Melestarikan Budaya Lewat Tenun Pandai Sikek

Liputan6.com, Padang: Hampir di semua wilayah bisa ditemui kerajinan tenun yang sudah turun temurun dengan ciri khas masing-masing. Begitu pula di kawasan Pandai Sikek, Padangpanjang, Sumatra Barat. Dengan 350 ragam motif dan kualitas bahan yang digunakan, tenun songket Pandai Sikek harganya mencapai jutaan rupiah.

Umumnya, songket Pandai Sikek adalah usaha turun temurun. Erma Yunita, misalnya. Dia meneruskan usaha warisan ibu. “Dari tujuh atau delapan tahun khusus perempuan sudah mulai belajar membuat songket ini,” kata Erma menggambarkan menenun menjadi tuntutan yang harus dimiliki kaum perempuan di wilayah itu.

Berbagai cara dilakukan mempromosikan tenun songketnya, mulai agen travel, hotel, dan dari mulut ke mulut. Hasilnya, tenun songket karya Erma banyak diminati wisatawan baik domestik maupun mancanegara. “Kalau Mei-Juni tamu banyak dari Malaysia dan Singapura. Tapi Juli-Agustus irang Indonesia seperti Jakarta, Medan. Turis Eropa Maret-April,” kata dia.

Tantangan usaha ini bukan hanya melestarikan budaya tapi lebih pada agar kerajinan tetap menjadi milik bangsa. Sebab di balik kemasyhuran tenun Pandai Sikek, muncul kekhawatiran kerajinan ini dikuasai negara lain. “Tidak usah takut lah mereka juga tidak akan bisa meniru,” kata Istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla.(YNI/Julianus Kriswantoro)

Hj Erma Yulinita
Desa Pandai Sikek, Kecamatan Sepuluh Koto,
Kabupaten Tanah Datar,
Sumatera Barat
0811.666.179
(0752) 498191, 498327

Sumber : www.liputan6.com

Penyesalan

Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda,sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.

Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci !

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Kitab Suci yang bersampulkan kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh… Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku ? ” Lalu dia membanting Kitab Suci itu dan lari meninggalkan ayahnya.

Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.

Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Kitab Suci itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu.

Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Kitab Suci itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Kitab Suci itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan Tuhan Maha Kaya dari segala apa yang ada di dunia ini

Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Kitab Suci itu. Dia memungutnya,…. sebuah kunci mobil ! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati……..

Apel Tree Story

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Hikmahnya :

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Hati Hati!! Rahasia Anda Bisa Diketahui PLN!!!

Satu pasangan muda sangat bersuka cita demi mengetahui sang isteri hamil muda.
Namun sebelum mendapat kepastian dari dokter, mereka sepakat untuk merahasiakan kehamilan tersebut.

Isteri: “Pa, nggak usah diomongin dulu ya…takut gagal, ‘kan nggak enak kalau sudah di-omong2in”

Suami: “Oke deh ma, janji nggak bakalan diomongin sebelum ada konfirmasi dokter”

Tiba2 datang karyawan PLN ke rumah mereka untuk menyerahkan tagihan dan denda atas tunggakan rekening listrik mereka bulan yang lalu.

Tukang Rekening PLN: “Nyonya terlambat 1 bulan.”

Isteri: “Bapak tahu dari mana…? Papa… Tolong nih icara sama orang PLN ini…!”

Suami: “Eh, sembarangan… bagaimana anda bisa tahu masalah ini?”

Tukang Rekening PLN: “Semua tercatat di kantor kami, Pak.”

Suami (tambah sengit): “Oke, besok saja saya ke kantor Bapak untuk menyelesaikan masalah ini!”

== Besokannya… ==

Suami: “Bagaimana PLN tahu rahasia keluarga saya?”

Karyawan PLN: “Ya tahu dong, lha wong ada catatannya pada kami!”

Suami: “Jadi saya mesti bagaimana agar berita ini dirahasiakan, Pak?”

Karyawan PLN: “Ya mesti bayar dong Pak!”

Suami (sialan gue diperes nih!) : “Kalau saya tidak mau bayar,bagaimana?”

Karyawan PLN: “Ya punya Bapak terpaksa kami putus…”

Suami: “Maknya di kupyak…? Lha, kalo diputus…nanti isteri saya bagaimana…?”

Karyawan PLN: “Kan masih bisa pakai lilin.”

Suami: “@?#!!*&%$????”

Perang Vietnam

Perang Vietnam, juga disebut Perang Indochina Kedua, adalah sebuah perang yang terjadi antara 1957 dan 1975 di Vietnam. Perang ini merupakan bagian dari Perang Dingin.

Dua kubu yang saling berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam Selatan, sedangkan USSR dan Tiongkok mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara komunis.

Jumlah korban yang meninggal diperkirakan adalah 280.000 di pihak Selatan dan 1.000.000 di pihak Utara.

Perang ini mengakibatkan eksodus besar-besaran warga Vietnam ke negara lain, terutamanya Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Barat lainnya, sehingga di negara-negara tersebut bisa ditemukan komunitas Vietnam yang cukup besar.

Setalah berakhirnya perang ini, kedua Vietnam tersebut pun bersatu pada tahun 1976.

Salah satu korban paling terkenal dari Perang Vietnam adalah Kim Phuc

Latar belakang

Vietnam dijajah oleh Tiongkok sejak tahun 110 SM sampai mencapai kemerdekaan pada tahun 938. Setelah bebas dari belenggu penjajahan Tiongkok, Vietnam tidak berhenti menentang serangan pihak asing.

Pada abad ke-19, Vietnam menjadi wilayah jajahan Perancis. Perancis menguasai Vietnam setelah melakukan beberapa perang kolonial di Indochina mulai dari tahun 1840-an. Ekspansi kekuasaan Perancis disebabkan keinginan untuk menyaingi kebangkitan Britania Raya dan kebutuhan untuk mendapatkan hasil bumi seperti rempah-rempah untuk menggerakkan industri di Perancis untuk menyaingi penguasaan industri Britania Raya.

Semasa pemerintahan Perancis, golongan rakyat Vietnam dibakar semangat nasionalisme dan ingin kemerdekaan dari Perancis. Beberapa pemberontakan dilakukan oleh banyak kelompok-kelompok nasionalis, tetapi usaha mereka gagal. Pada tahun 1919, semasa Perjanjian Versailles dirundingkan, Ho Chi Minh meminta untuk bersama-sama membuat perundingan agar Vietnam dapat merdeka. Permintaannya ditolak dan Vietnam dan seluruh Indochina terus menjadi jajahan Perancis.

Kelompok Viet Minh akhirnya mendapat dukungan populer dan berhasil mengusir Perancis dari Vietnam. Selama Perang Dunia II, Vietnam dikuasai oleh Jepang. Pemerintah Perancis Vichy bekerjasama dengan Jepang yang mengantar tentara ke Indochina sebagai pasukan yang berkuasa secara de facto di kawasan tersebut. Pemerintah Perancis Vichy tetap menjalankan pemerintahan seperti biasa sampai tahun 1944 ketika Perancis Vichy jatuh setelah tentara sekutu menaklukan Perancis dan jendral Charles de Gaulle diangkat sebagai pemimpin Perancis.

Setelah pemerintah Perancis Vichy tumbang, pemerintah Jepang menggalakkan kebangkitan pergerakan nasionalis di kalangan rakyat Vietnam. Pada akhir Perang Dunia II, Vietnam diberikan kemerdekaan oleh pihak Jepang. Ho Chí Minh kembali ke Vietnam untuk membebaskan negaranya agar tidak dijajah oleh kekuasaan asing. Ia menerima bantuan kelompok OSS (yang akan berubah menjadi CIA nantinya).

Pada akhir Perang Dunia II, pergerakan Viet Minh di bawah pimpinan Ho Chí Minh berhasil membebaskan Vietnam dari tangan penjajah, tetapi keberhasilan itu hanya untuk masa yang singkat saja. Pihak Jepang menangkap pemerintah Perancis dan memberikan Vietnam satu bentuk “kemerdekaan” sebagai sebagian dari rancangan Jepang untuk “membebaskan” bumi Asia dari penjajahan barat. Banyak bangunan diserahkan kepada kelompok-kelompok nasionalis.

Sumber : http://id.wikipedia.org

Intai Cam di Yahoomesgr Dengan Yintai

Dulu sering saya penasran dengan lawan chat, apa dia ce or co. Sedangkan dia pasang web cam tetapi kita tidak diberi ijin untuk melihatnya. Namun sekarang saya sudah tidak pusing dan emosi lagi.

Sebab sudah ada beberapa aplication freeware yang bisa melihat web cam di yahoo mesenger tanpa harus meminta izin si pemilik web cam. Diantaranya yang sudah tak asing lagi bagi sebagian pengguna yahoo mesenger terutama bagi mereka yang sering mencari kenalan-kenalan di dunia maya.

Tujuna mereka bermacam macam, ada yang sekedar mencari temen buat ngisi waktu luang sampai ada buat mencari pasangan hidup. Sekarang saya bisa melihat lawan chat dengan freeware yang tersedia di www.darkyahoo.com. Disitu kita bisa mendownload tools untuk yahoo mesenger.
selamat berchating ria

Sejarah Pemberontakan di Indonesia

Kesenjangan Pusat dan Daerah

BERBAGAI pergolakan atau pemberontakan yang terjadi di negara Republik Indonesia pada umumnya terjadi karena ketidakpuasan pada pemerintah pusat. Ada kesenjangan antara pusat dan daerah yang cukup mencolok.

Pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) misalnya. Semula, gerakan itu tidak tampak berniat ingin menghancurkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tetapi, pemberontakan itu akhirnya dikenal sebagai “gerakan anti-Jawa”, karena kesenjangan pembangunan antara Pulau Jawa dan luar Jawa dianggap semakin besar.
Sejak kemerdekaan diproklamasikan 1945, beberapa gerakan atau pemberontakan demi memisahkan diri dari negara kesatuan, terjadi di berbagai daerah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sampai Indonesia Bagian Timur.

Aceh

Gerakan di Aceh diawali oleh kekecewaan dan keresahan. Setelah likuidasi Republik Indonesia Serikat (RIS) pada Agustus 1950, daerah itu begitu saja dimasukkan ke dalam Provinsi Sumatera Utara. Selain itu, mantan Gubernur Militer, Teuku Daud Beureueh, yang sangat berpengaruh di Aceh, tidak diberi jabatan berarti. Tampaknya, pengambilan keputusan oleh pemerintah pusat kurang didasari kepekaan terhadap perasaan rakyat Aceh. Apalagi ada kebanggaan tersendiri pada masyarakat Aceh, melihat wilayah Serambi Mekah itu suatu bagian republik yang tidak pernah dimasuki penjajah Belanda. Gerakan di Aceh yang dikenal dengan nama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) merupakan gerakan yang cukup alot. Meskipun pemerintah terus berusaha menyelesaikan masalah GAM ke meja perundingan, namun tidak pernah berhasil.

Terakhir, proses penyelesaian konflik di Aceh dengan jalan damai antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan GAM berlangsung di Tokyo, Minggu (18/5). Hasilnya, gagal. Maka secara resmi pemerintah Indonesia memberlakukan Keputusan Pemerintah (Keppres) Nomor 28 Tahun 2003, yang menetapkan seluruh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam keadaan bahaya dengan status darurat militer. Keputusan pemerintahan Presiden Megawati itu merupakan keputusan tegas, dalam upaya agar Aceh tetap berada dalam bingkai negara kesatuan RI.

Pemerintahan Megawati mengerahkan sekitar 28.000 personel TNI dan Polri ke Aceh untuk melancarkan operasi terpadu yang meliputi operasi kemanusiaan, operasi penegakan hukum, operasi pemulihan pemerintahan, dan operasi pemulihan keamanan.

Keputusan yang sama juga pernah diambil Presiden Sukarno dalam menghadapi pemberontakan PRRI/Permesta pada 16 Februari 1958. Ketika Sukarno kembali dari luar negeri menegaskan, PRRI/Permesta harus dihadapi dengan kekerasan senjata.

Ketidakpuasan Penciutan Divisi 

PEMBERONTAKAN PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) merupakan suatu usaha menggalang kesatuan di antara berbagai kelompok, yang menolak konsepsi Presiden Soekarno dan pengaruh komunisme dalam negara dan bangsa Indonesia.

Makam Pejuang Permesta dari Batalyon Kalajengking
Terletak di ujung selatan kampung Senduk di perbatasan Minsel

Pergolakan pertama kali terjadi di Sumatera pada akhir 1956. Pada awal 1957, muncul Dewan Banteng di Sumatera Tengah (Sumatera Barat dan Riau) dipimpin Letkol Ahmad Husein, Dewan Gajah di Sumatera Utara dipimpin Kolonel M Simbolon, dan Dewan Garuda di Sumatera Tengah dipimpin Letkol Barlian, kesemuanya bergabung dalam PRRI.

Ketiga pemimpin Dewan itu perwira yang memegang komando di wilayah masing-masing. Ketiganya lahir sebagai reaksi terhadap situasi bangsa dan negara ketika itu. Awal pemberontakan PRRI di Sumatera Tengah (Sumatera Barat dan Riau) terjadi menjelang pembentukan RIS pada 1949. Penciutan Divisi Banteng pada Oktober 1949 menjadi satu brigade terdiri atas batalyon-batalyon besar di Sumatera Tengah, mengakibatkan sejumlah prajurit terpaksa pulang ke kampung halaman, membawa kesedihan dan rasa terhina. Selain itu, pembangunan di Sumatera Tengah terasa sangat lamban dan menghadapi banyak masalah. Jalan-jalan yang menghubungkan daerah pedalaman rusak berat. Tidak ada jalan baru yang menghubungkan kota provinsi dengan wilayah pedesaan.

Ahmad Husein, yang dikenal kehebatannya pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda, dengan “Pasukan Harimau Kuranji”-nya yang sangat ditakuti musuh, tidak senang melihat penciutan eks Divisi Banteng. Ia, yang dilahirkan di Padang, 1 April 1925, juga pulang kampung.

Keadaan itu menggugah hati sejumlah perwira bekas Divisi Banteng yang masih berdinas, serta menggugah berbagai tokoh politik dan swasta yang pernah bergabung dengan Divisi Banteng. Keprihatinan itu melahirkan gagasan mencari penyelesaian dengan mengadakan pertemuan pada 21 September 1956 di kompleks Perfilman Persari milik Jamaluddin Malik di Jakarta. Hadir 123 orang, di antaranya Ahmad Husein. Pertemuan berikut, reuni di Padang pada 11 Oktober 1956.

Menyusul pertemuan lainnya di Aceh, Medan, dan Palembang. Bergabung ke dalam jajaran panitia, Kolonel Ismet Lengah, Kolonel Dahlan Djambek, dan Kolonel M Simbolon. Sebagai orang yang sangat disegani karena kesediaannya mempertaruhkan jabatan dan karier demi perkembangan daerah, Ahmad Husein mudah mengumpulkan banyak orang. Ia menjalin kerja sama dengan pemuka adat, pemuka agama, pemerintah daerah, dan anggota masyarakat lainnya. Reuni Divisi Banteng di antaranya menelurkan keputusan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan negara, terutama perbaikan progresif di tubuh angkatan darat. Di antaranya, dengan menetapkan pejabat-pejabat daerah yang jujur dan kreatif.

Dewan Perjuangan

PRRI membentuk Dewan Perjuangan dan tidak mengakui Kabinet Djuanda. Dewan Perjuangan PRRI membentuk kabinet baru, Kabinet Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (Kabinet PRRI), yang antara lain terdiri atas Syarifuddin Prawiranegara (Perdana Menteri dan Menteri Keuangan), M Simbolon (Menteri Luar Negeri), Burhanuddin Harahap (Menteri Pertahanan dan Menteri Kehakiman), Dr Sumitro Djojohadikusumo (Menteri Perhubungan/Pelayaran). Pembentukan Dewan Kabinet itu berlangsung ketika Soekarno berada di luar negeri.

Sekembali ke Indonesia, 16 Februari 1958 ia mengatakan, “Kita harus menghadapi penyelewengan tanggal 15 Februaru 1958 di Padang dengan segala kekuatan yang ada pada kita”. Ia memutuskan menggunakan kekerasan senjata untuk menghadapi kekuatan Dewan Kabinet PRRI.

Pada 22 Desember 1956 melalui RRI Medan, Kolonel Simbolon mengumumkan pemutusan hubungan wilayah Bukit Barisan dengan pemerintahan pusat. Ia mengubah nama Kodam TT I menjadi Kodam TT I Bukit Barisan. Sama halnya dengan Ahmad Husein, ia melihat sejak 1950 – 1956, masalah kesejahteraan prajurit serta dana operasi militer menjadi masalah.

Gaji prajurit sangat minim. Yang lebih mendesak, perbaikan perumahan dan asrama prajurit, karena asrama prajurit umumnya bekas asrama tentara Belanda dan bekas barak kuli kontrak di zaman penjajahan.

Simbolon nekat mencari jalan sendiri membangun asrama dan perumahan prajurit. Ia mencari dana dengan menjual hasil perkebunan di wilayah Sumatera Utara. Ekspor hasil perkebunan dijual secara rahasia melalui Teluk Nibung di muara Sungai Asahan Tanjung Balai. Namun, pers Ibukota memberitakan penyelundupan itu dan Kasad memerintahkan memeriksa kasus itu. Kasad pun bermaksud menggantikan Panglima TT I Bukit Barisan dengan Kolonel Lubis.

Melihat situasi yang “gawat”, Simbolon mengadakan rapat perwira yang disebut “Ikrar 4 Desember 1956.” Pada 27 Desember 1956 subuh, Simbolon menerima berita ada pasukan yang diperintahkan menangkapnya. Dalam situasi seperti itu, ia hanya bisa mengandalkan satu Batalyon 132 yang dipimpin Kapten Sinta Pohan di Medan, yang tetap setia kepadanya. Melalui pertimbangan matang Simbolon memutuskan bergerak ke daerah Tapanuli, ke Resimen III Mayor J Samosir, yang juga bisa diandalkannya. Tindakan itu diambilnya karena kalau bertahan di kota, pasti akan terjadi pertempuran dan yang paling menderita adalah rakyat sipil. Ia kemudian ke Padang, mengikuti kegiatan Dewan Banteng.

Di Sumatera Selatan, Dewan Garuda menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan tokoh-tokoh militer di wilayah itu, menjelang Musyawarah Nasional September 1957, yang melahirkan Piagam Palembang sebagai landasan perjuangan bersama dari daerah-daerah bergolak. Namun sejak awal terlihat tanda-tanda keretakan dalam tubuh Dewan Garuda. Ketidakkompakan itu disebabkan tokoh-tokoh militer tetap berhubungan dengan Kasad, sehingga segala perkembangan Dewan Garuda dapat diketahui Jakarta.

Dewan Garuda bersifat mendua. Satu pihak lebih dekat ke Dewan Banteng, ke pihak Ahmad Husein, pihak lain lebih dekat dengan Jakarta. Pada saat Dewan Perjuangan membentuk PRRI, Sumatera Selatan mengambil jalan berbeda dengan Dewan Banteng dan Permesta. Ketika terjadi konflik senjata antara PRRI dan Jakarta, Letkol Barlian mengadakan rapat dan mempengaruhi perwiranya tidak mengikuti Padang. Rupanya, pada saat itu Kolonel dr Ibnu Sutowo berhasil mempengaruhi Barlian untuk tidak bergabung dengan PRRI.

Ketidakpuasan Rasionalisasi

DUA tokoh dalam pergolakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), yang paling menentukan dalam melahirkan gerakan pembangunan semesta Indonesia Timur adalah Letkol HN (Ventje) Sumual dan Letkol M Saleh Lahade. Mereka dijuluki “Dwitunggal Permesta”.

Pada 2 Maret 1957, sekitar 49 tokoh dan dua wartawan berkumpul di Kantor Gubernur Makassar untuk mengesahkan piagam yang telah disusun panitia.

Keseluruhan yang hadir menandatangani Piagam Perjuangan Semesta yang dibacakan Letkol Saleh Lahade.
Di Sulawesi Utara (Sulut) Mayor JD Somba enggambarkan keadaan di Sulawesi Utara, terutama menyangkut soal ekonomi dan keuangan. Di wilayah itu, sejak 1 Maret 1957, usaha penduduk berupa hasil bumi kopra, sudah dua bulan tidak dibayar pemerintah, Stok kopra dua bulan tidak diangkut karena kesulitan transportasi. Gaji-gaji pegawai dua bulan tidak dibayar, termasuk gaji pegawai di Poso.

Gambaran kehidupan di wilayah itu semakin suram. Pemerintah berutang. Hasil kopra rakyat hanya dibayar dengan semacam kertas bon. Petani tidak mempunyai uang untuk membeli bahan makanan. Untuk itu Permesta Sulawesi Utara berusaha menyehatkan sektor ekonomi dan mengambil kebijakan untuk menghapuskan monopoli.

Di Sulawesi Selatan, pemberontakan Kahar Muzakar berlangsung bertahun-tahun. Muzakar yang pernah memimpin pasukan Sulawesi Selatan ke Yogyakarta pada masa perang kemerdekaan, menyeberang kembali ke Sulawesi Selatan, karena ketidakpuasannya kepada pemerintah yang menetapkan rasionalisasi pada
pasukannya. Prajurit yang masih bisa dikaryakan ditampung sementara di Corps Tjadangan Nasional, dan yang tidak memenuhi syarat dikembalikan ke masyarakat.

Pemberontakan Kahar Muzakar sejak 1951 itu akhirnya berhasil ditumpas pada Februari 1965. Suatu pasukan Yon 350 Kujang, Siliwangi, berhasil menewaskan Kahar Muzakar. Penangkapan Menghadapi pemberontakan-pemberontakan mulai dari Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Presiden Soekarno yang kembali dari luar negeri memerintahkan penangkapan tokoh-tokoh PRRI seperti Syafruddin Prawiranegara
(Perdana Menteri dan Menteri Keuangan), Burhanuddin Harahap (Menteri Pertahanan dan Menteri Kehakiman), dan Soemitro Djojohadikusumo (Menteri Perhubungan dan Pelayaran). Kasad pun memecat Letkol Ahmad Husein dari Dewan Banteng di Sumatera Tengah (Sumatera Barat dan Riau) dan Kolonel M Simbolon dari Dewan Gajah di Sumatera Utara.

Keputusan yang sama diambil Presiden Sukarno dalam menghadapi pemberontakan PRRI/Permesta pada 16 Februari 1958. Ketika Sukarno kembali dari luar negeri menegaskan, PRRI/Permesta harus dihadapi dengan kekerasan senjata.

Hubungan darat maupun udara dengan Sumatera Tengah dihentikan. Bung Hatta sebagai Wakil Presiden, muncul ke depan. Ia mengirimkan utusan ke Padang untuk menemui Ahmad Husein, dan meminta agar Dewan Banteng menghindari konflik senjata. Tetapi, sayang kurir itu tidak sampai di tempat. Hatta mendekati Soekarno untuk mencegah perang saudara, namun usahanya disalahgunakan media massa tertentu. Usaha Hatta pun gagal. Pada 20 dan 21 Februari 1958, pesawat tempur AURI mengebom kota Padang. Ahmad Husein berseru kepada rakyat agar mendukung PRRI.

Pada sisi lain, pada 20 Mei 1958 Kasad memerintahkan penangkapan M Saleh Lahade dan semua tokoh Permesta di Makassar. Selain Saleh Lahade, ditangkap juga Mochtar Lintang, Anwar Bey, Nazaruddin Rachmat, Kaligis, Bing Latumahina, dan Dr OE Engelen. Mereka ditahan di Madiun dan Jakarta. Sementara itu, di Minahasa rombongan Sumual yang tengah membeli senjata di Manila, mendengar pernyataan Dewan Perjuangan PRRI. Sumual mengirim kawat kepada Somba untuk menunggu keputusannya sebab ia memerlukan waktu untuk berhubungan dengan tokoh-tokoh Sulawesi Selatan.

Somba menyatakan dukungannya kepada PRRI, dan memutuskan hubungan dengan Kabinet Djuanda.
Kasad pun memerintahkan untuk menangkap Letkol Somba, Mayor Dolf Runturambi, Gubernur Manoppo, serta Jan Torar. Sumual masih menjalankan strategi melancarkan tekanan-tekanan kepada Jakarta
agar mau berunding dengan PRRI. Dengan senjata dan pesawat tempur yang dibelinya, ia berniat mengebom tangki-tangki bensin di Surabaya, Bandung, Semarang, dan Jakarta. Ia merencanakan mendaratkan pasukan di Cilincing Jakarta, untuk menekan kabinet agar mau berunding dengan PRRI.

Sumual merasa mendapat dukungan Balikpapan (Hartoyo), Bandjarmasin (Kol Hasan Basri, Ketua Dewan Lampung Mangkurat), yang menyediakan bandara untuk lepas landas pesawat tempur pengebom. Sumual merencanakan serangan mendadak ke Jakarta pada saat pasukan pusat sedang memusatkan perhatian ke Indonesia Timur dan Sumatera Tengah. Perang antara pusat dan pemberontak PRRI maupun Permesta pada 1958 sampai 1961 sungguh dahsyat. Daerah bergolak dengan hanya berkekuatan beberapa batalyon, dibandingkan dengan pasukan pusat yang puluhan batalyon, infantri khusus, angkatan darat, angkatan laut, dan dan angkatan udara. Dan, menurut Panglima Wirabuana HN Sumual, perjuangan Permesta mulanya tidak diawali niat memberontak atau menghancurkan dan melepaskan diri dari negara
kesatuan RI.

Demikian juga yang dikemukakan PRRI atau Dewan Banteng, Dewan Gajah dan Dewan Garuda. Dalam banyak tulisan, peristiwa PRRI/Permesta didasarkan pada protes adanya kesenjangan pembangunan yang mencolok antara pemerintahan pusat dan daerah.