Di Mata Upik Ayah Lebih Asyik

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa anak perempuan cenderung lebih dekat dengan sang ayah. Normalkah ini?

Pada awalnya anak membentuk sistem relasi 2 orang (two person system), antara anak dengan ibu atau anak dengan ayah. Relasi ini lebih berfokus pada keinginan untuk selalu bersama, keinginan untuk selalu dilayani.

Anak belum memahami intrik, persaingan dalam berhubungan dengan orang tua. Ketika anak ingin berdekatan dengan ibu maka ia akan mendorong pergi ayahnya. Hal ini bukan karena  papa dianggap saingan, tapi lebih karena “saat ini aku mau sama mama, tidak sama papa”. Sebaliknya, ketika anak ingin dekat ayah, ia mungkin akan menolak ajakan dan rayuan ibu untuk menggendongnya.

Pada usia 30-48 bulan anak mulai membentuk sistem relasi segi tiga antara anak dengan kedua orang tuanya (triangular relationship-three person system). Anak mulai memperhatikan hubungan antara dirinya sendiri, ayah, dan ibunya. Pada saat ini,jika anak membutuhkan ibunya, maka ayah dianggap rivalnya dalam meraih perhatian ibu. Demikian juga sebaliknya.

Pada saat memasuki tahap sistem relasi segi tiga ini, perbedaan sikap ayah terhadap anak perempuan dan anak laki-laki akan sangat mempengaruhi bekerjanya sistem ini. Ayah biasanya jauh lebih lembut dalam bersikap dan bertutur kata dengan anak perempuannya. Ayah juga banyak mengalah pada tuntutan anak perempuannya. Sebaliknya, dengan anak laki-laki biasanya jauh lebih ‘kasar dan keras’.

Ibu terlalu banyak aturan

Biasanya aturan yang diterapkan ibu jauh lebih banyak dari ayah.  Figur ibu menjadi sosok yang tidak menyenangkan, penuh peraturan dan terkadang menimbulkan rasa segan. J

Sesekali ayah juga dengan gampang mengalah atau memberikan bantuan-bantuan kecil. Ayah merupakan orang yang mengasyikkan untuk ‘melawan’ segala aturan ibu.  Ayah sering dianggap figur yang menyenangkan dan penuh kehangatan bagi anak perempuannnya. Oleh karena itu,  kedekatan anak perempuan dan ayahnya akan menjadi lebih intens pada akhirnya. Sebaliknya kedekatan dengan ibu  semakin berkurang.

Apakah tidak menimbulkan masalah ?

Anak dekat dengan siapapun sebenarnya tidak masalah, namun yang penting ayah dan ibu sebaiknya bersikap konsisten dalam menerapkan disiplin. Bila tidak, akan membuat salah satu pihak menjadi pribadi yang ‘tidak menyenangkan’ bagi anak.

Jadi, tidak ada lagi istilah anak mama atau anak papa. Upik anak mama papa bukan?

Referensi:
Greenspan S, M.D.;  Greenspand N Thorndike ,First Feelings, 1999.

Sumber : www.anakku.net

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: