Mulo Nagari Batunggui

PEPATAH MINANGKABAU SEMUANYA mempunyai tujuan-tujuan yang tertentu. Didalamnya terdapat berbagai kiasan (kata-kata yang berlainan sebutan dair yang dikatakan). Lantaran demikian maka tidak tepat orang mengartikan pepatah petitih. Minang yang kurang mudah diterima oleh pemandangan nyata saja, tanpa lebih dulu mempelajari apa tujuannya, dan untuk apa digunakan, serta masa penggunaannya.

Pepatah petitih Minangkabau semuanya berisi inti sari dari pengalaman yang telah dilalui dalam hidup oleh penciptanya dizaman hidupnya. Begitulah Perpatih nan Sebatang membuat pepatah, yaitu setelah dialaminya dalam kehidupannya, kemudian diikuti oleh orang-orang yang mempunyai bakat sebagai itu pula, bahkan sampai sekarang maih banyak orang yang bisa menuruti sebagai ibarat-ibarat, kiasan-kiasan sebagai pepatah di Minangkabau, yang berlainan sebutan dari apa yang akan dikatakannya.

Di dalam satu pepatah ada maksud yang meramalkan keadaan yang akan datang dengan menyebutkan tanda-tanda, tetapi yang akan dikatakan bukanlah yang disebut. Umpamanya seorang melihat satu tanda, orang yang akan melakukan suatu perbuatan baik atau perbuatan buruk, maka dikatakannya dengan pepatah: “Lah asiang kacundang sapik”, dikuatkan lagi dengan menyebut “Lah lain geleng pani\ok”. Yang kedua inilah yang disebut petitih, yaitu yang menuatkan atau menjelaskan pepatah yang pertama. Itu menunjukkan bahasa telah tampak tanda yang mungkin idlakukan segera satu perbuatan.

Ada lainnya dengan akan berkunya satu kejadian yang tidak diperbua, malahan akan terjadi yang tidak dapat orang menghalangi seperti:”Gabak dihulu tandakan bujan, cewang dilangit tandakan panas”. Demikianlah sekadar ringkas cara kesulian mengartikan pepatah petitih dalam kata-kata adat dan kata-kata kiasan dalam pergaulan masyarakat asli di Miangkabau. Sedangkan sampai sekarang masyarakat asli Minangkabau yang belum kecampuran tetap memakai pepatah petitih itu dalam berbagai lapangan pergaulan masyarakatnya, dalam adat istiadat, baikpun dalam pergaulan sehari-hari, sehingga mendalam jadi perasaan halus pada diri orang-orang didalam sastra Minangkabau. Tambo Alam Minangkabau yang asli yaitu yang lama, dipinjam oleh tuanku Laras di tiap-tiap kelarasannya atas perintah kolonial Belanda, dan tidak dikembalikannya lagi. Menurut uraian guru-guru adat, dalam tambo itu tersebut tanah air kita ini dahulunya belumlah terpisah-pisah sebagai sekarang, hanyalah bersatu dengan tanah Semenanjung Malaya sampai ke tanah Asia.

Disebabkan ditimpa oleh topan dimasa nabi Nuh a.s., hancurlah tanah-tanah itu oleh banjir besar, yang disebut “kiamat Nabi Nuh”. Tanah-tanah yang hancur itu dihanyutkan oleh air surut dan terjadilah selat-selat dan laut-laut yang tidak begitu luas. Akibat topan tersebutlah maka terpisah-pisah tanah air kita menjadi pulau-pulau besar kecil yang tidak terhitung banyaknya. Sewaktu topan itu surut Maharaja Diraja berlayar, dan mendapati gunung berapi telah timbul dan berlabuhlah perahu besar beliau digunung berapi itu, sebagai yang tercantum dalam pepatah gurindam adat-adat di atas.

Di dalam gurindam adat diatas dikatakan bahwa kata pusaka itu ialah kata undang-undang. Pengertian undang-undang secara umumnya dalam ilmu adat alam Minangkabau, ialah: “suatu yang takluk kepada sesuatu”. Jadi tiap-tiap kata pepatah yang disebut itu, bukan takluk tujuannya kepada sebutan, malahan tertuju kepada yang lain. Ini diuraikan secara ringkas untuk dapat dipahami dalam : “Kata pusaka, yakni kata undang-undang”, menurut ilmu adat dalam Alam Minangkabau.

Gurindam adat yang empat baris : Dimano disalai palito/Dibalik telong nan batali/ Dimano turun niniak kito/ Diateh gunuang barapi/., yaitu dimano disalai palito hingga achirnya, disebut kata pusaka, karena banyak didalamnya yang takluk, dan tidak dapat dirobah. Kalau orang merobah kata-kata itu, akan bertukarlah tujuannya atau sekurang-kurangnya tidak mencakup lagi kepada semua tujuan yang dimaksud.

Misalnya: dirobah kata pertama atau kata baris kedua, kata-kata dimana disalai palito, ditukar dengan : dimana manjulai banto; atau kata baris kedua, kata dibaliak telong nan batali, ditukar dengan dibalik batang mali-mali. Kalau dipandang sekedar persamaan achir, itu tak salah menjadi pantun bukan lagi gurindam, dan bukan lagi kata pusaka.

Tahu Diri Menurut Adat Minangkabau

 

KARATAU MADANG DIULU
Babuah babungo balun
Ka rantau dagang daulu
Di rumah baguno balun

Berbagai teori mengemukakan bahwa penduduk kepulauan Nusantara berasal dari dataran Asia Tenggara. Dari teori itu dapat diambil kesimpulan bahwa nenek moyang orang Minangkabau sekarang ini pastilah datang melalui jalan panjang merantau dari daratan Asia Tenggara terus melintasi semenanjung Malaysia dalam masa prasejarah.

Sejak masa prasejarah itu sampai kini, orang-orang Minang tetap mewarisi darah perantau. Mereka tetap doyan menjelajahi seantero Nusantara ini, bahkan ke pelosok mancanegara. Mereka merantau dengan selalu membawa hati yang risau. Merasa diri yang belum berguna. Ka rantau dagang daulu – di rumah baguno balun.

Dari pantun ini tersirat bahwa motivasi orang Minang merantau untuk mencari sesuatu yang masih kurang dalam dirinya, dengan harapan bila kekurangan yang dicarinya itu telah ditemukan akan menjadikannya “orang yang berguna” bagi kampung halamannya.

Dari fakta sejarah dapat dilihat terdapat empat sebab yang mendorong orang Minang merantau. Pertama, untuk mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik, dibandingkan dengan penghidupan di kampung halamannya sendiri. Sebelum perang dunia II, banyak orang Minang merantau ke Deli untuk berdagang di wilayah perkebunan Sumatra Timur. Kedua, setelah perang kemerdekaan banyak sekali siswa dan pelajar merantau ke Jawa meneruskan sekolahnya karena belum terdapat sekolah yang setingkat di kampung halamannya sendiri. Ketiga, setelah pemberontakan PRRI / Permesta, banyak pelarian politik dan masyarakat sipil merantau ke Jawa dan ke luar Sumatra menyelamatkan diri dan mencari hidup di luar Sumatra Barat. Keempat, mereka yang tidak disukai dan tidak disenangi di kampung halaman sendiri karena perbuatan mereka yang tercela, terpaksa meninggalkan negerinya untuk merantau ke luar daerah Sumatra Barat.

Ringkasnya tujuan merantau orang Minang adalah untuk mencari hidup, mencari ilmu, mencari tempat yang aman dan nyaman dari huruhara politik, atau melarikan diri dari lingkungannya sendiri karena perangainya buruk.

Buya Hamka sebagai seorang perantau Minang, melukiskan tujuan dan kesedihannya merantau dalam bukunya “Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi” sbb:

Aduh Minang
Kalau tidak dirumput sarut
Tidaklah pandai berderai
Kalau tidak disarit hidup
Tidaklah kita bercerai

Kami sendiri menganjurkan pada remaja Minang supaya merantau. Tinggalkan kampung halaman, namun jangan lupa Alam Minangkabau, Ranah Minang, Tanah Pusaka Abadi orang-orang Minang.

Tabang kanari jadikan kasau
Tanaklah nasi dalam taraju
Kambang nagari carilah rantau
Nak sanang hati anak jo cucu

Adat Minangkabau memberikan bekal hidup di rantau bagi segenap perantau Minang seperti disebut dalam pepatah:

Di mano bumi dipijak
Di situ langik dijunjuang
Di sinan rantiang dipatah
Adat di situ nan dipakai

Di kandang kambiang mangembek
Di kandang kabau manguak
Di kandang jawi malanguah
Namun tak usah menjadi jawi

Pepatah di atas mengajarkan kepada para perantau Minang untuk pandai-pandai menempatkan diri dan menyesuiakan diri dalam lingkungan baru di perantauan. Namun dengan tegas pepatah itu mengingatkan pula, supaya perantau Minang harus tegar mempertahankan identitas keminangannya. Adat Minang adalah adat yang bersandi syarak – syarak bersandi Kitabullah. Penyesuain diri dengan lingkungan di rantau tidak berarti melebur identitas diri sebagai Minang. Kalau diajak minum tuak, tolaklah dengan halus dan tegas. Maaf, saya orang Minang-saya orang Islam. Kalau diajak berdansa dansi: Sorry I can’t dance. Odori-nai, sumimasen.

Dengan cara begini tidak akan dikucilkan dari pergaulan di rantau, malah akan dihargai karena kita tetap menjunjung tinggi ajaran adat dan agama. Percayalah. Di kandang jawi memang kita harus melenguh, namun jangan sekali-kali mau menjadi jawi. Di kandang kerbau kita memang harus menguak, tapi jangan sekali kali mau menjadi kerbau.

Manyauak di ilia-ilia
Mengecek di bawah-bawah
Kok duduak di nan randah

Apa artinya? Pepatah di atas berarti bahwa sebagai perantau yang hidup dalam lingkungan budaya lain, maka sebagai kelompok pendatang yang minoritas harus tahu diri dan harus pandai menempatkan diri.

Manyauak di ilia-ilia tidak berarti kita harus merasa rendah diri, tetapi justru kita harus menunjukkan bahwa kita adalah orang yang tahu diri sebagai pendatang di kampung orang.

Apakah kita sebagai pendatang akan selalu manyauak di ilia-ilia (menyauk air di hilir-hilir), sangat tergantung pada perkembangan selanjutnya.

Bila dalam waktu singkat kita dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, malah bila bisa menjadi manusia teladan dan tokoh masyarakat di lingkungan baru itu, maka tidak jarang orang Minang menjadi imam mesjid, ketua ormas, pemuka masyarakat bahkan tidak mustahil orang Minang bisa menjadi anggota DPRD wilayah di luar Sumatra Barat.

Pada saat itu ia sudah duduk sama rendah, tegak sama tinggi di lingkungan baru itu. Mungkin sekali dia tidak perlu lagi manyauak di ilia-ilia tapi malah sangat mungkin disauak-an di ulu-ulu didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, diangkat menjadi pemimpin bagaikan penghulu di lingkungan yang baru itu.

Sifat rendah hati sama sekali berbeda dengan sifat rendah diri dalam arti kata “inferior”. Rendah hati sifatnya perpuji, sedangkan rendah diri jelas penyakit yang perlu dihindari (inferiority complex) yang sangat merugikan pribadi kita sendiri.

Pesan bagi remaja Minang yang kurang paham bahasa Minang arti pepatah di atas dalam bahasa Indonesia sbb:

Di mana bumi dipijak
Di situ langit dijunjung
Di situ ranting dipatah
Adat di situ yang dipakai

Di kandang kambing mengembek
Di kandang kerbau menguak
Di kandang sapi melenguh
Namun tak usah menjadi sapi

Menyauk aia di hilir sungai
Berbicara bersahaja
Kalau duduk di tempat yang rendah

Dengan tingkah laku semacam itu, diharapkan orang akan senang menerima kehadiran kita di tengah-tengah lingkungan masyarakat mereka. Kita akan diperlukan sebagai dunsanak mereka. Mereka akan membawa kita sehilir-semudik dalam pergaulan. Berat akan sama dipikul, ringan sama dijinjing.

 

Bahaya Makan Sate, Udang dan Mie Instan

Penggemar Sate

KALAU MAKAN SATE, jangan lupa makan timun setelahnya. Karena ketika kita makan sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker. Untuk itu kita punya obatnya yaitu timun yang disarankan untuk dimakan setelah makan sate, karena sate punya zat karsinogen (penyebab kanker) tetapi timun ternyata punya anti karsinogenik. Jadi jangan lupa makan timun setelah makan sate.

Udang dan Vit C

 Jangan makan udang setelah makan vitamain C…..!!!!! Karena ini akan menyebabkan kematian dari racun arsenik yang mana ini merupakan proses reaksi dari udang dan vit C didalam tubuh dan berakibat keracunan yang fatal dalam hitungan jam…!!!

Mie Instan

Para penggemar mi instan, pastikan anda punya selang waktu paling tidak 3(tiga) hari setelah anda mengkomsumsi mi instant jika anda akan mengkomsumsi lagi. Informasi dari seorang dokter: “Keluarga kami berhenti mengkomsumsi mie instan sejak lebih dari 5 tahun yang lalu setelah mengetahui tentang adanya lilin yang melapisi mie instan tersebut. Lilin ini bukan saja melapisi stereofoam tetapi juga melapisi mie instan itu sendiri. Itulah mengapa sebabnya mie instan tidak lengket satu sama lainnya ketika di masak. Ada seorang actor pada beberapa tahun yang lalu, karena saking sibuknya dalam berkarir sehingga tidak punya waktu untuk memasak, sehingga diputuskan untuk mengkomsumsi mie instan setiap hari. Akhirnya dia menderita kanker. Dokternya mengatakan hal ini disebabkan karena adanya lilin dalam mie instant tersebut. Dokter tersebut mengatakan bahwa tubuh kita perlu waktu 2 hari untuk membersihkan lilin tersebut.

So……… be careful my friends……

Mengapa Darah Mengental ?

KE KENTALAN DARAH dalam tubuh, mengapa terjadi???

Ada satu pertanyaan yang masuk ke mailbox saya, yaitu “Mengapa harus minum air putih banyak-banyak..?”

Well, sebenarnya jawabannya cukup “mengerikan” tet! tapi karena sebuah pertanyaan jujur harus dijawab dengan jujur, maka topik tersebut bisa dijelaskan sbb:

Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air.

Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air di atas 80%.  Dua organ paling penting dengan kadar air di atas 80% adalah : Otak dan Darah. !!

Otak memiliki komponen air sebanyak 90%,

sementara darah memiliki komponen air 95%.

Jatah minum manusia normal sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari.

Jumlah di atas harus ditambah bila anda seorang perokok .

Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi

Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari…?

Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri, caranya…? dengan jalan “menyedot” air dari komponen tubuh sendiri, dari otak kah…?

Belum sampai segitunya (wihh…bayangkan otak kering gimana jadinya…), melainkan dari sumber terdekat : Darah. !!

Darah yang disedot airnya akan menjadi kental. akibat pengentalan darah ini, maka perjalanannya akan kurang lancar ketimbang yang encer.

Saat melewati ginjal (tempat menyaring racun dari darah) ginjal akan bekerja extra keras menyaring darah, dan karena saringan dalam ginjal halus, tidak jarang darah yang kental bisa menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal.

Akibatnya, air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan
ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin suatu saat harus menghabiskan
400.000 rupiah seminggu untuk cuci darah

Eh, tadi saya sudah bicara tentang otak ‘ kan …?

Nah saat darah kental meng alir lewat otak, perjalanannya agak terhambat. Otak tidak lagi “encer”, dan karena sel-sel otak adalah yang paling boros mengkonsumsi makanan dan oksigen,

Lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya..(ya wajarlah namanya juga kurang makan…)

Bila ini ditambah dengan penyakit jantung (yang juga kerjanya tambah berat bila darah mengental…),maka serangan stroke bisa lebih lekas datang

Sekarang tinggal anda pilih: melakukan “investasi” dengan minum sedikitnya 8 gelas sehari atau “membayar bunga” lewat sakit ginjal atau stroke.

 

Krachtologi Selayang Pandang

 

 

 

 

 

 

 

KRACHTOLOGI BERASAL DARI perkataan KRACHTOS yang berarti tenaga dan LOGOS yang berarti ilmu. Pada 4000 SM, Krachtologi sudah dikenal oleh orang-orang Mesir Kuno. Dalam sebuah buku Papyrus “Yedimesish Ontologia” yang sudah disalin dalam bahasa Gri Kuno, menceritakan, bila otot bahu digerakkan akan mengeluarkan tenaga aneh sehingga dapat merobohkan orang yang sedang marah (diktat Ameta, Krachtologi 23). 

Dari Mesir, Krachtologi berkembang ke Babylon, Yunani, Romawi dan Persia. Di Persia tenaga semacam ini dinamakan Dacht. Dalam Dahtayana disebutkan bahwa pada suku Bukht dan Persia, terkenal ilmu perang dinamakan DAHTUZ ialah merobohkan musuh dari jarak jauh. Kaum bangsawan Persia dilatih sejenis senam waktu dinihari sehingga mereka mempunyai tenaga Daht itu. (Kracht 23). 

Dikatakannya pula bahwa orang-orang Badwi mempunyai Daht pada matanya, bila musuh akan menyerangnya, tiba-tiba musuh itu roboh. Mengapa orang-orang Badwi banyak mempunyai kekuatan mata seperti itu ? Hal ini disebabkan orang-orang Badwi dengan tanpa disadari melatih matanya dengan melihat jauh, memandang padang pasir yang luas membentang itu.

Orang-orang Cina, Tartar, Patan, Moghul, mengenal beberapa silat yang dapat merobohkan orang dari jauh. Silat Moghul yang terkenal diantaranya SHURULKHAN yang artinya tipuan licik untuk raja-raja, berbentuk silat dua belas jurus dari Taymour Lateph Baber (1460-1520).

Yang boleh belajar silat itu hanya kepala-kepala suku dari orang Moghul Islam. Bukbisj Ismeth Bey murid Lateph Baber dapat memukul dengan toya sejauh satu mil. Bukbisj belajar Shurulkhan dari Baber selama 20 tahun. Dengan pisau jarinya ia dapat mengeluarkan usus lawan dari jarak satu tombak. Kawannya melihat ia belajar jurus sejak dini hari sampai matahari naik, dengan diselingi shalat shubuh. Taymour dan Bukbisj terkenal orang-orang yang fanatik madhab Hambali dan sangat anti kepada orang sufi dan tan (Kracht 24). 

Di Cina terkenal beberapa macam silat yang mempergunakan Kracht, diantaranya Gin Kang (ilmu meringankan tubuh) yang dapat dipergunakan melompat jauh, loncat tinggi dan berjalan diatas air. Kwie Kang dan Wie Kang hampir bersamaan, perbedaanya hanya pada jurus pertama. Kwie Kang dengan jurus tinju dan Wie Kang dengan jurus terbuka. 

Wie Kang disebut jurus sepuluh, jurus ini tersebar sampai Vietnam, Campa, Malaya, dan Indonesia. Tumbuhlah menjadi beberapa aliran, diantaranya silat Mandar dari Sulawesi, silat Timpung dari Jawa Timur dan silat Nampon dari Jawa Barat, dsb.

Shurulkhan pun masuk ke Indonesia dan pembawanya ialah orang-orang Cina Islam. Diantaranya orang Indonesia pertama yang belajar Shurulkhan iti ialah Tuanku Rao. Orang-orang Cina Islam menamakan silat itu Tou Yu Kang.

Pencak Silat, Upaya Menepis “Wajah Kampungan”

silat3.jpg

PENCAK SILAT MASIH dianggap merupakan seni bela diri produk “Melayu” yang kalah pamor dibanding seni bela diri impor lainnya? Ketua Persilat (Persekutuan Silat Antarbangsa), Eddie M Nalapraya mengakui hal itu. Ditegaskan salah satu program utama dari IPSI (Ikatan Pencak silat Seluruh Indonesia) adalah terus menerus memasyarakatkan pencak silat agar tak lagi dianggap sebagai seni bela diri yang berkelas “kampungan”.

“Orang Jepang sangat bangga dengan seni bela dirinya, sementara kita malu untuk membanggakan seni bela diri warisan leluhur ini. Belum lagi adanya egoisme perguruan sehingga sempat terjadi gontok-gontokan antarperguruan silat. Tak heran, akhirnya istilah pencak silat terkesan ‘kampungan’, dan ini yang terus-menerus kita kikis habis,” ujar Eddie, usai terpilih kembali sebagai Ketua Persilat dalam kongresnya yang berlangsung akhir bulan April lalu di Jakarta.

Pencak silat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka berarti, permain-an (keahlian) dalam mempertahankan diri dengan kepandaian menangkis, mengelak, dan sebagainya. Silat diartikan sebagai olahraga (permainan) yang didasari ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan atau tanpa senjata.

Bersilat adalah bermain (atau berkelahi) dengan menggunakan ketangkasan menyerang dan mempertahankan diri. Sedangkan pencak silat bermakna, kepandaian bertarung dalam pertandingan (atau perkelahian) seni bela diri khas Indonesia.

***

DALAM arti sesungguhnya, disepakati ada empat aspek yang terkandung dalam pencak silat. Yaitu sarana pembinaan mental spiritual, bela diri, olahraga, dan seni. Seperti tercermin dalam lambang trisula, di mana ketiga ujungnya mencerminkan unsur seni, bela diri dan olahraga, sementara gagangnya diyakini melambangkan mental spiritual.

Sebagai seni, pencak silat merupakan wujud perilaku budaya suatu kelompok, yang di dalamnya terkandung unsur adat, tradisi, hingga filsafat. Hal itu menjadi penyebab perbedaan gerakan silat antara suatu daerah dengan daerah lainnya di Tanah Air ini. Demikian pula dengan jenis musik yang meng-iringi gerakan-gerakan silat yang seperti tarian lemah gemulai tersebut.

Sebagai olahraga, dalam perkembangannya pencak silat melangkah menjadi suatu jenis ‘gerak badan’, senam atau jurus yang dapat dipertandingkan. Perkembangannya kian pesat, setelah disepakatinya suatu aturan pertandingan olahraga pencak silat, seperti kelas peserta, luas arena, dewan pendekar, dewan hakim, ketua pertandingan, dewan wasit dan juri, la-manya pertandingan setiap ba-baknya, seragam pertandingan dan sebagainya.

Sebagai bela diri, pencak silat memang tumbuh berawal dari naluri manusia untuk melakukan pembelaan terhadap se-rangan fisik yang menghampirinya. Seseorang yang menguasai pencak silat (pendekar) diharapkan mampu melindungi diri dari setiap serangan, atau bah-kan bisa mendahului menyerang untuk menghindari ‘kerusakan’ yang lebih besar.

Seorang pendekar mampu mengembangkan daya tempurnya, sehingga dalam tempo singkat berhasil memenangkan pertarungan. Berarti, dia harus memiliki kemampuan mengatur siasat/strategi bertempur (dalam bahasa Jawa, gelar), baik saat satu lawan satu, atau dikeroyok beberapa orang lawan.

Sebagai pembinaan mental spiritual atau olah batin, lebih banyak ditujukan untuk membentuk sikap dan watak kepribadian. Faktor ajaran agama yang menyertai latihan pencak silat, biasanya berperan besar untuk mengembangkan fungsi ini. Sulit ditunjukkan secara eksplisit produk dari pembinaan mental spiritual tersebut, namun banyak atraksi yang dipamerkan seperti permainan debus, penyembuhan spiritual, serta demonstrasi tenaga dalam, yang merupakan wujud dari keberhasilan latihan olah batin itu.

Seperti peranan “gagang” pada trisula yang sangat vital, maka unsur-unsur yang ada dalam pencak silat (seni, bela diri, dan olahraga) harus dilandasi mental spiritual yang baik. Seperti dituturkan pesilat “Persauda-raan Setia Hati”, Murhananto, “Sebagai seni budaya Bangsa yang berlandaskan Pancasila, pencak silat harus berlandaskan kepercayaan terhadap ke-Esaan Sang Pencipta”.

***

MASALAHNYA saat ini sudah sulit ditemukan pesilat yang menguasai ilmu pencak silat secara utuh, yakni menguasai unsur seni, olahraga, tempur dan olah batin. Hal ini harus diakui karena kondisi di masa lampau, di mana pencak silat masih dipenuhi hal-hal yang tabu dan ada larangan tak tertulis untuk “membuka diri” bagi anggota suatu perguruan. Ini membuat sebagian besar pendekar-pendekar lebih memilih “menutup diri” dibandingkan secara transparan mengajarkan ilmunya ke orang lain. Para pendekar itu bahkan tak peduli jika mereka seolah-olah berada di luar struktur kemasyarakatan.

Salah seorang Pewaris 18 Guo Perkumpulan Bangau Putih, R. Suhardi Adimarjono alias Hardi pernah melontarkan, ibarat ilmu sains, maka pencak silat sebagai ilmu akan kian tersumbat (mati) jika tak terus-menerus diajarkan kepada orang lain. “Seperti dalam doktrin perguruan kami, ilmu harus dikembalikan kepada alam dan kebudayaan. Sebab jika tak mengalir (disumbat), ilmu itu akan kian rontok dan kian hari kemampuan murid-murid yang mempelajarinya hanya semakin pas-pasan saja,” ujar pelukis ternama ini.

Dampak buruk dari “ketertutupan” pendekar itu, ujar Hardi, adalah munculnya perguruan baru secara diam-diam dari orang-orang yang pernah diajari si pendekar itu. Dia memberi contoh, fenomena silat Cimande. Menurutnya, saat ini sangat sulit untuk mencari siapa guru besar dari aliran silat Cimande tersebut, padahal banyak perguruan yang menggunakan elemen-elemen gerakan silat Cimande dalam setiap gerakan yang diajarkannya.

Makin lama keaslian gerakan pencak silat itu makin luntur, sehingga kian banyak pesilat yang hanya menguasai unsur olahraga semata. Gerakannya semakin tak ubahnya dengan pendekar dari seni bela diri yang lain. Contohnya, tendangan “T” (lurus ke samping) dan acung (lurus ke depan) di pencak silat mirip dengan keikome geri dan mae geri di karate.

Secara kasat mata memang masih ada perbedaan, yakni di pencak silat didominasi gerakan mirip tarian, sementara pada bela diri yang lain dominan dengan gerakan keras sejak awal hingga selesai. Hal itu masih ditambah teriakan keras (di karate disebut kiai), yang di pencak silat tak begitu akrab dilakukan.

Makin lama, perguruan-perguruan pencak silat lebih banyak mementingkan pembinaan unsur olahraga. Lebih banyak menekankan faktor ke-atletan pesilatnya, yakni pesilat usia muda yang didukung tenaga yang besar, sehingga mampu memukul atau menjatuhkan lawan dengan KO (knock out). Karenanya, Penngurus Daerah IPSI di seluruh Tanah Air harus tak bosan-bosannya mengingatkan perguruan pencak silat, untuk mengawasi pesilatnya agar tak sedikit pun meninggalkan “napas” atau ciri khas pencak silat dalam setiap gerakannya.

Secara ringkas ada tiga prinsip teknis olahraga pencak silat, yakni teknik sambut serangan, penerapan teknik tinggi untuk meraih nilai penuh, serta selalu menggunakan kaidah-kaidah silat. Teknik dan taktik sambut serangan, yakni tindakan saat “menerima” serangan lawan, dengan menangkis, menghindar, mengelak dan kemudian membalas menyerang.

Sedangkan penerapan teknik tinggi adalah penerapan teknik sulit atau yang mengandung risiko tinggi, namun dengan imbalan nilai maskimal jika berhasil melakukannya. Misalnya, teknik menjatuhkan dan mengunci.

Hal penting yang tak boleh diabaikan oleh pesilat mana pun adalah mengenai kaidah-kaidah dalam pertarungan silat. Yakni bermula dari sikap “pasang” (siap tempur) sebagai sikap taktik sebelum bertanding, kemudian melangkah dengan terpola, serta koordinasi yang baik dalam melakukan tangkisan atau serangan. Setiap usai serangan atau tangkisan yang dilakukan dalam beberapa gerakan beruntun, pesilat harus kembali dalam sikap “pasang” tersebut.

Dalam setiap gerakan pencak silat (sebagai olahraga), unsur-unsur seni dan bela diri tentu harus tercermin. Sedangkan aspek pembinaan mental spiritual sudah terimplementasi di dalamnya. Misalnya, walau tak ada peraturan tertulis, namun seorang pesilat dilarang menyerang lawan yang sedang mengembangkan kaidah-kaidah perguruannya.

Jika kekhasan gerakan silat itu terus dipertahankan oleh siapa pun orang berkiprah di dunia silat, bahkan kemudian membakukannya, maka pencak silat semakin kukuh menjadi salah satu bentuk identitas budaya Indonesia. Sebagai seni bela diri, dia berdiri sendiri dan tak kalah tangguh dibanding seni bela diri mana pun, sehingga “wajah kampungan” di pencak silat bisa dicuci bersih. 

Wacana Silat Melayu

silat2.jpg

Silat, silap dan silau merupakan suatu ungkapan yang acap kali dituturkan oleh golongan elit dalam seni warisan budaya Melayu ini. Pelbagai versi silat seantero Asia Tenggara khususnya yang merangkumi kepulauan Melayu pada zaman kegemilangan Melayu 500 tahun lampau mengangkat darjat manusia itu dengan kepandaian seni tari silatnya. Silat itu langkah, silap itu pelebatnya manakala silau pula buahnya atau pun pelengkapnya. Rumpun Melayu menyebarkan sayap kepahlawanan secara lebih autokratik pada 500 tahun lampau kerana kebanggaan mereka terhadap ilmu perang ini. Bahasa Melayu yang menjadi ‘lingua franca” merupakan bahasa pertuturan utama ketika itu. Perkembangan bahasa Melayu secara tidak langsung membawa kepada pembangunan sosio ekonomi penduduk Melayu di Melaka ketika itu. Ini mengakibatkan penghijrahan berlaku dan seterusnya proses perkembangan ilmu perang ini berleluasa sebagai suatu bentuk seni yang melambangkan keberanian, kekuatan dan kedaulatan kepada individu khususnya dan negara umumnya.

Silat merupakan suatu seni mempertahankan diri yang juga kesenian keunggulan bangsa  Melayu di rantau Asia kira-kira 500 tahun lampau. Proses pembelajaran daripada pergerakan haiwan, pemerhatian dan penyesuaian perilaku, tindakan dan tindak balas dicampur adukkan untuk membuahkan suatu keunikan tarian seni yang diringkaskan sebagai seni silat. Seni pencak silat merupakan gabungan ilmu seni dan bela diri. Ianya meliputi permainan bela diri yang digabungkan dengan seni dan dilakukan dalam gaya gerak tari yang indah. Segala gerak tari dan langkah yang dilakukan ada hubungannya dengan maksud pembelaan diri daripada serangan. Bagaimanapun gerak tari dalam seni pencak silat tidaklah sama dengan tarian yang lain kerana tarian pencak silat mempunyai kegunaan yang lain.

Dalam soal mempertahankan diri, Islam telah menegaskan, berdasarkan firman Allah Taala dalam surah Al-Anfal ayat 60 yang bermaksud, “Dan bersiap sedialah untuk (menentang) mereka (musuh yang menceroboh) segala jenis kekuatan yang dapat kamu sediakan dari (pasukan-pasukan) berkuda yang lengkap sedia, untuk menggerunkan dengan (persediaan) itu musuh Allah dan musuh kamu serta musuh-musuh yang lain dari mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya.” Umum disimpulkan bahawa seni mempertahankan diri merupakan suatu keperluan individu. Persoalannya kini ialah sama ada seni mempertahankan diri (Silat Melayu) mampu membina keperibadian individu.