Membuat Anak Senang Membaca

ADA SEORANG IBU bertanya kepada saya bagaimana bisa membuat anaknya mencintai buku, sedangkan dia sendiri jarang membaca karena menjadi ngantuk. Dan dia juga kuatir bahwa anak akan sobek halaman buku kalau dibelikan, jadi dia ragu-ragu untuk beli buku. Berikut adalah jawaban saya. Semoga bermanfaat.

Buat orang tua yang ingin membuat anaknya rajin membaca buku, dan juga mencintai buku, maka tidak ada cara selain anak itu harus diajak membaca buku. Jangan takut buku akan dirusak. Hal itu sangat mudah diatasi (dijelaskan sebentar lagi).

Pertama, beli satu buku dulu, dan baca bersama dengan anak. Jangan sekedar membaca tetapi juga bertanya2 tentang gambar2 yang ada hal2 menarik di dalamnya (Ada berapa semut di sini? Di mana selimutnya? Mobilnya warna apa? dsb.) Dengan demikian, membaca buku menjadi kegiatan interaktif bagi anak, sekaligus mereka bisa menikmati waktu khusus untuk bergaul dengan orang tuanya (atau abang/kakak/ Om/Tante/ Kakek/Nenek, dsb.).

Waktu yang baik adalah pada saat anak mau tidur malam atau tidur siang. Nanti akan menjadi kebiasaan, dan juga merupakan waktu penting yang bisa digunakan orang tua untuk bergaul dengan anak. Kalau baca buku pada jam 9 malam sebelum tidur, maka tidak apa2 kalau menjadi ngantuk. Kalau sudah dikerjakan untuk 2 minggu, nanti Insya Allah menjadi kebiasaan dan anak bakalan minta terus, jadi orang tua harus siap membuat rutinitas baru ini.

Biarkan anak memilih buku yang ingin dibacakan (kalau sudah ada beberapa). Anak senang kalau cerita yang sama diulang berkali-kali sampai dia menghafalkannya. (Saya pernah dipukul keponakan karena untuk menyingkat waktu, saya loncat dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir di dalam halaman pertama, tanpa tahu cerita sudah dihafalakan oleh dia. Umurnya anak itu 3 tahun, dan dia tahu kalau satu kalimat tidak dibaca, dan menjadi marah. Ceritanya harus sama terus!)

Kalau sudah selesai baca buku untuk pertama kali, sekarang saatnya untuk membuat perjanjian sama anak. Setelah baca buku pertama, bertanya kalau anak suka. Dia pasti bilang iya. Bertanya kalau mau dibelikan lagi. Dia pasti bilang iya.

Bikin janji: “Ibu janji untuk beli buku lagi, tetapi hanya kalau semua buku dijaga dan tidak disobek!” Jelaskan bahwa buku mahal, dan kalau disobek, maka uang Ibu habis dengan sia-sia. Kalau uang Ibu habis, tidak bisa belikan buku lagi karena harus menghemat uang untuk beli susu, dsb. Jadi kalau buku dipelihara dengan baik, Ibu akan belikan buku terus.

Jadi, sekarang anak harus memilih sendiri: mau jaga buku supaya dapat lagi, atau tidak? Mendorong anak untuk mengulangi perjanjian sama Ibu, supaya dia menjadi hafal. Dan percapakan yang sama perlu diulang beberapa kali dalam satu minggu sebelum dibelikan buku lagi. Ini untuk tekankan bagi anak bahwa peraturan sudah jelas, dan dibuat dengan persetujuan anak. Jadi, kalau anak tidak dibelikan buku lagi (karen buku pertama disobek), maka itu konsekuensi daripada perbuatan anak sendiri dan merupakan “pilihan dia”.

Ibu: “Kalau buku disobek..?

Anak: “…tidak dibelikan lagi.”

Ibu: “Tetapi kalau buku dijaga baik-baik…?”

Anak: “…akan dibelikan lagi.”

Ibu: “Kamu mau yang mana? Pilih sendiri ya!”

Anak kecil sangat egois dan pasti memilih yang terbaik bagi dirinya. Kalau dia tahu bisa dapat lagi dengan menjaga buku pertama, dia pasti akan berusaha menjaganya (tetapi belum tentu langsung bisa, tergantung umurnya, jadi Ibu harus bersabar dan siap coba lagi kalau gagal pertama kalinya).

Kalau sudah lewat beberapa hari dan buku masih dijaga, belikan lagi. (Yang gampang adalah beli 5-10 sekaligus, dan simpan di lemari/kantor. Bagikan satu per satu selama berapa minggu/bulan. Satu minggu, satu atau dua buku tidak terlalu berat untuk kebanyakan orang tua, dengan harga buku sekitar 20.000.)

Sekarang masuk fase pelajaran, di mana anak sedang belajar untuk menjaga suatu barang. Kalau skil ini belum pernah diajarkan orang tua sebelumnya, wajarlah kalau sebagaian anak tidak bisa langsung berhasil. Tetapi jangan sampai gagal satu kali lalu Ibu langsung berhenti. Ibarat anak belajar naik sepeda; kalau dia jatuh pertama kali apakah wajar kalau sepedanya diambil dan tidak pernah ditawarkan lagi, atau apakah lebih wajar kalau anak dibantu untuk bercoba lagi?

Jadi, orang tua juga harus flexibel. Jangan samapi ada satu halaman sobek sedikit pada saat lagi main (mungkin tidak sengaja, atau disobek adik yang masih kecil), lalu Ibu langsung marah dan menolak beli buku lagi. Jangan begitu. Anak tidak akan merasa bersalah, tetapi disalahkan oleh Ibu, dan penyediaan buku yang sangat dihargai anak menjadi putus. Anak bakalan menjadi marah atau kesal. Jadi, kalau satu buku disobek, jangan berikan buku lagi untuk dua minggu, tetapi setiap hari bicara sama anak tentang buku dan bagaimana caranya memelihara buku. Misalnya, setelah membaca, taruh di lemari/rak buku, dan jangan tinggalkan di kasur. Kalau anak sudah kelihatan berusaha menjaga buku lagi, kembali berikan secara rutin.

Ibu harus ingat bahwa anak tetap anak, dan sangat mustahil bahwa seorang anak bisa bertanggungjawab penuh terhadap koleksi buku tanpa terjadi masalah. (Orang dewasapun banyak yang tidak bisa menjaga amanah, jadi jangan bersikap terlalu keras terahadap anak yang belum bisa).

Insya Allah dengan demikian, anak belajar bertanggungjawab terhadap barang miliknya, jadi senang membaca (terutama kalau baca selalu berserta orang tua setiap malam sebelum tidur), anak juga mendapatkan nikmat cerita yang mengajarkan moral, dan sekaligus mendapatkan kosa kata dan tata bahasa yang baik, yang akan membantu dalam semua pelajaran sekolah.

Kalau anak ulang tahun, jangan langsung beli Play Station. Lebih baik ajak ke toko buku dan suruh anak memilih sendiri 10 buku favorit.

Salah satu buku yang ingin saya rekomendasikan kepada orang tua adalah seri Frankin. Gambarnya sangat bagus, ceritanya bagus, dan mengajarkan moral kepada anak. Ada terjemahan bahasa Indonesia, dan saya sangat suka karena kulitas gambarnya serta ceritanya. Buat orang tua yang Muslim, yang kuatir pada judul yang tidak islamiah, maka tidak usah beli buku yang itu, seperti Franklin dan Peri Gigi, atau Hadiah Natal. Kalau anak bertanya kenapa, cukup jelaskan bahwa kita orang Islam dan tidak percaya pada Peri Gigi atau Natal, dan tidak perlu dijelaskan lebih dalam lagi. Cukup mengatakan Ibu tidak ingin beli yang itu. Nanti anak juga lupakan, Insya Allah. Selain dari itu, seri ini sangat bagus dan bisa digunakan untuk membahas beberapa perkara dengan anak. Misalnya, pada saat anak ketahuan berbohong, Ibu cukup bertanya: “Masih ingat apa yang terjadi pada saat Franklin berbohong pada teman-temannya?” Kalau anak bilang tidak tahu, walaupun dia sudah hafal ceritanya jadi pasti tahu, Ibu bisa jawab sendiri: “Temannya menjadi marah dan tidak mau main dengan Franklin lagi sampai dia minta maaf.” Dan setelah pulang ke rumah, Ibu bisa ajak anak baca buku Franklin Berbohong lagi dan membahas kenapa orang yang berbohong itu tidak disenangi teman-temannya.

Dari seri-seri buku anak yang dihasilkan di Indonesia, saya masih cari yang bagus, dan kemarin terakhir kali saya mencari, saya anggap seri Franklin termasuk yang paling bagus di Gramedia.

Semua buku yang diberikan kepada anak juga bermanfaat, Insya Allah. Dan sebaiknya dimulai dari umur 1-2 tahun dengan memberikan buku yang punya halaman sangat tebal, yang dibuat khusus untuk anak kecil. Isi buku cukup gambar, dan foto2 barang seperti mobil, bunga, dsb. Dari awal yang sederhana ini, Insya Allah anak menjadi senang “membaca” buku. Buat anak 1-2 tahun, membaca buku berarti dia memegang buku dan bisa menjawab pertanyaan dari orang tua (Mobilnya mana? Warna apa? dsb.). Pada umur 2-3 ke atas, mulai dibacakan buku setiap malam bersama dengan orang tua (sebelum umur ini juga boleh). Pada umur 6-7 ke atas, lebih baik membagi waktu supaya ada saat di mana anak membaca buku sendiri, dan juga ada saat di mana orang tua bacakan. (Dan adik2 boleh ikut mendengar juga).

Jangan takut beli buku apa saja buat anak. Sesuaikan dengan kesukaan mereka. Buat keponakan saya, laki-laki berumur 3 tahun dan 6 tahun, dibelikan buku Fraklin, buku truk, buku mobil, buku stiker, buku dinosaurus, dsb. Hampir semuanya masih dalam keadan cukup baik setelah 2-3 tahun. Ada yang sobek sedikit, dan itulah bagian dari proses belajar bagi anak, jadi tidak apa apa. Kalau saya lihat halaman yang sobek pada saat kita sedang baca buku, saya bertanya (tanpa marah) siapa yang menyobek, dan kenapa, dan tekankan bahwa sekarang gambar/teks tidak kelihatan, biar anak merasa rugi sendiri.

Sedikit diluar topik, saya juga sarankan untuk semua orang tua yang Muslim agar beli buku Tahapan Mendidik Anak – Teladan Rasulullah SAW. Tidak ada kaitan dengan topik di atas, tetapi secara umum, saya anggap buku ini sangat berharga untuk semua orang tua. Saya cukup kaget membaca buku ini karena isinya sesuai dengan ilmu pendidikan yang “terbaru” yang saya dapatkan di kampus di Australia. Saya anggap ilmu yang saya pelajari itu “baru” karena berbeda dengan ilmu pendidikan negara barat dari 20 tahun sebelumnya, tetapi setelah baca buku ini, saya baru sadar bahwa kebanyakan yang saya belajar tentang pendidikan anak dan psikologi anak telah dicontohkan 1.400 tahun yang lalu oleh Nabi kita (yang selalu memberikan pengarahan dengan lembut, dan sudah mengerti sifat anak2 dan bagaimana mendidiknya dengan cara yang terbaik). Kalau ingin beli kado buat teman yang sudah berkeluarga, saya sangat anjurkan buku ini. Insya Allah masih tersedia di Gramedia dan Gunung Agung.

Semoga bermanfaat.

Sumber : masjid_annahl@googlegroups.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: