SELAMAT JALAN…

Minta Dimakamkan sebelum Zuhur

 

 

 

JAKARTA – Indonesia kehilangan seorang tokoh besar, Minggu (27/1). Mantan Presiden Soeharto mengembuskan napas terakhirnya pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) setelah menjalani perawatan intensif selama 24 hari.

Menurut rencana, jenazah mantan penguasa Orde Baru itu akan dimakamkan hari ini di Astana Giri Bangun, Karanganyar. Upacara pemberangkatan jenazah dari rumah duka, Jalan Cendana, dengan inspektur upacara Ketua DPR Agung Laksono. Selanjutnya jenazah dibawa ke Lanud Halim Perdanakusumah untuk diterbangkan menuju Bandara Adi Sumarmo Solo pada pukul 08.30 dan diteruskan ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Darpito akan menjadi inspektur upacara saat penyambutan jenazah di Bandara Adi Sumarmo. Upacara penyambutan akan dilakukan secara militer melibatkan satu batalyon pasukan dari TNI AD, AU, AL, dan Polri.

Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan bertindak selaku inspektur upacara saat pemakaman. Menurut Seskab Sudi Silalahi, Presiden berangkat lebih awal menuju Karanganyar pukul 06.30 dari Halim Perdanakusumah.

Sebelum wafat, Soeharto meninggalkan pesan. Dia meminta agar dimakamkan sebelum zuhur, sekitar pukul 11.00 WIB. “Untuk pemakaman seperti amanat almarhum harus dimakamkan sebelum pukul 12.00 WIB. Pukul 11.00 WIB sudah harus selesai,” kata Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Darpito di Makorem 072 Warastratama, Jl Slamet Riyadi, Solo, semalam.

Untuk pemberangkatan jenazah dari Halim, disiapkan pesawat khusus. Berdasarkan pantauan, sudah disiapkan 11 pesawat. Yaitu pesawat transwisata 2 buah jenis Fokker 28 dan 1 buah Fokker 100. Selain itu ada pesawat Pelita Air 2 buah jenis Fokker 100, dan sebuah Fokker 28.

Lima pesawat Hercules juga sudah siap. Hercules A1341 akan membawa jenazah Pak Harto. Untuk keluarga akan dibawa dengan Hercules 1325. Sementara Hercules 1317 untuk membawa karangan bunga dan wartawan. Adapun pesawat Hercules 1319 untuk pejabat tinggi (Pati) TNI dan Hercules 2803 akan membawa Panglima TNI dan kepala staf.

Untuk membawa tamu ke pemakaman, keluarga Cendana juga sudah memesan beberapa pesawat seperti Lion Air dan Adam Air jurusan Solo dan Yogyakarta. “Pihak keluarga almarhum Soeharto sudah memesan beberapa jadwal penerbangan khusus untuk jurusan Solo dan Yogya,” kata Kepala Kantor Administrator Bandara Soekarno-Hatta, Herry Bakti, di Tangerang, semalam.

Minta Maaf

Kabar meninggalnya Soeharto secara resmi disampaikan oleh tim dokter kepresidenan dan RSPP yang selama ini merawat jenderal berbintang lima itu. ”Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah wafat dengan tenang Bapak Haji Muhammad Soeharto pada hari Minggu 27 Januari 2008 pukul 13.10, di RS Pusat Pertamina dalam usia 87 tahun. Semoga arwah beliau diterima Allah dan diampuni segala dosanya. Amien. Jakarta, 27 Januari 2008,” kata Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono, Minggu (27/1).

Surat keterangan pers itu ditandatangani dokter Mardjo Soebiandono dan Direktur RSPP dokter Djoko Sanyoto. Hadir dalam jumpa pers tersebut Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut), Sigit Harjojudanto, dan Siti Hedijati Hariyadi (Titiek).

Mbak Tutut yang juga menyampaikan keterangan pada pers, mengawalinya dengan mengucapkan istighfar tiga kali. ”Bapak kami telah dipanggil oleh Allah SWT. Kami, atas nama keluarga mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya kepada yang telah mendoakan Bapak selama ini. Kami mohon jika ada kesalahan Bapak selama ini dimaafkan. Kami mohon doa restunya semoga perjalanan Bapak lancar, selalu dilindungi Allah SWT, diterima seluruh amal ibadahnya, diampuni segala dosanya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ujarnya.

Jenazah Pak Harto kemudian dibawa menuju rumah duka di Jalan Cendana menggunakan ambulans RSPP bernomor polisi B-1554-VA pukul 14.30. Ikut mendampingi dalam ambulans dua putri almarhum, Mbak Tutut dan Titiek. Selain kedua putri Pak Harto, juga nampak Kapolri Jenderal Polisi Sutanto dan Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengiringi jenazah Pak Harto menuju Cendana.

Jenazah tiba di Cendana pukul 14.53. Beberapa saat kemudian dimasukkan ke ruang tengah yang sudah disiapkan. Bekas penguasa Orde Baru itu dibaringkan di sebuah dipan kayu diselimuti kain putih. Keluarga besar, anak-anak, dan para cucu, mengililinginya sambil berdoa. Mamiek, putri bungsu keluarga Soeharto, terus menangis dan sambil bersimpuh memegangi kaki almarhum.

Tamu silih berganti berdatangan. Mantan pejabat, pejabat aktif, artis, pengusaha, anggota DPR terus berdatangan.

Cendana Ditutup

Sementara itu, kemarin Jalan Cendana tertutup untuk kendaraan, kecuali pejabat penting. Jalan satu arah yang dipinggirnya banyak pohon tinggi itu sejak siang dipenuhi orang. Ratusan karangan bunga, karena halaman rumah duka sudah penuh, terpaksa diletakkan di sepanjang Jalan Cendana.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wapres Jusuf Kalla melayat pukul 16.15, sebelum jenazah Pak Harto dimandikan. Presiden dibukakan kain yang menutupi wajah almarhum. Tampak Pak Harto masih mengenakan piyama biru dan syal cokelat di lehernya. Presiden dan rombongan berdoa di antara lantunan yasin dan tahlil.

Sekitar pukul 16.40 petugas memimpin upacara pemandian jenazah di ruang belakang. Hanya kerabat dekat dan petugas yang ditunjuk, diizinkan masuk.

”Semua putra-putri Pak Harto ikut memandikan,” kata Ali Alatas, mantan Menteri Luar Negeri.

Menurut Ali Alatas keluarga pasrah dan dapat menerima keadaan Pak Harto. Keluarga juga mengucapkan terima kasih kepada tim dokter kepresidenan dan RSPP yang bekerja keras, serta masyarakat luas yang ikut peduli dan mendoakan Pak Harto.

Paling Kritis

Sebelumnya saat memberikan keterangan pers pukul 10.00, tim dokter kepresidenan menyatakan Pak Harto kembali mengalami penurunan fungsi organ. Bahkan, seluruh fungsi pernapasan telah diambil alih oleh ventilator. Tekanan darah juga rendah, berkisar pada 60/25 hingga 70/30 mmHg.

”Pak Harto saat ini memasuki fase paling kritis selama kondisi kritis beliau dirawat. Kondisinya sangat kritis, pernapasan dangkal dan 100 persen napas kembali diambil alih ventilator. Tekanan darah beliau sekitar 60/25 sampai 70/30 mmHg,” kata dokter Mardjo. Menurutnya, sejak Minggu (27/1) pukul 01.00 dinihari, kondisi kesehatan Pak Harto secara umum menurun, kemudian terjadi sesak napas diikuti menurunnya tekanan darah.

”Tim dokter telah melakukan tindakan resusitasi, antara lain mengambil alih pernapasan dengan alat bantu pernapasan. Tapi, sekitar pukul 03.00 sampai 07.00 keadaan umum mantan Presiden Soeharto semakin menurun, dimana tekanan darah mencapai 90/35 – 70/35 mmhg, sehingga tindakan resusitasi dilaksanakan secara maksimal,” jelasnya.

Mantan presiden Soeharto dilarikan ke RSPP Jumat (4/1) karena mengalami penimbunan cairan di tubuhnya yang mengakibatkan pembengkakan dan menurunnya kadar darah merah (hemoglobin).

Keadaan Soeharto sempat membaik setelah tim dokter kepresidenan berhasil mengeluarkan cairan di tubuhnya. Namun, kesehatannya kembali mengalami penurunan pada Senin (7/1) pagi yang ditandai dengan menurunnya produksi urine, penumpukan cairan di paru-paru, serta pendarahan melalui urine dan feses sehingga hemoglobin yang awalnya berhasil dinaikan, turun kembali.

Penurunan kesehatan ini, disebabkan tubuh Pak Harto yang mengalami ketergantungan pada alat bantu dan obat-obatan. Tim dokter kepresidenan yang berupaya mengurangi alat bantu di tubuh Pak Harto justru membuat kondisi tubuh Pak Harto semakin menurun.

Seminggu terakhir, kondisi Soeharto dikabarkan berangsur pulih, setelah tim dokter berhasil mengendalikan infeksi di tubuh Soeharto. Namun, kemarin, tim dokter menyatakan sejak Minggu (27/1) pukul 01.00 WIB Soeharto mengalami sesak napas dan tekanan darah turun. Tim dokter juga menyatakan sistem pernapasan Pak Harto 100 persen diambil alih oleh alat bantu pernapasan. Akhirnya, pada pukul 13.10 kemarin, presiden kedua RI itu tidak dapat tertolong lagi.

 

Bendera PBB Dipasang Setengah Tiang

DENPASAR–MI: Bendera Perserikatan Bangsa Bangsa ikut dipasang setengah tiang berdampingan dengan Bendera Merah Putih di halaman Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, tempat penyelenggaraan Konferensi PBB tentang Antikorupsi.

Dari deretan ratusan tiang bendera bekas

penyelenggaraan Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) tersebut, Senin (28/1), hanya dua yang dipasang bendera, yakni Bendera PBB dan Merah Putih, walaupun kegiatan itu diikuti utusan dari 140 negara.

Menjelang pembukaan “The Second Season of The Conference of The States Parties To The United Convention Again Corruptions” (COSP II UNCAC), suasana di sekitar hotel tersebut terlihat lengang.

Delegasi yang berdatangan menjalani pemeriksaan di pintu gerbang, kemudian sebagian terlihat menyempatkan berfoto dengan latar belakang sejumlah obyek, termasuk Bendera PBB dan Merah Putih.

Sebagian delegasi langsung menuju tempat konferensi kedua negara-negara para pihak tersebut di balai sidang internasional (Bali International Convention Center/BICC).

Suasana duka atas meninggalnya mantan Presiden Soeharto, tampaknya turut menyelimuti penyelenggaraan konferensi yang batal dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Widodo AS, yang mewakili Presiden SBY, telah hadir di lokasi konferensi yang akan berlangsung lima hari tersebut.

Sementara itu Gubernur Bali Dewa Beratha, melalui Kepala Biro Humas dan Protokol, Anak Agung Gede Bagus Netra, menyampaikan imbauan kepada seluruh instansi dan warga setempat, untuk memasang bendera setengah tiang.

Dari pemantauan sejak di Denpasar, kawasan Jalan Gatot Subroto, By Pass Ngurah Rai, hingga di kawasan wisata Nusa Dua, tak terlihat kesemarakan pemasangan bendera setengah tiang.

Hanya kantor-kantor instansi pemerintah yang telah memasang bendera setengah tiang, sedangkan perkantoran perusahaan, pertokoan dan rumah-rumah penduduk, hanya satu-dua yang sudah memasang bendera setengah tiang.

Sumber : www.mediaindonesia.com

Perjalanan Hidup Suharto

Presiden Suharto
Presiden Suhartomenandatangi kesepakatan IMF beberapa bulan sebelum mundur di tahun 1998

Mantan Presiden Republik Indonesia Suhartomeninggal dunia pada usia 86 tahun.

Suharto memerintah Indonesia selama lebih dari 30 tahun, tetapi dipaksa untuk mengundurkan diri pada bulan Mei 1998 di saat Indonesia menghadapi dampak dari krisis ekonomi yang melanda Asia.

Pak Harto lahir pada 8 Juni 1921 di desa Kemusuk, kecamatan Argomuluyo, Yogyakarta.

Di masa mudanya, dia bergabung dengan Tentara Kerajaan Hindia-Belanda Belanda, KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger).

Selama Perang Dunia Kedua, Suharto menjadi komandan batalion di dalam militer yang disponsori oleh Jepang, yang dikenal sebagai tentara PETA (Pembela Tanah Air).

Pada masa perang kemerdekaan antara tahun 1945 dan 1949, Suharto dikenal luas di kalangan militer dan ikut berperan dalam serangan tiba-tibanya terhadap Belanda dalam merebut kembali Yogyakarta pada 1 Maret 1949, yang dalam sejarah dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret.

Suharto mengambilalih kekuasaan dari Presiden Sukarno yang melimpahkan kekuasaan eksekutif lewat Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966.

SOEHARTO
Lahir 8 Juni 1921, di Kemusuk, Yogyakarta
Bergabung dengan Tentara Kerajaan Hindia-Belanda, KNIL
Berperan dalam Serangan Umum 1 Maret 1949
Memimpin penumpasan PKI tahun 1965, di mana ratusan ribu tewas
Mengambilalih kekuasaan dari Sukarno lewat Supersemar
Diangkat sebagai pejabat presiden Maret 1967
Dilantik sebagai presiden RI kedua Maret 1968
Mundur sebagai presiden RI Mei 1998

Supersemar dikeluarkan beberapa bulan setelah peristiwa pembunuhan para jenderal yang disebut Gerakan 30 September 1965, di mana Suharto memimpin gerakan penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menewaskan ratusan ribu orang.

Insiden pembunuhan itulah yang menjadi pijakan Jenderal Suharto untuk meraih kekuasaan yang oleh sebagian kalangan dianggap sama dengan kudeta militer.

Pada Maret 1967, setahun setelah Supersemar, Jenderal Suharto diangkat sebagai pejabat presiden dan setahun kemudian dia resmi dilantik sebagai presiden kedua Republik Indonesia oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Selama berkuasa, Suharto menerapkan gaya pemerintahan otoriter, tetapi berhasil menjalankan perekonomian dengan hasil yang mencengangkan, dan membawa stabilitas serta kemakmuran sampai tahun-tahun terakhir pemerintahannya.

Pembangunan ekonomi

Perekonomian adalah pencapaian terpenting pemerintah Indonesia di bawah Suharto, presiden yang mendapat julukan Bapak Pembangunan Indonesia.

Ekspor Indonesia mengalami lonjakan didorong oleh kuatnya produksi pabrik dan industri perminyakan.

Sukarno dan Suharto
Suharto mengambilalih kekuasaan dari Presiden Sukarno lewat Super Semar tahun 1966

Ini adalah model klasik di Asia saat itu, di mana pemerintah yang berkuasa memusatkan perhatian pada pembangunan perekonomian, dan mengabaikan pembangunan demokrasi.

Negarawan senior Singapura Lee Kwan Yew menggambarkan Pak Harto sebagai orang yang membawa stabilitas dan pertumbuhan di kawasan.

“Warisannya bagi Asia Tenggara konstruktif. Dia memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi, bukan untuk membangun Indonesia sebagai kekuatan yang lebih besar,” kata Lee Kwan Yew.

“Soeharto memberi jaminan kepada negara-negara tetangganya, khususnya Malaysia dan Singapura, bahwa dia menginginkan perdamaian, kerja sama dan pertumbuhan secara bersama.”

Namun kelemahan terbesar Suharto adalah sikapnya yang mentolerir korupsi, khususnya yang terjadi di lingkungan keluarga dan kerabatnya sendiri.

Dugaan korupsi

Pada tahun-tahun terakhir pemerintahannya, lawan-lawan politik mantan penguasa Indonesia ini menuntut retribusi, dengan menuduh jenderal purnawirawan itu melakukan pelanggaran hak azazi dan korupsi luas.

 Suharto memberi jaminan kepada negara-negara tetangganya… bahwa dia menginginkan perdamaian, kerja sama dan pertumbuhan secara bersama
Lee Kwan Yew

Korupsi, masalah HAM, ditambah dengan krisis keuangan yang melanda kawasan Asia, membuat keberhasilan pembangunan ekonomi Indonesia di bawah Orde Baru pimpinan Suharto menghancurkan kepercayaan pada perekonomian Indonesia.

Indonesia menjadi negara yang merasakan dampak paling parah.

Situasi ini memicu kerusuhan, penjarahan dan aksi protes oleh mahasiswa yang akhirnya memaksa Suharto turun dari kekuasaan pada tahun 1998.

Dia diajukan ke pengadilan dengan tuduhan menggelapkan uang negara.

Majalah Time mengklaim jumlah uang yang digelapkan Suharto ketika berkuasa adalah sekitar $15 miliar, sementara lembaga swadaya masyarakat Transparency International mengatakan pada tahun 2004 uang yang dikorupsi Suharto mencapai $35 miliar.

Kesehatan memburuk

Penuntutan terhadap kasus pidana dugaan korupsi atas mantan presiden ini dihentikan pada tahun 2006 oleh Jaksa Agung RI saat itu Abdul Rahman Saleh dengan alasan kondisi fisik dan mental, Suharto yang tidak layak diajukan ke persidangan.

Tetapi kasus gugatan perdata senilai $1,4 miliar atas Yayasan Supersemar yang dipimpin Pak Harto masih berjalan.

Suharto pertama kali masuk rumah sakit untuk dirawat pada 20 Juli 1999 karena stroke ringan, dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).

Sejak saat itu dia berkali-kali keluar masuk rumah sakit karena kondisi kesehatannya.

Suharto meninggalkan tiga putra dan tiga putri.

Sumber : www.bbc.co.uk/indonesian

Kebaikan yang Harus Dijadikan Contoh

K.H. Abdullah Gymnastiar (pengasuh Pesantren Daarut Tauhiid)

SEBAIK-baik contoh adalah contoh Rasulullah saw. Nabi Muhammad saw. adalah suri teladan kita. Mudah-mudahan kebaikan yang dilakukan almarhum Pak Harto semasa hidupnya, dapat dijadikan contoh oleh bangsa Indonesia. Yang baik dari Pak Harto harus kita akui dan hargai. Kita perlu berpikir kembali, mestikah kita mendahului penilaian dari Allah SWT terhadap seseorang. Sungguh, hanya Allah-lah hakim yang adil. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga wafatnya Pak Harto bisa jadi bahan tafakur dan memetik hikmah bagi perubahan diri serta keluarga. Ya, keluarga yang sesuai tuntunan Allah SWT, yang sakinah mawaddah wa rahmah. (A-44)**

Lia (25) (karyawan swasta)

SEWAKTU Pak Harto menjabat sebagai presiden, umur saya kan masih kecil. Jadi, segala seuatunya saya rasakan enak saja. Tapi ternyata, di balik keenakan itu ada sesuatu, yang belum terselesaikan. Yakni, proses hukum yang berlangsung terhadap Pak Harto, sebaiknya terus dilanjutkan hingga tuntas. Bagaimanapun keadaannya harus diselesaikan sampai tuntas. Itu kan sebagai wujud pertangungjawaban dari seorang mantan presiden yang juga menyandang predikat Bapak Pembangunan. Meski begitu, semoga diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. (Catur Ratna)**

Yanto (33) (pemulung dan pencari barang bekas)

DI mata saya, Pak Harto itu orangnya memang baik. Zaman dia dulu saat menjabat presiden, berbagai urusan termasuk mencari uang bagi saya cukup gampang. Namun sekarang ini agak susah. Semakin hari pun dirasakan semakin susah. Banyak masalah, seperti minyak tanah sulit, beras harganya mahal, barang-barang apa pun sekarang ini mahal. Namun begitu, memang zamannya sudah berlalu, sudah kita lupakan saja. Kasihan dia sudah tua begitu. Hartanya pun mungkin sudah habis. Biar bagaimanapun, mudah-mudahan semua kebaikannya diterima sekaligus jasa-jasanya terus dikenang. (Catur Ratna)**

Ade (42) (tukang becak)

PAK Harto? Duka, sigana mah sarakah, ceuk dina tv mah. Tapi soal harga mah mending baheula, ayeuna mah kondisina parah pisan. Pami tentang kasusna, harta bendana kudu di ka pamarentahkeun, tong dipendem anak-anakna, supaya teu beurat teuing di akherat. Mun maot mah nya biasa we. (Pak Harto? Kalau lihat TV, sepertinya serakah. Tapi kalau soal harga, lebih mending dulu, waktu zaman Pak Harto, tidak separah sekarang. Soal kasus, harta bendanya diberikan ke pemerintah, jangan terus disimpan oleh anak-anaknya, biar di akhirat nanti tidak terlalu berat. Kalau dia meninggal, ya biasa saja). (Catur Ratna)**

Warsono (45) (penjaga lintasan rel kereta api Andir)

SOSOK Pak Harto memang baik. Apalagi ketika ia masih memerintah dulu, alhamdulillah harga-harga pada murah, sembako terjangkau, begitu pun juga kayak harga minyak gitu lho. Memang terjadi banyak penyimpangan kekuasaan dan korupsi di mana-mana. Tapi coba perhatikan, semua kondisi terlihat aman. Mengenai kasusnya, lanjutkan saja, biar bagaimana pun keadilan tetap harus ditegakkan. Jika beliau meninggal, itu kan sudah takdir, apa boleh buat? Namun soal kasus perdatanya, coba diselesaikan meski melalui keluarganya. (CA-176)**

Abie (25), (dosen salah satu perguruan tinggi)

DI luar semua kasusnya, Pak Harto merupakan orang yang berjasa buat bangsa kita. Waktu zaman Pak Harto dulu, stabilitas negara lebih baik dibandingkan dengan saat ini. Tetapi kalau soal kebebasan individu, menurut saya mah ya lebih baik sekarang ini. Namun begitu, saya turut sedih atas meninggalnya Pak Harto. Biar bagaimana juga dia itu sebagai orang yang telah banyak berjasa buat pembangunan bangsa ini. Jadi tidak layak tampaknya kalau di saat dia sakit dan meninggal dalam keadaan dicaci maki.

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

H.M. Soeharto, “Kalau Ajal Menjemput”

“Kalau tiba saatnya saya dipanggil oleh Yang Mahakuasa, mengenai diri saya selanjutnya sudah saya tetapkan, saya serahkan kepada istri saya.”

PERNYATAAN di atas terdapat dalam buku otobiografi, “Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya” (Citra Lamtoro Gung Persada, 1989:561). Namun, ternyata istrinya Siti Hartinah atau yang akrab disapa Ibu Tien, meninggal dunia lebih dulu 28 April 1996 akibat sakit jantung.

Sepeninggal Ibu Tien, bintang “Sang Jenderal Besar” pun terus meredup. Kariernya sebagai presiden selama 30 tahun mulai terguncang, khususnya setelah terjadi krisis moneter Agustus 1997. Krisis pun berkembang menjadi krisis ekonomi 1998, yang berbuntut lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, Mei 1998.

Sekilas tak ada yang berbeda, baik saat jadi presiden maupun setelah lengser. Bahkan, saat sakit-sakitan senyum khasnya tak pernah lepas. Wajar bila penulis O.G. Roeder menyebutnya sebagai the smiling general dalam bukunya “The Smiling General”.

Selain “The Smiling General”, masih banyak sebutan lain untuk Pak Harto. Ada yang memuji, tak sedikit pula yang mencacinya. Soekarno menyebutnya opsir koppig (opsir keras kepala). Ada yang menyebutnya pemimpin besar, ada pula hanya karena keberuntungan bisa memimpin negeri ini.

Sejarah dunia mencatat namanya, sebagai salah seorang pemimpin terlama memimpin satu negara (32 tahun). “The Asian Wall Street Journal” terbitan 1999 pun mengukuhkannya sebagai presiden terkaya di dunia dengan 1.247 perusahaan keluarga.

**

DALAM otobiografi seperti dipaparkan kepada G. Dwipayana dan Ramadhan K.H., berjudul “Soeharto. Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya,” Soeharto mengakui, dirinya bukan anak yang punya pertanda seorang calon pemimpin saat dilahirkan. Hanya anak desa yang lahir dari keluarga petani miskin dan tidak dipersiapkan orang tuanya untuk menjadi pemimpin bangsa.

Presiden kedua Indonesia ini lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921 dari pasangan Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu). Di masa kecilnya, ia hidup prihatin terutama setelah orang tuanya bercerai. Ia harus berpindah sekolah karena ayah tirinya pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Sang ayah kandung Kertosudiro pun, mengambil Soeharto dan menitipkannya kepada Prawirohardjo, suami bibinya (adik Kertosudiro).

Soeharto pindah ke Selogiri, 6 km dari Wonogiri untuk melanjutkan sekolah lanjutan rendah (schakel school). Namun, terpaksa meninggalkan sekolah itu, karena peraturan mengharuskan murid memakai celana pendek dan bersepatu. Ia tak memiliki celana pendek dan sepatu.

Keprihatinan itu justru menempa watak Soeharto, khususnya melalui didikan Prawirohardjo. Beliau dilatih berpuasa Senin-Kamis dan tidur di tritisan (di bawah ujung atap di luar rumah). Berbagai filsafat Jawa pun menjadi santapan rohaninya. Pada masa itulah, Soeharto mengenal tiga “aja”, yaitu aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh yang berarti jangan kagetan, jangan heran, dan jangan mentang-mentang.

**

KITA tidak akan pernah mengenal Soeharto, jika ia tidak jadi bergabung dalam Koninklijke Nederlands-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda 1940. Saat itu, usianya baru 19 tahun. Keterlibatannya, pintu gerbang kiprah militer dan politik di Indonesia.

Dalam buku berjudul “Indonesian Politics Under Soeharto”, Michael R.J. Vatikiotis menyebutkan, Soeharto tidak pernah bepergian jauh dari tempat kelahirannya di Du-sun Kemusuk, Yogyakarta.

Keputusan memilih karier militer tak sia-sia. Dalam sembilan tahun, menunjukkan prestasi pimpin serangan umum 1 Maret 1949 yang fenomenal. Satu per satu operasi militer pun dipimpin Soeharto.

Padahal, selepas sekolah rakyat (SR), ia sempat tak punya pilihan dalam merintis masa depan. Mencoba peruntungan di berbagai bidang, adi asisten juru tulis di salah satu bank rakyat pedesaan. Ia dinilai gagal ketika menjalani pekerjaan sebagai asisten juru tulis itu, hingga bergabung dengan KNIL.

Tahun 1946, diangkat menjadi Komandan Resimen ke-22 , Divisi III (Yogya). Pascareorganisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI), dipercaya jadi Komandan Brigade X Yogyakarta, lalu dikukuhkan sebagai Letnan Kolonel TNI Angkatan Darat (AD).

Soeharto mulai mengenal isu politik dan pemerintahan, tatkala ia diikutkan kursus di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung 1 November 1959. Diceritakannya punya banyak ide yang diimplementasikan ketika ia menjadi presiden.

Meski memilukan, peristiwa Gerakan 30 September 1965 tonggak sejarah penting. Ia ditunjuk Presiden Soekarno sebagai Pangkopkamtib 3 Oktober 1965, untuk memulihkan stabilitas politik dan keamanan selepas peristiwa G 30 S. Ruth Mc Ivey menyebut, sekurangnya 500.000 orang komunis tewas dibantai militer di bawah komando Soeharto dalam peristiwa itu.

**

JENDERAL Soeharto menjalankan fungsi kepresidenan setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (Nawaksara) ditolak MPRS 1967. Penunjukan dilakukan melalui Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) 12 Maret 1967 yang belakangan dinilai kontroversial.

Gaya diktatorialnya menuai perlawanan dari gerakan prodemokrasi yang dipelopori mahasiswa. Krisis ekonomi 1997 mempercepat proses pematangan perlawanan. Jutaan rakyat turun ke jalan, menuntut lengsernya Presiden Soeharto. Pada 21 Mei 1998, ia mengundurkan diri menyusul terjadinya kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR RI oleh ribuan mahasiswa.

Di akhir otobiografinya, Soeharto berwasiat, “Kalau ajal menjemput, agar mereka yang sesudah kita benar-benar dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara, yang berdasarkan Pancasila.”

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

Selamat Jalan Pak Harto

soeharto.jpg  

Inna lillahi wainna ilaihi rajiun. Mantan Presiden RI H.M. Soeharto wafat pada Minggu (27/1) pukul 13.10 WIB, setelah menjalani perawatan selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan.

Pengumuman wafatnya mantan Presiden RI terlama itu dikemukakan pada acara jumpa pers Ketua Tim Dokter Kepresidenan dr. Mardjo Soebiandono, Sp.B. bersama dua putri almarhum, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan Siti Hedijati Hariyadi (Titiek), pada pukul 13.40 WIB di RSPP.

Dalam kesempatan itu, putri sulung almarhum H.M. Soeharto, Ny. Tutut sambil mencucurkan air mata, menyatakan permintaan maaf dan berterima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia yang mendoakan ayahnya. Tutut sempat mengucapkan istigfar sebanyak tiga kali sebelum menyatakan permintaan maafnya.

“Bapak kami telah dipanggil oleh Allah SWT. Kami atas nama keluarga ingin menyampaikan ucapan terima kasih dengan setulus-tulusnya kepada yang telah mendoakan Bapak selama ini,” ujarnya.

Dia juga menyatakan permohonan maaf kepada siapa saja yang mendoakan atau yang datang menjenguk ke RSPP tidak dilayani oleh keluarga secara baik.

“Kami mohon jika ada kesalahan Bapak selama ini dimaafkan. Kami mohon doa restunya semoga perjalanan Bapak lancar, selalu dilindungi Allah SWT, diterima seluruh amal ibadahnya, diampuni segala dosanya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT,” katanya.

Sejak Tim Dokter Kepresidenan mengumumkan keadaan mantan orang nomor satu era Orde baru itu dalam keadaan kritis, Minggu (27/1) sekitar pukul 10.00 WIB, suasana RSPP kembali ramai dikunjungi para penjenguk dan wartawan cetak dan elektronik.

Kondisi paling kritis

Ketua Tim Dokter Kepresidenan dr. Mardjo Soebiandono, Sp.B. menjelaskan, sejak Minggu pukul 01.00 WIB, kesehatan Pak Harto menurun, kemudian terjadi sesak napas diikuti dengan tekanan darah yang juga menurun.

Dia mengatakan, tim dokter telah melakukan tindakan resusitasi, antara lain mengambil alih pernapasan dengan alat bantu pernapasan. Sekitar pukul 03.00 WIB, kondisi pasien semakin menurun, tekanan darahnya mencapai 90/35-70/35 mmHg, sehingga tindakan resusitasi dilaksanakan secara maksimal. Pukul 10.00 WIB, tekanan darah dilaporkan mencapai 60/25-70/30 mmHg.

Menurut Mardjo, kondisi Soeharto pada Minggu pagi tersebut, merupakan kondisi paling kritis dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, di mana hanya organ jantungnya yang masih berdenyut, sementara organ tubuh lainnya telah digantikan oleh alat.

Menurut salah seorang Tim Dokter Kepresidenan, Joko Raharjo, ada kelemahan multi organ failured di mana kerja paru-paru, detak jantung, maupun ususnya gagal berfungsi. Dia mengatakan, usaha yang diberikan tim dokter sudah maksimal, antara lain mencoba menaikkan tekanan darah.

Cendana

Pada pukul 14.35 WIB, jenazah H.M. Soeharto dibawa ke rumah kediaman Jln. Cendana No. 8 Menteng, Jakarta Pusat. Keluarga yang mendampingi di mobil jenazah adalah Ny. Tutut dan Ny. Titiek. Anggota keluarga lain mengikuti di belakang mobil jenazah, kemudian diikuti beberapa kendaraan lain. Pukul 14.55 WIB jenazah tiba di Cendana.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ny. Ani Yudhoyono dan Wapres M. Jusuf Kalla didampingi Ny. Mufidah Jusuf Kalla, melayat ke rumah duka pukul 16.25 WIB. Mereka didampingi Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menko Polkam Widodo AS, Menko Perekonomian Boediono, dan Menkeu Sri Mulyani.

Presiden dan Wapres menyalami satu per satu putra putri dan anggota keluarga H.M. Soeharto, termasuk dengan Probosutedjo, yang merupakan adik tiri Soeharto.

Putra putri mantan Presiden Soeharto seperti Siti Hardiyanti Indra Rukmana, Sigit Hardjojudanto, Siti Hedijati, Siti Hutami Adiningsih, tampak berada di sisi jenazah yang telah ditutup dengan kain putih. Diiringi pengajian, Presiden dan Wapres ikut serta melakukan doa bersama.

Beberapa tokoh yang datang melayat ke rumah duka di antaranya Ketua MA Bagir Manan, mantan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) didampingi oleh Ny. Shinta Nuriyah Wahid, dan Ketua DPR Agung Laksono.

Sejak petang, halaman rumah duka di Jln. Cendana dipasangi tenda berwarna putih dan dipasangi ratusan kursi berwarna merah. Sedangkan semalam, petugas memperbolehkan para pelayat dari warga biasa masuk ke rumah duka.

Kalitan berduka

Sejak diumumkan H.M. Soeharto wafat, kediaman almarhum di Dalem Kalitan Surakarta, Jawa Tengah, diselimuti suasana duka. Sejumlah spanduk dan ratusan karangan bunga terlihat di sekitar Kalitan.

Sementara itu, di Pendopo Dalem Kalitan, pihak keluarga dan ratusan santri, serta warga sekitar, menggelar tahlil pada Minggu malam.

Kepala Rumah Tangga Kalitan Sriyanto Sumanto mengatakan, keluarga Kalitan akan bertahan di Dalem, tidak mengikuti upacara pemakaman di Giribangun. “Kami hanya akan datang setelah pemakaman selesai. Selama pemakaman berlangsung, kami tidak hadir secara fisik di sana, sebab Pak Harto telah ada yang mengurus dari pemerintah,” kata Sriyanto.

Simpati pemimpin dunia

Sejumlah pemimpin negara di kawasan Asia-Pasifik menyampaikan belasungkawa atas wafatnya H.M. Soeharto.

Beberapa pemimpin negara asing menyatakan kepastiannya untuk datang ke Indonesia menghadiri upacara pemakaman almarhum H.M. Soeharto, antara lain mantan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao, PM Singapura Lee Hsien Loong, Deputi PM Singapura S. Jayakumar, dan mantan Presiden Filipina Fidel Ramos. Sementara, PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi mewakilkan kepada Deputi PM Najib Raza dan mantan Deputi Tun Musa Hitam, serta Mahathir dijadwalkan hadir.

Pemerintahan AS dan Jepang menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Soeharto. Dubes AS Cameron R. Hume melayat almarhum Pak Harto di rumah duka, Cendana. Dubes Hume menyampaikan ucapan duka dari pemerintahan AS.

Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo yang tengah berkunjung ke Uni Emirat Arab (UEA) di Dubai, mengatakan, Soeharto memainkan peranan penting dalam membangun ASEAN.

PM Australia, Kevin Rudd juga mengatakan bahwa Soeharto sangat memiliki peran penting untuk menyukseskan pembangunan ASEAN, seperti juga Forum Kerja Sama Asia Pasifik (APEC), sebuah badan internasional dalam mempromosikan perdagangan dunia.

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

Top Ubuntu Tutorials

I just found a very nicely packed with useful information site for Ubuntu called Ubuntu Tutorials, created by Christer Edwards.

Among the top Ubuntu tutorials he posted include:*