Kaya dan Mulia

SAHABAT, ADA SEBUAH sebuah kisah menarik tentang seseorang yang bermimpi
melihat Malik bin Dinar sedang berlomba-lomba dengan Muhammad bin Wasi’
menuju surga. Ia menyaksikan bahwa Muhammad bin Wasi` akhirnya dapat
mendahului Malik bin Dinar untuk sampai di surga. Orang itu kemudian
bertanya mengapa demikian kejadiannya, karena menurut perkiraannya Malik
bin Dinar bakal menang, karena ia dikenal sebagai seorang yang arif.
Kaum salihin menjawab bahwa ketika meninggal dunia Muhammad bin Wasi’
hanya meninggalkan sepotong pakaian, sedangkan Malik meninggalkan dua
potong pakaian.
 
Kisah diatas adalah ilustrasi yang penuh Hikmah mendalam. Apalagi kalau
dihubungkan dengan kehidupan modern dewasa ini yang cenderung
mengedepankan nilai-nilai materialisme. Banyak orang berlomba-lomba
mengejar kehidupan dunia, menumpuk harta kekayaan dan melalikan
kepentiongan-kepentingan kehidupan yang panjang selanjutnya. Pakain
dalam kisah diatas tentunya hanyalah ilustrasi tentang asesories
kehidupan dunia, kekayaan, kemewahan dan materiaslisme. Maknanya kita
perlu memahami dengan benar tentang hakekat kekayaan dan tujuan
tertinggi kehidupan sehingga apa yang kita perjuangkan dalam meraih
kesuksesan dan kekayaan dapat meninggikan kemulian hidup kita. Apa yang
kita perjuangkan dalam kehidupan dapat menjadi sarana bagi bekal utama
kita masuk surga, bukannya malah menjadi penghambat masuk surga.
 
Apa yang dapat kita renungkan dari kisah tersebut diatas ?
 
1. Jangan Menjadikan Kekayaan Sebagai Tujuan Akhir.
 
Kesuksesan dan kekayaan pantas untuk kita perjuangakan dalam kehidupan
ini.Karena sesunguhnya dengan kekayaan harta dapat emnjadikan seseorang
meraih lebih banyak kebaikan bagi bekal kehidupan selanjutnya. Dengan
demikian bekerja keras untuk mencari kesejahteraan kehidupan dunia
adalah hal yang mulia. Menjalankan Bisnis atau berdagang untuk meraih
kekayaan dan kesejahteraan hidup di dunia adalah hal yang baik. Tetapi
perlu dipahami bahwa kekayaan bukanlah tujuan akhir. Jangan menjadikan
kekayaan harta sebagai tujuan akhir yang ingin kita raih. Karena
sebaik-baik urusan dunia adalah yang dapat menjadi sarana menuju
kebaikan akhirat. Artinya kekayaan yang yang kita perjuangkan dalam
kehidupan hanyalah sarana untuk meraih banyak kebaikan. Sebagai sarana
untuk memperbanyak amal kebaikan dan menolong sesama kehidupan.
 
Kalau seorang yang dikenal arif bijaksana seperti Malik bin Dinar saja
dapat tertinggal hanya karena pakaian, lalu bagaimana dengan kita semua
yang hidup di era konsumtif dan senang menumpuk harta kekayaan ini ?.
Ingatlah tidak pernah merasa cukup orang yang hidupnya hanya mengejar
dunia. Harta kekayaan yang bermanfaat sesungguhnya bukan seberapa yang
kita miliki, melainkan seberapa banyak harta yang kita gunakan untuk
kebaikan di jalan Allah swt.
 
2. Kesederhanaan Adalah Kemuliaan.
 
Konosuke Matsuhita adalah seorang pendiri group Bisnis raksasa
Matsushita. Meskipun sudah meriah sukses luar biasa dan berkelimpahan
harta, namun ia tetap hidup sederhana, senang mengabdikan hidupnya untuk
kemanusiaan,menulis puluhan buku dan menyumbangkan ratusan juta dollar
harta kekayaannya untuk kegiatan kemanusiaan. Warren Buffet adalah
mahaguru di dunia saham.Meskipun tercatat sebagai salah satu orang
terkaya di dunia, ia tetap hidup sederhana dan bahkan menyumbangkan
hamper 80 persen harta kekayaannya untuk kegiatan kemanusiaan. Apa
sesungguhnya yang menjadi motif Bisnis mereka ? Apakah ingin mencari
kekayaan dan hidup berkemewahan ? Kalau mempelajari dari kisah hidup
mereka, sesungguhnya bukanlah kekayaan dan kemewahan yang menjadi
otivasi hidupnya, melainkan kesederhanaan, mereka hanyalah ingin
berkarya dan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi banyak orang.
 
Meskipun berhasil meraih kesuksesan dan kekayaan, namun kalau hal itu
menjadikan kita selalu tenggelam dalam urusan keduniaan, hati kita selalu
terikat pada dunia sehingga kita melalaikan hak-hak dan
perintah-perintah Allah, itu adalah hidup yang tidak mulia. Yang terpuji adalah hidup
sederhana, tidak berlebih-lebihan dan banyak memberikan manfaat bagi
kehidupan. Hidup berlebih-lebihan, hidup bermewah-mewahan membuat
seseorang terlambat masuk surga.
 
3. Kekayaan Yang Utama Adalah Kekayaan Hati.
 
Untuk hidup berkelimpahan tidak harus kaya harta tetapi perlu kaya
hati.Dengan demikian untuk mencapai hidup keberlimpahan tidak harus
menungu kaya raya dulu. Banyak orang mengatakan bahwa saya harus kaya
raya agar dapat banyak membantu orang lain. Mengapa membantu orang lain
harus menunggu kaya dulu ? Toh banyak cara untuk menjadi bermanfaat bagi
orang lain. Kalau menunggu kaya raya dulu, kalau sudah kaya malahan lupa
membantu orang lain. Bukankah banyak contoh yang demikian ini ?
 
Dengan kekayaan hati, kita dapat merasakan hidup berkelimpahan. Membantu
orang lain tidak kawatir akan kekurangan karena dilakukan dengan ikhlas.
Meskipun rejeki tidak banyak, kerana diperoleh dengan kejujuran maka
menjadi berkah dan serba kecukupan. Orang yang kaya hati akan mudah
peduli dengan sesame, senang membantu orang lain, hidup tenang dan
merasakan kebahagiaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: