Mengenal Lebih Dekat Lobster

Silsilah dan Jenis Yang Populer

Diantara berbagai jenis, clawed lobster adalah yang paling populer. Genus ini seperti misalnya genus Homarus berbentuk unik seolah gabungan udang dan kepiting karena mirip udang berukuran besar dengan capit mirip kepiting yang besarnya hampir menyamai badannya. Padahal banyak juga lobster yang bercapit relatif kecil atau bahkan tidak bercapit sama sekali. Dalam silsilah, lobster termasuk ke dalam filum Arthropoda, subfilum Crustacea, kelas Malacotraca, ordo Decapoda, famili Nephropidae. Dari keluarga Nephropidae tersebut masih dapat dibagi lagi ke dalam subfamili dan genera Neophoberinae, Thymopinae dan Nephropinae. 

Pengelompokan lobster dalam perdagangan internasional meliputi: clawed lobster, spiny lobster atau slipper lobster, squat lobster dan reef lobster. Lobster mempunyai berbagai ukuran dan lobsterettes adalah sebutan untuk lobster berukuran kecil. Menurut Guiness World Records, lobster terberat dicatat di Nova Scotia, Canada dengan ukuran timbangan mencapai 20,14 kg. Khusus untuk lobster air tawar dikenal dengan istilah crayfish atau crawfish atau crawdad.

Lobster hidup di lingkungan berbatu, berpasir atau berlumpur di sepanjang garis pantai hingga ujung continental shelf. Binatang yang satu ini gemar menyantap makhluk hidup baik, ikan, moluska, crustacean lainnya, ulat atau tanaman hidup. Ketika mengalami pertumbuhan, lobster akan mengalami pergantian kulit (molting) dan kulit lama tersebut akan dimakan kembali oleh lobster. Ketika proses molting umumnya kondisinya amat lemah dan bagi sebagian species mereka akan berganti warna. Sesekali lobster akan membuat gua di pasir dan dapat bersifat kanibal ketika terkurung, dan hal itu lebih sering terjadi pada budidaya lobster. 

Beberapa species clawed lobster yang banyak diperdagangkan di dunia adalah Cape lobster (Homarinus capensis), American lobster (Homarus americanus), European lobster (Homarus gammarus), Andaman lobster (Metanephrops andamanicus), Norway lobster (Nephrops norvegicus), Florida lobsterette (Nephropsis acuelata), Australian scampi (Metanephrops australiensis), Caribbean lobster (Metanephrops binghami), Bight lobster (Metanephrops boschmai), New Zealand scampi (Metanephrops challengeri) dan Japanese lobster (Metanephrops japonicus). 

Hak-hak Kebinatangan

Paling enak lobster disantap segar, sehingga mayoritas lobster diperdagangkan dalam kondisi hidup. Lobster mati cepat sekali membusuk sehingga dagingnya cepat terurai dan berubah warna. Jika lobster akan direbus atau distim, umumnya lobster dicemplung-kan dalam kondisi hidup ke air mendidih. Untuk mendapatkan kelezatan maksimal, jika akan digoreng, dipanggang atau dibakar sebaiknya lobster tidak direbus dulu. Sedangkan pembekuan lobster akan mengeraskan dagingnya. 

Perilaku manusia dalam menyantap lobster tersebut menarik perhatian sebagian penyayang binatang yang kemudian meneliti tingkat kemampuan atau kesensitifan lobster terhadap rasa sakit. Tindakan memasukkan lobster hidup ke air mendidih dinilai tidak memperhatikan hak binatang dan tindakan tersebut dilarang di sejumlah tempat. Di Reggio Emilia, Italia merebus lobster hidup ke air mendidih dapat didenda hingga 495. Lain lagi di Massachussetts, Amerika Serikat, di sana menjual lobster mati untuk dikonsumsi manusia dinyatakan sebagai tindakan illegal 

Dari Poverty Food menjadi Delicacy 

Lobster termasuk komoditas perikanan penting bagi Amerika Serikat, sehingga sejarah perkembangan komoditas ini tercatat dengan baik mulai sekitar 2 abad silam di negara bagian produsen utama lobster yaitu Maine yang berada di pantai timur bagian utata. Ketika tahun 1800an, lobster mudah ditemukan dan cukup diambil dengan tangan dan lobster digunakan hanya sebagai bahan pupuk tanaman atau umpan mancing. Periode berikutnya di jaman kolonial, lobster digunakan sebagai makanan anak-anak, lauk para tahanan di penjara atau lauk para budak yang dikontrak. Saking seringnya lobster dihidangkan, para budak membrontak dan akhirnya diputuskan lauk lobster hanya disajikan 3 kali dalam seminggu. 

Penggunaan perangkap lobster dikenal mulai tahun 1850an dan teknik serta peralatan penangkapan dan pengangkutan lobster terus berkembang hingga kini. Ternyata jumlah tangkapan lobster di Maine tidak betbeda jauh, walau jumlah penangkapnya meningkat pesat. Tahun 1892, tercatat 2.600 orang menjadi nelayan lobster dengan total tangkapan sekitar 7.983 ton, tetapi tahun 1989 ketika jumlah penangkap lobster telah meningkat menjadi 6.300 orang, hasil rangkapannya hanya sekitar 10.600 ton. 

Sejalan dengan berkembangnya penelitan tentang protein, permintaan lobster semakin tinggi. Guna memudahkan transportasi, pengalengan lobster mulai dikembangkan tahun 1836 dan usaha ini terus berkembang. Sekitar tahun I860, ukuran lobster untuk pengalengan adalah 2 hingga 2,5 kg dan ukuran tersebut masih dinyatakan kecil, ukuran di bawah 1 kg dianggap tidak efisien untuk proses pengalengan. Pertengahan abad ke l9, harga lobster kaleng dapat melampaui lobster hidup. Sedangkan untuk lobster hidup, tahun 1875 mulai dikenal depo penampungan lobster hidup. Dengan sistem ini para dealer dapat menjual ketika harga naik atau memberi kesempatan lobster yang sedang molting hingga mempunyai kulit keras. 

Setelah perang dunia ke-2, terjadi peningkatan ekonomi, publikasi hasil penelitian tentang nutrisi ikan dan para pedagang mencitrakan lobster sebagai sumber pangan yang baik sehingga lobster telah berkembang menjadi delicacy. Kebutuhan bahan pangan bergizi tinggi dan gengsi dapat dipenuhi oleh lobster. Akibatnya permintaan semakin tinggi dan harga melangit. Namun hal tersebut dapat dijangkau karena membaiknya perekonomian, khususnya di AS. Begitu pula dengan di Eropa, setelah dampak perang telah dapat diatasi dan kondisi perekonomian mulai tumbuh pesat, permintaan lobster juga meningkat. Lain halnya dengan Jepang, China dan Korea, lobster telah lebih dulu dicitrakan sebagai makanan spesial. Kini lobster menjadi menu mewah dan daya tarik tersendiri di restoran seafood di kota-kota besar dunia. 

Ukuran Sebagai Salah Satu Alat Manajemen Sumberdaya Lobster

Negara penghasil lobster utama dunia umumnya telah memiliki piranti untuk pengelolaan sumberdaya komoditas tersebut untuk menjaga kelestariannya di alam. Sebagai contoh di AS, penangkapan lobster dibatasi pada jarak 3 mil dari garis pantai, karena lobster tangkapan pantai atau di tengah laut hasilnya mitip ketika didaratkan. Sebuah organisasi Atlantic States Marine Fisheries Commission yang dibentuk tahun 1942 membantu pengawasan praktek penangkapan lobster di 15 negara bagian. Akhirnya aturan tersebut dibetlakukan secara federal dengan izin penangkapan di wilayah zona ekonomi AS yaitu pada jarak 3 200 mil dari pantai. Saat ini, penangkapan lobstet diatur dalam Amendment 3 dari Commission’s American Lobster Management Plan. 

Selain pembatasan wilayah penangkapan, ukuran lobster juga menjadi alat untuk mengontrol manajemen sumberdaya. Ukuran minimum yang diperbolehkan ditangkap adalah panjang karapas lobster 3 1/4 – 5 inchi. Pengukuran karapas mulai dari soket mata hingga ke awal dati ekor. Ukuran lobster 3 1/4 inchi umumnya mempunyai berat sekitar 1/2 kg. 

Setiap lobster betina yang sedang bertelur harus dilepaskan kembali ke alam. Praktek ini telah menjadi kode etik diantara para penangkap lobster dan juga polisi lobstet. Apabila seseorang tertangkap membuang telur lobster dan membersihkan bekasnya dengan pemutih, maka orang tetsebut akan mendapat “sanksi” dan dikucilkan. 

Lobster dewasa umumnya melakukan molting dan juga berkembang biak ketika musim panas, sehingga adanya larangan penangkapan lobster periode tersebut memberikan kesempatan pengembangan populasi. Pasokan melimpah lobster dari belahan bumi sebelah utara khatulistiwa umumnya mulai Desember sampai awal Juni. Pada periode tersebut kebutuhan dunia dipasok dari negara-negara di belahan selatan khatulistiwa. (Sumber : Warta Pasar Ikan Edisi Maret 2007) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: