Pencak Silat Minangkabau yang Tak sekedar Silat


Liputan6.com, Pekanbaru: Bela diri pencak silat memang tak terlepas dari nilai-nilai budaya yang berbeda di tiap daerah. Atraksi itulah yang disodorkan pencak silat Minangkabau di Pekanbaru, Riau, baru- baru ini. Ajang unjuk kebolehan itu diperagakan oleh para pesilat dari sasana Silek Harimau Lalok atau Harimau Tidur. Menurut Tuo silek atau guru silat Rasyidin, silat Minangkau berkembang seiring banyaknya orang Minang yang merantau ke berbagai daerah. Lantaran itu pula, tak heran jika bela diri silat yang satu ini rata-rata dikuasai para pedagang.

Galibnya pencak silat, setiap gerakan bela diri asal Ranah Minang ini selalu diiringi musik tradisional setempat, Gendang Tassa. Para pesilat pun mulai beraksi dengan membawakan jurus Gelombang Silat Langkah Empat. Strategi bela diri ini dikembangkan dari aliran silat tua Minangkabau seperti Starlak dan Kumango.

Kendati begitu siapa pun yang hendak menguasainya harus menggenapi syarat tertentu. Mereka harus menyerahkan kain putih sebagai lambang kesucian hati, seekor ayam jantan tanda ksatria, serta sebilah pisau perlambang pembela kebenaran.

Menurut Rasyidin, keberadaan silat ini memang tak dikenal secara umum. Sebab latihan dilakukan di tempat-tempat tertutup dan tidak diketahui banyak orang. Pasalnya, selain melatih fisik, para pesilat juga bakal dibekali ilmu-ilmu tertentu yang mempersiapkan mereka untuk merantau. Sayang, Rasyidin enggan merinci ilmu tambahan tadi yang kini mulai dikenal di India dan Pakistan itu.(ANS/Yusril Ardanis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: