Surat Untuk Ayah

charlie_fishing_with_grandson_md_clr.gif 
Ayah,
Bagaimana kabarmu hari ini?
Bagaimana dengan kesehatanmu?
Kuharap engkau dalam keadaan baik dan dalam lindungan Allah
Sudah cukup lama aku tidak mencium tanganmu
Sudah cukup lama aku tidak mendengar suaramu
Sering aku terbayang dengan wajahmu
Rasanya baru kemarin aku meninggalkanmu
Berat rasanya jika aku jauh darimu
Karena aku takut kehilangan kesempatan untuk berbakti kepadamu
Aku takut kehilangan peluang untuk membalas budimu
Ingin rasanya aku menyiapkan segala sesuatunya untukmu
Menyiapkan pakaian dan sarapan pagi
Menyeduhkan secangkir kopi panas buatmu
Bahkan membersihkan tempat tidurmu yang usang

Ayah
Sedih rasanya jika mengingatmu
Usiamu yang semakin bertambah
Warna rambutmu dan janggutmu yang semakin memutih
Fisikmu yang semakin lemah
Warna kulitmu yang gelap
Tubuhmu yang semakin renta

Rasa senang yang ada padaku adalah
Ketika membayangkan engkau sedang menuju ke mushala
Untuk mengumandangkan azan subuh
Untuk memanggil tetangga-tetangga kita untuk segera bangun
Bersujud dan bersimpuh bersama-sama
Menyambut datangnya fajar dengan dzikir dan tasbihat
Rasa senang yang ada padaku adalah
Ketika membayangkan engkau sedang bertafakur dimalam hari
Menangis dihadapan Allah
Menghabiskan sisa malam dengan mengadu kepada Allah
Mendoakan kami anak-anakmu
Rasa senang yang ada  padaku adalah
Membayangkan engkau sedang bersilaturahim
Mengingatkan kepada saudara-saudara kita
Tentang pentingnya iman dan amal shaleh
Rasa senang yang ada padaku adalah
Mendapat kabar bahwa
Engkau sedang beriktikaf di masjid tetangga desa
Menghabiskan masa beberapa hari
Untuk sama-sama belajar memperbaiki diri dihadapan Allah
Dengan kawan2 seperjuangan kita

Ayah
Janganlah engkau lemahkan  semangatmu
Untuk menggapai keridhoan Allah
Karena waktu semakin dekat
Terlalu banyak tempat dimana kantung-kantung keridhoan Allah berada
Yang bisa engkau raih
Jangan engkau ragu untuk bersedekah
Walau hanya segelas air untuk tetangga
Atau bahkan hanya sepokok pohon
Yang bisa engkau tanam didepan rumah
Ingatkah engkau
Ketika aku menangis dihadapanmu
Memohon dan meminta
Untuk menghabiskan sisa usiamu
Kepada kesempurnaan agama dan akidah
Rasanya begitu gembira sekali
Ketika engkau mengambil keputusan
Untuk memenuhi permintaanku
Bahkan mendengarnya jauh lebih berharga
Daripada mendapatkan harta yang berlimpah
Ketika setetes hidayah datang menyirami nafasmu
Tidak sia-sia delapan tahun aku mendoakanmu
Agar Allah segera membuka hatimu
Jangan engkau surutkan usahamu
Agar rumah kecil kita penuh dengan suasana ahklak dan rahmat
Karena itu akan membuatku sedih

Ayah
Masih ingatkah engkau
Kepada kisah Alkhanza
Yang merasa bangga
Dengan keempat anak-anaknya yang sahid dijalan Allah
Tidak inginkah engkau seperti dia
Atau dengan Abu Ayub Al-Anshori yang renta
Yang tak rela jasadnya dikuburkan di kota madinah
Karena takut akan pertanyaan Allah
Berapa banyak usianya telah dikorbankan untuk agama
Masih adakah engkau akan keinginan untuk menggapai kemewahan dunia
Masih adakah harapanmu untuk menggapai sebelah sayap nyamuk
Yang semua ini akan sama-sama kita tinggalkan
Sudah siapkah engkau
Dengan lima pertanyaan Munkar dan Nakir
Dan menghadapi alam kubur yang begitu luas
Dimana Saidina Ustman selalu menangis setiap malam
Dengan mengkhatamkan 30 juz Alquran
Karena takut tidak akan selamat

Ayah
Aku sangat mencintai dan menghormatimu
Tapi aku lebih mencintaimu
Jika engkau habiskan waktumu dengan berusaha
Mencapai khusnul khotimah
Meraih senyum dan wajah yang penuh cahaya
Ketika tuhan kita memanggil kita
Karena pasti kita akan berkumpul lagi
Pada satu tempat yang lebih baik
Bahkan jauh ribuan kali lebih baik
Dari alam dunia yang penuh dengan tipu daya dan kebohongan
Sadarkah engkau
Bahwa telah banyak saudara-saudara kita yang telah mengambil satu jalan
Yang berat pada awalnya
Tapi senang kesudahannya
Seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang shaleh terdahulu
Yang telah mendapatkan petunjuk
Tidak inginkah ayah seperti mereka
Yang telah suskes hidupnya dunia dan akhirat
Dan telah berjumpa dan berkumpul
Bersama Rosulullah nabi kita

Ayah
Jangan engkau padamkan ghairahmu
Untuk membuat pengorbanan atas agama
Karena itulah nanti yang akan menjadi naungan buat kita
Yang akan menyelamatkan kita dari hawa panas dipadang mashar
Melindungi kita dari azab yang pedih
Tanamkan segera rasa taqwa
Karena taqwa akan mendatangkan banyak faedah
Seperti yang telah dimiliki oleh Daud as.

Maafkan aku ayah
Bukan aku memberi nasehat kepadamu
Bukan maksudku mengajarimu
Tetapi karena rasa cinta yang membuat aku berkata-kata seperti ini
Karena tidak ada lagi yang mampu aku perbuat
Selain mengajakmu kepada Allah
Bantu aku dengan doamu
Sekian dariku ayah
Dari anakmu yang penuh dengan segala kelemahan dan kekurangan
Jauh diseberang…

Coretan hati dari seorang sahabat  ~ 27 Maret 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: