Mahalnya Dendam dan Kemarahan

Aku berjalan dengan seorang temanku, seorang anggota kelompok Quaker,
menuju sebuah stand koran malam itu. Ia membeli sebuah koran, dengan
sopan ia mengucapkan terima kasih kepada penjualnya. Namun penjual
koran itu tidak mempedulikan ucapan tersebut.

“Orang yang tidak sopan, ya?”komentarku.
“Oh, setiap malam ia selalu begitu,”sangkal temanku.
“Lalu mengapa Anda terus saja begitu sopan kepadanya?”tanyaku.
“Kenapa tidak?” sanggahnya. ” Kenapa aku membiarkannya UNTUK menentukan bagaimana aku akan bertindak?”

Saat aku memikirkan kejadian itu selanjutnya, muncul dalam benakku
bahwa ungkapan yang penting adalah “TINDAKAN “. Temanku BERTINDAK
terhadap orang lain; kebanyakan kita “BEREAKSI” terhadap mereka.
Ia memiliki suatu indera keseimbangan mental yang tidak ada pada
sebagian besar kita; ia tahu siapa dirinya, untuk apa ia bersikap, dan
bagaimana ia akan berperilaku. Ia tidak mau membalas KETIDAK SOPANAN
dengan KETIDAKSOPANAN, karena jika demikian ia tidak lagi mampu
mengendalikan perilakunya. (Sebagaimana diceritakan Sidney J. Haris
dalam buku (Mind Power).

****

Hidup ini tidak selamanya putih, dan juga tidak selamanya hitam. Ada
kalanya hitam dan adakalanya putih. Begitu pun dengan karakter manusia;
ada yang jahat dan ada yang baik.
Dari sana kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa tidak selamanya
kita mendapatkan KAWAN YANG BAIK, yang selalu melontarkan
kebaikan-kebaikan bukan hinaan-hinaan, yang mengajak kita pada keimanan
bukan kemaksiatan, yang MENUTUP AIB AIB kita bukan MEMFITNAH kita.
Kadang kita mendengar A, B, C, D mengatakan kata-kata kasar yang
mengusik ketenangan kita. Tuduhan-tuduhan busuk mengarah kepada kita
ibarat lemparan pecahan beling yang mengenai muka dan tubuh kita,
terasa perih menyayat hati. Kadang yang mangatakan itu adalah teman
yang terdekat dengan kita, kadang melalui orang lain yang dia terima
dari teman kita, dan lain sebagainya.

Ingin rasanya marah, benci, dendam, melumatnya hingga mati. Ingin
rasanya mengata-ngatainya lagi; membalas ketidaksopanan dengan
ketidaksopanan, hinaan dengan hinaan, percikan api dengan percikan api.
Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Jika kita meladeninya, masalah
kita justru malah semakin bertumpuk; yang satu belum selesai yang lain
muncul lagi. Kemarahan, kebencian, dendam kesumat membuat tubuh
bergetar hebat, nafas memburu, darah dalam tubuh mendidih dan uapnya
menutupi AKAL SEHAT kita sehingga kita bisa mati terbunuh karenanya,
atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan yang selama ini kita
ketahui bahwa itu tidak baik.

Sejauh data-data tertulis yang ada, orang menghadapi kematian mendadak
saat ia mengalami ketakutan, kemarahan, kesedihan, penghinaan atau
kegembiraan yang sangat. Pada awal abad masehi, Raja Romawi, Nerva,
dilaporkan meninggal akibat “akses kemarahan yang hebat” terhadap
senator yang telah menyinggung perasaannya. Pope innocent IV dikabarkan
meninggal mendadak akibat “efek-efek kemarahan yang mengerikan bagi
sistem tubuhnya” karena kekalahan-kekalahan tentaranya oleh Manfred,
Raja Sicilian.

Oleh karena itu, Rasulullah Saw memandang bahwa yang dimaksud orang
kuat itu bukan orang yang jago berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah
orang yang sanggup mengendalikan amarahnya ketika ada kesanggupan untuk
marah. Di dalam tubuh kita ini sudah ada unsur api (fujuroha), di
samping unsur cahaya (taqwaha). Sehingga jika kita menambahi api itu
dengan api yang lebih besar (amarah), maka hasilnya akan jauh lebih
besar dan besar.
Contoh dalam mengendalikan amarah telah diperlihatkan oleh Rasulullah
dan Orang-orang beriman lainnya. Ketika Rasulullah berdakwah ke Thaif,
beliau dilempari oleh penduduknya dengan batu sambil di hina:

Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal
(gila) dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang
berdusta. (Al A’raaf : 66). hingga tubuh beliau berdarah-darah. Beliau
tidak marah. Beliau menangis tersungkur disuatu tempat sambil berdoa
kepada Allah. Melihat itu, malaikat Jibril mengatakan kepada beliau,
jika beliau berkenan, dia akan menghimpit penduduk thaif dengan dua
gunung yang ada disekitarnya. Dengan airmata berlinang beliau
mengatakan, “Jangan, mereka hanya tidak tahu siapa aku. Mudah-mudahan

di hari nanti mereka menerima dakwahku.”

Sungguh mulia akhlakmu ya Rasul. Mari kita mencontoh akhlak Rasul ini.
Apabila kita mendapat hinaan, dinginkan dengan doa dengan penuh
kekhusyuan, ” Ya Allah, jika apa yang dikatakannya benar, ampunilah aku.
Sungguh hamba-Mu memang banyak sekali berbuat dosa. Namun, jika apa
yang dikatakannya tidak benar, berikanlah aku pahala darinya.”

Al Hasan berkata: Seorang mukmin yang penyantun tidak akan berlaku usil
sekalipun ia diusuli! Lalu beliau membaca firman Allah: Apabila
orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan. (Al Furqan : 63)

Berkata Yazid bin Hubaib: Sesungguhnya kemarahanku itu berada di
sandalku. Bila aku mendengar sesuatu yang tidak aku sukai, aku ambil
sandalku itu dan aku pun berlalu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: