Guru Silat yang Menolak Disebut Jago


Liputan6.com, Garut: Tak bisa disangkal, sebagai olahraga khas Indonesia, pencak silat memiliki banyak penggemar di Tanah Air. Salah seorang di antaranya adalah Eme Suganda atau kerap disapa Abah Eme. Wujud kecintaan terhadap seni bela diri pencak silat yang sudah dia tekuni selama lebih dari setengah abad itu masih terasa hingga kini.

Meski usianya sudah 86 tahun, tidak sedikit pun ada keinginan Eme untuk meninggalkan pencak silat dari kesehariannya. Hingga kini, dia masih tekun mengajarkan ilmu silat ke sekolah-sekolah dasar dan pesantren yang ada di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Awalnya, Eme yang pertama kali belajar silat sekitar tahun 1942 itu hanya sekadar untuk menambah pergaulan dan bekal membela diri. Maklumlah, pada masa itu bagi anak muda di Garut, belajar silat itu hukumnya wajib. Namun sejak itu, kecintaan Eme terhadap olahraga tradisional itu kian besar.

Setelah menguasai ilmu silat, pada tahun 1978, dia diminta oleh salah satu gurunya mengajar silat di beberapa pesantren yang ada di Garut. Pada saat hampir bersamaan, Eme juga mengajar ilmu silat di sekolah-sekolah dasar. “Kalau soal honor tergantung yang memberi, saya tidak begitu memikirkannya,” ujar Eme tentang imbalan yang didapatnya.

Saat ini pun, jadwal Eme terbilang padat. Dalam sepekan dia mengajar silat di sepuluh sekolah dasar dan dua pesantren yang ada di Garut. Dengan menggunakan sepeda motor yang dikendarai sendiri, lelaki yang kerap disapa dengan panggilan Abah Eme ini, mulai mengajar dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Di saat senggang, Eme masih sempat mengajar silat di rumahnya yang dijadikan padepokan silat. Selain itu, dia juga memimpin Perguruan Silat Sinar Pusaka Putra, yang tersebar di Garut dan Bandung, Jabar. Di perguruan ini pula, kakek yang pernah diundang tampil di Jepang ini mengajarkan beberapa jurus andalan yang dia miliki.

Di antara jurus itu adalah totok, suliwa, sera, timbangan, dan golok. Kendati demikian, tidak semua murid perguruan diajarkan jurus spesial itu. Jurus timbangan misalnya, bila belum cukup umur dan dipakai main-main, akan sangat berbahaya bagi si murid. Pasalnya, ilmu itu dapat mengetahui kelemahan tubuh lawan.

Melihat dedikasi Abah Eme yang tinggi terhadap ilmu silat, wajar saja kalau beragam penghargaan sudah diraihnya. Termasuk deretan piala yang dipajang di ruang tamu rumahnya. Kepopuleran silat Eme ternyata tak hanya bergaung di Garut. Beberapa muridnya tercatat berasal dari Kanada, Belanda serta beberapa negara di kawasan Asia Tenggara.

Walau demikian, dia tidak bersedia disebut sebagai jago silat. Bagi Eme, sudah cukup kalau orang lain menyebut dirinya sebagai orang yang bisa pencak silat. Harapan si Abah cuma satu, tetap melestarikan budaya leluhur ini sampai tubuhnya tak kuat lagi.(ADO/Wendy Surya)

Satu Tanggapan

  1. Dia memang seorang guru yang bersipat seperti ilmu padi, semoga panjang umur Guru.Salam sejahtera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: