Astigmatisma

Pendahuluan

Dewasa ini banyak sekali ditemukan berbagai macam kelainan yang terjadi pada indra penglihatan kita yaitu mata. Hal ini disebabkan oleh tingkat kehidupan saat ini telah jauh berbeda dengan tempo dulu.Kebiasaan seperti terlalu banyak menghabiskan waktu di depan TV atau komputer menyebabkan efek yang kurang baik  pada mata kita. Apalagi hal ini juga dipicu oleh jenis-jenis makanan yang kita konsumsi setiap harinya yang notabene banyak makanan yang serba instan yang tentunya tidak terjamin 100% sehat. Sehingga hal ini menyebabkan gangguan kesehatan,seperti timbulnya kecacatan pada mata. Salah satu jenis kacacatan mata adalah astigmatisma.

Tapi sebelum membahas mengenai astigmatisma,baiknya kita mulai dengan membahas tentang  ametropia. Ametropia terjadi jika sinar cahaya paralel dari objek jauh jatuh tidak pada fokus di retina dengan mata dalam keadaan istirahat (tidak sedang  berakomodasi). Lawan dari keadaan ametropia adalah emetropia, orang dengan mata emetrop dapat melihat jarak jauh dengan jelas tanpa berakomodasi  (1)

Ametropia dapat terbagi menjadi 3,yaitu: 1.Miopia (penglihatan dekat) yaitu kekuatan optik mata terlalu tinggi (biasanya karena bola mata yang panjang) dan sinar cahaya paralel jatuh pada fokus di depan retina. 2.Hipermetropia (penglihatan jauh) yaitu kekuatan optik mata terlalu rendah (biasanya karena mata terlalu pendek) dan sinar cahaya paralel mengalami konvergensi pada titik di belakang retina. 3. Astigmatisma yaitu kekuatan optik kornea di bidang yang berbeda tidak sama. Sinar cahaya paralel yang melewati bidang yang berbeda ini jatuh ke titik fokus yang berbeda. (1)

Setelah kita mengetahui  sekilas tentang ametropia,mari kita mulai membahas mengenai salah satu bagian dari ametropia,yaitu astigmatisma. Sebenarnya apa itu astigmatisma?

Definisi

Mata astigmat atau mata silindris adalah suatu keadaan dimana  sinar yang masuk ke dalam mata tidak terpusat pada satu titik saja tetapi sinar tersebut tersebar menjadi sebuah garis.(2) Astigmatisma merupakan kelainan pembiasan mata yang menyebabkan bayangan penglihatan pada satu bidang fokus pada jarak yang berbeda dari bidang sudut.(3) Pada astigmatisma berkas sinar tidak difokuskan ke retina di  dua  garis titik api yang saling tegak lurus. (2)

Etiologi

Astigmatisma terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea.Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang di dalam perkembangannya terjadi keadaan apa yang disebut astigmatisme  with the rule (astigmat lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang vertikal bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang horizontal. (2)

Astigmatisma juga sering disebabkan oleh adanya selaput bening yang tidak teratur dan lengkung kornea yang terlalu besar pada salah satu bidangnya. Permukaan lensa yang berbentuk bulat telur pada sisi datangnya cahaya, merupakan contoh dari lensa astigmatis.  Derajat kelengkungan bidang yang melalui sumbu panjang telur tidak sama dengan derajat kelengkungan pada bidang yang melalui sumbu pendek. Karena lengkung lensa astigmatis pada suatu bidang lebih kecil daripada lengkung pada bidang yang lain, cahaya yang mengenai bagian perifer lensa pada suatu sisi tidak dibelokkan sama kuatnya dengan cahaya yang mengenai bagian perifer pada bidang yang lain. (3)

Selain itu daya akomodasi mata tidak dapat mengkompensasi kelainan astigmatisma karena pada akomodasi, lengkung lensa mata tidak berubah sama kuatnya di semua bidang. Dengan kata lain, kedua bidang memerlukan koreksi derajat  akomodasi yang berbeda, sehingga tidak dapat dikoreksi pada saat bersamaan tanpa dibantu kacamata. (3) Adapaun bentuk-bentuk astigmat adalah sebagai berikut: 1.Astigmat Reguler yaitu astigmat yang memperlihatkan kekuatan  pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu meridian meridian berikutnya. (2)

Cara mengatasi astigmat regular : memberikan kacamata silinder dengan ukuran yang akan mengimbangi atau berlawanan dengan kelengkungan selaput beningan yang mengakibatkan silinder. (3)

Astigmat ireguler : astigmat yang terjadi tidak mempunyai dua meridian yang  saling tegak lurus. Astigmat ireguler dapat terjadi akibat kelengkungan kornea pada meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi ireguler. Astigmatisma ireguler terjadi akibat infeksi kornea,trauma dan distrofi atau akibat selaput bening. (2)

Cara mengatasi astigmat ireguler: dengan menggunakan lensa kontak sehingga sinar akan dapat dibiaskan pada permukaan lensa kontak dan masuk ke dalam bola mata dengan teratur.Kadang-kadang perlu dilakukan pencangkokan selaput bening atau keratoplasti untuk menghilangkan jaringan parut yang mengganggu penglihatan. (3)

Terapi

Astigmat bisa diperiksa dengan cara pengaburan (fogging technique of refraction) yang menggunakan kartu snellen, bingkai percobaan, sebuah set lensa coba, dan kipas astigmat. Pemeriksaan astigmat ini menggunakan teknik sebagai berikut yaitu:

  1. Pasien duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter,
  2. Pada mata dipasang bingkai percobaan,
  3. Satu mata ditutup,
  4. Dengan mata yang terbuka pada pasien dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan dengan lensa (+) atau (-) sampai tercapai ketajaman penglihatan terbaik,
  5. Pada mata tersebut dipasang lensa (+) yang cukup besar (misal S + 3.00) untuk membuat pasien mempunyai kelainan refreksi astigmat miopikus,
  6. Pasien diminta melihat kartu kipas astigmat,
  7. Pasien ditanya tentang garis pada kipas yang paling jelas terlihat,
  8. Bila belum terlihat perbedaan tebal garis kipas astigmat maka lensa S( + 3.00)  diperlemah sedikit demi sedikit hingga pasien dapat menentukan garis mana yang terjelas dan terkabur,
  9. Lensa silinder (-) diperkuat sedikit demi sedikit dengan sumbu tersebut hingga tampak garis yang tadi mula-mula terkabur menjadi sama jelasnya dengan garis yang terjelas sebelumnya,
  10. Bila sudah dapat melihat garis-garis pada kipas astigmat dengan jelas,lakukan tes dengan kartu Snellen,
  11. Bila penglihatan belum 6/6 sesuai kartu Snellen, maka mungkin lensa (+) yang diberikan terlalu berat,sehingga perlu mengurangi lensa (+) atau menambah lensa (-),
  12. Pasien diminta membaca kartu Snellen pada saat lensa (-) ditambah perlahan-lahan hingga ketajaman penglihatan menjadi 6/6. (3)

Sedangkan nilainya : Derajat astigmat sama dengan ukuran lensa silinder (-) yang dipakai sehingga gambar kipas astigmat tampak sama jelas. (3)

Sedangkan untuk mengoreksi astigmat dapat dilakukan dengan “trial and error”  untuk menemukan lensa sferis yang cocok untuk mengoreksi pembiasan pada salah satu bidang. Setelah itu lensa silindris tambahan digunakan untuk mengoreksi kelainan pada bidang yang lain. Untuk hal terakhir ini, sumbu dan kekuatan lensa silindris yang diperlukan harus ditetapkan. Ada beberapa cara untuk menentukan sumbu dari bidang yang abnormal pada sistem lensa mata.

Salah satu cara adalah dengan menggunakan alat yang bergambar garis-garis hitam paralel secara vertikal maupun horizontal (kartu Snellen yang telah dijelaskan di atas). Setelah mencoba mengoreksi  dengan berbagai lensa sferis, diperoleh lensa yang sesuai sehingga salah satu garis menjadi jelas terlihat oleh mata yang astigmat, tetapi garis yang tegak lurus terhadap garis yang terlihat tegas ini malah menjadi kabur. (4)

Dari prinsip-prinsip fisika optik dapat terlihat bahwa sumbu bidang silindris mata yang tidak terfokus adalah sejajar  lensa silindris (+) atau (-) yang kekuatannya sesuai, dan kemudian diletakkan pada sumbu lensa ini sejajar dengan garis yang tidak terfokus,sampai semua garis sama jelasnya. Setelah ini tercapai, pemeriksa meminta ahli optik untuk membuat lensa khusus yang mengalami koreksi sferis disertai koreksi silindris pada sumbu yang tepat. (4 )

Daftar pustaka
1. James,Bruce., Chew, Chris., Brown, Anthony., 2003. Lecture Notes    Oftalmologi. Edisi kesembilan. Jakarta: Erlangga.hal 34-36.
2. Ilyas,Sidarta. 2006. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Cetakan ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.hal 81-83.
3. Ilyas Sidarta. 2003. Dasar-Dasar Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Edisi kedua.Cetakan pertama.Jakarta: Balai Penerbit FKUI.hal 34-39.
4. Hall,N Guyton . 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.hal 786-790.

Sumber : www.fkuii.org

 

3 Tanggapan

  1. thank’s infonya🙂

  2. Wah lengkap bgt nih infonya. Seiring berkembangnya tekhnologi, keluhan astigmatisma memang ga terhindarkan.

  3. apakah wajar jika anak dengan usia 5-7 tahun menderita astigmatisma yang tinggi? apakah ada resiko yang diketahui berkaitan dengan operasi Lasik terhadap anak penderita astigmatisma?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: