Tanah dan Airnya Nagari Tanjung-Sungayang

TANAH DAN AIRNYA nagari Tanjung-Sungayang ini pernah ditumpahi darah moyang serta putera-puterinya dalam beberapa periode peristiwa besar yang terjadi:

1. PERTIKAIAN ANTARA KAUM PIDARI DENGAN KAUM ADAT, YANG DITUNGGANGI PENJAJAH BELANDA

Pada tanggal 12 April 1823 di negari Tanjung, yang sebelumnya telah dibakar, berkumpul 600 tentara Belanda dipimpin 28 perwira termasuk satuan marinir, serta pribumi yang membantu Belanda sebanyak lk.12.000 orang. Mereka memiliki senjata kira-kira 2500 senapan, 8 meriam.
Tujuannya untuk menaklukkan kaum Pidari yang bertahan di Puncak Marapalam (Pato).

Kini nagari Tanjung berpenduduk lk 2000 orang; mungkin pada kejadian tersebut Tanjung hanya berpenduduk beberapa ratus saja!

Inilah catatan seorang prajurit Belanda dari medan perang:………….. sewaktu mereka mundur, salah seorang dubalang mereka dengan berpakaian merah seluruhnya mendekati saya dengan klewang terhunus. Karena saya yakin bisa menang maka sayapun menerima tantangannya. Saya terlambat melihat bahwa di belakangnya ada seorang Pidari dengan senjata senapan………. mereka menyerang dengan teriakan-teriakan “kafir Belanda anjing”. Pada tanggal 16 April malam diadakan rapat di Tanjung dimana hadir juga residen Du Puy.

Hendriks menasehatkan agar musuh dari Sumatra itu jangan sekali-kali dianggap enteng. Kadang-kadang, dalam keadaan paling sulit sekalipun mereka bisa memperlihatkan tindakan-tindakan berani luar biasa (daden van ongelooflijken moed). Di tengah hutan puncak Pato, kini masih tersisa satu kuburan tentara Belanda yang tewas pada perang Pidari. Kuburan tersebut tidak terpelihara, padahal ini merupakan situs bukti perlawanan anak-nagari Puncak Pato, jalan menuju Lintau dan Luhak 50 Koto atau dikenal juga dengan sebutan puncak Marapalam, tempat berlangsungnya Sumpah Sati: Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah, saat ini menjadi lokasi tujuan wisata. Dari puncak ini orang dapat memandang lembah Tanjung di bawahnya, serta ke gunung Bungsu yang misterius itu, yang konon tempat orang Bunian bermukim dan terlihat laksana puri raja-raja di Eropa.

2. PENDUDUKAN JEPANG

Merupakan periode penderitaan yang luar biasa, mengakibatkan kesengsaraan pada anak-negari, mirip bahaya yang terjadi di benua Afrika yang dilanda perang saat ini.  Di jalan-jalan bergelimpangan mayat orang mati kelaparan yang tak terurus. Peristiwa ini digambarkan dalam pantun sbb:

It, ni, san, shi, gho, rok; Berbaju goni, berkain tarok (tarok, nama pohon yang kulitnya dapat dibuat menjadi bahan penutup aurat seadanya). Penderitaan semacam ini tak seharusnya cepat dilupakan oleh kita. Qur’an mengajarkan kepada kita untuk selalu mengingat peristiwa-peristiwa kelalaian manusia.

Ambillah hikmahnya, mengapa bangsa kita sampai kalah dan terjajah oleh bangsa asing, ialah karena kurangnya kemampuan tehnologi atau ilmu pareso yang dimiliki. Musuh menyerang dengan meriam, bangsa kita berperang hanya mengandalkan (raso) semangat dan senjata seadanya.

Adalah kewajiban kita semua untuk mendidik anak-kemenakan agar mampu mengusai ilmu-ilmu yang bit informasinya tersimpan di otak kiri dan otak kanan. Buatlah Rencana Keluarga periksalah kehamilan, berikan gizi yang cukup. Bukan hanya mampu berbangga karena memiliki mobil atau perangkat elektronik buatan orang asing, tapi tak punya ilmu apa-apa.

Ke depan marilah kita berlomba-lomba mendidik anak-kemenakan kita sehingga pada saatnya nanti ada orang dari nagari Tanjuang yang meraih hadiah Nobel.

3. PERANG KEMERDEKAAN 1945-1950

Negari Tanjung merupakan basis perjuangan gerilyawan Republik Indonesia. Pada suatu malam yang sunyi, jembatan di sungai batang Selo dihancurkan dengan ledakan dinamit; dan gema gelegar ledakannya sampai kini masih tersimpan dengan baik di dalam memori otak penulis, yang ketika peristiwa itu terjadi berusia lk. 4 th.

Di lain peristiwa rumah gadang Dt. Soda, tempat dapur umum tentara (pusat persiapan makanan), suatu ketika didatangi oleh beberapa tentara KNIL putih dan KNIL hitam (suku Ambon). Mereka menyiramkan minyak ke lantai papan, sambil membentak-bentak. Penulis mengintip semua kejadian ini dari celah-celah lantai. Di bawah lantai tersebut kami bersembunyi, sambil didekap ibu.

Rumah ini tak jadi dibakar, sedangkan rumah lainnya di kampung sebelahnya hangus dibakar. Beberapa saat kemudian barulah diketahui bahwa “Si lupito”, seorang anggota tim kesehatan KNIL ini, pernah bersahabat dengan ibunda, yang dulunya bidan di RS Batavia Centrum.

Si lupito, engkau yang menurut kabarnya dari suku Jawa, mungkin namanya Lupito, telah ikut menyelamatkan salah satu martabat kaum kami, yaitu kaum Datuk Paduko Rajo Dindo, rumah gadangnya. Semoga Allah yang maha esa mengampuni dosamu, dan memberi pahala karena telah berusaha menolong kaum kami.

4. PERGOLAKAN DAERAH 1958-1960

Pada mulanya perjuangan PRRI ini didukung oleh seluruh komponen masyarakat Minangkabau, alim-ulama, cerdik-pandai, penghulu-adat, bunda-kandung/kaum perempuan, kecuali kaum komunis.

Sekali lagi negari Tanjung menjadi basis pertahanan tentara PRRI dari batalyon Harimau Minang dengan komandannya Mayor Badaruddin. Kompi Beringin Sati dibawah pimpinan Bung Muhir Aloha dan Malin Marajo membuat lubang-lubang pertahanan di sepanjang Bukit Guguak Panjang dan Tanah Sirah.

Jembatan Batang Selo dan Selo Tongah dihancurkan agar tentara pusat tak leluasa bergerak menuju puncak Pato. Rumah Gadang Datuk Soda kembali dijadikan markas Koterketj. (Komando Teritorial Ketjamatan) sektor timur tentara PRRI.

Suatu pagi, pada hari Jum’at, hari pekan di negari Tanjung, kira-kira pukul 7 pagi, mungkin tahun 1958 atau tahun 1959, ketika penulis sedang makan pagi,dua pesawat Mustang AURI tiba-tiba menjatuhkan bom serta tembakan senapan mitraliur 12,7 dengan sasaran rumah gadang.

Pesawat jenis Mustang pada saat itu belum memiliki alat navigasi canggih seperti sekarang ini, terbang dari Padang yang berjarak lk. 120 km, menelusuri lereng-lereng rimba raya Bukit Barisan, khusus untuk menghancurkan rumah gadang.  Bom tersebut sedikit meleset sehingga mengenai rumah di depannya, dan menimbulkan kerusakan besar.

Sepanjang dua tahun pergolakan, negari Tanjung sangat menderita. Secara periodik, kampung Melayu-Mandahiling, lokasi rumah penulis dihujani tembakan kanon. Bom-bom yang jatuhnya secara bersamaan ini, dalam beberapa kejadian membunuh dan melukai orang-orang kampung. Dalam suatu kejadian, satu keluarga tetangga penulis mati selurunya karena ditimpa bom disaat tidur.

Penduduk mengungsi ke bukit-bukit di sekitar kampung dan membuat dangau di sana. Seingat penulis, ketika perang kemerdekaan di tahun 1949, dangau itu berada di Lurah si Kuniang, sedangkan ketika peristiwa pergolakan daerah, dangau itu di Lomba. Seandainya tak ada perang, bermukim di dangau dalam hutan merupakan pengalaman masa kecil yang indah, tiada hiruk-pikuk manusia; flora dan fauna adalah sahabat yang tulus dan akrab sepanjang hari.

Di puncak bukit Kayu nan Sebatang, yang ada kuburan seorang wali penyebar agama serta ada mata air dan dianggap keramat oleh anak-nagari, dijadikan benteng pertahanan oleh tentara pusat. Kaum komunis mengambil kesempatan bekerjasama dengan pemerintahan rezim Soekarno meneror masyarakat.

Balai adat nagari Sungayang dijadikan tempat tahanan.

Segala macam kejadian ini telah menimbulkan akibat yang teramat besar dalam peri kehidupan masyarakat petani tradisional tersebut. Rumah-rumah adat runtuh, korban jiwa berjatuhan; lebih lebih mental-perasaan rakyat yang kalah dalam perang melawan pusat. Rakyat merasa rendah diri bersamaan menguatnya pengaruh kaum Komunis sampai dengan peristiwa G30S/PKI.

Negari, yang memiliki suku-suku, sebagai basis kehidupan bermasyarakat di Tanjung dihilangkan pula peranannya dalam periode pemerintahan orde baru.

Akibat dari peristiwa tersebut di atas banyak anak-kemenakan dari negari Tanjung Sungayang yang merantau ke luar tanah leluhur, atau ke luar tanah dan air milik moyang mereka, bak kata pantun mamak H.Y. Dt. Paduko St. Kayo:

Kalau tidak di rumput sarut,
Tidaklah pandan tumbuh berderai 
Kalau tidak karena sulit hidup
Tidaklah kita bercerai berai

Pantun dibalas oleh kemenakan:

Kita sesama anak nagari Tanjung Kini tersebar di atas planet Saling jelang, saling berkunjung
Walau hanya di dunia internet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: