnya saja dapat menjadi muridnya. Maka dapat dipahami, jika murid-muridnya
kebanyakan berasal dari kalangan bangsawan, yaitu kelompok masyarakat dari mana R.H. Ibrahim sendiri dilahirkan.

Walaupun saat ini aliran Cikalong tidak seeksklusif pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya, namun pengaruh dari kondisi sosiologis yang menjadi penunjang di masa-masa awal itu masih membekas sampai sekarang. Walaupun di kemudian hari diramalkan pengaruh ini akan semakin menipis, sehingga masyarakat umum akhirnya akan menjadi pemilik aliran pencak silat ini.

Beberapa penerus aliran ini adalah R.H. Enoh, R. Brata, R. Obong Ibrahim, R. Didi, R.O. Soleh, dan lain-lain. Terdorong oleh rasa tanggung jawab serta menghindarkan terkuburnya aliran pencak silat ini karena meninggalnya atau akan meninggalnya para tokoh atau ahli pencak silat Cikalong yang saat ini masih hidup, juga untuk melestarikan aliran pencak silat ini, Abdur Rauf sebagai salah seorang keturunan langsung dan pimpinan Paguron Maenpo Raden Haji Ibrahim Djaja Perbata Cikalong, membuat suatu tulisan singkat mengenai “Sedikit Perkenalan Dengan Kaedah-kaedah Pokok Maenpo Cikalong. Aliran pencak silat (tepatnya pecahan aliran) yang dipengaruhi aliran Cikalong antara lain adalah aliran Cikaret dan Sanalika.

Sedangkan perguruan yang mempelajari aliran ini di antaranya adalah Paguron Pusaka Cikalong (PPC) Cianjur, Paguron Pusaka Siliwangi, dan hamper semua perguruan pencak silat di jawa barat mendapat pengaruh aliran ini.

R. Abad Moh. Sirod yang mendapat ilmu dari R. Busrin mengembangkan metode belajar pencak silat
dengan menyusun 30 jurus dasar yang dikenal dengan istilah 27 jurus kajadian dan 3 jurus maksud.
Jurus-jurus ini diambil dari kejadian maenpo (istilah lain untuk beladiri pencak silat). Penjelesan selengkapnya disusun dalam buku yang berjudul Tuduh Kaedah Meanpo (Petunjuk Kaidah Pencak Silat).

R. Obing yang belajar dari R.H. Ibrahim dan R. H. Enoh mengembangkan 5 jurus dasar yang
menggunakan langkah dengan arah menyerong, mempelajari cara menyimpan dan memindahkan titik berat badan, serta menggabungkan gerak dengan teknik pernapasan.

R.O. Saleh (Gan Uweh) yang belajar dari R. Idrus dan R. Muhyidin mengembangkan 10 jurus dasar, 3 pancer, jurus 7, dan masagikeun (kombinasi). Perguruan yang didirikannya adalah Paguron Pusaka Cikalong (PPC).

R. Ateng Karta yang berasal dari Banyuresmi, Garut belajar dari R. Utuk mengembangkan 5 jurus dasar beserta beberapa pecahannya. Perguruan yang didirikannya adalah Perguruan Pencak Silat Sanalika.

Dari beberapa contoh di atas dapat dilihat bahwa aliran pencak silat Cikalong berkembang dari generasi ke generasi berikutnya. Ada yang mengembangkannya di perguruan yang didirikannya dan ada pula yang tidak malalui perguruan

Sumber : disini
Iklan

Enny Rukmini, Usia Hampir Seabad Pimpinan Para Jawara Banten

Senin, 05 Mei 2008,

”Mami” Enny Rukmini, Usia Hampir Seabad Pimpinan Para Jawara Banten

Ompong Sejak Umur 40 Tahun, Mampu Buat Orang Kelenger Usianya hampir mencapai seabad. Namun, semangat dan fisik Enny Rukmini tak ikut terkikis habis. Walaupun tidak seaktif saat muda, dia masih rutin melatih para jawara dari berbagai daerah.

GURAT kecantikan di usia muda masih tampak di raut muka Enny Rukmini, 93, yang telah berkeriput di sana-sini. Kulit putih dan hidungnya yang mancung, bahkan akan membuat orang yang pertama bertemu mengira dirinya memiliki darah blasteran. Padahal, perempuan kelahiran Bandung pada 1915 itu asli Indonesia. Ayahnya, (alm) Abah Aleh, asli keturunan Banten dan ibunya, (alm) Ma Uki, asli Garut. “Kamu bukan yang pertama. Sudah banyak yang bilang saya keturunan Belanda,” ujar Enny Rukmini, kepada Jawa Pos Selasa (29/4).

Saat pertama bertemu perempuan yang akrab disapa “Mami” itu, kesan dan persepsi umum masyarakat terhadap orang yang berusia lanjut langsung terhapus. Langkah dan gerak tubuhnya masih ringan. Bicaranya pun lantang serta tetap terdengar jelas.

“Ya, sekarang ini kan masih genit-genitnya. Maklum, masih berumur tiga puluh sembilan tahun (kebalikan 93 tahun, Red),” katanya, lantas tertawa sehingga tampak seluruh giginya yang sudah tanggal.

Menurut Mami, seluruh giginya itu rontok secara serentak pada suatu malam Jumat saat umurnya masih sekitar 40 tahun. Sebelumnya dia merasa giginya memanjang dan terasa linu. “Tapi, jangan mikir yang aneh-aneh. Hanya kebetulan atau juga mungkin karena penyakit,” pesannya.

Enny tinggal di Desa Sumur, Sukowening, Garut. Rumah sederhananya terletak di tengah perkampungan penduduk di kaki Gunung Sadakening. Di kompleks perguruan Enny, ada dua bangunan. Satu untuk tempat tinggal keluarga dan satu untuk kegiatan melatih murid-muridnya. Di gedung berbentuk seperti aula berukuran 10 x 30 meter persegi yang dipenuhi foto dan simbol perguruan itu setiap minggu Mami Enny melatih sekitar 120 muridnya.

Perguruan Silat Panglipur yang didirikan ayah Mami Enny sejak 1909 itu berkembang hingga sekarang. Ratusan cabang Perguruan Silat Panglipur telah tersebar di mana-mana. Bahkan, ada cabang di luar negeri, seperti di Malaysia, Belanda, Prancis, dan Arab Saudi. Murid-murid dari mancanegara itu tertarik menjadi murid Mami Enny karena terpesona dengan kelincahannya saat beraksi pada acara kebudayaan yang diadakan perwakilan Indonesia di luar negeri

Mami Enny sendiri memimpin perguruan silat warisan keluarga itu sejak 1950. Ayahnya yang meminta dirinya menggantikan posisi terhormat di kalangan para jawara itu. “Saya tidak tahu alasan Abah, kenapa kok saya yang ditunjuk,” ujarnya.

Meski sejak kecil sudah akrab, silat bukanlah satu-satunya keterampilan nenek energik ini. Mami Enny juga pernah belajar yoga, menjahit, bahkan belajar dansa ala pemuda-pemudi Belanda saat itu. “Tapi yang utama, mungkin karena silat inilah. Alhamdulillah badan saya masih bugar sampai sekarang,” ujar nenek beranak satu dan 12 cucu, yang beberapa juga sudah beranak-pinak itu.

Menurut Mami Enny, kesehatan dan kebugaran dirinya sebenarnya tidak semata kekuatan fisik. Namun, lebih pada kekuatan mata hati. Kondisi itu, menurut dia, tidak akan ikut tergerus oleh makin bertambahnya usia. “Percuma kekuatan tangan (fisik), kalau tidak dibarengi keselarasan mata dan hati,” ujarnya.

Kebugaran tubuh Mami Enny tersebut dibuktikan sendiri oleh Jawa Pos. Setelah berdiri di hadapannya, dia mendorong bahu wartawan koran ini dengan kedua tangan. Pada dorongan pertama itu posisi bahu hanya bergoyang sedikit. “Ini kalau tidak pakai hati. Tubuh setua ini kekuatannya juga tidak akan seberapa,” ujarnya lantas tersenyum.

Namun, dorongan kedua yang dilakukan Mami Enny membuat wartawan koran ini sampai terjengkang beberapa langkah. Padahal, entakan tangan yang sudah renta itu sebenarnya terasa hampir sama dengan dorongan pertama. “Kalau dilakukan sungguh-sungguh, bahkan bisa buat orang tidak bisa bangun,” katanya. Dia lalu tersenyum lebih lebar.

Penguasaan Mami Enny terhadap seni beladiri tradisional Indonesia itu juga sempat dimanfaatkan untuk melawan penjajah. Tepatnya pada 1947, dia bergabung dengan Letkol Abimanyu dan Mayor U. Rukman untuk ikut bergerilya sampai hijrah ke Jogjakarta. Ketika itu dia sudah berpangkat kapten.

Pada 1950 Mami Enny mengakhiri pengembaraan di hutan belantara. Ditandai dengan turunnya para pengungsi ke Bandung, dia pun kembali menjadi masyarakat biasa. “Kalau dulu berjuang dengan senjata, sekarang berjuang melestarikan pencak silat,” katanya.

Aktivitas sebagai pemimpin perguruan silat cukup tua di Indonesia itu sebenarnya tidak lagi dijalani seperti saat usia Mami Enny masih muda. Pada latihan rutin yang berlangsung tiap Sabtu malam dan sepanjang Minggu, dia hanya mengawasi. “Sekarang saya hanya mengajar para guru yang memimpin cabang-cabang di berbagai daerah,” ujarnya.

Pertemuan rutin para pimpinan cabang Panglipur saat ini setidaknya dilakukan satu bulan sekali. Di situlah Mami Enny memberikan latihan ataupun sekadar petuah terhadap para jawara yang juga telah berumur. “Mereka inilah yang sering protes ke saya, karena badannya lebih dulu bungkuk dan matanya sudah rabun,” katanya.

Menurut Mami Enny, para jawara dari berbagai daerah itu kerap menanyakan resep sehat dirinya. “Saya hanya tersenyum kalau ditanya seperti itu,” ujar ibunda Etty Sumartini, 62, itu.

Dia mengungkapkan, sebenarnya tidak ada resep khusus soal kesehatan dirinya yang masih terjaga hingga saat ini. “Paling, saya ini hanya rajin tirakat,” ungkapnya.

Dia mengaku sejak muda terbiasa jarang makan. Biasanya, kata Mami Enny, dia makan sekali setiap tiga hari. Itu pun hanya kentang rebus beberapa butir. Untuk minum, selain air putih, setiap hari dia minum dua gelas besar susu ukuran setengah liter. “Saya juga banyak tidur,” candanya sekali lagi dengan mengungkapkan fakta yang sebaliknya.

Kenyataan sesungguhnya, setiap hari Mami Enny tidur hanya sekitar 3 jam. Itu pun baru dilakukan setelah salat subuh. Sekitar pukul 5 pagi, dia mulai istirahat, tapi sudah bangun sekitar pukul delapan. Sepanjang malam dia pun lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. “Untuk mengingat dan tafakkur ke Allah,” ujar perempuan, yang pernah menikah tiga kali itu.

Ketajaman batin Mami Enny, tampaknya, memang menjadi kekuatan tersendiri perempuan lanjut usia ini. Jawa Pos kembali membuktikannya sendiri. Malam sebelum berpamitan, Mami Enny sempat memberikan oleh-oleh khusus.

Sambil duduk bersila di ruang tengah kediamannya, Mami Enny meminta salah satu murid seniornya mengambil sebutir telur ayam. Telur mentah tersebut ditaruh di piring, lengkap dengan sendoknya. “Ayo dibuka,” pintanya.

Saat perlahan dipecah, sepintas isi telur tampak seperti pada umumnya. Namun, ternyata di dalamnya terdapat selembar daun pandan, seukuran 10 x 0,5 cm. Lafal Arab tergurat di atasnya. “Itu disimpan, bukan sekadar jimat, tapi agar tetap ingat saja sama Allah,” ujarnya. (*)

Jadi beliau juga mengurangi makan dan tidur – mengolah tubuh. Usia 93 tahun masih awas dan cekatan, hebat lho. Banyak orang mulai pikun di usia 80-an. Bahkan diriku baru 40-an sudah sering lupa kalo banyak utang dsb dll.

Sumber : Disini

Haji Darip dari Klender

Hanya beberapa saat setelah Bung Karno dan Bung Hatta mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, suasana di Tanah Air, khususnya di Jakarta, terjadi berbagai pergolakan. Apalagi tidak lama kemudian, pasukan Belanda dengan mendompleng sekutu turut mendarat ke Jakarta.

Rakyat yang tidak ingin lagi melihat negerinya dijajah, melakukan perlawanan. Di Jakarta, di antara para ulama dan mualim yang menghimpun para pemuda untuk siap mati membela negara, ada nama Haji Mohammad Arif. Ia lebih dikenal dengan sebutan Haji Darip. Nama itulah yang kini diabadikan sebagai nama jalan di daerah Klender menuju arah Bekasi.

Haji Darip adalah putra asli Betawi yang lahir pada tahun 1886. Ia adalah sosok yang sangat disegani di wilayah Klender, Bekasi, dan sekitarnya. Selain dikenal sebagai mubaligh, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Begitu sekutu mendarat, ia memutuskan untuk turut angkat senjata mempertahankan kemerdekaan. Dengan prinsip “mencintai Tanah Air merupakan bagian dari iman”, ia membakar semangat ratusan pemuda dari Klender dan sekitarnya. Namanya yang sudah dikenal membuatnya dalam waktu singkat mengumpulkan banyak pengikut.

Mereka lalu menghimpun diri dalam Bara (Barisan Rakyat) dipimpin Haji Darip sendiri. Mereka terlibat dalam pertempuran di beberapa front di kota Jakarta. Haji Darip sendiri saat itu dijuluki “Panglima Perang dari Klender”.Sebuah brosur dari Angkatan 45 Daerah Khusus Ibukota tanggal 17 Agustus 1985 — empat tahun setelah Haji Darip meninggal dunia — menyebutkan, almarhum pada zaman penjajahan Belanda (sebelum perang dunia kedua), berjuang bersama Bung Karno bergerak di bawah tanah, terutama di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ketika pendudukan Jepang, menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon ini, Haji Darip memimpin masyarakat di Klender dan menghimpun para narapidana dan napi Rutan Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Untuk menghimpun cerita tentang Haji Darip, Republika mendatangi kediaman H Uung, putra tertuanya. Keluarga ini tampak sangat bersahaya. Rumahnya berdekatan dengan stasiun kereta api Klender, setelah melewati Jl Pisangan Lama, Jakarta Timur. Menurut H Uung, ayahnya benar-benar berjuang lillahi ta’ala, sama seperti para ulama Betawi lainnya yang turut terlibat dalam perang kemerdekaan. Begitu tawaduknya, mereka tak mau menonjolkan diri usai perang dan namanya hilang dalam catatan sejarah. Semangatnya yang tidak pernah henti untuk mengusir penjajah, didasarkan pada ajaran agama bahwa penjajahan yang mengeksploitasi manusia tidak dibenarkan dalam Islam.

Sebelum menjadi ulama di Jakarta, Haji Darip selama bertahun-tahun menjadi mukimin di Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Selama di sana, dia banyak bergaul dengan tokoh-tokoh Islam dari berbagai negara. Inilah yang mengilhaminya untuk turut terlibat dalam pergerakan kemerdekaan sekembalinya ke Tanah Air. Ia mengawali perjuangan dengan berdakwah di sebuah musala kecil — kini berubah menjadi Masjid Al-Makmur yang cukup megah — di Klender. Di sini bergabung juga sejumlah ulama dari Klender yang juga pejuang seperti KH Mursidi dan KH Hasbiallah.

Ketika Jakarta dikuasai serdadu NICA Belanda yang mendompleng tentara sekutu, Haji Darip dan kawan-kawannya itu hijrah ke pedalaman Cikarang – Karawang – Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia). Dari tempat persembunyiannya, dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler — ia bermarkas di Purwakarta dan menyususn strategi melawan NICA. Tahun 1948, setelah selama tiga tahun tidak henti-hentinya melawan pasukan Belanda, ia pun tertangkap. Kemudian dibawa ke Jakarta dan dipenjara di rumah tahanan Glodok (kini merupakan bagian dari pertokoan Harco). Lebih dari setahun ia mendekam di penjara Glodok, sebelum akhirnya dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan akhir Desember 1949.

Sewaktu dia masih memimpin pergerakan dari Klender, banyak para pemimpin yang datang kekediamannya, seperti Sukarni dan Pandu Kartawiguna. Kedua tokoh Partai Murba menjelang 17 Agustus 1945 menyatakan kepadanya bahwa sebentar lagi Indonesia akan merdeka, dan mereka membicarakan pengusiran orang Jepang. Sejumlah tokoh masyarakat mengetahui bahwa Jepang sudah menyerah setelah di bom sekutu pada 6 Agustus 1945. “Kemudian saya panggil buaye-buaye sini. Dari mana-mana dari hutan-hutan juga (60 tahun lalu Klender masih merupakan perkampungan dan perkebunan-Red), Mereka datang atas panggilan saya. Saya bicarakan soal pengusiran orang-orng Jepang,” ujar Haji Darif seperti dikutip sebuah harian yang terbit tahun 1950.

Konon, isu-isu saat itu menyatakan bahwa Haji Darif orang kebal, tidak mempan dibacok. Setelah mengumpulkan warga Klender dan sekitarnya menjelang proklamasi, mereka diperintah untuk mengusir orang Jepang yang ada di Pangkalan Jati, Pondok Gede, dan Cipinang Cempedak. Menurut sumber di Angkatan 45 Daerah Khusus Ibukota Jakarta, sepeninggal pejuang yang tidak mengenal pamrih itu, pensiunan dan tunjangannya dicabut. Sedangkan rumahnya terkena proyek pelebaran jalan dan tergusur. Hanya makamnya saja yang kini tersisa di dekat bekas kediamannya.

Daerah Timur Betawi memang sengaja dikonsentrasikan sebagai basis perlawanan APRI dan Laskar Rakyat oleh pemerintah Republiken, Laskar Betawi yang dari tengah, seperti Laskar Menteng, Sawah Besar pimpinan Derahman De’os diungsikan kesana. Banyak peristiwa-peristiwa besar sering terjadi di daerah ini. Sebut saja peristiwa penghadangan tentara Belanda yang baru tiba di pelabuhan Cirebon oleh laskar Singa Krawang Bekasi, yang memiliki maenpukulan Belut Putih KH Nur Ali, kemudian peristiwa perebutan senjata di Pangkalan Jati oleh Madarip/H.Darip/HM. Arif (beliau masih berpangkat Kapten), lalu penyerbuan oleh Laskar Rakyat yang sebagian besar Jawara Cimande di Jl. Sudirman, Bogor dipimpin oleh H. Nalih…dsb

Daerah Timur Betawi memang banyak menghasilkan Pejuang yang basic nya adalah Jawara, karena berlatar belakang jago-jago maenpukulan Betawi, tidak aneh jika memiliki temperamen yang keras, Struggle Fighting yang tinggi, tidak kenal kompromi….membuat penjajah pada waktu itu berusaha keras untuk memutar otak, kepala jadi kaki-kaki jadi kepala, sungsang sumbel mengatur strategi untuk mengahadapi pejuang-pejuang Betawi di sektor Timur.

Hal seperti ini menimbulkan efek  dari para pejuang yang bertemperamen jawara yang sulit diatur oleh komandan, terkadang membuat buntu konsolidasi di front perjuangan. Akhirnya mereka cenderung unruk berimprovisasi sendiri-sendiri. Konon menurut sumber lisan, telah terjadi kesalah pahaman ketika ingin membebaskan M.Darip oleh beberapa pasukan Baarisan pelopor dari Laskar Betawi, hingga sempat bersambut pukulan.

Sumber : disini

Kijang 1992 Boros Bensin

Tanya: Saya pengguna Toyota Kijang tahun 1992 dan yang menjadi keluhan saya adalah bensin yang sangat boros. Perlu saya sampaikan bahwa keadaan mesin halus (tidak ngebul). Dua kali saya minta pada montir, dengan melepas selang bensin dan botol 1 liter bensin sambil menghidupkan AC, kami coba ternyata 1 liter hanya bisa kl 7,2 km, turun naik dijalan sepi. Setiap hari mobil digunakan isteri dengan mengisi Rp 100.000 (22 liter). Namun setiap 130 km harus tambah lagi jadi 1 liter hanya 5.9 km.

Saya beli mobil itu bekas, seandainya sudah over side dan kalau dibuat standar kembali apakah bisa irit. Berapakah normalnya pemakaian Kijang 1500 cc. Lalu apakah ada penyebab lain sehingga mobil menjadi lebih boros. Saya mohon solusi bisa bapak bahas selengkap- lengkapnya dan terima kasi atas perhatiannya. Sri Indarto, Pondok Bukit Agung Blok O-11 Semarang.

Jawab: Terima kasih suratnya Pak Sri. Saya bisa membayangkan repornya menggunakan mobil yang hanya bisa jalan 5,9 km setiap liter bensin. Mestinya bisa 1 liter untuk 10 km.
Walaupun bukan satu- satunya cara, namun saya sarankan coba mengemudi dengan cara lain. Seperti meninjak pedal gas sedikit saja. Pertahankan RPM mesin selalu berada dibawa 3000. Memang penyebab boros biasanya dari mesin tapi cara mengemudi juga besar perannya.
Selanjutnya soal mesin, coba perhatikan, apakah di ujung knalpot ada jelaga hitam. Kalau hitam penyebabnya mesin tidak sehat. Ptunjuk lain bau bensin dan asapnya membuat mata perih. Sebaliknya mesin yang kodisi bagus ujung knalpot bagian dalam berwarna abu- abu.
Selanjutnya cek tekanan kompresinya. Tekanan kompresi tidak boleh dibawa 9 kg/cm2. Memang lebih baik mesin itu standar namun sebelum membongkar mesin harus konsultasi dulu dengan pihak bengkel.

Dalam banyak hal borosnya bensin berhubungan dengan kondisi karburator. Ada saluran udara dan bensin yang sudah tersumbat atau mengecil, maka harus di OH. Di dalam karburator ada beberapa spuyer. Di ruang pelampung ada 2 spuyer. Kalau diiganti lebih kecil juga bisa membuat mesin lebuh irit, hanya akibatnya tenaga mesin menjadi kurang. Melihat kondisi mesin sangat boros maka perlu segera diperiksa teliti.

Dalam banyak kesempatan saya menyarankan mengganti karburator baru, karena jauh lebih ekonomis dan mesin menjadi lebih enak. Memang sekali keluar uang dalam jumlah yang besar, namun mengganti karburator baru, bisa menjadi lebih ekonomis. Kalau dihitung, setiap bulan menghabiskan bensin Rp 1000.000. dan setelah karburator baru bisa irit 30 % maka setiap bulan bisa hemat Rp 300.000. Dalam waktu beberapa bulan harga karburator sudah kembali. Sebelum mengganti karburator, perlu lebih dahulu tune up mesin, ganti saringan udara, busi, platina dan kondensor. Kalau hasil tidak ada baru ganti karburator. Terakhir coba jalankan mobil di turunan, injak rem dan lalu biarkan mobil glundung. Kalau glundung artinya remnya tidak macet, bila remnya macet bisa membuat booros bensin.

Suara Merdeka Desember 2006

Inka Maris tentang UU Pornografi

Republika, 3 November 2008

Segelintir orang pintar telah menebar kebohongan
tentang RUU Pornografi beberapa waktu lalu yang
merupakan hasil godokan Tim 4, yaitu Depkumham, Depag,
Menteri Pemberdayaan Perempuan, dan Depkominfo, selain
Panja DPR. Intisari RUUP dapat dibaca dari empat pasal
saja.

Pasal 1, 4, 11, dan 12 gamblang menjelaskan tujuannya
adalah 1) menghambat penyebaran pornografi yang mesum
dan cabul (indecent dan obscene sexually arousing
material) dan 2) melindungi anak-anak (di bawah 18
tahun sesuai konvensi nasional) dari akses terhadap
pornografi dan melindungi anak-anak dari dijadikan
objek seks, 3) larangan pornografi disebarluaskan
melalui berbagai media yang memuat persenggamaan,
ketelanjangan, dan kesan ketelanjangan, persenggamaan
dengan penyimpangan, kekerasan seksual, dan onani, 4)
yang dikriminalkan adalah produsen, pengedar dan
pelaku/model pornografi laki dan perempuan yang
melakukan tanpa dipaksa.

Silakan periksa, tidak satu pun dari 44 pasal RUUP
yang mengancam atau berimplikasi mengancam
keanekaragaman bangsa Indonesia atau mengancam
pluralisme, atau mengkriminalkan tubuh perempuan, atau
mengancam agama, atau mengancam seniman. Jika ada yang
mengatakan demikian dan kita percaya, maka segelintir
orang telah berhasil mengelabui kita.

Mungkin karena mereka tidak menyadari bahwa penjara
anak-anak kita sudah dipenuhi oleh pelaku kejahatan
seks (80 persen menurut Komisi Perlindungan Anak
Indonesia) sebagian besar setelah melihat pornografi
melalui komik, VCD, dan lain-lain yang serbamudah dan
meriah. Mungkin juga mereka tidak peduli perkosaan
anak oleh anak terjadi dari di banyak kota dari Jambi
sampai ke Kupang.

Mungkin mereka tidak peduli bahwa 600 film
persenggamaan buatan remaja dan mahasiswa di tahun
2007 gentayangan di internet, sementara tayangan
kegiatan seks remaja ditebar melalui HP lebih banyak
lagi (menurut survei Jangan Bugil Depan Kamera), 2.000
responden usia 8-12 tahun di Jabodetabek semua telah
menonton pornografi (menurut survei 2007 Yayasan Buah
Hati). Bukankah isi suatu pemborosan sumber daya
manusia dan sumber daya ekonomi Indonesia?

Hebatnya lagi penyebar pornografi anak secara global
pelakunya antara lain di Indonesia seperti diberitakan
oleh CNN dan BBC ketika terbongkar situs pornografi
anak berbasis Texas di tahun 2002.

Penyebaran pornografi sangat sulit dibendung, seperti
halnya penyebaran narkoba ilegal, apalagi tanpa
undang-undang yang jelas. Semua produk hukum yang ada
sekarang tidak mengandung kata pornografi, yang ada
pengaturan kesopanan dan kesusilaan yang parameternya
lebih tidak jelas dibanding dengan definisi pornografi
dalam RUUP.

Dengan disahkannya RUUP maka Indonesia akan lebih
mendekati standar internasional sebagaimana yang
disarankan oleh ECPAT (End Child Prostitution, Child
Pornography and the Trafficking of Children for Sexual
Purpose). Indonesia seharusnya menyelaraskan hukumnya
dengan definisi internasional mengenai pornografi
anak. Sangat penting bahwa di dalam RUUP tercantum
klausul-klausul mengenai pornografi anak yang
melindungi anak-anak dari kejahatan pornografi secara
efektif (Global Monitoring Report 2006).

Inke Maris MA
Secretary General The Save Indonesian Children
Alliance (Aliansi Selamatkan Anak Indonesia)

Kakek dan Bra

Merayakan ulang tahun perkawinan ke 50-nya, seorang kakek bermaksud
membeli hadiah buat si nenek. Berangkatlah si kakek naik bis sambil
berpikir, “beli apa ya?”

Di sebelah kebetulan duduk seorang gadis
yang tengah membaca majalah yang di sampulnya ada iklan bra. Si
kakek dapat ide untuk memberi hadiah bra buat nenek. Sampai di toko
lingerie, kakek tampak kaget dengan begitu banyak pakaian dalam
bergantungan.

“beli apa, kek?” kata penjaga toko kaget karena ada
kakek-kakek ke tokonya. “Mau beli BH buat nenek.” Si penjaga toko
bertanya, “Ukurannya berapa?” Si kakek terlihat bingung, “Nah itu…
masalahnya kakek lupa nomornya dan nggak bawa contoh..” Si penjaga
toko mencoba cari ukuran, “Mungkin sebesar jeruk bali, kek?”

Si kakek masih terlihat bingung, “Wah, kegedean.” Si penjaga toko iseng
bertanya, “jeruk Garut! , kali ya?” Kakek berpikir
sejenak, “Kayaknya masih kegedean.”

Penjaga toko bingung, tapi tak hilang akal, “oh ya, mungkin sebesar telur bebek?” Si kakek tampak
bersemangat karena tebakan penjaga toko itu tepat, “Ha, betul!”
Matanya berbinar, “Tapi, yang didadar.”

Kecerdikan Orang Indonesia

Seorang warga Indonesia berjalan memasuki sebuah Bank di New York untuk mengajukan pinjaman. Dia menghampiri petugas bagian pinjaman, mengatakan bahwa dia harus pergi ke Jakarta untuk urusan bisnis selama dua minggu, dan memerlukan pinjaman dana sebesar $5.000.

Petugas bank menanggapi, bahwa pihak bank akan memerlukan jaminan untuk pinjaman yang diajukan. Sang pria menyanggupi persyaratan yang diajukan oleh bank dengan memberikan kunci mobil dan dokumen untuk sebuah Ferrari Modena yang terparkir di depan bank. Dia memenuhi semua persyaratan, menunggu proses pengecekan dengan sabar, dan petugas bank menyetujui untuk memberikan pinjaman sesuai dengan jumlah yang diajukan.

Setelah sang pria Indonesia meninggalkan bank, Pihak manajemen bank dan pegawainya mentertawakan pria tersebut karena mempergunakan sebuah mobil Ferrari seharga $250,000 sebagai jaminan untuk meminjam uang sebesar $ 5,000.. Lantas pegawai bank memarkir mobil mewah itu di area parkir bawah tanah bank tersebut.

Selang 2 minggu kemudian, sang lelaki kembali dari Jakarta dan datang ke bank, mengembalikan pinjaman dana sebesar $ 5,000 beserta bunganya sebesar $15.41.

Sang pegawai bank mengatakan:
“Mister Sastro, kami sangat gembira bisa melayani dan berbisnis dengan anda dengan lancar. Akan tetapi ada sesuatu yang amat membuat kami bertanya-tanya. Saat anda bepergian ke Jakarta , kami melihat kembali rekening anda di bank kami, dan menjumpai bahwa anda memiliki dana jutaan dollar di rekening anda. Akan tetapi, kenapa anda masih memerlukan pinjaman untuk dana sebesar $ 5,000?

Pak Sastro menjawab:
“Dimana lagi di kota New York saya bisa memarkir mobil saya selama 2 minggu dengan hanya membayar $ 15.41 dan mengharapkan mobil saya tidak dicuri saat saya kembali??”

Petugas bank: …??##@

Ah…biasa.. Orang Indonesia …

Berbanggalah menjadi bangsa yang cemerlang… !! MERDEKA!!