Kisah Ayah Tentang Ayahnya

Tiga bulan sudah saya tak mengunjungi Ayah, walau dua hari sekali
masih sering telepon langsung untuk mendengar suaranya atau sekadar
SMS menanyakan kabar kesehatannya. Rindu, itu kata yang paling
mewakili untuk menggambarkan perasaan saya padanya, mungkin juga yang
dirasa Ayah disana. Diri ini selalu percaya, rindu yang tak pernah
lekang dimakan waktu, yang tak pernah sirna dihempas angin, yang tak
mungkin pupus diterik matahari adalah rindu orang tua terhadap
anaknya. Rasa rindu yang belum pasti dimiliki anak terhadap orang
tuanya.

Benarlah, sepuluh menit setelah bercengkerama dengan cucu-cucunya,
Ayah menghampiri saya dan menanyakan kabar apa pun tentang saya,
keluarga, pekerjaan, aktivitas sosial yang biasa saya geluti, sampai
soal selokan di depan rumah yang kerap tergenang. Dan tak lama
setelah saya menceritakan semua yang diingintahuinya itu, ganti ia
yang bercerita tentang dirinya, kegiatan jalan paginya, HP baru
hadiah dari abang saya yang baru pulang dari luar negeri, acara reuni
dengan sahabat-sahabatnya semasa aktif di kantor dulu, hingga nyaris
tak ada lagi yang bisa diceritakan. Ia, seolah tengah menemukan
telinga selebar lautan yang siap menampung semua kisahnya, dan itu
adalah telinga saya.

Tak terasa tiga jam lebih kami berbicara, pembicaraan yang begitu
dekat, antara sesama hati yang merindu. Tapi dari semua yang
diceritakannya, ada satu yang teramat menarik bagi saya, sepenggal
kisah tentang masa kecilnya bersama Ayahnya. Bercerita Ayah tentang
Ayahnya, saya memanggilnya Babah. Suatu sore, ia tengah bermain
kelereng ketika Babah hendak memintanya membeli minyak tanah. Tahu
anaknya tengah bermain, ia mengurungkan niatnya dan membiarkan
anaknya terus bermain. Kemudian Babah hanya berpesan kepada salah
seorang keponakannya, "bilangin si mbing kalau mainnya sudah selesai,
Babah mau suruh dia beli minyak tanah".

Mpok Mul, begitu Ayah memanggil kakak sepupunya itu pun menghampiri
adiknya, "Mbing Babah bilang kalau mainnya sudah selesai tolong
beliin minyak tanah". Si anak pun bergegas menyudahi permainannya
setelah meminta izin kepada teman-temannya.

***

Ayah menegaskan kalimat "kalau mainnya sudah selesai" dan itu berkali-
kali diucapkannya dengan tegas untuk saya perhatikan. Menurutnya,
Babah mengatakan itu ada maknanya, Ayahnya hanya ingin menyuruhnya
membeli minyak tanah setelah ia memenuhi hak anak untuk bermain.
Sebagai seorang Ayah, ia tak ingin mengganggu hak bermain anaknya,
meski sebagian orang tua merasa berhak untuk meminta anaknya
melakukan apa pun perintahnya tanpa boleh membantah.

Babah, kata Ayah, meski hanya lelaki lulusan sekolah rakyat kelas
tiga -setingkat kelas tiga SD- sangat mengerti psikologi mendidik
anak. Orang tua yang ingin dihormati haknya oleh anak semestinya juga
menghormati hak anak, salah satunya adalah hak untuk bermain, karena
bermain merupakan cara anak-anak untuk belajar bersosialisasi. Tugas
orang tua hanya memberi tahu batas-batas dalam bermain, misalnya soal
waktu, dan juga pekerjaan utama di rumah yang semestinya didahulukan
sebelum bermain.

Ayah pun bertanya kepada saya, "bagaimana perasaan kamu kalau lagi
main, dan kondisi kamu sedang kalah. Lalu Ayah memanggil
kamu?" "Tidak ikhlas," jawab saya. Ya, Babah tidak mau anaknya
menjalankan perintahnya secara tidak ikhlas, dengan hati yang
menggerutu, dengan dada yang disesaki rasa kesal. Sebaliknya, jika
si anak sedang menang dan Ayahnya memanggil, siapa yang kesal?
pastilah teman-teman anaknya, "Bapak lu brengsek, tahu anaknya lagi
menang dipanggil". Sudah pasti ada dua orang yang dirugikan, Ayah dan
anaknya. Ayahnya dibilang 'brengsek', anaknya mungkin akan dikucilkan
dalam permainan berikutnya.

Hmm, tiga jam tak kan pernah sia-sia untuk berbicara dengan Ayah. Ada
banyak pelajaran baru yang bisa saya ambil dari kisah-kisahnya. Dan
sudah pasti saya akan selalu merindui perjumpaan dengannya, sampai
kapan pun. Terima kasih Ayah.

Iklan

Inemmm inemm…. ckckckc

“KRINGGGGG~~~KRINGGG~~~KRINGGGG~~!!!”, bunyi telepon.

“Halo, selamat siang”, jawab seorang wanita setengah  baya.
“Lho, siapa ini?”, terdengar sahut suara  berat seorang pria.

“Oh, saya pembantu baru  disini Pak. Saya baru kerja. Baru dating siang ini.”
“Kalau begitu, Ibu mana?”
“Ibu sedang di kamar tidur Pak.”
“Kalau begitu tolong panggilkan.”
“Maaf Pak, Bapak siapa yah?”
“Saya  suaminya.”
“Hah, lha wong Ibu dikamar sama  Bapak kok?!”, si pembantu kaget
“Apa ?!?!?!” si  Bapak lebih kaget lagi.

Si pembantu jadi  bingung. “Nama kamu siapa?” tanya si Bapak lagi.
“Nama saya inem, Pak.” jawab si Inem dengan gemetar.
“Inem, seperti apa laki-laki yang di kamar dengan ibu?”
“Rambutnya ikal, Pak. Dan pakai kaca mata.”, jawab  Inem dengan terbata-bata.

“KURANG AJAR !!! Pasti si Johan itu. INEM !!!”, teriak  Bapak.
“Ya pak?”
“Coba kamu intip, sedang apa mereka?”
“Aduh  Pak, saya ngga berani”
“HEH !!! Saya Tuanmu tau  !!! Cepat sana liat !!!  Kalau tidak saya pecat kamu.”

Dengan lutut gemetar, Inem berjalan sambil mengendap-endap menuju
kamar majikannya. Dengan  tangan gemetar dibuka pintu kamar itu dengan
sangat hati-hati agar tidak diketahui orang yang didalam. Setelah itu
dia melihat keadaan didalam  dan langsung ke telpon lagi.

“Halo  Pak…”

“Yah, apa yang terjadi disana?” jawab  Bapak dengan tidak sabar.

“Anu, pak …”
“ANU APA ?! CEPAT CERITAKAN !!!” bentak si  Bapak.
“Ibu sama laki-laki itu sedang tidur,  Pak”
“Cuma tidur?” tanya si Bapak lagi dengan  tidak sabar.
“Mereka berdua sedang tidur tapi  tidak pakai baju.”
“APA ?!?!?! KURANG AJAR !!!  SUDAH SAYA DUGA !!! DASAR ISTRI
SIALAN !!!!”, maki si Bapak. “INEM !!!”, panggil si Bapak  lagi dengan teriak tentunya.

“Iya Pak”
“Cepat ambil tali dan  ikat tangan dan kaki mereka berdua, CEPAT !!!”
“Aduh Pak, kalau ini saya benar-benar nggak berani Pak”, jawab Inem
dengan suara yang hampir  menangis.
“Dasar kamu bodoh !!! Hayo cepat  laksanakan nanti saya kasih uang
1 juta” perintah si Bapak dengan tidak sabar.

Karena  diiming-imingi uang, timbul keberanian si Inem. Langsung
diletakkan gagang teleponnya dan larilah dia ke  dapur untuk mencari
tali. Setelah di dapatkan talinya dengan mengendap-endap Inem masuk ke
kamar majikannya. Dengan  sangat hati-hati agar tidak terbangun, pertama
dia ikat tangan si Pria lalu kakinya. Kemudian dia ikat tangan dan kaki
si Ibu. Tapi sial,  karena gugup tanpa sadar si Ibu terbangun. Melihat
keadaan dirinya yang di ikat, si Ibu teriak: “INEM. APA YANG KAMU
LAKUKAN ?! Kamu  mau merampok yah ?!”
“Maaf Bu, saya disuruh  Bapak.” langsung si inem lari ke arah telpon,
meninggalkan nyonya majikannya yang berteriak-teriak dengan marahnya dan
si Pria yang mulai  terbangun juga.
“Pak, sudah saya ikat Pak”  lapor si Inem dengan ngos-ngosan.
“Bagus,  sekarang ambil kamera di meja kerja saya …”
“Meja kerja Bapak dimana?”, potong si Inem.
“Gimana sih kamu ini. Itu yang di bawah tangga.”
“Tangga???” si Inem kebingungan “Di rumah ini kan ngga ada tangganya, Pak.
Nggak ada tingkat.”, timpal Inem. Hening sesaat.
“Berapa nomor telpon ini?”, tanya si Bapak
“5001501, Pak”, jawab si Inem dengan polos.
“Maaf salah sambung.” “KLIK”, suara telpon ditutup.

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu  setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang  harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala  tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita rnenjerit karena cubitannva yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.
Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, “Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?”

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,”kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik. ”
Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepadaAllah Taala bagairnana kita menunaikan amanah dari-Nya kah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat rnenggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk isti Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.

Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.

Waktu

Bayangkan ada sebuah bank yang memberi anda pinjaman uang sejumlah Rp.86.400,- setiap paginya. semua uang itu harus anda gunakan. pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yg tidak akan anda gunakan selama sehari. coba tebak, apa yg akan anda lakukan? tentu saja, menghabiskan semua uang pinjaman itu.

 
S
etiap dari kita memiliki bank semacam itu; bernama WAKTU. setiap pagi, ia akan memberi anda 86.400 detik. pd malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yg tidak anda gunakan untuk tujuan baik. karena ia tidak memberikan sisa waktunya pada anda. ia juga tidak memberikan waktu tambahan. setiap hari ia akan membuka satu rekening baru untuk anda. setiap malam ia akan menghanguskan yg tersisa. jika anda tidak menggunakannya maka kerugian akan menimpa anda. anda tidak bisa menariknya kembali. juga, anda tidak bisa meminta “uang muka” untuk keesokan hari. Anda harus hidup di dalam simpanan hari ini. Maka dari itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan anda. jam terus berdetak. gunakan waktu anda sebaik- baiknya.

 
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN , tanyakan pada murid yang gagal kelas.

Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN , tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU , tanyakan pada editor majalah mingguan.

Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.

Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang.

Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.

Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih medali perak olimpiade.

 RENUNGAN:

Hargailah setiap waktu yang anda miliki. Dan ingatlah waktu tidaklah menunggu siapa-siapa.

Malas

Deni sedang agak malas bekerja hari ini. Rasanya masih ingin libur.
Kok cepat sekali liburan berakhir. Rasanya baru sebentar libur, eh sudah
harus bekerja lagi.

Tapi, kemudian Deni teringat suatu kejadian yang menggerakkan hatinya
ketika belum lama berselang dia pulang kampung untuk merayakan tahun baru
bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Ketika dalam perjalanan ke
kotanya, di kereta api Deni bertemu seseorang. Orang tersebut duduk di kursi
sebelah kirinya dan hanya dipisahkan oleh jalan untuk lalu lalang. Seorang
pemuda. Sederhana. Biasa saja. Tidak terlalu istimewa.

Yang membuatnya istimewa adalah pemuda tersebut terus menerus
dipuji-puji oleh teman-temannya. Mereka semua berlima. Teman-temannya tak
henti-hentinya memujinya, menggodanya, menepuk-nepuk bahunya, dan
menyalaminya berulang-ulang. Sebaliknya pemuda tersebut hanya senyum-senyum
dan tertawa.

Di tengah perjalanan, setelah teman-teman pemuda tersebut tidak
terlalu ribut lagi, tiba-tiba pemuda tersebut menyapa Deni. Mau pinjam koran
yang dipegang Deni. Tentu saja Deni tidak keberatan untuk meminjamkan
korannya. Apalagi dia sudah selesai membacanya. Tak lama kemudian pemuda
tersebut mengembalikan korannya dan mereka berdua terlibat dalam
pembicaraan.

Karena penasaran, Deni menanyakan mengapa pemuda tersebut disalami.
Dia hanya tersenyum saja. Tapi, teman di sebelahnya langsung menengok ke
arah Deni dan menjawab:”Dia karyawan terbaik tahun ini, mas! Nomor satu! Ha
ha ha… Sudah tiga tahun berturut-turut lho mas. Hebat kan?” Temannya yang
lain menambahkan: “Tahun ini dia naik jabatan mas. Jadi bos.”

Deni memberi salam sambil mengucapkan selamat. Sambil bercakap-cakap,
Deni menanyakan kiat-kiat suksesnya dalam bekerja. Temannya menjawab: “Dia
orangnya selalu ingin lebih baik. Tidak pernah berhenti belajar mas. Tidak
pernah menyerah. Kalau dia tidak mengerti, dia bertanya dan belajar. Kalau
sudah mengerti, dia akan berusaha melakukan yang terbaik. Kalau sudah
terbaik, dia berusaha lebih baik lagi. Pokoknya tidak pernah puas. Yah,
jelas dia menang lagi tahun ini.”

Teman yang lain lagi menambahkan: “Betul mas. Malah kita semua banyak
belajar dari dia. Dia ini memang superman. Pokoknya hebat deh.” Deni ikut
tersenyum: “Wah, mas, saya juga ingin belajar nih. Saya kok tidak bisa
begitu ya? Kalau lagi down, ya kerja jadi malas juga. Tidak bisa selalu
bersemangat tinggi. Apalagi kalau lagi bokek. Ha ha… Bagaimana sih
caranya?”

Pemuda tersebut memandangnya, lalu berkata serius: “Saya juga sering
mengalami up and down kok. Tapi, saya tidak mau down terus. Setiap kali saya
malas, ya langsung saya kerja lebih giat. Kalau saya ingin istirahat, saya
langsung cari apa saja yang bisa dikerjakan. Kalau saya bosan, saya langsung
bikin rencana baru tentang apa saja yang akan saya lakukan hari itu.”

Dia bercerita: “Tiga tahun yang lalu, saya ditegur oleh atasan saya.
Soalnya saya lagi malas banget. Beberapa hari di kantor saya hampir tidak
mengerjakan apa-apa dan hanya main game. Lalu atasan saya datang. Beliau
hanya bertanya, Kalau kamu sedang malas bekerja, bagaimana jika perusahaan
juga sedang malas membayar gajimu?”

Pemuda itu melanjutkan, “Setelah berkata demikian, beliau pergi. Saya
jadi malu sendiri. Saya tidak ingin perusahaan malas membayar gaji saya,
tentunya perusahaan juga tidak ingin saya malas bekerja. Jadi, sejak saat
itu saya tidak mau menuruti rasa malas, lelah, bosan dan lainnya.”

“Caranya?” tanya Deni.

“Kalau saya sedang merasa malas, saya langsung berdiri dan
lompat-lompat di tempat. Kira-kira 20 kali lompat. Dulu saya sering
ditertawakan teman-teman saya ini, tapi sekarang banyak yang mengikuti cara
saya. Dengan melompat-lompat sebentar, maka peredaran darah menjadi lebih
lancar, rasa malas pun hilang. Begitu juga kalau saya mengantuk, saya
langsung melompat-lompat sebentar, maka rasa mengantuk akan lenyap. Pokoknya
saya melakukan kebalikan dari setiap perasaan negatif yang saya rasakan.”

“Begitu juga kalau saya sedang pusing dengan masalah pribadi saya.
Langsung saya menelepon klien yang membutuhkan bantuan saya, sehingga saya
tidak memikirkan masalah saya sendiri. Kadang saya langsung menghadap atasan
dan mendiskusikan masalah pekerjaan. Saya tidak mau mengasihani diri
sendiri. Masalah saya tidak akan selesai dengan berpusing-pusing atau
bermalas-malasan kan? Apa uang saya akan bertambah kalau saya malas bekerja?
Tidak kan? Jadi, untuk apa?”

Waktu mendengar penjelasan pemuda itu, Deni hanya mengangguk-angguk.
Tapi kini, ketika dia merasa sedang malas, Deni teringat akan pemuda di
kereta. Segera Deni berdiri dan melompat-lompat di tempat sebanyak 20 kali.
Eh benar, ternyata badannya terasa lebih segar. Dia pun mulai bekerja lagi.
Ternyata dia merasa semangatnya timbul lagi. Manjur juga yah?

Semangat Deni timbul. Untuk apa memulai tahun yang baru dengan rasa
malas? Apakah rasa malas akan mengubah keadaan menjadi lebih baik? Jelas
tidak! Jadi apa gunanya malas? Do something! Be active! Be successful!

Mahalnya Dendam dan Kemarahan

Aku berjalan dengan seorang temanku, seorang anggota kelompok Quaker,
menuju sebuah stand koran malam itu. Ia membeli sebuah koran, dengan
sopan ia mengucapkan terima kasih kepada penjualnya. Namun penjual
koran itu tidak mempedulikan ucapan tersebut.

“Orang yang tidak sopan, ya?”komentarku.
“Oh, setiap malam ia selalu begitu,”sangkal temanku.
“Lalu mengapa Anda terus saja begitu sopan kepadanya?”tanyaku.
“Kenapa tidak?” sanggahnya. ” Kenapa aku membiarkannya UNTUK menentukan bagaimana aku akan bertindak?”

Saat aku memikirkan kejadian itu selanjutnya, muncul dalam benakku
bahwa ungkapan yang penting adalah “TINDAKAN “. Temanku BERTINDAK
terhadap orang lain; kebanyakan kita “BEREAKSI” terhadap mereka.
Ia memiliki suatu indera keseimbangan mental yang tidak ada pada
sebagian besar kita; ia tahu siapa dirinya, untuk apa ia bersikap, dan
bagaimana ia akan berperilaku. Ia tidak mau membalas KETIDAK SOPANAN
dengan KETIDAKSOPANAN, karena jika demikian ia tidak lagi mampu
mengendalikan perilakunya. (Sebagaimana diceritakan Sidney J. Haris
dalam buku (Mind Power).

****

Hidup ini tidak selamanya putih, dan juga tidak selamanya hitam. Ada
kalanya hitam dan adakalanya putih. Begitu pun dengan karakter manusia;
ada yang jahat dan ada yang baik.
Dari sana kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa tidak selamanya
kita mendapatkan KAWAN YANG BAIK, yang selalu melontarkan
kebaikan-kebaikan bukan hinaan-hinaan, yang mengajak kita pada keimanan
bukan kemaksiatan, yang MENUTUP AIB AIB kita bukan MEMFITNAH kita.
Kadang kita mendengar A, B, C, D mengatakan kata-kata kasar yang
mengusik ketenangan kita. Tuduhan-tuduhan busuk mengarah kepada kita
ibarat lemparan pecahan beling yang mengenai muka dan tubuh kita,
terasa perih menyayat hati. Kadang yang mangatakan itu adalah teman
yang terdekat dengan kita, kadang melalui orang lain yang dia terima
dari teman kita, dan lain sebagainya.

Ingin rasanya marah, benci, dendam, melumatnya hingga mati. Ingin
rasanya mengata-ngatainya lagi; membalas ketidaksopanan dengan
ketidaksopanan, hinaan dengan hinaan, percikan api dengan percikan api.
Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Jika kita meladeninya, masalah
kita justru malah semakin bertumpuk; yang satu belum selesai yang lain
muncul lagi. Kemarahan, kebencian, dendam kesumat membuat tubuh
bergetar hebat, nafas memburu, darah dalam tubuh mendidih dan uapnya
menutupi AKAL SEHAT kita sehingga kita bisa mati terbunuh karenanya,
atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan yang selama ini kita
ketahui bahwa itu tidak baik.

Sejauh data-data tertulis yang ada, orang menghadapi kematian mendadak
saat ia mengalami ketakutan, kemarahan, kesedihan, penghinaan atau
kegembiraan yang sangat. Pada awal abad masehi, Raja Romawi, Nerva,
dilaporkan meninggal akibat “akses kemarahan yang hebat” terhadap
senator yang telah menyinggung perasaannya. Pope innocent IV dikabarkan
meninggal mendadak akibat “efek-efek kemarahan yang mengerikan bagi
sistem tubuhnya” karena kekalahan-kekalahan tentaranya oleh Manfred,
Raja Sicilian.

Oleh karena itu, Rasulullah Saw memandang bahwa yang dimaksud orang
kuat itu bukan orang yang jago berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah
orang yang sanggup mengendalikan amarahnya ketika ada kesanggupan untuk
marah. Di dalam tubuh kita ini sudah ada unsur api (fujuroha), di
samping unsur cahaya (taqwaha). Sehingga jika kita menambahi api itu
dengan api yang lebih besar (amarah), maka hasilnya akan jauh lebih
besar dan besar.
Contoh dalam mengendalikan amarah telah diperlihatkan oleh Rasulullah
dan Orang-orang beriman lainnya. Ketika Rasulullah berdakwah ke Thaif,
beliau dilempari oleh penduduknya dengan batu sambil di hina:

Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal
(gila) dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang
berdusta. (Al A’raaf : 66). hingga tubuh beliau berdarah-darah. Beliau
tidak marah. Beliau menangis tersungkur disuatu tempat sambil berdoa
kepada Allah. Melihat itu, malaikat Jibril mengatakan kepada beliau,
jika beliau berkenan, dia akan menghimpit penduduk thaif dengan dua
gunung yang ada disekitarnya. Dengan airmata berlinang beliau
mengatakan, “Jangan, mereka hanya tidak tahu siapa aku. Mudah-mudahan

di hari nanti mereka menerima dakwahku.”

Sungguh mulia akhlakmu ya Rasul. Mari kita mencontoh akhlak Rasul ini.
Apabila kita mendapat hinaan, dinginkan dengan doa dengan penuh
kekhusyuan, ” Ya Allah, jika apa yang dikatakannya benar, ampunilah aku.
Sungguh hamba-Mu memang banyak sekali berbuat dosa. Namun, jika apa
yang dikatakannya tidak benar, berikanlah aku pahala darinya.”

Al Hasan berkata: Seorang mukmin yang penyantun tidak akan berlaku usil
sekalipun ia diusuli! Lalu beliau membaca firman Allah: Apabila
orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan. (Al Furqan : 63)

Berkata Yazid bin Hubaib: Sesungguhnya kemarahanku itu berada di
sandalku. Bila aku mendengar sesuatu yang tidak aku sukai, aku ambil
sandalku itu dan aku pun berlalu.

 

Lebih Panas Mana ?

Seorang Raja mengumumkan sayembara:”Barangsiapa
yang sanggup berendam di kolam kerajaan sepanjang
malam akan dihadiahi pundi-pundi emas.” Sayembara
ini sepintas terlihat mudah, namun berendam di kolam
pada saat musim dingin tentu bukan perkara mudah.
Walhasil, tak ada yang berani mencobanya.

Seorang yang amat miskin dari pelosok pedesaan, karena tak tahan
dengan tangisan kelaparan anaknya, memberanikan diri
mengikuti sayembara itu. Pundi-pundi emas membayang
di pelupuk matanya. Bayangan itulah yang mendorong
dia akhirnya berangkat ke istana.

Raja mempersilahkan dia masuk ke kolam istana.
Sekejap saja orang miskin ini masuk ke dalamnya, ia
langsung menggigil kedinginan. Giginya saling beradu,
mukanya mendadak pucat dan tubuhnya perlahan meringkuk.

Tiba-tiba ia melihat nyala api dari salah satu ruang
istana. Segera saja ia bayangkan dirinya berada dekat
perapian itu; ia bayangkan betapa nikmatnya duduk
di ruangan itu. Mendadak rasa dingin di tubuhnya,
menjadi hilang. Kekuatan imajinasi membuatnya mampu
bertahan. Perlahan bayang-bayang pundi emas kembali
melintas. Harapannya kembali tumbuh.

Keesokan harinya, Raja dengan takjub mendapati si
miskin masih berada di kolam istana. Si miskin telah
memenangkan sayembara itu. Raja penasaran dan bertanya
“rahasia” kekuatan si miskin. Dengan mantap si miskin
bercerita bahwa ia mampu bertahan karena membayangkan
nikmatnya berada di dekat perapian yang ia lihat di
sebuah ruangan istana.

***

Ketika krisis ekonomi menghadang negara kita, sekelompok
orang menjadi panik tak karuan. Apa saja dilakukan mereka
untuk mempertahankan kenikmatan hidup. Mulai dari menjadi
spekulan mata uang, menimbun barang, menjilat penguasa
dan meniupkan issu kemana-mana. Norma agama telah dilanggar
untuk kepentingan duniawi belaka.

Akan tetapi, selintir orang tetap tenang karena sudah lama
badan mereka di “bumi” namun jiwa mereka di “langit”.
Kelompok terakhir ini membayangkan bagaimana nikmatnya hidup
di “kampung akherat” nanti, sebagaimana yang telah dijanjikan
Allah. “Pundi-pundi kasih sayang ilahi” membayang dipelupuk
mata mereka.

Bagaikan si miskin yang tubuhnya berada di dasar kolam,
namun jiwanya berada di dekat perapian; bayangan “kampung
akherat” membuat mereka tenang dan tidak mau melanggar norma
agama.

Bagaikan kisah si miskin di atas, boleh jadi Raja akan
takjub mendapati mereka yang bisa bertahan di tengah krisis ini,
tanpa harus menjilat kepada istana (apalagi bila jilatan itu
dibumbui sejumput ayat dan hadis).

Ada seorang muslim yang tengah berpuasa, rekan bulenya yang
tinggal satu flat berulang kali mengetok pintu kamar hanya
untuk memastikan apakah si muslim masih hidup atau tidak.
Orang bule itu tak habis pikir bagaimana si muslim bisa bertahan
hidup dan tetap beraktifitas tanpa makan-minum selama lebih
dari 12 jam. Rindu “kampung akherat” menjadi jawabannya.

Sama dengan herannya seorang rekan mendapati seorang muslimah
di tengah musim panas (summer) tetap beraktifitas sambil
memakai jilbab. Ketika ada yang bertanya, “apa tidak kepanasan?”
Muslimah tersebut menjawab sambil tersenyum,

“lebih panas mana dengan api neraka?”